CHAPTER 24. HUTANG

1087 Kata
Kejadian buruk yang menimpa Helcia telah menjadi pukulan besar bagi Keluarga Obelix. Bukan hanya merasa tidak becus menjaga tamu, tapi juga tidak menyangka bila ada penyusup yang bisa melewati penjagaan ketat pasukan Obelix. Setelah mendengar Helcia terluka, Lysandra Obelix lekas menemui Helcia seraya membawa banyak obat – obatan yang bisa dipakai untuk merawat luka. Wanita separuh baya yang orang lain kenal angkuh itu, ternyata tidaklah lebih dari seorang ibu penyayang yang tak mampu melihat ada anak muda mengalami kesulitan. “Helcia, kami sungguh meminta maaf karena telah membiarkan ada penyusup melukai anda.” Lysandra memegang tangan Helcia dengan raut wajah merasa bersalah. Helcia menggeleng pelan dan menyunggingkan senyum kecil di bibirnya yang pucat, “Anda tidak perlu meminta maaf, Nyonya Lysandra. Seharusnya saya yang minta maaf karena sudah banyak merepotkan kalian.” “Anak ini! Mengapa sedari awal sangat merasa merepotkan kami? Kamu sama sekali tidak merepotkan. Orestes telah bercerita kepada kami bahwa kamu sudah banyak membantu Kota Canace.” Mata Helcia melirik ke arah Orestes yang tengah menatap badai di luar jendela. Tanpa sadar wajah Helcia sedikit memerah akibat mengingat Orestes yang telah menggedongnya di sepanjang lorong hingga ke ruangan baru. Beruntung, Orestes meminta orang selain Lysandra untuk tetap menjaga jarak dari Helcia. Karena, Helcia pasti akan mengalami lonjakan emosi lagi bila terlalu banyak orang mendatanginya dalam satu waktu. “Saya tidak banyak membantu. Saran yang saya berikan hanyalah sekedar kalimat belaka, bukanlah barang yang bisa membuat penduduk Kota Canace terhindar dari kelaparan.” “Tapi, berkat saranmu Kota Canace bisa mengambil langkah yang tepat. Bila seandainya Duke Obelix benar – benar ingin menanam gandum lagi, kami hanya akan mengalami kerugian ketika badai menyerang.” Ujar Lysandra. Helcia tidak lagi memberikan pembelaan, dia merasa bila untuk sekedar berbicara saja sudah terasa berat untuknya. Tubuh penyakitan ini benar – benar membuat Helcia menggerutu dalam hati. Dia sangat benci terlihat lemah di hadapan seorang pria, namun telah berulang kali Orestes melihat sisi lemah yang sangat ingin ia tutupi itu. Lysandra mampu melihat ekspresi tidak nyaman tercetak pada wajah Helcia, dia tidak lagi berbincang dengan Helcia dan segera mengobati wanita itu. “Orestes keluarlah dahulu.” Perintah Lysandra. “Ibu, saya akan berjaga disini agar kejadian yang sama tidak terulang.” Lysandra tersenyum, kemudian menggoda putra sulungnya itu, “Bagaimana ini? Helcia harus membuka pakaiannya agar Ibu bisa mengobati lukanya dengan baik. Orestes, Apa kamu ingin melihat wanita tanpa busana?” Orestes hanya memandang ibunya dengan wajah datar sebelum akhirnya berkata, “Saya akan berjaga di luar ruangan.” Lysandra tertawa kecil saat melihat Orestes keluar dari ruangan, sedangkan Helcia menutupi setengah wajahnya menggunakan tangan untuk menyembunyikan wajahnya yang tengah malu. Seumur hidupnya, dia bahkan belum pernah memegang tangan seorang pria. Lelucon dewasa seperti ini terlalu berlebihan untuk Helcia! “Dia sama sekali tidak menyenangkan.” Lysandra kemudian meminta Helcia duduk di atas tempat tidur dengan punggung menghadap Lysandra. Helcia menurunkan pakaiannya agar Lysandra bisa melihat luka pada punggu Helcia dengan lebih baik. Helcia memang tidak mendapatkan luka dari senjata tajam yang membuatnya mengeluarkan darah. Namun, dia tahu bahwa ada beberapa tulang belakangnya yang retak akibat dibenturkan keras ke permukaan dinding. Toleransi rasa sakit Helcia tidaklah rendah, sehingga dia masih bisa menahan luka patah tulang tanpa harus banyak meringis sakit. “Aku bisa menyembuhkan lukamu dengan cepat. Namun, untuk menyatukan tulang yang retak akan membuatmu sangat sakit dalam beberapa menit. Kamu sanggup menahannya?” Helcia tidak mempunyai banyak pilihan, dia harus sembuh sebelum hari berganti esok. Sehingga dia mengangguk kecil dan berbisik, “Aku akan menahannya.” Lysandra meletakkan kedua tangannya pada punggung Helcia. Sinar berwarna merah berpendar dari telapak tangan Lysandra dan menyelimuti punggung Helcia. Krak! Tulang yang patah mulai menyatukan diri mereka kembali seperti semua. Menimbulkan bunyi retak yang bisa terdengar dengan sangat jelas. Helcia berkata akan menahannya, tapi sesungguhnya kini dia tengah merasa mati rasa sampai tidak mampu menggerakan tubuhnya. “Anda memakai sihir?” Bisik Helcia, berusaha mencari pelarian dari rasa sakit. “Kami tidak memakai sihir.” Alih – alih memakai kata ‘saya’, Lysandra menggunakan kata ‘Kami’. Yang mengartikan bila seluruh Keluarga Obelix tidaklah menggunakan sihir seperti yang ditebak oleh kebanyakan orang di Socrates. Awalnya Helcia pun juga berfikir jika Keluarga Obelix memakai sihir agar bisa memenangkan peperangan secara berturut – turut. Akan tetapi, setelah Helcia melihat kekuatan yang dilepaskan oleh Orestes selama beberapa saat yang lalu. Helcia yakin bahwa itu bukanlah sihir. Ketika Orestes memintanya untuk menutup mata. Helcia tidak benar – benar melakukan permintaan itu. Dia sedikit mengintip Orestes, dan melihat ada kekuatan berwarna kemerahan berpusar di sekeliling pria itu. Helcia memang tidak pernah menuliskan penggunaan sihir di dalam novelnya. Namun, dia tahu dengan pasti bahwa — — Warna merah melambangkan Iblis. Ketika dia mengurung diri di dalam perpustakaan pada dua hari pertama datang ke dunia ini. Helcia menemukan sebuah buku yang memuat tentang penggunaan sihir serta kekuatan iblis. Awalnya, Helcia tidak tertarik untuk membacanya. Tapi, dia mempunyai firasat bahwa dia mungkin akan membutuhkan informasi yang termuat di dalam buku tersebut suatu saat nanti. “Lantas kekuatan apa yang kalian gunakan?” Helcia berpura – pura tidak tahu, karena ingin memastikan tebakannya. “Tebaklah.” Balas Lysandra seraya menarik tangannya dari punggung Helcia, pertanda bila pengobatannya telah selesai. Tentu saja, Keluarga Obelix tidak akan membongkar rahasia mereka dengan begitu mudahnya kepada orang yang baru saja mereka temui. Apalagi, Helcia dan Keluarga Obelix tidak pernah memiliki ikatan yang membuat mereka saling mempercayai satu sama lain. Helcia menganggap mereka bukan sebagai musuh. Tapi, juga tidak bisa di klasifikasikan sebagai teman. Tidak ada keharusan bagi mereka untuk saling membuka rahasia. Helcia menatap wajah Lysandra dengan senyuman tercetak jelas di wajahnya, “Tidak perduli apapun itu. Saya merasa telah banyak berhutang budi kepada kalian.” Lysandra tidak menolak ketika Helcia berkata bahwa dia memiliki hutang budi. Wanita separuh baya itu segera membantu Helcia merapihkan pakaiannya sebelum melangkah pergi ke luar ruangan, “Beristirahatlah, Nona Helcia.” Tanpa diucapkan pun. Helcia tahu bahwa para bangsawan sangat suka saling berhutang budi satu sama lain. Selain untuk memperluas koneksi, memiliki seseorang yang berhutang budi bisa menjadi kartu andalan yang akan menyelamatkan mereka di masa depan. Begitupun dengan Keluarga Obelix yang tidak luput dari rasa itu. Helcia telah memberikan mereka bantuan pada awalnya, dan Keluarga Obelix membayar hutang mereka dengan memberikan Helcia tempat berlindung di kala badai. Dan kini, Helcia mempunyai hutang kepada Keluarga Obelix setelah Orestes dan Lysandra menyelamatkan nyawanya. Walaupun lemah dan tak berguna, Helcia tetap tidak melupakan statusnya sebagai Calon Putri Mahkota suatu saat akan mendapatkan kedudukan tertinggi. Obelix memang tidak suka berurusan dengan keluarga kerajaan. Tapi, bila mereka bisa mendapatkan keuntungan dari keluarga kerajaan, maka Obelix rela menyeburkan diri mereka ke dalam masalah. Helcia menghembuskan nafas lelah. Langit di luar mulai gelap, dan badai juga sudah mereda. Hari ini terasa begitu panjang dan melelahkan baginya. ••••• To Be Continued 3 Februari 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN