CHAPTER 26. PERTEMUAN (2)

1273 Kata
Tatkala pintu sebuah ruangan dibuka, Helcia bisa melihat seorang gadis tengah duduk di atas kursi. Wajah gadis itu begitu cantik, kulitnya yang pucat menjadi kontras dengan rambut hitam yang tergerai sampai pinggang. Dan ada satu hal yang membuat Helcia merasa heran sedari awal. Gadis itu menutup mata, tapi dia seolah sedang menatap ke arah Helcia dari balik kelopak matanya. Jika saja gadis berambut gelap itu tidak membuat gerakan tersenyum di wajahnya, mungkin Helcia akan berpikir bila dia hanyalah sebuah boneka. “Orestes. Kamu sudah datang?” Suara lembut keluar dari bibir gadis itu, membuat Helcia terkejut sedikit. Orestes menarik lengan Helcia agar bisa dekat dengan gadis itu. “Aku sudah datang.” Dengan mata yang tertutup, gadis berkulit pucat itu mengarahkan kepalanya menuju Helcia dan tersenyum lebar. “Kamu pasti Helcia Krysanthe.” Helcia berusaha menekan keterkejutannya dan tersenyum. “Benar, saya Helcia Krysanthe. Bisakah anda memperkenalkan diri kepada saya?” Gadis itu tertawa. “Tidak perlu begitu formal. Namaku Elysia Obelix, keturunan ketiga dari Keluarga Obelix.” Tidak ada jawaban lebih lanjut dari Helcia. Nama Elysia Obelix tidak pernah tertuang di dalam bukunya, tidak juga terlintas sedikitpun dalam benak penulis untuk memunculkan karakter Elysia. Sejauh apapun Helcia berpikir, dia benar – benar yakin bahwa keluarga Obelix hanya memiliki dua orang putra. Dapatkah sebuah tokoh yang tidak pernah diciptakan oleh penulisnya muncul? “Elysia selalu ingin bertemu denganmu.” ungkap Orestes. “Suatu kehormatan bagi Nona Elysia ingin bertemu dengan saya. Maaf, karena telah tak mengenali anda sebelum ini.” “Sudah kubilang, tidak perlu berbicara formal. Kamu bahkan berusia lebih tua daripada aku.” Elysia melanjutkan. “Sudah sewajarnya kamu tidak mengenaliku. Sejak aku kecil, Keluarga Obelix tidak pernah memperkenalkan identitasku ke hadapan publik.” Helcia menatap wajah Elysia dengan seksama. Mencari adanya jejak ketidaksukaan Elysia terhadap keluarganya sendiri. Namun, Helcia tidak bisa melihat hal tersebut, ia bahkan bisa merasakan emosi Elysia terlampau tenang hingga tak membuat jantung Helcia berdenyut sakit. Jika kebencian tidak ada di dalam hati Elysia. Maka, Keluarga Obelix pastinya mempunyai alasan baik untuk mengurung putri ketiga mereka. “Apa kamu akan mendapatkan bahaya bila keluar?” Helcia berlutut dihadapan Elysia, menyamakan tinggi pandangan mereka agar Helcia bisa lebih jelas melihat wajah Elysia yang selalu dihiasi oleh senyuman itu. Tepat setelah Helcia mengucapkan pertanyaan tersebut. Elysia lantas membuka matanya. Memperlihatkan kedua manik yang berwarna keunguan muda. Disaat itulah Helcia sudah bisa menyimpulkan alasan Elysia tidak pernah diperkenalkan kehadapan publik. “Aku buta.” Helcia menutup matanya, menelisik emosi Elysia lebih jauh. Seseorang yang tertimpa kemalangan seperti ini, tidakkah seharusnya dia merasa sedih dan dipenuhi oleh kebencian? Namun, Elysia Obelix selalu mempunyai ketenangan tanpa batas didalam hatinya. Seolah – olah gadis itu memang sudah memasrahkan diri kepada takdir yang kini ia dapatkan. “Kamu akan dalam bahaya besar bila publik sampai mengetahui keberadaanmu, bukan? Tapi, tidakkah itu menyesakkan selalu berada di dalam rumahmu?” Keluarga Obelix merupakan keluarga yang dikaruniai oleh kekuatan besar yang melebihi keluarga bangsawan lain. Mereka selalu berdiri di atas puncak tertinggi dalam rantai makanan, sampai sang raja pun enggan untuk menyentuh mereka. Tentu, akan selalu ada harga yang dibayarkan ketika mempunyai kekuatan sebesar itu. Kehidupan Keluarga Obelix selalu dilingkupi oleh kebencian dari bangsawan lain. Pengkhianatan serta darah sudah terlampau sering mereka lihat. Entah sudah berapa kali mereka harus menemui kasus percobaan pembunuhan terhadap anggota keluarga mereka. Mereka harus melindungi Kerajaan. Tapi, juga harus melindungi nyawa mereka sendiri dari kekejaman politik. Dan Elysia tidak mempunyai kekuatan itu. Dia terlalu lemah dan mudah pecah. Hanya dengan melihat auranya saja, Helcia sudah bisa tahu bahwa dia adalah satu – satunya keturunan Obelix yang tidak diberkati oleh kekuatan fisik yang baik. Elysia mengangkat kedua tangannya, kemudian menyentuh pipi Helcia. Rasa dingin menjalarai permukaan kulit Helcia, sehingga membuat wanita itu menggigil sedikit. “Bolehkah aku melihat wajahmu?” Helcia tersenyum. “Mhm. Silahkan.” Elysia lantas meraba wajah Helcia secara perlahan, berusaha menggambarkan wajah wanita bermanik ruby itu didalam benaknya. “Aku tidak pernah merasa keadaanku begitu buruk.” ungkap Elysia. Penuturan Elysia entah mengapa membuat hati Helcia bergejolak. Keadaan mereka berdua bisa terbilang hampir sama. Keduanya tidaklah bebas menapaki jalan dunia, dan selalu terikat oleh takdir buruk yang memuakkan. Namun, mengapa Elysia tidak memberontak seperti Helcia? Mengapa gadis itu bisa dengan mudah menerima dirinya yang selalu berada didalam sangkar? Helcia tidak mengerti. “Mengapa?” Nada suaranya terdengar rendah, seolah menahan amarah yang bergumul di dasar hatinya. Dia tidak marah kepada Elysia, Helcia justru marah terhadap dirinya sendiri yang selalu bersikap seperti dunia akan runtuh bila kebebasannya terkekang. Elysia mengelus lembut pipi Helcia, menyalurkan ketenangan yang sudah lama tidak Helcia miliki. “Karena aku memilih takdirku sendiri.” Helcia terdiam. Tidak tahu harus mengucapkan kalimat apa sebagai balasan. “Aku pernah dihadapkan oleh dua pilihan. Pada pilihan pertama, aku bisa mendapatkan kebebasan seperti manusia lainnya, tetapi kehadiranku tidaklah begitu berguna bagi banyak orang. Sedangkan di pilihan kedua, aku akan kehilangan semua kebebasanku, namun bisa membantu orang lain memperoleh kebahagiaan. Bila kamu menjadi diriku, pilihan mana yang akan kamu ambil?” Helcia bukanlah orang munafik, dia tidak akan menyertakan jawaban yang tak sesuai dengan akal dan nurainya. “Pilihan pertama. Membantu manusia lain bukanlah bagian dari tanggung jawabku. Lagipula, manusia pada dasarnya adalah makhluk egois, mereka akan cenderung memilih jalan yang tidak membebani kehidupan mereka. Terkadang mereka juga tidak akan mengapresiasi pertolonganmu.” Elysia tersenyum. “Kamu benar. Manusia memanglah makhluk egois.” “Lantas, mengapa kamu ingin berjalan di pilihan kedua?” tanya Helcia. “Agar aku bisa tetap hidup.” Elysia melepaskan tangannya dari wajah Helcia, kemudian melanjutkan. “Sebagai keturunan Obelix. Kami di tuntut untuk menjadi seseorang yang kuat supaya mampu melindungi diri sendiri. Sedangkan, aku mempunyai fisik yang lemah sejak dilahirkan. Aku bahkan tidak bisa mengikuti latihan seperti kedua Orestes dan Xylon. Karena itulah, aku memilih jalan ini agar bisa melindungi diri sendiri.” “Maaf, tapi aku tidak terlalu mengerti. Jalan apa yang sebenarnya kau ambil sampai harus mengorbankan kebebasan?” Elysia memegang tangan Helcia, kemudian dia menutup mata selama beberapa detik. “Helcia Krysanthe. Seharusnya kemarin adalah hari kematianmu. Kamu dan kedua pelayanmu mati di dalam kamar penginapan dengan kepala terpenggal.” Helcia membulatkan kedua matanya, merasa terkejut dengan ucapan yang dilontarkan oleh Elysia. Hatinya berdetak kacau, namun ia masih berusaha untuk memutar otaknya secara cepat. “Kamu yang meminta Orestes untuk membawaku ke mansion ini?” Lengkung kurva tercetak di wajah Elysia. “Benar. Coba pikirkanlah Helcia. Bila aku tidak memilih jalan ini, apakah kamu masih bisa bernafas sekarang?” Logikanya bekerja dengan keras. Akan tetapi, Helcia tidak menemukan penjelasan logis atas hal yang dilakukan oleh Helcia. Sebuah perbuatan yang mampu memutar roda takdir ini, tidak mungkin dimiliki oleh seorang manusia biasa. “Kamu bisa melihat masa depan.” ujar Helcia. Dia tidak percaya dengan hal spiritual seperti ini. Tetapi, setelah sadar bahwa dunia ini sangat jauh berbeda dengan dunianya. Helcia perlahan mulai menerima banyak alasan yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan modern. “Kekuatan ini membuatku harus kehilangan kedua mataku. Tidakkah itu hanya sebuah harga yang sedikit untuk mendapatkan kekuatan sebesar ini?” Elysia ada benarnya. Dibanding dengan mempunyai kedua mata, bisa melihat banyak kemungkinan masa depan akan jauh lebih menguntungkan. Beberapa saat kemudian, Helcia menatap gadis dihadapannya dengan tajam. “Apa yang kamu inginkan? Pasti ada sesuatu yang kamu butuhkan dari diriku sampai harus membelokan takdir seperti ini.” Walaupun wajah dan tingkah laku Elysia menyerupai malaikat. Helcia mengerti, bahwa tidak ada hal yang bisa didapatkan secara gratis di dunia ini. Terlebih, Elysia tidaklah mengenal Helcia secara baik hingga membuatnya ingin menolong Helcia. Kematian Helcia bukanlah sesuatu yang begitu penting. Dia masihlah Calon Putri Mahkota yang belum mempunyai kekuasaan. Jika dia memang mati kemarin, maka Istvan akan mengadakan pemilihan Calon Putri Mahkota lagi untuk menggantikan Helcia. Obelix tidak akan terpengaruh dengan pergantian seperti itu. “Membodohimu memanglah mustahil. Helcia, aku membantumu hidup agar kamu bisa berhutang lebih kepada keluarga kami.” “Aku sudah berhutang kepada keliarga kalian.” “Itu belum cukup. Satu hal yang kuminta darimu adalah mengabdi kepada Keluarga Obelix.” ••••• To Be Continued 5 Februari 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN