CHAPTER 17. SEBUAH PANGGILAN

1530 Kata
“Apa anda sekarang merasa sakit?” Tanya Orestes. Nada suaranya memanglah terlampau datar. Namun, Helcia mampu menangkap ada rasa kekhawatiran pada ucapan Orestes. “Tidak perlu mengkhawatirkan saya. Sudah sebulan ini tubuh saya terasa sangat sehat.” Balas Helcia. “Itu hal bagus.” Terkadang Helcia tidak mengerti dengan sikap yang ditunjukan oleh Orestes. Sedari awal mereka bertemu, tidak pernah satu kalipun Helcia melihat Orestes tersenyum atau menampakan ekspresi lainnya. Awalnya, Helcia berfikir bahwa Orestes memang bukan tipe manusia yang mudah akrab dengan orang lain. Tapi, setelah melihat ekspresi Orestes tetap datar meskipun tengah berbincang dengan Athian dan Lucas membuat Helcia merasa ada yang salah dengan Orestes. Tidaklah wajar bagi seorang manusia untuk menyembunyikan seluruh perasaannya. Bahkan orang sedatar apapun, masih bisa memancarkan emosi lewat tatapan mata mereka. Sedangkan Orestes begitu dingin dan hampa. Ketika Helcia menatap lekat ke arah dua manik mata berbeda warna itu, Helcia seolah terjatuh kedalam ruang hampa yang tak memiliki batas. Bagi Helcia, Orestes terlihat seperti sebuah cangkang kosong yang tak mempunyai isi. “Tuan, apa kehadiran saya membuat anda merasa tidak nyaman?” Tanya Helcia. Orestes memandang Helcia dengan tatapan kosongnya, “Tidak.” Baru Helcia hendak berbicara lagi. Tetapi, seorang pelayan telah masuk ke dalam bilik seraya membawa banyak piring makanan yang ia letakan didalam rak troli. “Kapan anda memesan semua makanan ini?” Tanya Helcia bingung. Pasalnya dia sama sekali tidak ingat sudah menuliskan pesanan kepada pelayan. Alih – alih mendengar jawaban Orestes. Pertanyaan Helcia sudah dibalas terlebih dahulu oleh pelayan, “Tuan Orestes sudah menjadi tamu khusus kami selama bertahun – tahun. Dan semua menu ini merupakan makanan terbaik yang restoran kami miliki.” Mata Helcia bergerak untuk melihat berbagai macam hidangan menggugah selera yang kini terpampang di atas meja. Kebanyakan makanan didominasi oleh daging sapi berkualitas tinggi. Helcia sudah mulai terbiasa melihat makanan mewah semenjak kedatangannya di dunia ini. Sehingga, dia tidak lagi merasa terkejut ketika dihidangkan berbagai macam masakan mewah seperti ini. Setelah meletakkan seluruh piring makanan ke atas meja, pelayan itu mengundurkan diri, “Silahkan menikmati makanan anda, Tuan dan Nona.” Helcia tersenyum kepada pelayan tersebut, “Terima kasih.” Ungkapan kata terima kasih itu memang singkat. Tapi, itu sangat meninggalkan kesan di hati seorang pelayan rendahan. Karena, sangat jarang sekali ada bangsawan yang mengucapkan kalimat yang menunjukkan apresiasi seperti itu. Pelayan tersebut melayangkan senyum kepada Helcia sebelum akhirnya menutup pintu bilik. Meninggalkan Orestes dan Helcia berdua. “Apa makanan ini sesuai dengan selera anda?” Tanya Orestes. Keluarga Krysanthe terkenal akan hedonisme mereka, sehingga Orestes takut bila hidangan ini tidak cukup mewah bagi Helcia. Helcia mengangguk, “Semua makanan ini terlihat sangat lezat. Terima kasih banyak, Tuan Orestes.” Helcia memang sudah sering melihat makanan mewah. Akan tetapi, dia tidak bisa merasakan makanannya dengan enak ketika makan didalam mansion Krysanthe. Perasaan tak nyaman yang ditimbulkan akibat tinggal satu atap dengan para manusia palsu terus menggerogoti kebahagiaan Helcia. Makanan yang enak, bahkan akan terasa pahit didalam mulut Helcia bila ia makan didalam mansion Krysanthe. Berbanding terbalik dengan mansion. Sekarang, Helcia benar – benar bisa mencium aroma lezat yang di keluarkan oleh berbagai jenis makanan dihadapannya itu. Entah mengapa, dia seolah memiliki perasaan nyaman yang sulit dijelaskan ketika sedang