CHAPTER 20. KEKUATAN ASING

1669 Kata
Helcia memandang Petra dan Xylon secara bergantian, dia dapat menarik kesimpulan bila mereka berdua sudah lama mengenal hingga bisa melontarkan ejekan seperti itu. Setelah dipikir lebih lanjut, itu adalah hal yang mungkin terjadi. Keluarga Agalas dahulu merupakan keluarga bangsawan yang juga bergerak dalam bidang militer sebelum mereka mengalami kehancuran. Kemungkinan besar, Obelix dan Agalas pasti telah lama menjadi pesaing dalam bidang militer. “Petra, kau sudah bukan lagi seorang bangsawan. Tidak akan ada seseorang yang membantumu di pengadilan?” Petra mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, merasa bila emosinya telah berada di ujung kepala dan sudah siap untuk dilepaskan. Melihat Petra yang seolah kehilangan kata – kata itu semakin membuat Xylon merasa senang. Dia mengitari tubub Petra kemudian tersenyum menyebalkan, “Kamu tidak bisa membalasku? Dimana dirimu yang dipenuhi dengan harga diri dan kesombongan itu? Apa mungkin lidahmu sudah keluh semenjak kehilan—” “Xylon, cukup.” Orestes menyela ucapan Xylon. Matanya yang selalu terlihat dingin, nampak semakin dingin di hadapan Xylon. Xylon menyadari bahwa perkataannya tidaklah pantas diucapkan dihadapan Orestes serta tamu yang bersamanya. Dia langsung membungkukan kepalanya rendah agar tidak memancing kemarahan Orestes, “Maaf, Aku telah berbuat salah.” Orestes kembali menuntun Helcia pergi meninggalkan Xylon. Namun, wanita itu tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya. Kedua manik ruby itu memandang Xylon dengan tajam, dia sama sekali tidak senang atas pengkhinaan yang diberikan Xylon kepada Petra. “Minta maaflah kepada Petra.” Suaranya terlampau dingin, bahkan terdengar lebih dingin dari Orestes. Xylon tercekat ditempatnya, merasa terkejut oleh sikap Helcia yang nampak kurang ajar itu. Seumur hidupnya, Xylon tidak pernah bertemu seseorang yang berani menentang anggota Keluarga Obelix. Helcia melanjutkan, “Petra Agalas memanglah bukan seorang bangsawan lagi. Namun, alih – alih membuat dirinya nampak tidak berdaya. Lebih baik aku membiarkan Petra merobek mulutmu, dan kemudian membelanya mati – matian di pengadilan.” Petra memandang Helcia dengan raut wajah yang tidak bisa di deskripsikan. Ada rasa senang sekaligus haru di dalam hati Petra tatkala mendengar penuturan tersebut. Selama dia melepas gelar bangsawannya. Petra tidak pernah lagi menemui seseorang yang bisa membelanya secara lantang. Tapi, kini Helcia tengah membela dirinya yang hanyalah seorang pelayan. Xylon tertawa, “Membelanya mati – matian di pengadilan? Kamu tidak akan menang. Bahkan Raja sekalipun tidak pernah menang melawan Obelix di pengadilan. Kesempatanmu untuk menang hanyalah satu persen.” “Meski hanya sedikit, setidaknya aku masih memiliki kesempatan untuk menang.” Helcia Krysanthe bukanlah wanita yang mudah menyerah. Bila hanya mempunyai kesempatan sebesar satu persen, dia akan berusaha menaikannya hingga seratus persen. “Tidak mungkin. Lagipula, aku juga tidak mau repot – repot mengadakan pengadilan hanya untuk melawan hama kecil.” Xylon melirik ke arah Petra yang berdiri di samping Helcia. Kedua tangan Helcia mengepal kuat sampai buku – buku jarinya memutih. Dia ingin sekali menghilangkan kesombongan pada diri Xylon, dan membuat pria itu menunduk dihadapannya. Dalam beberapa detik, Xylon seolah melihat ada pancaran cahaya di kedua manik ruby Helcia. Pancara cahaya tersebut membuat pandangan Xylon hanya terpaku kepada kedua mata Helcia, tanpa berani untuk memalingkan wajah. Di saat itulah, Xylon merasakan adanya tekanan besar yang menyerang jiwa dan emosinya tatkala Helcia berkata dengan lugas, “Xylon Obelix. Meminta maaflah kepada Petra.” Detak jantung Xylon memompa dua kali lebih cepat dari biasanya, hingga ia merasa dadanya begitu sesak. Sebuah kekuatan asing tengah membelenggu kesadaran Xylon dan membuat pria itu tidak mampu mengambil alih atas tubuhnya sendiri. Bibir Xylon yang terkatup rapat akhirnya mengeluarkan suara serak, “Petra Agalas, aku sungguh meminta maaf atas segala perbuatan yang menyakiti hatimu.” Xylon tercekat. Dia sama sekali tidak mau mengucapkan kalimat tersebut, namun bibirnya malah bergerak sendiri. Petra juga merasa ada kejanggalan dalam diri Xylon. Dia setidaknya sudah mengenal Xylon hampir sepuluh tahun lamanya. Tidak pernah sekalipun Petra mendapati Xylon menuruti perintah orang lain, bahkan seringkali pria itu juga menentang tuntutan yang diberikan oleh Orestes. Sangatlah mustahil bagi Xylon untuk menuruti perintah dari Helcia dengan mudah. Beberapa saat kemudian, akhirnya Xylon mampu mengambil alih tubuhnya lagi. Kakinya tanpa sadar mundur beberapa langkah dari hadapan Helcia, “Apa yang kamu lakukan kepadaku?” Helcia juga tidak mengerti. Dia sendiri mampu melihat perlawanan yang dilakukan oleh Xylon saat mengucapkan permohonan maaf. Helcia merasa bahwa ada sesuatu yang mengendalikan Xylon, hingga pria itu menuruti perintah Helcia. Sebelumnya, Helcia merasa seperti ada serbuan perasaan yang membanjiri hatinya. Dan perasaan itu bukanlah milik Helcia. Perasaan arogansi dan penuh kepercayaan diri itu tidak lain merupakan perasaan yang dipancarkan oleg Xylon. Ketika Helcia memberikan perintah, perasaan milik Xylon di tekan begitu kuat, sampai perasaan Xylon hampir hilang. “Orestes! Siapa sebenarnya dia?!” Seru Xylon kepada saudaranya itu. Orestes membalas singkat, “Dia … Helcia Krysanthe.” “Krysanthe? Kamu membawa seorang Krysanthe ke dalam rumah ini?” Suara protesan dari Xylon lambat laun terdengar samar di telinga Helcia. Wanita itu mendengar suara denging yang membuat kepalanya begitu sakit. “Helcia. Ada apa denganmu?” Orestes yang melihat wajah Helcia berubah pucat langsung memegang lengan Helcia. Helcia memegangi kepalanya yang begitu sakit. Dia memandang Orestes, tapi hanya menemukan siluet semu yang tidak jelas. Segalanya menjadi samar bagi Helcia. “Orest—” Tubuh Helcia kehilangan kekuatannya, dan kemudian pandangannya menjadi gelap. “Nona Helcia!” “Helcia!” Orestes menahan tubuh Helcia agar tidak jatuh ke atas permukaan lantai. Kulit Helcia yang selalu nampak pucat berubah semakin pucat seperti kertas putih. Orestes bahkan mampu merasakan suhu tubuhnya menurun dengan drastis, sampai membuat dirinya sedikit menggigil saat menyentuh Helcia. Bahkan Xylon juga ikut panik ketika melihat Helcia tidak sadarkan diri begitu saja, “Apa yang terjadi kepadanya?!” “Xylon. Panggil tabib!” Saat itu, Xylon mampu melihat kilatan emosi dari balik mata Orestes yang selalu terlihat kosong. ••• Ketika Helcia membuka mata, ia melihat dirinya tengah terombang – ambing di antara kegalapan pekat. Tidak ada sercercah cahaya yang bisa membimbing jiwanya keluar dari ruang kosong tersebut. Hembusan angin kencang menarik jiwa Helcia begitu cepat, hingga tubuhnya terhempas kuat ke atas permukaan pualam dingin yang memantulkan wajaahnya yang sepucat salju. Lantai pualam itu berwarna putih. Sangat kontras dengan keadaan ruang sekelilingnya yang ditutupi oleh kegelapan. Helcia menoleh ke segala arah, berusaha mencari petunjuk atas lokasi dirinya berpijak sekarang. Namun, dia tidak mendapatkan apapun. Dia hanya seorang diri didalam dimensi tersebut. “Kamu sudah datang?” Suara yang tak asing menyapa pendengarannya. Membuat Helcia lantas menoleh ke arah sumber suara yang berada dibelakang tubuhnya. Pupil mata Helcia mengecil tatkala melihat sosok yang sangat ia kenali nampak dihadapannya. Sosok itu adalah dirinya sendiri. Helcia melihat ada Helcia lain yang tengah duduk di atas sebuah kursi dengan rantai yang mengikat seluruh tubuhnya agar dia tidak bisa bergerak sedikitpun. “Siapa kamu?” Tanya Helcia tidak yakin. ‘Helcia’ lain tertawa, “Tidakkah sudah jelas? Aku adalah dirimu.” Pikiran Helcia seolah berhenti mengolah informasi. Dia tidak mampu mencerna informasi yang ada dihadapannya dengan baik. Segalanya terasa begitu anomali bagi dirinya yang selalu berpikir logis. Mungkinkah itu adalah jiwa Helcia yang asli? Tapi, raut wajah serta pancaran auranya sangat berbeda dengan Helcia Krysanthe asli. Wanita yang tengah dirantai itu mempunyai aura mencekam yang mampu membuat tubuh Helcia bergetar. “Kamu bukan jiwa Helcia yang asli. Lantas, siapakah dirimu?” “Helcia yang asli?” Suara gemerincing rantai terdengar tatkala ‘Helcia’ menggerakan tubuhnya, “Tidak ada Helcia yang asli atau palsu. Kita adalah Helcia.” Helcia semakin tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini berputar. Segalanya nampak begitu rumit, “Jangan bermain – main. Katakanlah yang sesungguhnya.” “Aku tidak berkata dusta. Aku sudah terkunci di alam bawah sadarmu selama belasan tahun. Dan akhirnya, sebentar lagi aku bisa bebas.” Sebelum Helcia bisa menjawab, sosok itu tersenyum kecil, “Helcia Krysanthe segelmu telah terbuka.” ••• Sengatan kecil yang menjalar di d**a Helcia, membuat wanita itu terbangun dengan nafas terengah – engah. Kegelapan mutlak sudah menghilang dari pandangannya, dan tergantikan oleh langit – langit ruangan yang dipenuhi oleh cahaya lampu kecil. “Nona Helcia! Anda sudah sadar!” Naya menggenggam tangan Helcia dengan begitu erat, dia takut akan kehilangan Helcia bila dia sampai melepaskan genggaman tangan mereka. Sedangkan, Petra hanya berdiri mematung tepat disamping tempat tidur Helcia tanpa bergerak sedikitpun. “Aku tidak sadarkan diri?” Tanya Helcia dengan suara yang terdengar serak. Naya mengangguk, “Nona, anda sudah tidak sadar selama dua jam. Saya … saya sangat takut bila harus kehilangan anda.” Genangan air mata berkumpul di pelupuk mata Naya, hanya tinggal sedikit lagi, maka air mata akan langsung membasahi wajahnya. Helcia mengerutkan kening, merasa bahwa tingkah kedua pelayannya ini terlalu berlebihan. Mereka seharusnya sudah terbiasa dengan kondisi Helcia yang bisa jatuh sakit secara mendadak, lagipula hanya sekedar tidak sadarkan diri saja sudah terlampau sering Helcia alami. “Kenapa sampai ingin menangis? Aku hanya pingsan dua jam.” Kata Helcia. “Jantungmu sempat berhenti.” Suara seorang pria membuat Helcia mengalihkan pandangannya dari Naya. Helcia tercekat tatkala menyadari bahwa dirinya masih berada di dalam kediaman Keluarga Obelix. Terlebih lagi, kini Helcia tengah diperhatikan oleh empat anggota Keluarga Obelix itu sendiri. Sontak, Helcia langsung memaksakan diri untuk duduk diatas tempat tidur. Namun, tertahan akibat rasa sakit langsung menyerang kepalanya secara brutal. “Tetaplah berbaring.” Orestes berjalan ke samping Helcia, kemudian membantu wanita itu agar kembali berbaring di atas tempat tidur. “Saya akan terlihat kurang ajar bila tidak menyambut kehadiran Duke dan Duchess dari Canace disini.” Kata Helcia yang masih memaksakan diri untuk bangkit dengan berpegangan pada tangan Orestes. Sebelum Helcia bangkit, Lysandra dengan cepat juga menahan tubuh Helcia, “Penghormatan itu tidak penting! Kesehatan anda jauh lebih penting. Tetaplah berbaring sampai sakit anda mereda.” Helcia menghela nafas lelah, dia memperhatikan wajah Lysandra secara seksama. Sang Duchess yang usianya hampir memasuki setengah abad itu masih mempunyai penampilan yang segar, wajahnya bahkan hanya memiliki sedikit tanda tua yang tidak terlalu ketara. Nampaknya, seluruh anggota Obelix memang di berkahi oleh kerupawanan. “Nona Helcia, tetaplah beristirahat disini sampai kondisi anda membaik.” Duke of Canace berkata dengan nada lembut, membuat Helcia tercekat dibuatnya. Awalnya, Helcia sudah membuat praduga bahwa Duke of Canace merupakan orang barbar yang tidak mengenal kelemah lembutan kepada orang lain. Dugaan itu muncul akibat mendengar banyak rumor di kalangan bangsawan yang menyebut Duke of Canace sering menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Tapi, saat melihat senyum penuh kehangatan yang terpancar dari wajah Duke of Canace. Helcia langsung menghapus semua pikiran tentang kebarbaran keluarga Obelix. “Saya sungguh memohon maaf, karena telah membuat anda menjadi repot.” Kata Helcia seraya memandangi wajah Duke dan Duchess Duchess of Canace tersenyum, dia menepuk tangan Helcia pelan, “Tidak perlu meminta maaf. Hanya dengan melihatmu bisa membuka mata saja sudah membuat kami senang.” ••••• To Be Continued 25 Januari 2020
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN