Helcia menggenggam tangan Petra dengan erat, “Temani aku ke Kota Canace. Aku berjanji akan pulang sebelum matahari terbenam.”
“Nona, meskipun aku bisa menunggang kuda, Marchioness ti—”
“Omong kosong! Demetria bahkan pergi selama satu minggu.”
“Nona Helcia! Anda tetap tidak bisa keluar dari mansion. Karena, Marchioness selalu meminta seluruh pengawal dan pelayan untuk mengawasi anda.” Seru Naya.
Naya bukanlah seseorang yang memegang teguh peraturan. Dibandingkan Petra, dia justru selalu mendukung pilihan Helcia yang sering kali tidak sesuai dengan norma bangsawan. Namun, Naya tidak ingin Helcia mendapatkan hukuman seperti terkurung atau diikat dalam waktu lama layaknya hewan.
Dia sama sekali tidak mau melihat nonanya bersedih atau menderita. Naya hanya ingin mempertahankan senyuman Helcia lebih lama lagi dan tidak terlibat masalah dengan Demetria.
Akan tetapi, Helcia memanglah wanita yang keras kepala. Dia menepuk pundak Naya dan berkata, “Itu artinya, selama aku tidak terlihat. Mereka tidak akan bisa mengawasiku.”
Naya membulatkan matanya, “Apa maksud anda?”
“Seumur hidupku, aku selalu terbaring di atas tempat tidur dan tak pernah keluar kamar. Dan sekarang, aku memiliki dua pelayan pribadi yang mengirimkan makanan untukku sehingga tak pernah ada pelayan lain yang pernah memasuki kamarku lagi.
Maka, walaupun aku pergi sekalipun. Tidak akan ada satupun orang di rumah ini yang sadar.”
“Bila saya atau Naya tidak terlihat. Mereka juga pasti akan curiga.”
Helcia tertawa kecil, kemudian tersenyum cerah, “Beritahu kepada pelayan yang lain, ‘Nona Helcia sedang terserang sakit demam, sebaiknya tidak ada yang boleh mendekati kamar nona agar ia bisa beristirahat dengan tenang. Kami akan terus berada didalam kamar Nona Helcia untuk memantaunya.’ Dengan begitu, tidak akan ada yang mencurigai kalian.”
Jika seseorang mencari seorang pembual ulung. Maka Helcia adalah orang yang tepat.
Petra dan Naya lantas melembutkan wajah mereka, nampaknya tidak ada yang mampu menghentikan Helcia, “Baiklah, Nona. Kami akan menemani anda ke Kota Canace.”
“Seperti yang kuharapkan.” Balas Helcia seraya tersenyum cerah.
••
Sudah lebih dari sepuluh menit Helcia hanya berdiri diam di atas balkonnya. Tangan yang memegang pembatas balkon tiada henti bergetar hebat sampai ia mengeluarkan keringat dingin.
“Apa tidak ada jalan lain?” Bisik Helcia pelan.
“Ini adalah jalan teraman yang bisa kita lewati.” Balas Petra seraya mengikatkan tali kepada pagar pembatas balkon. Dia menarik simpul dengan kuat, untuk memastikan bahwa tali tersebut mampu menahan bobot tubuh dua orang sekaligus.
“Petra, ini lantai lima.”
“Saya tahu. Lantas mengapa?”
Helcia memandang kebawah dengan pandangan yang dipenuhi oleh ketakutan. Bahkan tubuhnya tidak bisa berhenti menggigil sejak awal. Perkataan Petra memang ada benarnya, turun dari balkon menggunakan balkon merupakan satu – satunya jalan yang tidak di awasi oleh pengawal.
Para pengawal cenderung lebih menjaga bagian pintu depan, sedangkan pada bagian belakang yang hanya ditutupi oleh semak belukar seringkali diabaikan. Lagipula, seorang Helcia Krysanthe tidak mungkin bisa turun dari lantai lima.
Karena, baik Helcia Krysanthe yang asli maupun sekarang. Keduanya sama – sama takut akan ketinggian. Helcia mungkin bisa merasakan pusing yang menyakitkan hanya dengan menatap ke bawah.
“Nona, bila merasa takut. Kita bisa membatalkan rencana kita.” Kata Petra. Lagipula, dia juga tidak mendukung rencana Helcia yang terbilang berani ini.
Helcia langsung menggeleng, “Tidak, aku tidak takut.”
Petra menyerahkan seutas tali yang sudah diikatkan pada balkon kepada Helcia, “Kalau begitu, anda bisa turun menggunakan tali ini.”