bersama dengan Orestes. Helcia sama sekali tidak pernah merasakan bahaya meski tengah berhadapan dengan seorang antagonis berhati dingin dari novelnya ini. “Tuan Orestes, saya pasti akan membayar anda kembali nanti.” Kata Helcia. Bagaimana pun juga, hatinya masih merasa tidak enak setelah menyadari Orestes mengeluarkan banyak uang hanya untuk makan siang Helcia. “Tidak perlu. Saya sudah katakan, anggap saja ini sebagai rasa terima kasih.” Helcia mengetukan jarinya di atas permukaan meja, merasa bingung harus membalas dengan cara apa, namun sebuah ide terlintas di pikirannya, “Bagaimana bila saya memberikan anda sesuatu nanti sebagai balasan?” Orestes diam sejenak, tapi kemudian mengangguk, “Baiklah.” Senyuman sontak terlihat jelas di wajah manis Helcia, “Tuan Orestes, saya pasti akan memberikan anda hadiah terbaik.” “Orestes.” Kata Orestes memanggil namanya sendiri. Helcia memandang pria itu bingung, “Maksud anda?” “Panggil saja aku Orestes.” Pinta Orestes. Pria itu bahkan merubah cara bicaranya dari formal menjadi non – formal. Senyum di wajah Helcia terasa membeku, bagaimana mungkin seseorang yang selalu terlihat dingin ini menyuruhnya berbicara dengan kalimat non – formal. Kedua letnan yang sudah bertahun – tahun mengabdi kepada Orestes saja tidak pernah diberikan kesempatan untuk memanggilnya dengan nama. “Tuan Orestes, anda serius?” Orestes mengambil pisau serta garpu dari meja, dan mulai mengiris potongan daging di atas piringnya, “Aku tidak mengulangi perintah.” Itu bukan kalimat ultimatum yang biasa Orestes berikan kepada Athian yang sering membangkang. Kalimat itu lebih seperti seseorang yang tengah merajuk. Helcia lantas tertawa, “Baiklah. Aku akan memanggilmu Orestes. Sebagai gantinya, kamu bisa memanggilku Helcia.” “Helcia.” “Mhm. Helcia.” Ujar Helcia senang. Sudah lama sekali Helcia tidak memanggil orang lain tanpa menggunakan honorifik mereka. Hanya Petra dan Naya saja yang bisa Helcia panggil menggunakan nama depan. Sisanya selalu menggunakan kata panggilan hormat yang memuakkan. Bisa memanggil orang lain dengan nama depan, membuat Helcia merasa seperti tengah berkenalan dengan teman baru. Karena mereka sudah mulai memanggil dengan nama, Helcia bisa merasa lebih santai. Ia bahkan juga melupakan tata krama bangsawan ketika sedang makan. Lagipula, Orestes nampak tidak terganggu dengan cara makan Helcia yang tidak mencerminkan sikap elegan seorang bangsawan. “Orestes, apa kamu sudah tahu siapa yang membakar gudang di Kota Canace?” Tanya Helcia memecah keheningan. “Belum. Lucas sudah memeriksa daftar penjaga yang berjaga sebelum aku datang. Tapi, mereka hanya menuliskan nama depan tanpa nama belakang.” “Bagaimana dengan wajah mereka? Apa ada yang pernah melihatnya?” “Mereka baru mendaftarkan diri sebagai penjaga satu minggu sebelum insiden pembakaran. Dan para penjaga berkata, bila mereka selalu memakai penutup mulut sehingga sulit untuk melihat wajah mereka.” Helcia menumpukan kepalanya ke atas tangan, “Nampaknya musuhmu sangat menyiapkan segalanya dengan hati – hati. Apa ada seseorang yang kamu tahu sangat membenci keluarga Obelix?”. Orestes memikirkan pertanyaan Helcia selama beberapa saat, sebelum akhirnya berkata, “Ada terlalu banyak.” Helcia tertawa canggung, “Ah, benar. Bahkan keluargaku membenci Keluarga Obelix.” Dia melanjutkan, “Sebenarnya aku meminta Illiana untuk membantu Kota Canace. Tapi, dia sama sekali tidak mau memberikan kalian bantuan. Maaf sekali, sayangnya aku tidak punya kuasa atas mengelola kekayaan Keluarga Krysanthe.” Orestes menggeleng, “Tidak masalah. Kamu sudah banyak membantu.” “Tapi, caraku tidak akan bisa membuat rakyatmu bertahan sampai musim dingin selesai.” Karena pengawetan makanan paling lama hanya akan bertahan selama satu atau dua bulan. Selebihnya, mereka hanya bisa bergantung pada makanan seperti kacang – kacangan. “Tenang saja. Ayah sudah memberi ide untuk memperbanyak peternakan.” “Ohh.. Ide yang cemerlang. Hewan apa yang ingin kamu ternakan?” “Aku ingin meminta saranmu.” Helcia memandang Orestes heran, bagaimana bisa Jenderal pangkat tinggi ini malah meminta saran kepada wanita yang bahkan tidak mengenyam pendidikan sama sekali ini. Tapi, Helcia tentu memiliki jawaban atas pertanyaan Orestes, “Kamu bisa membuat peternakan ayam. Mereka merupakan hewan yang mudab diternakan, selain itu ayam juga menghasilkan telur dan daging dalam jumlah banyak.” “Baiklah, aku akan mengingatnya.” Walau tidak bertanya. Helcia bisa menebak bila Duke Deorsa Obelix pastinya memberikan saran untuk menernakan sapi, mengingat para bangsawan sangat menyukai daging sapi didalam hidangan mereka. Namun, memelihara sapi itu tidak semenguntungkan ayam yang mampu berkembang biak dengan cepat. Merasa telah kehabisan topik pembicaraan, Helcia lebih memilih memandang ke luar jendela. Memperhatikan setiap penduduk yang tengah tertawa bersama kawan mereka di jalan. Para penduduk itu memang tidak hidup semewah bangsawan. Tidak pula memakai pakaian lembut yang begitu indah seperti bangsawan. Kebanyakan bahkan hanya memakai pakaian lusuh dengan banyak tambalan di beberapa bagiannya. Namun, setidaknya mereka hidup dalam kebebasan. Tidak ada banyak norma memuakkan yang dimiliki oleh para bangsawan. Mereka bisa berbicara semau mereka, makan apapun sesuai dengan kehendak hati mereka, atau bisa merasakan kehangatan dari rasa kebersamaan. Hidup seperti itu, mengingatkan Helcia akan kehidupannya sebagai rakyat biasa di dunia sebelumnya. Tanpa sadar Helcia sudah menghela nafas sebanyak dua kali. “Berbicara denganku pasti membosankan.” Kata Orestes menarik kesimpulan atas helaan nafas Helcia. Ucapan Orestes langsung membuat Helcia sadar, “Tidak. Tidak. Itu bukan karena kamu.” “Itu ha—” Ucapan Helcia terhenti tatkala melihat rintikan salju kecil mulai turun dari langit, dan mengotori jalan. Kedua manik mata Helcia langsung membulat, “Seharusnya tidak secepat ini.” “Helcia, apa yang salah?” Dengan pancaran penuh ketakutan, Helcia berdiri dari kursinya dan menatap Orestes dengan serius, “Perintahkan seluruh penduduk Kota Canace untuk tetap berada didalam rumah.” “Mengapa?” Orestes masih tidak memahami situasi yang terjadi. “Lakukan saja perkataanku!” Helcia dengan susah payah mengatur nafasnya. Dia tidak bermaksud membentak Orestes dengan intonasi tinggi. Akan tetapi, salju pertama yang menuruni Kota Canace itu telah melingkupi hati Helcia dengan rasa takut. Dia menuliskan di dalam novelnya, bahwa ketika salju pertama turun di atas tanah Socrates. Maka, hujan salju itu akan segera berubah menjadi badai salju dalam hitungan jam. Membuat suhu udara menurun drastis sampai bisa membekukan manusia yang berkeliaran di luar. Badai salju yang datang tiba – tiba itu sama sekali tidak disangka oleh penduduk kerajaan. Akan ada banyak rakyat biasa yang mati akibat tak kuasa menahan suhu dingin yang datang tiba – tiba itu. Seharusnya musim dingin yang mengerikan ini baru datang sekitar tiga minggu lagi. Dan Helcia sudah berencana memberi tahu Orestes mengenai hal ini sebelumnya. Siapa yang menyangka bila estimasi waktunya telah dipercepat. Membuat segala hal menjadi sama persis dengan peristiwa yang ada didalam novel. “Badai salju akan segera datang. Bila kamu tidak memerintahkan seluruh penduduk kota untuk tetap berada didalam rumah, maka akan ada banyak korban yang berjatuhan.” Jelas Helcia. ••••• To Be Continued 16 Januari 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN