Setelah mendengar nama tersebut, ketiga tubuh pria itu langsung bergetar hebat. Bahkan Helcia mampu menangkap rasa takut yang begitu dalam dari hati mereka.
“O .. Obelix? Pendusta! Tidak mungkin Orestes Obelix ada di Mansion Baron Calmreich!”
Helcia tertawa, “Aku. Helcia Krysanthe. Tidak akan pernah menginap di dalam kediaman bangsawan rendahan.”
Helcia berkata dengan menekankan setiap butir katanya agar membuat ketiga pria itu semakin ketakutan. Walau benci mengatakan hal tersebut, Helcia tidak bisa memungkiri bahwa akan menjadi hal yang sangat tidak wajar bagi wanita seperti Calon Putri Mahkota untuk menginap di dalam kediaman bangsawan dengan pangkat Earl atau Baron.
Mereka memanglah sesama bangsawan. Namun, kasta mereka terlampau jauh dan tidak mungkin bisa disandingkan.
Ketiga penyusup itu memandang pintu dengan sangat waspada. Begitupun dengan Helcia yang berharap agar suaranya mampu terdengar sampai ke telinga Orestes yang Helcia perkirakan tidak berada jauh dari ruang tidur Helcia.
Sesungguhnya, Helcia merasa sangat aneh ketika Orestes tidak langsung muncul saat mendengar suara bising dari dalam ruangan Helcia. Pria itu merupakan Jenderal tertinggi yang sudah berada di banyak medan pertempuran sebelumnya. Seluruh indra Orestes pastilah sudah begitu tajam hingga suara asing tidak akan pernah lolos dari pendengarannya.
“Lihatlah! Dia hanya pembohong. Cepat ikat dan tutup mulutnya.”
Salah seorang pria hendak mengikatkan kain ke mulutnya, dan Helcia menggigit jari pria itu agar ia bisa kembali berteriak, “Orestes! Apa kamu tuli?!”
BRAK!
Pintu ruangan di belakang Helcia terbuka akibat tendangan seseorang dari luar. Ketiga pria yang memegangi tubuh Helcia langsung berwajah seputih kertas tatkala melihat permukaan dinding sampai retak akibat tendangan tersebut.
Helcia menoleh ke belakang, dan menemukan sosok Orestes yang tengah mengatur nafasnya. Pria itu menatap situasi yang berada di dalam ruangan dengan cepat. Saat melihat kondisi Helcia yang tersungkur di permukaan lantai dengan memar pada tubuhnya, kedua mata Orestes yang sebelumnya selalu dingin kian membeku.
“Apa kalian yang melingkupi ruangan ini dengan sihir?” Suara Orestes terdengar bagaikan suara malaikat maut bagi ketiga penyusup itu.
Sebelum para penyusup itu bisa menjawab. Orestes menendang seorang pria yang memegang tangan Helcia sampai ia terpelanting jauh.
Dari ekspresi yang terpancar dari wajah mereka, Helcia sangat yakin bila mereka semua memang tidak tahu bahwa ini merupakan Mansion Keluarga Obelix. Selagi Orestes berjalan mendekati dua penyusup lainnya, Helcia menyeret tubuhnya menjauh dari mereka, dia hanya tidak ingin terlibat dengan pertempuran itu.
“Aku akan bertanya sekali lagi, apakah sihir yang melingkupi ruangan ini adalah ulah kalian?”
“Kami tidak memakai sihir.” Lirih penyusup itu.
Orestes mengalihkan pandangan menuju sebuah bongkahan batu besar yang sebelumnya digunakan untuk memecahkan kaca. Di mata Orestes, batu tersebut tidaklah nampak seperti batu biasa. Dia bisa melihat adanya aura berwarna gelap yang melingkupi batu tersebut. Pertanda bahwa batu itu membawa serta sihir didalamnya.
Beberapa saat yang lalu, Orestes merasakan ada sihir bertekanan berat di dalam mansion keluarganya. Walaupun dia bisa merasakan sihir tersebut, Orestes sama sekali tidak mampu mencari lokasi pasti sihir itu berada.
Oleh sebab itu, Orestes telah berlarian ke seluruh penjuru mansion dan membuka setiap pintu dari ruangan yang ada. Sampai akhirnya dia mendapati pintu ruangan Helcia tidak bisa terbuka walau dia sudah berusaha membukanya dengan kunci cadangan.
Orestes juga tidak bisa mendengar suara apapun dari dalam ruangan Helcia, seolah – olah ruangan itu sedang ditutupi oleh sesuatu. Karena itu, Orestes langsung menendang pintu dengan sekuat tenaga hingga bisa mematahkan sihir di dalam ruangan.
Dia sama sekali tidak menyangka bila situasi di dalam ruangan Helcia akan seburuk ini. Orestes menghina dirinya sendiri di dalam hati karena bisa membiarkan ada penyusup masuk dengan mudah ke dalam mansionnya.
“Kalian tahu kesalahan kalian?” Kedua manik sapphire dan emerald nampak menyala dengan pandangan tajam. Badai salju yang masuk melalui jendela semakin membuat suhu pada ruangan itu semakin dingin.
“Mohon maafkan kesalahan kami!” Ketiga penyusup itu bersujud di hadapan Orestes. Mereka tidak menyangka akan berhadapan dengan salah satu iblis dari Keluarga Obelix.
Suara – suara peringatan dari penduduk kota terngiang dalam pikiran mereka, ‘Sekali saja kamu menantang Orestes Obelix, maka kamu tidak akan bisa lagi melihat hari esok.’
Seluruh penduduk Kerajaan Socrates menyebut Orestes sebagai ‘Iblis dari neraka’ atau ‘Bawahan Iblis’. Namun, dibanding dengan bawahan iblis atau iblis yang melarikan diri dari neraka. Orestes lebih tampak seperti Raja iblis yang menguasai neraka.
“Helcia.” Panggil Orestes.
“Iya.”
“Bisakah kamu menutup mata?”
Helcia mengangguk pelan, “Baiklah.”
Helcia menutup matanya, tidak lagi melihat Orestes yang kini berdiri di hadapan tiga pria yang bersimpuh.
Tepat setelah Helcia menutup mata, pusaran aura berwarna merah muncul dari bawah kaki Orestes, yang kemudian membuat seluruh ruangan menjadi semerah darah.
Ketiga penyusup itu merasa tubuh merasa menjadi kaku, dan tidak bisa melepaskan pandangan dari Orestes. Peluh telah membasahi wajah mereka, dan air mata sudah mulai menggenang di pelupuk mata.
“Kalian memiliki tiga kesalahan. Kesalahan pertama, kalian dengan berani memakai sihir tanpa sepengetahuan Keluarga Obelix.” Orestes menginjak batu sihir yang dibawa oleh mereka sampai menjadi kepingan kecil.
“Kesalahan kedua, kalian telah menyusup ke dalam Mansion Keluarga Obelix.”
Orestes melangkahkan kaki menuju ketiga penyusup yang masih bersimpuh di atas permukaan lantai. Dia lantas berkata dengan nada suara rendah, “Dan kesalahan ketiga, kalian dengan berani melukai seseorang yang berada dibawah perlindunganku.”
“T.. Tolong. Biarkan kami hidup!”
“Kami hanya melaksanakan perintah!”
“Dia berkata bahwa ini adalah mansion Baron Calmreich. Kami sungguh tidak tahu bila ini merupakan Mansion dari Keluarga Obelix.”
Orestes menghentikan langkahnya tepat di depan mereka, dia kemudian memandang para penyusup itu seperti sedang melihat tiga ekor hama, “Siapa dia yang kalian maksud?”
Melihat Orestes yang tertarik dengan informasi yang mereka katakan membuat ketiga penyusup itu tersenyum.
“Seorang pria yang mengenakan topeng mendatangi kami siang ini, dia berkata kami harus menculik Nona Helcia yang tengah berada di Kota Canace.”
“Pria itu juga berkata bila Nona Helcia kemungkinan besar akan menginap di mansion Baron Calmreich saat badai datang. Dan dia memberikan kami alamat mansion ini.”
“Siapa namanya?” Tanya Orestes.
Tiga pria yang baru saja melihat harapan langsung merasa bila harapan mereka kembali hilang, “Ka.. Kami tidak tahu.”
“Kalian tidak tahu?”
“Kami sungguh tidak tahu. Dia mengenakan topeng dan mantel hitam yang terlihat lusuh, sehingga kami tidak bisa mengenali wajahnya.”
Wajah Orestes kian menggelap, “Maka, kalian tidak berguna.”
Orestes menarik pedang yang selalu menggantung di pinggangnya. Tanpa membuat angin berhembus, Orestes sudah menebas kepala tiga pria di hadapannya. Mereka bahkan belum sempat berteriak ketakutan sebelum permukaan tajam dari bilah pedang itu menebas tulang leher mereka, memisahkan kepala dari tubuh.
Darah menyembur keluar dengan derasnya, membuat permukaan lantai marmer tertutupi oleh genangan darah. Orestes memejamkan matanya, menarik kembali aura merah yang sebelum ini melingkupi ruangan tersebut.
Dia tidak lagi menatap mayat yang sudah tergeletak kaku di atas darah. Orestes lantas mengangkat tubuh Helcia agar tubuh wanita itu tidak terkena darah yang terur mengalir ke berbagai tempat.
“Apa aku sudah boleh membuka mata?”
“Belum.”
Walaupun Helcia masih menutup mata, dia bisa mencium aroma darah yang memenuhi ruangan. Tanpa bertanya pun, Helcia sudah tahu bila Orestes pastinya telah membunuh ketiga penyusup itu dengan mudah.
Orestes Obelix memang sudahlah bukan tokoh antagonis yang akan melukai Helcia. Dia juga tak pernah sekalipun membenci Helcia seperti Orestes yang ada di dalam novel.
Namun, tingkah laku Orestes yang mencerminkan iblis masih melekat di dalam dirinya. Membunuh bukanlah suatu hal yang sulit bagi Orestes, dan Helcia sangat mengetahui hal tersebut.
“Aku bisa berjalan sendiri, bisakah kamu menurunkan aku?”
Orestes berjalan keluar dari ruangan, darah yang menggenang di sepatunya membuat ia meninggalkan jejak merah setiap kali ia melangkahkan kaki.
“Tidak perlu berjalan, lantainya kotor.”
Ketika sudah keluar dari dalam ruangan, Orestes bisa melihat sosok Athian dan Lucas yang tengah berlari di lorong. Mereka menatap wajah Orestes yang dingin, kemudian mengalihkan pandangan menuju aliran darah yang keluar dari ruangan di belakang Orestes.
Athian lantas melihat Helcia yang berada di dalam gendongan Orestes. Wajah wanita itu nampak pucat dengan memar di beberapa bagian kulitnya. Dia dan Lucas baru saja sampai di mansion, tapi sudah menemukan Tuan mereka membawa wanita ke dalam kediamannya.
Athian ingin bertanya mengenai Helcia, akan tetapi di urungkan saat merasa bila Orestes tidak ingin diganggu saat ini.
Tanpa menyambut kedua letnan yang baru saja datang. Orestes berjalan melewati Lucas, kemudian berbisik pelan, “Bersihkan sampah disana.”
Lucas mengangguk, “Anda ingin menguburnya?”
"Bakar saja."
•••••
To Be Continued
2 Februari 2021