Helcia menatap tali itu dengan pandangan kosong, “Ta- Tali? Aku harus turun dengan tali kecil ini?”
“Saya sudah mengikat tali ini dengan kuat, saya bisa memastikan bahwa anda tidak akan terjatuh selama bisa berpegangan dengan baik pada tali.”
“Bagaimana bila peganganku dengan tali terlepas?”
Naya menepuk pundak Helcia, “Anda akan mati. Nona, bukankah lebih baik tetap di dalam ruangan anda yang nyaman?”
Walaupun tubuhnya tiada henti gemetar, Helcia masih berjalan ke pinggir balkon. Dia mencengkram pagar balkon dengan kuat, bersiap untuk meloncati pagar tersebut.
“Lebih baik aku mati dua kali, dibanding harus menjadi boneka seumur hidup.”
Ucapan Helcia dipenuhi dengan tekad yang kuat. Kedua manik ruby nya memancarkan keteguhan yang tidak bisa digoyahkan, bahkan ia mampu melawan ketakutannya hanya demi keluar dari neraka yang mengurungnya ini.
Sebelum Helcia loncat dari atas balkon, Petra menahan lengan Helcia dengan erat. Pelayan itu lantas menarik Helcia agar turun lagi ke permukaan lantai. Sesungguhnya, Petra hanya ingin meluruhkan minat Helcia untuk keluar. Namun, melihat tekad nonanya begitu besar dan tak terhentikan, Petra memilih untuk mendukung setiap keputusan yang dibuat oleh Helcia.
“Anda tidak perlu berpegangan dengan tali.” Petra melingkarkan tali di pinggang Helcia, kemudian mengikatnya menjadi sebuah simpul yang kuat.
Petra kemudian juga mengikatkan tali di pergelangan tangannya sendiri dan merangkul pinggang Helcia menggunakan tangan satunya, “Saya akan memastikan anda selamat.”
Keduanya lantas menjatuhkan diri, membiarkan angin menghantam tubuh mereka yang tengah terjatuh dengan kecepatan tinggi. Agar tidak merasa takut, Helcia memilih untuk menutup matanya dan berpegangan erat pada tubuh Petra.
Tanpa terasa, mereka sudah mendarat di atas permukaan tanah dengan selamat, “Buka mata anda, Nona.”
Helcia menghela nafas lega, “Hah… aku selamat.”
Helcia melihat ke atas, “Bagaimana dengan Naya? Dia harus memotong talinya untuk meninggalkan jejak. Apa dia tidak ikut dengan kita?”
Suara tawa halus terdengar dari petra, “Dia akan ikut. Meloncat dari lantai lima bukanlah perkara sulit bagi Naya.”
“Ap –”
Bahkan sebelum Helcia menyelesaikan kalimatnya. Naya sudah lebih dahulu memotong tali dan meloncat dari balkon ke balkon untuk sampai ke tempat Helcia. Pelayan yang selalu menampilkan senyum ceria itu sama sekali tidak nampak takut ataupun berkeringat.
Melihat kedua pelayannya bertingkah dengan tenang meski berada dalam bahaya. Helcia mulai curiga bila mereka bukanlah manusia biasa.
••
Perjalanan menuju Kota Canace tidaklah mudah bagi Helcia. Terutama bila dia harus menunggangi kuda selama dua jam dan terpapar udara dingin terus – menerus.
Oleh sebab itu, ketika sampai di pusat Kota Canace. Dia seringkali merapatkan mantel hingga tak ada lagi permukaan kulitnya yang terlihat dari luar. Daripada Kota Manos, Kota Canace jauh lebih dingin akibat letak geografisnya yang lebih tinggi dari Kota Manos.
“Nona, apa anda merasa lelah?” Tanya Naya khawatir.
“Tidak. Tidak. Aku tidak apa – apa.” Balas Helcia, berusaha menguatkan diri.
Dia menepuk kedua pipinya dengan keras agar energi panas bisa terkumpul dan membuatnya lebih hangat. Tanpa ingin menyia – nyiakan waktu mereka, Helcia langsung menggerakan kakinya untuk berkeliling serta memantau penduduk Kota Canace.
Helcia ingin memastikan para penduduk itu melakukan instruksi yang pernah ia berikan kepada Orestes satu bulan yang lalu. Tapi, nampaknya Kota Canace sudah melakukan banyak hal dalam waktu sebulan ini.
