Helcia tertawa didalam hatinya. Ternyata sang Jenderal yang terkenal cerdik ini memang tidak bisa Helcia bodohi dengan mudah. Beruntung Helcia merupakan orang bermuka tebal yang sudah tak memperdulikan kebohongannya kepada Orestes.
“Bagaimana anda bisa tahu?”
Orestes menatap Helcia tepat di kedua manik matanya, “Tidak ada wanita di Kota Canace yang mempunyai mata berwarna ruby.”
Mendengar hal tersebut, sontak Helcia menutup kedua matanya. Dalam hati terus mengutuki dirinya sendiri yang begitu bodoh sampai melupakan fakta itu.
Satu – satunya wanita yang memiliki manik berwarna ruby di Kerajaan Socrates hanyalah Helcia. Bila dia memamerkan kedua matanya dihadapan umum seperti ini, mungkin saja akan ada seseorang yang mengadu kepada Demetria tentang keberadaan Helcia di Kota Canace.
“Nona Helcia, apa anda merasa tidak nyaman dengan perkataan saya?”
Helcia merenggangkan jarinya untuk melirik Orestes sedikit, “Keberadaan saya tidak boleh diketahui orang lain.”
Orestes menarik tudung mantel Helcia kembali untuk menutupi wajah bagian atasnya, “Maaf, saya begitu lancang membuka tudung anda.”
“Bukan salah anda. Ini adalah kesalahan saya yang begitu bodoh.”
Setelah mengetahui kecerobohannya yang fatal. Helcia jadi takut untuk bergerak atau menatap orang lain. Dia memang tidak takut dengan Demetria, namun Helcia juga tidak senang bila harus dikurung dalam ruangan tanpa cahaya itu lagi.
“Apa anda memberitahu identitas saya kepada Letnan Athian atau Lucas?” Tanya Helcia ragu.
“Tidak. Hanya saya yang tahu.”
Helcia bernafas lega. Setidaknya ia ingin identitasnya tidak diketahui oleh orang lain lagi selain Orestes. Dengan Orestes sudah mengetahui identitasnya saja sudah membuat kepala Helcia terasa pusing.
“Nona Helcia, Bagaimana bila kita pergi ke tempat yang lebih sepi agar anda merasa nyaman?” Saran Orestes.
Helcia tidak mau identitasnya terbongkar oleh orang lain. Tapi, dia juga tidak ingin hanya ditinggal berdua oleh Orestes. Mengingat banyak kekejaman yang dilakukan oleh Orestes didalam novel masih membuat Helcia merinding hingga saat ini.
Melihat Helcia yang belum menjawab, Orestes tahu bila Helcia pasti merasa enggan pergi berdua saja dengannya, “Kita bisa pergi ke restoran untuk makan siang.”
Nampaknya Orestes memang orang yang peka. Dia mampu memilih tempat yang lebih privasi, namun juga masih termasuk tempat umum. Sehingga, Helcia tidak harus khawatir akan pergi berdua saja dengan Orestes.
Tanpa berpikir panjang lagi, Helcia berkata, “Baiklah, maaf telah merepotkan anda.”
••
Orestes berhenti di sebuah restoran kelas atas yang berada di pusat kota. Dari luar saja, Restoran itu nampak mewah dengan menggunakan ornamen ukiran kayu rumit pada permukaan dindingnya. Dalam satu kali lihat pun, Helcia tahu bila restoran ini pasti memiliki nilai jual tinggi.
Aroma harum yang berasal dari makanan tercium hingga keluar restoran, membuat perut Helcia yang belum sempat makan berbunyi kecil.
Sebelum mereka melangkah masuk, Helcia menahan lengan Orestes, “Tuan, ada satu hal yang ingin saya sampaikan kepada anda.”
“Apa itu?”
Helcia menampilkan senyum tanpa dosa, “Saya tidak membawa uang.”
Helcia Krysanthe bukanlah seorang wanita yang suka memanfaatkan uang pria yang mengajaknya pergi. Tapi, Demetria tidak pernah memberikan uang yang banyak kepada Helcia karena dia memang tidak pernah pergi keluar rumah. Sisa uang yang Helcia miliki di kantungnya hanya sebatas sepuluh koin emas.
Dan dia tidak mau menghabiskan setengah koin emasnya hanya untuk makan siang.
