CHAPTER 21. SEGEL

1664 Kata
Keramah tamahan yang diberikan oleh Duchess of Canace —Lysandra Obelix— bukanlah sebuah kepalsuan. Helcia mampu merasakan perasaan tulusnya di dalam hati. Wanita separuh baya itu sungguh mengkhawatirkan Helcia, sampai membuatnya tidak ingin meninggalkan Helcia seorang diri. Perlahan, Helcia mulai menyadari sesuatu. Bagaimana mungkin dia bisa mendeskripsikan perasaan yang terpancar dalam diri Lysandra? Bahkan seorang manusia normal yang memiliki perasaan sensitif tidak akan mampu menerima rangsangan emosi orang lain didalam hatinya. Dan seharusnya Helcia juga tidak mampu merasakan hal tersebut, terlebih dia merupakan satu – satunya keturunan Krysanthe yang tak mampu membaca perasaan manusia. DEG! Dalam seperkian detik, Helcia mendapatkan serangan jantung yang membuat tubuhnya menjadi kaku. “Helcia.” Panggil Orestes. Merasa panggilannya tidak mendapatkan respon, Orestes mulai mengguncang bahu Helcia perlahan, “Helcia, ada apa?” Helcia yang mengalami kekakuan tubuh tak mampu mendengar suara orang di sekitarnya. Sekarang ini, jantung Helcia tengah berdetak lamban dan begitu menyakitkan. Setiap kali jantungnya berdetak, Helcia akan merasa seperti sedang dicabik – cabik dari dalam tubuh. Tanpa sadar, emosi – emosi yang dikeluarkan oleh orang lain merasuk secara membabi buta kepada Helcia. Memenuhi setiap rongga dadanya, hingga membuat wanita itu kesulitan bernafas. Terlalu banyak orang di dalam ruangan ini. Dan semua emosi mereka begitu rumit sampai Helcia tidak mampu memilah mana emosi yang paling dominan dan resesif. Dengan sekuat tenaga, Helcia berusaha membuka suara, “Ti … Tinggalkan aku sendiri di ruangan ini.” Petra mencengkram tangan Helcia kuat, “Tidak mungkin saya melak—” “Kumohon … Tinggalkan … aku sendiri.” Suara Helcia terdengar seperti orang yang tengah di cekik. Air mata mulai menuruni pipinya akibat tak kuasa menahan lontaran rasa sakit yang menerjang dadanya tanpa henti. Orestes sepertinya mengerti bila rasa sakit Helcia timbul ketika ia tengah bersama orang lain. Sebab itu, dia turut berkata, “Ikuti kata Helcia, dia akan menderita bila kalian tetap disini.” Dari semua orang yang berada di ruangan, Lysandra Obelix merupakan orang pertama yang akhirnya mengangguk patuh meski ia sungguh mengkhawatirkan Helcia saat ini. Itu karena, Lysandra merupakan orang yang telah memeriksa kesehatan Helcia sebelum ini. Dia sangat paham betul dengan kondisi yang kini tengah di alami oleh Helcia. “Baiklah, sepertinya kehadiran kita disini hanya akan membuat Nona Helcia semakin merasa kesakitan.” Dengan perasaan tidak rela, satu – persatu orang yang berada di dalam ruangan mulai keluar. Mereka tersenyum lembut kepada Helcia sebelum akhirnya menutup pintu ruangan. Akan tetapi, Orestes tetap berdiri di samping Helcia. Tidak bergerak sedikitpun untuk keluar dari ruangan. “Mengapa kamu berada disini?” Helcia memandang nanar kehadapan Orestes, ingin agar pria itu segera pergi. Helcia tidak membenci Orestes, dia hanya ingin rasa sakit di dadanya memudar dan membiarkannya bisa menghembuskan nafas lega. “Ada atau tidaknya aku tidak akan mempengaruhi kondisimu.” Sebelum Helcia membuka suara, Orestes mengajukan pertanyaan, “Apa kamu sebelumnya tidak bisa melihat warna emosi seperti anggota keluarga Krysanthe yang lainnya?” Helcia mengernyitkan keningnya. Seharusnya hanya dia dan anggota keluarga Krysanthe saja yang mengetahui kondisi buruknya itu. Karena, bila sampai kekurangannya itu sampai ke telinga bangsawan lain, semua orang akan memandang Helcia sebagai manusia cacat yang tidak seharusnya bersanding dengan Putra Mahkota. Oleh sebab itu, Demetria berusaha menutup fakta buruk tersebut dari dunia. Dan seseorang yang meminta Demetria melakukan hal itu adalah Istvan. Pria itu berkata bila dirinya tidak rela melihat Helcia harus menghadapi penghinaan dari bangsawan lain. Lebih baik Helcia terkurung dari dunia luar, daripada orang lain mengetahui kecacatannya itu. Dan kini, nampaknya Keluarga Obelix sudah