Pagi hari berikutnya, Helcia sudah membersihkan diri dan bersiap untuk meninggalkan kediaman Keluarga Obelix. Cuaca masih nampak tak baik, tetapi Helcia tidak mempunyai pilihan selain kembali ke tempat tinggalnya hari ini agar tidak menambah masalah nantinya.
Ketika Helcia membuka pintu ruangan, dia melihat Orestes yang berdiri di hadapannya. Pria itu membawa sebuah mantel hangat yang dilipat rapih. “Mantel ini terbuat dari bulu beruang yang berhasil kutangkap tahun lalu. Beruang ini sangat ganas, tapi aku berhasil melawannya seorang diri. Bulu beruang sangat bagus untuk bahan mantel, karena bisa membuat penggunanya merasa lebih hangat. Mungkin harganya akan mahal bila kujual.”
Helcia, “…”
Apa pria ini sedang pamer?
Tanpa menunggu respon dari Helcia, Orestes memberikan mantel bulu itu ke hadapan Helcia. “Untukmu.”
Helcia tersenyum. “Terima kasih.”
Keduanya berjalan pada lorong mansion dalam keheningan. Satu – satunya sumber suara hanya berasal dari langkah kaki mereka. Mereka nampaknya tidak memiliki topik pembicaraan yang bisa mencairkan suasana, sehingga lebih memilih diam daripada membuat suasana menjadi lebih canggung.
Helcia memperhatikan penataan Mansion Obelix dengan seksama. Sebelumnya, dia tidak sadarkan diri di dekat pintu masuk. Sehingga, Helcia tidak memiliki kesempatan untuk mengobservasi tatanan mansion yang selalu nampak gelap dari luar ini.
Mansion Obelix bisa terbilang sangat jauh berbeda dengan mansion keluarga bangsawan lain. Bila kebanyakan bangsawan akan menjadikan emas sebagai warna dominan untuk memperlihatkan sisi mewah mereka. Maka, Obelix lebih memilik warna hitam mendominasi mansion mereka.
Mansion ini, benar – benar terlihat seperti bangunan berhantu yang sering Helcia lihat di acara televisi dulu. Bahkan lorong yang ia lewati sekarang tidaklah mendapatkan cahaya matahari yang cukup, sehingga membuat lorong terlihat suram.
“Helcia, kamu yakin akan kembali hari ini?”
Tanpa menoleh ke arah Orestes. Helcia menjawab, “Aku sudah terlalu lama meninggalkan rumah.”
“Cuacanya masih buruk.”
Dari balik jendela, tumpukan salju berwarna putih yang menutup permukaan jalan. Rintikan salju memang sudah berhenti, tetapi suhu udara masih mencapai minus derajat. Membuat orang lain enggan untuk keluar rumah.
“Akan lebih buruk, bila sampai Demetria tahu aku tidak berada di dalam kamar.” Bisik Helcia.
Sebelum kabur, Helcia sudah memastikan pintu kamarnya terkunci rapat agar tidak ada satu orang pelayan pun yang masuk ke dalam kamar. Jika hanya satu hari, mereka tidak akan curiga. Tapi bila lebih dari satu hari pintu kamar Helcia terkunci, mungkin para pelayan akan membongkar paksa pintunya.
Orestes memandang heran saat mendengar Helcia memanggil Duchess of Manos hanya dengan sebutan nama, tanpa ada honorifik hormat di dalamnya. Namun, dia memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh.
“Musim dingin tahun ini sepertinya akan terasa berat.” Kata Helcia berusaha mencari topik pembicaraan.
“Mhm.”
Dan yang paling merasakan bencana adalah Kota Canace. Mereka sempat mengalami krisis pangan, dan sekarang malah harus dihadapkan dengan musim yang tidak menentu.
“Apa kamu akan tetap di Kota Canace selama musim dingin?”
“Tidak. Aku akan pergi ke perbatasan Kerajaan Socrates. Selama musim dingin, pasti akan ada banyak prajurit dari kerajaan lain yang berusaha untuk menyusup masuk.”
Mendengar jawaban dari Orestes, membuat Helcia langsung menoleh kepadanya. Di dalam novel seharusnya Orestes tetap berada di Kota Canace sampai badai berakhir karena dia harus memastikan penduduk kota mendapatkan pangan yang cukup.
Tapi, sekarang dia malah meninggalkan kota dan pergi ke perbatasan kerajaan yang jauh.
“Bagaimana dengan penduduk Kota Canace? Kamu tidak ingin memastikan mereka makan dengan layak atau tidak selama musim dingin?”
“Helcia, aku hanyalah seorang Jenderal bukan Duke dari Kota Canace.”
Helcia tercekat, baru sadar bahwa Orestes tidak memiliki tanggung jawab untuk memastikan kehidupan layak penduduk kota. Di dalam novel, Orestes juga tidak mampu berlaku banyak akibat dia harus memikul tanggung jawab lain sebagai Jenderal besar Kerajaan.
Orestes menambahkan, “Berkat kamu, Kota Canace tidak harus banyak menderita. Ayah dan Xylon pasti mampu menjamin kesejahteraan penduduk selama aku pergi.”
Ada hening sejenak sebelum akhirnya Helcia membuka suara. “Berapa lama kamu akan pergi?”
“Sampai musim dingin berakhir.”
Sebagai seorang pasukan militer kerajaan. Orestes tidak mempunyai waktu pasti dia akan pulang ke kediamannya. Terkadang bisa empat bulan, atau bisa juga hingga satu tahun.
“Bagaimana denganmu?” Tanya Orestes.
Helcia tersenyum kecil, “Tidak banyak yang bisa kulakukan. Mungkin aku hanya berdiam diri didalam kamar atau bahkan datang ke perjamuan teh dengan Pangeran Istvan.”
Setelah Helcia membawa Pangeran Istvan kedalam obrolan mereka. Orestes tidak lagi berniat untuk berbicara. Mereka hanya diam, sampai Helcia sadar bahwa jalan yang tengah mereka lewati bukannya mengarah ke pintu keluar, melainkan malah semakin memasuki mansion.
“Kamu ingin membawaku kemana?”
Orestes diam beberapa saat, sebelum akhirnya menjawab. “Ada seseorang yang ingin menemuimu.”
“Xylon?” Tebak Helcia. Dia adalah orang paling masuk akal yang mungkin ingin menemui Helcia. Karena, pria itu masih berhutang maaf kepadanya.
“Bukan. Dia sudah lama ingin menemuimu.”
“Siapa?”
“Lihatlah nanti.”
Helcia menggerutu dalam hati. Dia mungkin bisa menjawab pertanyaan sulit seputar matematika serta logika. Namun, dia tentu saja tidak bisa menjawab hal yang tidak ia ketahui.
•••••
To Be Continued
4 Februari 2021