“Saya yang membayar.” Balas Orestes, tidak begitu perduli dengan tingkah Helcia yang tak tahu malu.
Kedua manik mata Helcia berbinar, “Sungguh? Tuan memang sangat murah hati.”
“Anggaplah ini sebagai rasa terima kasih saya atas bantuan anda.”
Orestes melangkah masuk kedalam restoran terlebih dahulu, kemudian berbisik kepada pelayan untuk menyiapkan ruangan khusus untuk mereka berdua.
Kebanyakan bangsawan pada umumnya tidak akan makan di lingkungan yang sama dengan rakyat biasa. Oleh sebab itu, Restoran kelas atas seringkali menyiapkan bilik – bilik besar yang dapat digunakan sebagai ruang makan bangsawan.
Orestes sesungguhnya tidak masalah bila harus makan di tempat umum. Namun, dia ingin menyediakan tempat yang sekiranya bisa membuat Helcia merasa nyaman.
“Tidakkah akan terlalu mahal bila memesan ruang khusus? Lagipula, kita hanya berdua.” Ujar Helcia, sedikit merasa tidak enak.
“Bukan masalah besar.” Jawab Orestes tanpa emosi.
Setelah di pikir – pikir lagi, uang memang bukan masalah besar untuk Orestes. Apalagi keluarga Obelix selalu masuk kedalam jajaran keluarga bangsawan paling kaya di Kerajaan Socrates.
“Sepertinya anda memang suka membuang – buang uang.” Helcia berkata sambil tertawa.
Orestes menghentikan langkahnya karena ingin membuka bilik yang sudah disiapkan untuk mereka, “Bukankah anda juga demikian.”
Helcia tertawa kecil, “Saya tidak punya uang banyak. Meskipun punya banyak, saya juga tidak bisa membelanjakannya di luar.”
Orestes menarik kursi untuk di duduki oleh Helcia, dan wanita itu menyambutnya dengan baik, “Terima kasih.”
Merasa tidak ada lagi orang di sekitar mereka, Helcia akhirnya bisa melepaskan mantel yang melingkupi tubuhnya.
“Anda tidak punya uang?” Tanya Orestes tidak percaya.
Walaupun Helcia tidak bekerja, setidaknya dia masih bagian dari keluarga Krysanthe yang berada di urutan kedua dalam daftar keluarga bangsawan terkaya. Menurut Orestes, tidaklah wajar bagi keturunan Krysanthe tak mempunyai uang.
Helcia agaknya bisa membaca pemikiran Orestes, “Bukannya tidak punya uang. Tapi, saya tidak pernah diberikan uang oleh keluarga saya.”
“Kenapa?”
Senyuman pahit tercetak di wajah Helcia, “Tuan Orestes, sepertinya anda sangat ingin mengetahui kehidupan saya.”
Orestes menyadari bahwa pertanyaannya mungkin mulai masuk ke ranah privasi, “Maaf atas ketidaksopanan saya.”
Melihat Orestes yang sangat mudah menyerah seperti itu malah membuat Helcia menghela nafas panjang. Dia pikir, Orestes akan memaksanya berbicara tentang kehidupan pribadinya. Tapi, pria itu ternyata masih terlalu sopan sampai tidak mau mendobrak privasi orang lain.
“Saya kabur dari rumah.” Kata Helcia singkat. Manik matanya menatap ke arah jendela yang memperlihatkan hiruk pikuk perkotaan.
Tanpa menunggu balasan Orestes, Helcia melanjutkan, “Sebenarnya, ini adalah kali kedua saya bisa bebas melakukan hal semau saya.”
Orestes tidak melepaskan pandangannya dari wajah Helcia yang bermandikan cahaya matahari, “Saya selalu mendengar rumor bahwa kesehatan anda begitu buruk sampai tidak bisa keluar rumah.”
“Itu benar.”
Meski hanya sekilas. Pupil Orestes sempat membesar sedikit akibat terkejut dengan jawaban Helcia. Dia berfikir bila rumor itu hanyalah rumor palsu belaka, dan menganggap Helcia tidak suka bersosialisasi dengan orang banyak.
“Saya selalu sakit. Tubuh saya sangat lemah, hingga terlalu banyak bergerak pun bisa menyebabkan kesehatan saya memburuk.”
•••••
To Be Continued
14 Januari 2021