mengetahui kecacatan yang dimiliki oleh Helcia. Membuat wanita itu merasa sangat waspada dengan Orestes. “Mengapa kamu harus tahu?” Helcia membalas Orestes dengan pertanyaan lainnya. Orestes tidak mengindahkan tatapan tajam yang diberikan oleh Helcia, “Ibuku menemukan ada segel yang mengikatmu.” Segel? Di dalam mimpi, Helcia juga mendengar kata segel dari ‘Helcia’ yang nampak terikat oleh rantai besi. Awalnya Helcia berfikir bahwa itu hanyalah sebuah bunga tidur biasa. Tapi, situasi tersebut bisa dikatakan terlalu nyata untuk sebuah mimpi biasa. Mendengar Orestes menyebutkan hal yang sama. Helcia hendak bangkit untuk duduk, namun rasa nyeri langsung menyerang dadanya. Membuat Helcia mau tidak mau kembali dalam pembaringan. “Jenis segel apa yang ditemukan oleh Nyonya Lysandra?” Jawaban Helcia membuat Orestes yakin bahwa segel yang ada didalam tubuh Helcia dibuat tanpa sepengetahuan dari si pemilik tubuh itu sendiri. “Segel Sihir.” Orestes mengambil posisi duduk di sebelah Helcia agar mereka bisa berbincang dengan lebih mudah. Orestes melanjutkan, “Seperti namanya, segel ini bisa mengunci sihir apapun yang diinginkan oleh si pembuat segel. Salah satunya adalah kekuatan sihir untuk melihat hati manusia yang telah dimiliki oleh Keluarga Krysanthe.” Helcia larut ke dalam pemikirannya sendiri. Alih – alih mempertanyakan kekuatan asing yang kini berada di dalam tubuhnya, Helcia lebih memilih untuk memikirkan seseorang yang telah menaruh segel ini kepadanya. “Apa kamu tahu cara memakai segel itu?” Tidak seperti biasanya, Orestes sekarang terlihat ragu untuk menjelaskan pertanyaan dari Helcia, “Kamu yakin ingin mengetahuinya?” Helcia mengangguk yakin, tidak ada sedikitpun keraguan di hatinya, “Katakanlah.” “Aku memang belum pernah memakai segel ini. Namun, Ibuku merupakan seseorang yang banyak meneliti dengan ilmu medis. Dan kutukan atau segel sudah menjadi hal yang seringkali ia temui selama mengobati orang lain.” Orestes mengambil sebuah buku kecil dari saku mantelnya, kemudian memperlihatkan salah satu informasi yang termuat di dalam buku tersebut kepada Helcia, “Segel Sihir bisa terbilang sebagai kutukan terlarang yang sulit untuk dilakukan oleh banyak orang.” “Apa caranya memang begitu rumit sampai tidak banyak orang yang melakukannya?” Tanya Helcia. Orestes menggeleng, “Bukan karena sulit. Tetapi, untuk mengaktifkan segel ini, seseorang harus mengorbankan sisi kemanusiannya.” Helcia memejamkan matanya sejenak. Tanpa diberitahu dengan pasti, Helcia sudah yakin bahwa sisi kemanusiaan yang dimaksudkan oleh Orestes merupakan hal yang paling di hindari oleh kebanyakan orang. “Dia harus membunuh manusia lain?” “Benar. Dia harus membunuh bayi yang baru berusia tiga bulan dan memeras darah mereka hingga kering.” Helcia terperangkap didalam kengerian yang tak masuk akal itu. Bila memang informasi yang di ucapkan oleh Orestes merupakan sebuah kebenaran. Maka, Helcia dapat menyimpulkan bahwa seseorang telah membunuh bayi demi menyegel kekuatan sihir milik Helcia. “Berapa? Berapa banyak bayi yang harus dikorbankan.” Tanpa menampakan emosi, Orestes berkata dengan nada datar, “Cukup banyak hingga darah mereka bisa menenggelamkanmu.” Jantung Helcia kembali berdetak begitu kuat. Kali ini bukan karena tidak kuasa menahan lonjakan emosi orang lain, tetapi karena tidak bisa mengontrol emosi miliknya sendiri yang sekarang tengah bergumul didalam dadanya. Ia menggertakan gigi, “Lanjutkan.” “Orang itu harus merendam tubuhmu dalam darah bayi selama beberapa menit pada malam bulan purnama. Setelah itu, seorang Iblis akan datang setelah mencium aroma darah bayi yang sangat mereka sukai.” Iblis bukanlah makhluk tabu bagi para penyihir yang mempelajari sihir kutukan. Mereka cenderung meminta bantuan para iblis untuk melakukan hal keji atau sulit dilakukan oleh penyihir. Tentu saja Iblis tidak akan melakukan pekerjaannya tanpa imbalan. Mereka selalu memberikan harga mahal atas jasa yang telah mereka berikan kepada makhluk yang lebih rendah. Entah dengan mengorbankan sesuatu dari diri mereka sendiri ataupun mengorbankan manusia lain. Dan darah bayi merupakan hal yang paling mereka gemari. Manusia yang belum memasuki usia satu tahun adalah para manusia yang masih berada di puncak kesucian mereka. Tiada dosa yang menimpa mereka dan tiada kemurkaan yang dilimpahkan tuhan kepada para bayi – bayi itu. Dengan mengkonsumsi darah bayi, seorang iblis mampu meningkatkan kekuatan mereka hingga dua kali lipat. Oleh sebab itu, mereka akan sangat senang bila ada seseorang yang ingin melakukan sihir gelap dengan memakai jasa mereka. Rasa mual sudah menghinggapi perut Helcia, hanya dengan membayangkan dirinya pernah berendam didalam darah para bayi saja sudah membuat dia hampir memuntahkan isi perutnya. “Kemudian—” Helcia menutup mulut Orestes menggunakan telapak tangannya, “Cukup. Aku tidak lagi ingin mendengar ritual penyegelan itu.” Lagipula, Helcia hanya memperlukan informasi yang paling krusial. Selama hidup Helcia Krysanthe, dia tidak pernah sekalipun mengalami penculikan ketika dirinya masih kecil. Walau masa kecilnya tidak termuat didalam buku, Helcia bisa begitu yakin karena Keluarga Krysanthe dan kerajaan selalu memberikan penjagaan ketat untuknya saat masih kecil. Jadi, dia akan mengesampingkan kemungkinan ada orang asing yang telah menculik dan melakukan ritual kepadanya. Kecurigaan hanya bisa jatuh kepada Keluarga Krysanthe atau Keluarga Kerajaan yang selalu berada paling dekat dengannya. Akan tetapi, akan menjadi hal yang aneh bagi Keluarga Krysanthe untuk menyembunyikan bakat milik Helcia. Terutama bila bakatnya mempunyai kekuatan yang mampu mengendalikan emosi seseorang. Apakah Keluarga Kerajaan yang telah melakukan ritual kepadanya? Tapi, apa alasannya? Bukankah akan sangat bagus bila calon putri mahkota memiliki kekuatan yang hebat? “Orestes, jika memang segel sihir memerlukan kekuatan iblis. Seharusnya segel ini sangat kuat. Tapi, mengapa aku bisa mematahkan segel ini?” Orestes mengangkat dua jari ke udara, “Ada dua kondisi dimana segel bisa terlepas. Yang pertama adalah karena ada orang berkemampuan lebih tinggi mematahkan segel tersebut atau kekuatan yang dimiliki olehmu sudah semakin kuat sehingga tidak bisa lagi di segel.” Helcia meletakkan jari di depan mulutnya. Yang paling mungkin terjadi adalah kondisi kedua, dimana dirinya sudah semakin kuat hingga segel itu sudah tidak mampu lagi menahan kekuatannya. Jiwa Helcia Krysanthe yang dulu memanglah begitu lemah dan membawa banyak kesialan, sehingga tentu saja segel itu tidak akan pernah terlepas hingga akhir khayatnya. Tapi, jiwa yang berada didalam tubuh Helcia sudah berbeda. Sejak dia datang ke dunia ini, Helcia belum pernah mengalami sakit panjang seperti di dalam novel. Segel itu pasti tanpa sengaja terlepas saat terjadi perubahan jiwa yang sangat drastis. Namun, Helcia tentu saja tidak bisa mengungkapkan perubahan jiwa tersebut kepada Orestes. “Helcia.” Panggilan Orestes membuyarkan pikiran Helcia. “Mhm?” Gumam Helcia singkat. “Kamu hanya diam sejak tadi. Apa dadamu masih terasa sesak?” Ketika Orestes bertanya, Helcia baru sadar bila rasa sakit yang dialami olehnya mulai berkurang. Ledakan emosi yang disebabkan oleh banyaknya orang yang berada di sekitar Helcia pun tidak lagi ada. Hatinya kini sudah kosong dari perasaan orang lain. Tunggu. Seharusnya hatinya tidak kosong dari perasaan orang lain. Masih ada Orestes di sebelahnya. Tapi, mengapa dia tidak bisa merasakan emosi milik Orestes? Apa kemampuannya sudah tersegel lagi? Namun, pastinya sesuatu yang sudah terbuka dari segelnya tidak akan bisa ditutup lagi dengan mudah. Helcia memandang Orestes dengan seksama. Dia berusaha mencari jejak emosi dari kedua bola mata Orestes yang selalu tampak kosong, “Orestes, mengapa aku tidak bisa merasakan emosimu?” Masih dengan suaranya yang tidak mempunyai emosi. Orestes berkata, “Karena aku tidak mempunyai emosi.” ••••• To Be Continued 28 Januari 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN