CHAPTER 19. KEDATANGAN BADAI

1631 Kata
Ucapan yang dilontarkan oleh Helcia ada benarnya. Kota Canace sudah banyak mengalami kerugian akibat terbakarnya gudang utama. Bila sampai para pedagang juga kehilangan sumber penghasilan , maka Orestes akan menganggap dirinya telah gagal sebagai Jenderal tertinggi. Orestes mengepalkan kedua tangannya dengan erat, “Rekan prajuritku! Bantu seluruh pedagang untuk membawa barang mereka ke tempat yang aman! Jangan sampai Kota Canace kehilangan sumber penghasilan dan nyawa secara bersamaan!” Suara Orestes menggema ke seluruh penjuru kota, merasuk ke dalam hati setiap prajurit yang selalu setia melakukan perintah Orestes, “Siap, Jenderal!” ‘Apanya yang antagonis. Dia bahkan jauh lebih berwibawa dibanding Istvan.’ Kata Helcia didalam hati. Orestes memanglah seorang pria yang tidak pernah menampilkan emosi di wajahnya. Tetapi, Helcia yakin bila pria itu bukanlah seseorang yang jahat. “Terima kasih, Orestes.” Helcia tersenyum cerah kepada sang Jenderal, sebuah senyum paling tulus yang belum pernah dia perlihatkan sejak masuk kedalam dunia yang asing ini. “Bukan masalah besar.” Balas Orestes seraya melangkah pergi untuk membantu para penduduk yang mengemasi barang dagangan mereka. Helcia juga lekas kembali membantu wanita tua di hadapannya, “Nyonya, pastikan anda langsung menyalakan tungku ketika sudah masuk ke dalam rumah ya.” “Nona, anda sungguh memiliki hati yang baik. Semoga Tuhan selalu memberkati anda.” Tidak ada lagi jawaban dari Helcia, dia hanya memfokuskan pikirannya untuk membantu wanita tua tersebut. Kebaikan yang kini dia berikan tidak lain hanyalah sebuah rasa bersalah atas menimpakan banyak kemalangan pada rakyat Socrates. Mengangkat barang berat bukanlah suatu masalah bagi Helcia, mengingat dirinya di kehidupan sebelumnya selalu tinggal sendiri. Dia jadi terbiasa mengangkat perabotan berat ketika tengah membersihkan ruangan atau ingin berpindah tempat tinggal. “Nona, anda tidak boleh melakukan pekerjaan seberat ini.” Naya mengambil alih tumpukan kotak yang tengah diangkat oleh Helcia. “Sejak kecil anda selalu hidup dalam kemudahan. Bagaimana mungkin anda bisa melakukan pekerjaan kasar?” Helcia hanya menanggapi omelan kedua pelayannya itu dengan senyuman tanpa dosa. Jika mereka berbicara tentang Helcia yang asli, tentu saja ini adalah kali pertama tubuh lemah ini melakukan pekerjaan kasar. “Kalian tidak perlu begitu cemas. Aku sudah tidak selemah dulu.” Kata Helcia dengan bangga. Sepertinya bukan raga Helcia yang lemah, namun jiwa Helcia yang asli pun terlalu lemah hingga bisa selalu jatuh sakit setiap saat. “Langitnya! Ada apa dengan langitnya?!” Pekikan seorang penduduk membuat semua orang menatap ke arah langit. Kilat menyambar – nyambar langit, seolah tengah murka kepada dunia. Awan cerah perlahan mulai teegantikan oleh awan hitam pekat yang membawa serta petir didalamnya. “Sial. Ternyata akan datang lebih cepat.” Wajah semua orang berubah pucat, mereka awalnya hanya menganggap perintah Orestes sebagai hal tak masuk akal ketika langit masih nampak cerah. Tapi, sekarang mereka menyadari bahwa perintah Orestes benar – benar memiliki alasan yang nyata. “Semuanya! Sudah tidak ada lagi waktu untuk menyelamatkan semua barang kalian. Bawa saja beberapa barang bernilai tinggi dan segera berlindung di dalam rumah! Badai akan segera datang dalam sepuluh menit lagi!” Teriakan Helcia membelah kerumunan manusia. Semua pedagang yang masih sibuk mengangkut barang dagangan mereka pada akhirnya hanya pasrah dan segera berlari masuk kedalam rumah dengan membawa beberapa barang yang berhasil mereka selamatkan. Hembusan angin kencang datang, menerbangkan kerikil serta debu yang berada di atas permukaan tanah. Helcia menghalau debu yang hendak masuk kedalam mata menggunakan tangannya, begitupun dengan semua orang yang masih berada di jalanan. Akan tetapi, angin tersebut begitu