Kepulan asap hitam yang tebal, bergumul di udara Kota Canace. Tidak hanya satu asap saja yang mengepul, melainkan banyak asal yang kemudian bersatu hingga menutupi Kota Canace.
Membuat para penduduk harus menutupi mulut dan hidung mereka menggunakan kain agar tidak sesak napas.
“Apa Kota Canace ingin membakar diri?” Ujar Petra yang terkejut.
Kota Canace selalu dikenal sebagai Kota yang indah. Pepohonan yang tumbuh mengelilingi kota ini membuat udara menjadi sejuk dan sehat. Namun, banyaknya pembakaran di beberapa titik kota membuat Canace lebih tampak seperti lingkungan pabrik daripada sebuah kota.
“Ah.. Apa mereka melakukannya terlalu berlebihan?” Bisik Helcia.
“Melakukan apa?” Tanya Petra yang penasaran dengan ucapan Helcia.
Helcia membalasnya dengan tawa kecil, dia akhirnya memutuskan untuk menceritakan segalanya kepada Petra dan Naya. Perihal terbakarnya gudang pangan Kota Canace, serta tentang percakapannya dengan Orestes.
Petra memandang Helcia dengan terkejut, sedangkan Naya nampak khawatir.
Naya memendang pundak Helcia dan berkata, “Nona, Apakah Tuan Orestes telah mengancam anda?”
“Apa?” Balas Helcia bingung.
Petra, “Mungkinkah Tuan Orestes memaksa anda untuk membantunya?”
Helcia menepuk kening kedua pelayannya itu pelan, “Dia tidak melakukan apapun. Orestes bahkan berterima kasih kepadaku.”
“Tidak mungkin.” Petra Agalas memandang Helcia dengan tatapan yang dipenuhi oleh ketidak percayaan.
Ketika Agalas masih berjaya di kalangan bangsawan, Petra tidak pernah melihat Orestes tersenyum dan berbicara kepada bangsawan lain. Pria itu nampak seperti ancaman yang tidak bisa didekati oleh orang lain. Sebab itulah, tidak ada satupun bangsawan yang berani mendekatinya atau mengajaknya bicara.
Di antara Keluarga Obelix yang ditakuti, Orestes adalah satu – satunya Obelix yang ditatap bagaikan monster oleh orang lain. Ada rumor yang tersebar, bahwa Orestes akan langsung menebas bangsawan yang berbicara tak sopan kepadanya.
“Nona, apa anda berbicara dengan sangat sopan kepadanya?” Tanya Petra memastikan, tatapan matanya sangat serius saat ini.
Namun, Helcia malah tidak menanggapi ucapan Petra dengan serius, “Sepertinya cukup sopan. Ah, tapi aku pernah berkata bahwa ada pengkhianat di antara prajuritnya.”
Manik mata Petra dan Naya membulat seketika, mereka bahkan menatap ke arah Helcia gemetar, “Nona, sebaiknya kita pergi sekarang.”
“Apa yang salah dengan kalian? Kita baru saja sampai.”
Petra menggenggam tangan Helcia, “Anda baru saja membuat konspirasi sensitif kepada Tuan Orestes. Anda bisa saja dijatuhkan hukuman mati oleh keluarga Obelix akibat menghina mereka yang tak becus mengontrol bawahannya.”
“Untuk apa aku dihukum mati? Orestes memang tidak becus menangani bawahannya sampai terjadi musibah seperti ini.”
“Nona! Saya tidak mau anda mati sekarang!” Seru Naya hampir menangis.
“Hentikan! Orestes tidak akan membunuhku. Dia sama sekali tidak punya niatan untuk membunuhku.”
Helcia merasa yakin akan hal itu. Di dalam novel pun, walau Orestes menculik Helcia, pria itu sama sekali tidak pernah menyentuh ataupun menyakiti Helcia. Pria itu hanya mengurungnya di dalam sebuah ruangan, dan ruangan itu pun lebih seperti kamar daripada kurungan tahanan.
Setelah diingat – ingat lagi, Orestes hanya menculik Helcia untuk memancing Istvan datang ke tempat persembunyiannya dan berniat untuk membunuh Istvan.
“Aku akan pergi ke gudang penyimpanan lainnya. Bila kalian memang ingin kembali, maka kembalilah tanpa aku.” Kata Helcia yang kemudian langsung melangkah pergi, meninggalkan petra dan Naya.
“Nona!” Seru Petra putus asa.
Tidak ingin hal buruk menimpa Helcia, Petra dan Naya akhirnya mengikuti nona mereka.
Suara bising yang dihasilkan dari berbagai alat pembangunan terdengar dari gudang yang sebelumnya terbakar. Sebelum melangkah lebih lanjut, Helcia memastikan bila dia memakai tudung agar wajahnya tidak bisa dilihat secara jelas.
Sepertinya Orestes benar – benar mengikuti saran Helcia dengan membangun gudang menggunakan batu bata dan pasir. Dia tidak tahu bila Orestes akan sepercaya itu kepadanya.
Helcia mengedarkan pandangannya ke segala arah, berusaha mencari sosok yang ingin ia lihat sedari awal, “Seharusnya dia selalu di Kota Canace sampai musim dingin.”
Ketika ia ingin berjalan lagi, suara bariton rendah terdengar dari belakang, “Anda kembali?”
Lantas Helcia membalikan tubuhnya, menatap ke arah pria tinggi yang kini tengah menatapnya dengan datar. Tampilan Orestes saat ini tidak bisa terbilang rapih, sepertinya dia ikut melakukan pekerjaan berat di Kota Canace sejak pagi hingga kemeja putih yang dipakai oleh Orestes tertutupi oleh debu dari pasir.
Tidak heran bila Orestes begitu disanjung oleh bawahannya. Dia memang bukanlah tipe pemimpin yang akan menumpahkan pekerjaan kasar kepada bawahan, tetapi seorang pemimpin yang rela melakukan pekerjaan bersama dengan prajuritnya.
“Sepertinya anda benar – benar melakukan saran saya.” Kata Helcia seraya tersenyum.
Ada rasa bangga yang menyapa hatinya tatkala seorang tokoh dingin ini mendengarkan saran yang ia buat.
Orestes mengangguk, “Saran anda sangat efektif. Ternyata daging yang di asapi hingga kering memang mampu bertahan lama.”
“Apa semua penduduk disini melakukan pengasapan dirumah mereka masing – masing.”
“Seperti saran anda. Saya meminta Athian dan Lucas untuk menginstruksikan penduduk menyimpan bahan makanan mereka sendiri.”
Helcia melirik ke arah belakang Orestes, tepatnya kepada Petra dan Naya yang baru saja datang dengan wajah panik saat melihat Helcia dan Orestes tengah berbincang. Helcia menatap mereka dan memberikan tanda menggunakan tangan untuk tidak mendekatinya serta Orestes.
“Musim dingin kali ini sepertinya akan sangat buruk. Lebih baik anda juga memerintahkan prajurit Canace untuk mencari banyak persediaan kayu bakar.”
“Saya akan mengingatnya.”
Helcia sepertinya sudah mendapatkan kepercayaan tinggi dari Orestes hingga pria itu selalu mempercayai setiap perkataan Helcia, “Tuan, sepertinya anda ter— Uhukk.. Uhukk..”
Kepulan asap yang paling tebal berada didekat gudang, karena para prajurit tengah membakar banyak daging untuk segera di simpan didalam gudang. Awalnya Helcia tidak memiliki masalah, namun ternyata pernafasannya mulai sesak akibat terlalu lama menghirup udara kotor.
Helcia mencari sapu tangan dari saku gaunnya, tetapi tidak menemukan apapun karena dia telah menitipkan sapu tangan kepada Petra. Saat ia hendak memanggil Petra, Orestes sudah lebih dahulu mengeluarkan sapu tangan dan mengikatkan kain tersebut ke belakang kepala Helcia.
Tatkala tangan Orestes berada dibelakang kepala Helcia, tudung yang menutupi wajah Helcia terjatuh kebawah. Membuat wajah Helcia bisa terlihat dengan jelas dihadapan Orestes. Sontak Helcia ingin menaikan tudung mantelnya kembali, namun tangannya ditahan oleh Orestes.
“Anda tidak perlu menutupi wajah anda, Nona Helcia. Anda mungkin bisa kembali sesak nafas bila menggunakan tudung serta kain untuk menutupi wajah.”
Kedua manik ruby Helcia membulat sempurna, merasa terkejut saat Orestes memanggil namanya.
Karena, Orestes terlihat sangat tenang. Helcia bisa berasumsi bila Orestes memang sudah mengetahui identitasnya sejak pertama kali mereka bertemu.
“Ah, anda sudah tahu sejak awal?”
Orestes mengangguk, “Saya sudah tahu identitas anda sejak insiden pelemparan batu.”
•••••
To Be Continued
13 Januari 2021