Butuh beberapa waktu bagi Helcia untuk mencerna kata – kata yang dilontarkan oleh Orestes. Selama ini dia memang selalu menganggap Orestes selalu kosong dan tidak mempunyai emosi.
Tapi, siapa yang menyangka bila pria itu benar – benar tidak memiliki emosi.
“Apa kamu memang dilahirkan seperti itu?”
Orestes tidak menjawab, dia segera bangkit dari tempat tidur dan menarik selimut untuk Helcia. Perilakunya membuat Helcia yakin bahwa pria itu tengah menghindari pertanyaan yang diberikan.
Tanpa ingin menatap wajah Helcia lagi, Orestes melangkahkan kaki menuju pintu ruangan. Sebelum keluar, Orestes menoleh ke arah Helcia, “Beristirahatlah, bila badai sudah usai, aku akan membangunkanmu.”
Helcia tidak lagi menjawab, dia hanya mengangguk pelan kepada Orestes.
Keheningan menyambut ruangan tersebut tatkala Orestes beranjak pergi. Mata Helcia beralih ke arah jendela yang tirainya tersibak sedikit, menatap badai salju yang kian mengamuk tanpa henti.
Terkadang permukaan jendela akan berguncang pelan ketika dihantam oleh angin kencang, menimbulkan suara bising yang menemani Helcia didalam ruangan tersebut
Mansion para bangsawan tentunya dibangun menggunakan konstruksi kuat yang mampu menahan bencana seperti ini. Hanya sekedar badai salju tidak akan bisa meruntuhkan sebuah mansion. Akan tetapi, lain halnya dengan rumah para penduduk yang terkadang dibangun hanya memakai papan kayu. Mungkin, rumah rakyat biasa dapat langsung rusak ketika diterjang oleh badai.
Nampaknya, jumlah korban tidak akan berkurang walaupun Helcia sudah melakukan upaya untuk memberitahu mereka tentang badai.
Tapi, Helcia tentu tidak bisa menyelamatkan semua orang. Dengan memberitahu mereka untuk segera menyelamatkan diri saja sudah lebih dari cukup, sisanya tergantung pada takdir dan keberuntungan.
Helcia membuang nafas kasar. Badai yang datang lebih cepat dari waktu sebenarnya ini sudah menjadi bukti bahwa sedikit pergantian alur cerita saja mampu memicu bencana.
Di dalam novel, badai salju akan datang ketika Kota Canace hampir mendapatkan panen gandum mereka kembali. Tetapi panen mereka gagal akibat badai salju menghancurkan tanaman gandum yang sudah susah payah mereka tanam.
Harapan penduduk Kota Canace langsung jatuh hingga ke titik terbawah. Mereka tidak mendapatkan bantuan dari kerajaan atau bangsawan, tidak pula memiliki persediaan makanan yang cukup. Tetapi, Orestes tidak lekas merasa putus asa. Dia serta para prajuritnya setiap hari akan berkelana memasuki hutan untuk memburu hewan liar yang bisa mereka gunakan sebagai bahan makanan.
Selama tubuh Orestes masih bisa bergerak, maka dia tidak akan membiarkan penduduk Canace kelaparan.
Tetapi, sekarang alurnya sudah berganti. Kota Canace tidak lagi menanam gandum dan malah melakukan metode pengawetan yang sudah Helcia sarani. Karena badai salju sudah kehilangan tujuan utamanya sebagai penghancur harapan Kota Canace. Maka garis waktu terjadinya badai pun di percepat, karena tidak butuh menunggu sampai panen.
“Jika aku merubah alur lagi, maka seharusnya ada hal terduga lain yang akan datang.” Gumam Helcia.
Saat ini pun telah terjadi perubahan alur yang drastis. Kehadiran Helcia didalam mansion Obelix merupakan hal yang anomali bagi novel ciptaan Helcia. Karena, Keluarga Obelix adalah karakter antagonis yang seharusnya tidak berteman dengan protagonis.
Dan sekarang, mereka malah memiliki hubungan baik dan tidak ada kebencian di antara mereka.
Entah mengapa, Helcia merasa ada yang salah.
Sesuatu seperti akan datang dan membuat hati Helcia menjadi tidak tenang sejak dia membuka mata.
Helcia tidak lagi bisa memejamkan mata, dia mendudukan dirinya di atas kasur dengan mata yang menatap kosong kebawah. Ia memikirkan beberapa kemungkinan yang akan terjadi bila alur cerita berganti seperti ini.