kuat sampai hampir menghempaskan mereka yang tidak berpegangan kepada benda berat. Helcia melirik ke segala arah, sepertinya Tuhan memang tidak pernah memihaknya. Karena, tidak ada satupun benda yang bisa ia genggam agar ia tidak terhempas ke udara. Kedua kaki Helcia meninggalkan permukaan tanah, melayang beberapa inchi dan hanya tinggal menunggu hitungan detik sampai tubuhnya terbawa oleh badai. “NONA!” Petra dan Naya berteriak secara bersamaan. Keduanya ingin menyelamatkan Helcia, namun mereka juga tidak bisa melepaskan tangan dari tiang lampu. Helcia menutup matanya, menyiapkan diri untuk terhempas jauh ke atas udara. Mungkin memang dia tidak pernah diizinkan hidup di dunia. Kehidupannya sebagai Helena Orszebet selalu diliputi oleh kesengsaraan dan harus mati dalam keadaan tragis. Namun, kehidupan yang ia jalani sebagai Helcia Krysanthe bahkan jauh lebih buruk dibandingkan Helena. Mempertahankan senyuman di antara banyak penderita sejujurnya sangat membuat dirinya lelah. “Apa sebaiknya aku mati saja?” Lirih Helcia seraya tersenyum pahit. Kebahagiaan Helcia Krysanthe yang berada di dalam novel pun juga hanya sebatas kepura – puraan saja. Dia mulai berfikir bahwa kematian akan terasa lebih mudah dibandingkan harus terus hidup seperti ini. “Siapa yang mati?” Helcia membuka kelopak matanya tatkala mendengar suara yang tidak asing. Dia juga merasa ada yang menahan tubuhnya agar tidak terhempas lebih jauh lagi. Ketika Helcia melirik kebawah, ia bisa melihat ada tangan Orestes yang tengah menahan tangannya. “Orestes …” Pupil mata Helcia membesar, tidak percaya bila seseorang yang ia ciptakan sebagai tokoh yang dibenci oleh banyak pembaca ini malah menyelamatkan nyawanya. “Kamu tidak akan mati, Helcia.” Orestes lantas menarik tubuh Helcia hingga kakinya kembali menyentuh permukaan tanah. Tak cukup hanya dengan memegang tangan Helcia, Orestes turut melindungi tubuh Helcia di dalam pelukannya, berusaha agar hembusan angin tak bisa menyentuh wanita itu. “Angin semakin kencang, kita harus segera pergi.” Tutur Orestes. “Lantas bagaimana dengan penduduk kota?” Orestes menjawab, “Biar Athian dan Lucas yang mengurus sisanya. Kamu dan dua pelayanmu bisa mengikutiku kembali ke Mansion Obelix.” Seorang prajurit membawakan dua ekor kuda untuk Orestes. Salah satu kuda —berwarna cokelat— bisa Helcia kenali sebagai kuda yang dibawa oleh Petra dari kediaman Krysanthe. “Dimana kuda yang satunya?” tanya Helcia bingung. “Mungkin dia melarikan diri akibat takut dengan badai. Naiklah bersamaku.” Balas Orestes. Orestes mengangkat pinggang Helcia agar wanita itu bisa naik dengan mudah, kemudian di susul oleh Orestes yang duduk tepat dibelakang Helcia seraya memegang tali kekang kuda. Sebelum memacu kudanya, Orestes menatap ke arah prajurit yang berada di samping kuda, “Beritahu Letnan Lucas dan Athian untuk segera kembali setelah pekerjaan mereka selesai.” “Baik, Jenderal!” Kuda – kuda itu lantas dipacu dengan kecepatan tinggi agar mereka bisa sampai ke Mansion Obelix sebelum badai menyerang Kerajaan Socrates. Tatkala kedua kuda itu membelah kota, rintikan salju yang terkena hembusan angin menghantam wajah mereka, meninggalkan warna kemerahan di permukaan kulit akibat tak kuasa menahan suhu dingin. “Apa kedua Letnanmu akan baik – baik saja di Kota?!” Helcia menaikan nada suaranya supaya bisa terdengar sampai ke telinga Orestes. “Bila mereka berdua tidak selamat hanya karena badai, maka mereka tidak pantas menyandang gelar Letnan.” Meskipun jawaban Orestes terkesan dingin, Helcia sangat tahu bila dia juga menaruh kekhawatiran terhadap Athian dan Lucas yang selalu berada di sampingnya itu. Di dalam novel, mereka bertiga bertemu ketika masih berusia lima belas tahun, dan kemudian tumbuh bersama hingga mampu mendapatkan pangkat militer yang tinggi. Seperti kata Orestes, Athian dan Lucas bukanlah orang lemah yang bisa mati hanya karena badai. Mereka berdua adalah Letnan yang sudah melewati berbagai macam perang bersama dengan Orestes. ••• BRAK! Orestes menutup pintu mansion dengan keras, kemudian mengunci pintu tersebut agar angin tak bisa membuka paksa. Ketika mereka sampai di kediaman Obelix, salju sudah menutupi hampir seluruh jalan – jalan Kota Canace. Hembusan angin kencang yang disertai oleh salju itu seakan tengah mengamuk kepada dunia. Badai salju bahkan sudah menumbangkan beberapa batang pohon besar di kota. “Kita selamat.” Kata Helcia seraya menghembuskan nafas lega. Jika mereka terlambat sedikit saja, mungkin mereka semua sudah dihempaskan oleh badai salju atau bisa juga membeku sampai mati. “Nona, anda baik – baik saja?” tanya Naya khawatir. Pasalnya, ujung – ujung jemari serta wajah Helcia nampak memerah. Pertanda bila wanita itu tengah kedinginan. Helcia tersenyum kecil. “Aku baik – baik saja.” Orestes juga ikut menatap permukaan kulit Helcia yang tak terlihat baik. Ketika permukaan kulit mereka tak sengaja bersentuhan, Orestes bahkan merasa bila suhu tubuh Helcia seperti bongkahan es. “Kamu kedinginan?” Kata Orestes. “Aku sungguh baik – baik saja.” Helcia berusaha untuk tetap tegar, walaupun seluruh tubuhnya sudah menggigil dalam diam. Namun, Orestes tidak mengindahkan perkataan Helcia. Dia menarik wanita itu masuk kedalam mansion, menelusuri lorong untuk membawanya masuk ke ruang tamu. “Orestes!” Suara seorang pria menggema di dalam lorong. Gelombang suara yang begitu lantang itu memantul pada setiap permukaan benda padat, sehingga Helcia merasa bila suaranya berputar di sekeliling telinganya. “Orestes! Kamu kembali!” Dari kejauhan, Helcia bisa melihat sosok pria berpakaian bangsawan dengan simbol berbentuk burung pheonix yang membawa pedang pada permukaan jubahnya. Simbol pheonix terbakar yang membawa pedang itu, tidak lain merupakan simbol dari Keluarga Obelix. Semua prajurit yang berada di bawah naungan Obelix mempunyai lambang tersebut di seragam militer mereka. Sedangkan jubah berlambang pheonix tidak bisa didapatkan oleh sembarangan orang. Hanya anggota keluarga Obelix saja yang bisa memakai jubah tersebut. Akhirnya Helcia sadar bahwa pria berisik ini pastilah salah satu anggota Keluarga Obelix yang selalu di anggap iblis oleh bangsawan lain. “Kenapa kamu tidak memberitahu bila akan pulang secepat ini?” Hanya dalam beberapa detik saja, pria bermanik sapphire itu sudah berada dihadapan Orestes dan Helcia. Helcia membelalakan matanya, merasa begitu terkejut dengan gerakan manusia yang di luar akal sehat ini. Dia sangat yakin bila pria itu masih berdiri sangat jauh sebelumnya. “Xylon, jangan menakuti tamu.” Kata Orestes memperingati. Dilihat dari ekspresinya, Orestes sama sekali tidak terkejut dengan kekuatan anomali Xylon. Ah, tapi Orestes memang selalu berwajah datar. “Xylon?” Tanya Helcia lebih kepada dirinya sendiri. Dia berusaha mengingat nama yang tak asing itu. Dan akhirnya baru sadar bila Xylon merupakan putra kedua dari Keluarga Obelix. “Oh.. Siapa kamu? Rasanya seperti pernah melihatmu di suatu tempat.” Xylon mendekatkan wajahnya begitu dekat kepada Helcia sampai kedua mata mereka bertemu dengan sangat jelas. Xylon baru saja ingin menyentuh wajah Helcia. Namun, tangannya dicegah oleh seseorang. “Tidak ada yang boleh menyentuh Nona Helcia secara tidak sopan.” Petra menatap tajam ke arah Xylon. “Petra, sudahlah tidak apa – apa.” Helcia berusaha meredakan amarah Petra yang nampak membenci Xylon. Xylon mengalihkan pandangannya dari Helcia, dan kemudian membuat senyum penuh ejekan kepada Petra, “Petra Agalas? Rasanya sudah begitu lama kita tidak saling berjumpa. Apa sekarang kamu sudah menjadi pelayan dari bangsawan lain?” Petra mengerutkan keningnya akibat merasa kesal, “Xylon Obelix, jangan sampai aku merobek mulut busukmu itu.” ••••• To Be Continued 21 Januari 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN