Helcia segera berlari keluar dari restoran, mengabaikan Orestes yang masih mencerna kata – kata Helcia didalam pikirannya. Karena bagaimana pun juga, sangat mustahil seseorang bisa percaya dengan mudah akan ramalan masa depan yang belum tentu terjadi.
“Petra! Naya!” Seru Helcia setengah berteriak. Kedua pelayannya itu selalu berada di dekat Helcia, mereka hanya bersembunyi dan mengawasi Helcia dalam diam.
Mendengar teriakan Helcia yang terdengar panik, Petra dan Naya langsung keluar dari tempat persembunyian, lalu bergegas menuju Helcia.
“Nona, apa anda terkena masalah?” Tanya Petra panik.
Tatapan mata Helcia begitu gusar dan disertai oleh rasa takut, “Bagaimana ini? Aku terlambat.”
Petra dan Naya sama sekali tidak mengerti maksud dari ucapan Helcia. Wanita itu terlalu panik untuk menjelaskan situasi yang akan dihadapi kedepannya.
Ada rasa bersalah yang terus melingkupi hati Helcia. Dia merasa, bila semua bencana yang menimpa Kerajaan Socrates adalah akibat dari alur cerita yang telah ia buat.
Imajinasi tragedi yang berada di dalam pikirannya kini bisa Helcia lihat secara nyata. Kematian yang dia ciptakan untuk tokoh di dalam novel malah berakhir menjadi sebuah kenyataan pahit yang harus Helcia hadapi.
“Helcia.” Panggilan yang berasal dari Orestes menyadarkan Helcia.
Ketika melihat wajah Orestes yang terlihat tenang, Helcia mulai sadar bahwa tidak ada gunanya tenggelam dalam rasa bersalah yang tak berguna.
Helcia hanya perlu berusaha untuk menghindari tragedi yang pernah dia tuliskan.
“Orestes, apakah kamu bisa mempercayaiku?” Helcia menelan ludahnya sendiri, merasa gugup atas jawaban yang akan dilontarkan oleh Orestes. Bila Orestes tak mempercayai perkataannya, maka tragedi yang menimpa Kota Canace tidak bisa dihindari.
Helcia melanjutkan perkataannya, “Aku tidak bisa menjelaskan segalanya kepadamu. Tapi, semua perkataan yang sebelum ini aku katakan merupakan kebenaran. Bila kamu tidak percaya, maka akan ada begitu banyak korban yang berjatuhan.”
Manik ruby Helcia memancarkan keteguhan hati, dia tidak akan pernah menyerah untuk meyakinkan Orestes.
“Aku mempercayaimu.”
Tatkala dua kata itu dilontarkan. Helcia langsung menghembuskan nafas lega, “Kalau begitu, bisakah kamu segera melakukan permintaanku?”
“Berapa waktu yang tersisa sebelum badai salju datang?”
“Satu jam. Tapi, bisa juga kurang.”
Orestes mengalihkan pandangannya ke arah seorang penjaga yang tengah berpatroli di kota, “Penjaga! Panggil Letnan Athian dan Lucas kehadapanku sekarang.”
••
Berselang beberapa menit kemudian, Athian dan Lucas berlari kehadapan Orestes. Mereka berdua bernafas dengan terengah – engah akibat berlarian dari tempat yang jauh dalam waktu singkat setelah menerima panggilan darurat dari Orestes.
Keduanya mengatur nafas dan berlutut dihadapan Orestes, “Kami disini, Tuanku.”
“Aku akan memberikan perintah singkat kepada kalian, dengarkan dengan baik.”
“Baik, Tuan!”
“Letnan Lucas. Beritahu penduduk kota untuk segera masuk kedalam rumah mereka. Letnan Athian, perintahkan pasukan untuk memasukan semua persediaan makanan dan barang berharga kedalam gudang. Lakukan semua itu dalam waktu satu jam.” Perintah Orestes cepat.
Athian mengangkat kepalanya agar bisa menatap wajah Orestes, “Tuan, Apa yang sebenarnya sedang terjadi.”
“Badai salju dalam skala besar akan datang satu jam lagi. Jika kita tidak segera memberitahu penduduk untuk tetap didalam rumah dan menyalakan tungku perapian, mereka bisa mati kedinginan.”
Kali ini, Lucas berbicara, “Bagaimana anda tahu?”
“Tidak perlu bertanya sekarang. Lakukan saja perintahku.” Kata Orestes memberikan perintah akhir. Pertanda bila dia tidak mau ada pertanyaan lebih lanjut.
Athian dan Lucas menunduk dihadapan Orestes. Walaupun masih banyak pertanyaan yang berputar didalam kepala mereka, keduanya tidak bisa lagi menunda waktu untuk segera melaksanakan perintah darurat dari Orestes.
“Segera kami laksanakan, Tuan.”
Setelah itu, mereka berdua langsung berjalan pergi. Athian berjalan menuju gudang penyimpanan, sedangkan Lucas membawa beberapa prajurit untuk menyiarkan perintah Orestes kepada para penduduk kota.
Helcia menatap ke arah langit yang masih nampak cerah, tidak ada sedikitpun tanda bahwa badai akan datang. Tapi, keadaan sekarang ini hanyalah sebuah tipuan belaka yang akan menjebak banyak penduduk ke dalam bencana yang lebih besar.
Dia tidak terlalu memusingkan keadaan Kota Manos, karena Helcia telah memberitahu Illiana bahwa badai salju akan datang saat salju pertama turun. Helcia hanya bisa berharap agar saudarinya itu bisa mempercayai kata – kata Helcia dengan sepenuh hati.
“Nona.” Panggil Petra.
“Ada apa?”
“Jika memang badai salju akan segera tiba. Bukankah lebih baik bila kita segera kembali ke Kota Manos.” Saran Petra.
Helcia menggeleng, “Tidak mungkin. Perjalanan ke Kota Manos menghabiskan waktu dua jam, sedangkan badai bisa datang dalam kurun waktu satu jam. Bila kita pergi sekarang, maka kita bisa terjebak didalam badai salju.”
Sesungguhnya hal ini juga membuat Helcia merasa bingung. Badai salju tidak akan berhenti selama satu harian penuh, tapi Helcia juga tidak bisa terus tertahan di Kota Canace selama itu.
Mereka pergi dari mansion secara diam – diam. Bila mereka tidak keluar dari kamar selama satu harian penuh, maka pelayan lain akan merasa curiga kepada Helcia. Tapi, mereka bisa mati jika seandainya menerobos badai salju.
“Nona, apa yang harus kita lakukan sekarang?” Tanya Naya dengan takut. Jika sampai mereka ketahuan pergi secara diam – diam, maka Demetria bisa memberikan hukuman yang berat kepada mereka semua.
“Sekarang, lebih baik kita memikirkan tempat singgah kita untuk sementara disini. Masalah kedepannya, bisa kita bicarakan nanti.”
Helcia tidak punya pilihan lain, selain memasrahkan diri kepada nasib yang akan ia hadapi kedepannya. Merasa panik pun juga tidak akan membantu keadaannya saat ini, lebih baik bila Helcia berfikir secara jernih untuk menghadapi masalah nanti.
“Helcia, jika kamu berkenan. Kamu bisa tinggal di Mansion Keluarga Obelix selama badai berlangsung.” Orestes akhirnya membuka suara setelah hanya mendengarkan pembicaraan Helcia.
“Tidak. Tidak. Itu hanya akan merepotkanmu. Aku masih punya uang untuk menyewa penginapan di dekat sini.”
Lagipula, Helcia juga tidak mau berurusan lebih banyak dengan Keluarga Obelix yang dikenal selalu bertindak sesuka hati mereka itu.
Akan tetapi, Orestes bukanlah pria yang mudah menyerah ketika sudah menginginkan sesuatu, “Aku tidak mungkin membiarkan seseorang yang sudah banyak membantu Kota Canace tidak mempunyai tempat menginap yang nyaman.”
Sepertinya Helcia tanpa sadar telah memberikan banyak bantuan kepada Kota Canace. Tak ayal bila Orestes merasa memiliki hutang budi kepada Helcia. Mungkin saja alasan Orestes meminta Helcia menginap di mansion Obelix, hanyalah sebatas untuk melunasi hutang budi di antara mereka.
“Baiklah, aku akan menerima tawaranmu.” Putus Helcia. Lagipula, dengan sisa uang yang Helcia miliki, dia tidak mungkin bisa menyewa penginapan mewah yang mempunyai penghangat ruangan.
“Cepat – cepat! Cepatlah masuk kedalam rumah!”
“Tuan Orestes tidak mau ada satupun orang yang keluar dari rumah.”
Suara bising yang ditimbulkan oleh para prajurit terdengar sampai ke telinga Helcia. Nampaknya Lucas sudah berhasil meyakinkan penduduk kota untuk masuk kedalam rumah.
Atau penduduk kota itu terlalu takut untuk melanggar perintah yang sudah dilontarkan oleh Orestes. Ternyata, berita miring tentang Orestes yang akan langsung memenggal orang yang tak melakukan perintahnya bisa menjadi sebuah keuntungan besar.
“Kami tidak bisa meninggalkan barang dagangan kami.” Ujar salah seorang wanita tua yang berjualan buah.
“Nyonya, jika anda harus membereskan barang dagangan dahulu. Anda bisa menghabiskan waktu lebih dari satu jam untuk masuk kedalam rumah.”
“Tuan, ini adalah barang dagangan terakhir saya. Bila sampai rusak, maka saya tidak punya persediaan makanan lagi.”
Melihat perdebatan antara penjual dan prajurit itu membuat Helcia melangkahkan kaki mendekat ke arah pusat kota. Nampaknya bukan hanya satu pedagang saja yang tidak mau segera masuk kedalam rumah akibat ingin membereskan barang dagangan mereka terlebih dahulu.
“Nyonya, saya bisa membantu anda agar bisa berkemas lebih cepat.” Tawar Helcia seraya tersenyum.
Daripada hanya melihat saja, lebih baik Helcia membantu para pedagang mengemasi barang – barang mereka dengan cepat.
“Nona muda, anda sungguh berhati mulia.”
Sebelum Helcia menyentuh barang dagangan milik wanita tersebut, tangannya dicekal oleh seseorang yang tidak lain adalah Orestes, “Helcia, kita hanya membuang waktu bila harus mengemasi barang – barang terlebih dahulu.”
Kehadiran Orestes sontak membuat wanita penjual buah itu merasa terkejut, dan tanpa sadar menjatuhkan beberapa buah apel ke atas permukaan tanah, “T- Tuan Orestes, mohon maafkan kekerasan kepala saya. Tidak seharusnya saya membantah perintah anda.”
Bahkan tanpa Orestes mengucapkan satu kata pun, semua orang langsung menundukan kepala dan gemetar ketakutan. Seolah – olah yang dihadapan mereka merupakan sesosok monster mengerikan yang bisa memangsa manusia.
“Orestes. Aku sudah memberitahumu bahwa badai salju dalam skala besar akan datang. Jika para pedagang tidak membawa barang dagangan mereka ke dalam rumah, maka mereka semua bisa mengalami kerugian besar dengan membiarkan barang – barang itu membeku di luar.”
•••••
To Be Continued
17 Januari 2021