Jika Orestes dan Keluarga Obelix tidak lagi mengambil peran antagonis. Maka, secara otomatis akan ada peran lain yang mengisi posisi ini.
Kedua bola mata Helcia tercekat, “Akan ada banyak tokoh yang berganti peran.”
Antagonis menjadi protagonis.
Bukankah artinya ada probabilitas bagi protagonis menjadi antagonis.
“Siapa …” Gumam Helcia.
Siapa yang akan menjadi antagonis di dalam cerita ini?
PRANG!!
Sebuah batu besar menghantam permukaan jendela yang berada tepat disamping tempat tidur. Secara reflek Helcia langsung menutupi wajahnya menggunakan tangan ketika melihat serpihan kaca berterbangan menuju ke arahnya.
Serpihan kaca yang tajam menggores kulit lengan serta kening Helcia, menyebabkan darah mengalir dan menetes ke pakaian.
Jantung Helcia berpacu begitu cepat tatkala ia merasakan ada bahaya yang tengah mendekatinya. Wanita itu lantas turun dari tempat tidur dan segera berlari menuju pintu keluar. Namun, sebelum tangannya bisa menyentuh kenop pintu, tiga buah pisau melesat cepat melewati wajah Helcia dan menancap di permukaan pintu.
Tubuh Helcia menegang saat bahaya menyapa dirinya. Ia melihat ke sekiling ruangan untuk mencari benda yang bisa ia gunakan sebagai bentuk pertahanan diri.
Pisau buah yang berkilauan menarik perhatian Helcia. Tanpa berfikir lebih lanjut, dia mengambil pisau buah tersebut lalu menghadap ke arah jendela yang sudah memiliki lubang besar.
“Wanita yang selalu terkurung seharusnya tetap menjadi anak yang penurut.” Suara rendah seorang pria membuat seluruh tubuh Helcia bergetar tanpa henti.
Walaupun hanya sekilas, Helcia mampu menangkap rasa haus akan membunuh yang sangat kuat dari pria itu.
Beberapa saat kemudian, tiga orang pria yang mengenakan topeng berwarna hitam meloncat masuk kedalam kamar.
“Siapa kalian?” Kedua mata Helcia memandang tajam kepada tiga penyusup tersebut. Walaupun tubuh Helcia bergetar akibat mendapat tekanan dari perasaan membunuh mereka, dia sama sekali tidak mau memperlihatkan kelemahannya dihadapan musuh.
Suara tawa terdengar memenuhi ruangan, “Identitas anda jauh lebih penting daripada kami, Nona Helcia.”
“Wanita dengan manik ruby serta rambut emas seperti anda pasti memiliki nilai jual tinggi di pasar gelap.”
“Tangkap dia!”
Helcia memegang pisau buah di tangannya dengan kuat, dia memejamkan mata selama beberap detik sebelum akhirnya kembali terbuka dengan sorot mata yang jauh mematikan daripada tatapan sebelumnya.
Seorang pria mengarahkan tongkat kayu ke kepala Helcia dalam kecepatan tinggi. Beruntung Helcia memiliki reflek yang cepat, sehingga dia bisa menghindar dengan mudah.
Alasan utama Helcia pernah menjadi seorang penulis fantasi dan tragedi adalah dirinya menyukai pertempuran. Di dunia sebelumya, Helcia bersusah payah melakukan banyak pekerjaan kecil agar bisa memiliki biaya untuk mengikuti kursus bela diri saat masih berumur sepuluh tahun.
Dan semua usahanya tidak sia – sia, karena Helcia mampu mendapatkan sabuk hitam seni bela diri karate hanya dalam dua tahun. Sayangnya ketika berusia lima belas tahun, Helcia terpaksa berhenti melakoni bela diri karena harus memfokuskan diri untuk membiayai kebutuhan pribadinya yang kian melonjak.
Walaupun sudah hampir enam tahun tidak lagi berlatih bela diri, Helcia sama sekali tidak pernah melupakan gerakan yang telah di ajarkan oleh gurunya.
Dia menghindari beberapa serangan dari seorang pria yang terus – menerus mengayunkan tongkat kayunya itu. Sebelum akhirnya, Helcia menendang perut pria tersebut sampai dia mundur tiga langkah dari hadapan Helcia.
“Kenapa dia bisa menggunakan bela diri?! Bukankah dia hanya seorang wanita lemah?” tanya pria yang terkena tendangan itu kepada rekannya yang lain.
Tidak ingin membuang waktu, Helcia segera melayangkan tendangan ke kepala pria dihadapannya. Namun, pria itu mampu menghindari tendangan Helcia dengan mudah.
“Bisa bertarung atau tidak, tetap saja kekuatannya lemah. Mengapa harus takut?” pria yang sedari awal menjadi pimpinan itu tertawa renyah.
Helcia mengusap peluh yang membasahi wajahnya. Meskipun dia tidak lupa bagaimana caranya bertarung, tubuhnya tetap saja berbeda dengan tubuh Helena di dunia sebelum ini. Tubuh Helcia yang sekarang begitu lemah, sehingga sangat sulit baginya melayangkan pukulan yang bisa menjatuhkan lawan.
Mata Helcia melirik ke arah pintu, saat ini para penghuni mansion pastilah sengaja menjauh dari ruang tidur Helcia karena tidak mau membuat wanita itu menderita akibat menahan gejolak emosi banyak orang. Sebab itulah, sepertinya tidak ada yang mendengar suara ribut dari kamar Helcia. Terlebih lagi, jendela ruangannya ini berada di bagian belakang mansion yang jarang dilewati oleh penjaga Keluarga Obelix.
Sepertinya memang Tuhan tidak pernah berpihak kepadanya.
Dua orang pria berlari dari dua arah yang berbeda, mereka melayangkan pukulan ke bagian vital Helcia untuk membuat wanita itu pingsan. Helcia menusuk lengan pria di sebelah kanannya menggunakan pisau, sedangkan dia menahan pukulan pria di sebelah kiri.
“Jalang! Beraninya melukaiku!”
Baru Helcia ingin mencabut pisaunya, pria ketiga yang sebelumnya hanya berdiam diri, akhirnya melakukan tindakan dengan menendang perut Helcia dengan sangat kencang sampai punggungnya menghantam dinding.
Ketiga pria tak dikenal ini memang sengaja tidak memakai senjata tajam untuk melumpuhkan Helcia, karena mereka tidak mau menggoreskan luka di permukaan kulitnya yang bisa menurunkan harga jual. Tetapi, mematahkan tulang tidak akan membuat seseorang memiliki bekas luka.
Tubuh Helcia terjatuh ke lantai, ia kehilangan kekuatan setelah merasa ada tulang punggungnya yang retak.
Seorang pria menarik helai rambut Helcia sehingga pria itu bisa melihat wajah Helcia dengan lebih baik. Helcia memandang mata pria yang tersembunyi dari balik topeng tersebut dengan pandangan kesal. Helcia ingin memanipulasi pria tersebut, namun kondisi fisik Helcia yang sekarang belum memungkinkan dirinya memakai kekuatan yang menguras energi itu.
“Nona, inilah akibatnya bila kamu melarikan diri dari rumah dan malah menginap di rumah bangsawan rendahan.”
Helcia mengerutkan keningnya.
Sedari awal memang ada terlalu banyak kejanggalan dari mereka. Kekuatan ketiga pria ini memang bisa melumpuhkan Helcia, tapi juga tidak bisa dibilang setara dengan kekuatan tempur satu prajurit Obelix.
Bagaimana mungkin tiga pria rendahan ini begitu berani bertindak onar di Kediaman Obelix?
Lengkung kurva tercipta di wajah Helcia, “Bangsawan rendahan? Tuan, apa kamu tidak mengenali mansion keluarga bangsawan ini?”
Bukanlah hal aneh bila ada yang tidak mengetahui letak mansion Keluarga Obelix. Karena, mansion ini terletak jauh dari pemukiman penduduk biasa, dan begitu dekat dengan jalan hutan yang sangat jarang dilewati penduduk biasa.
Ketiga pria itu menatap senyuman Helcia dengan aneh. Entah mengapa, mereka merasa seolah akan ada bencana yang datang menghampiri mereka.
“Pe … pertanyaan apa itu? Tentu saja kami tahu! Ini adalah mansion Keluarga Baron Calmreich!”
Di dalam Kota Canace memang terdapat keluarga bangsawan lain yang memiliki gelar lebih rendah dari Duke of Canace. Biasanya mereka hanyalah keluarga bangsawan bergelar Earl ataupun Baron yang tidak memegang kekuasaan.
Dan nampaknya, ketiga pria ini telah ditipu oleh seseorang.
Helcia tersenyum cerah, sorot matanya memandang mereka dengan tatapan penuh ejekan, “Sepertinya nyawa kalian akan hilang malam ini.”
“Ap—”
“Orestes Obelix!!!” Helcia berteriak sekuat tenaga memanggil nama Orestes.
•••••
To Be Continued
1 Februari 2021