Helcia bangkit berdiri. Tatapan mata yang sebelum ini sehangat musim semi telah berganti dingin seperti salju yang membeku. “Apa kamu tidak meminta terlalu banyak?”
Walau Helcia benci untuk mengakuinya, tetapi dia masihlah menjadi bagian dari Keluarga Krysanthe yang selalu berada di jalur yang berbeda dengan Keluarga Obelix. Bila sampai dia mengabdi kepada keluarga ini, maka cepat atau lambat dia juga akan menjadi musuh satu kerajaan.
Helcia Krysanthe bukanlah orang yang senang mendapatkan konsekuensi sebesar itu.
“Itu setimpal. Bukankah lebih baik mengabdi alih – alih mati?” balas Elysia.
“Aku sungguh berterima kasih karena kamu telah meminta Orestes untuk membawaku kemari. Tapi, bagaimana bisa aku percaya denganmu begitu saja? Bisa saja kekuatan melihat masa depan itu tidak ada, dan kamu hanya berpura – pura berkata demikian?”
Tanpa membiarkan Elysia menjawab, Helcia melanjutkan. “Spekulasimu tentang kematianku pun terdengar janggal. Ketiga bandit yang menerobos kamarku kemarin ingin menjualku hidup – hidup untuk dijadikan p*****r di luar kerajaan. Mereka tidak akan membunuhku. Sekalipun melawan, mereka pasti hanya membunuh Petra dan Naya, kemudian menyisakkan aku yang tidak mampu melawan. Bagaimana kamu bisa menjelaskan hal itu?”
Perkataan dari Helcia tidaklah salah. Hanya dengan berpindah tempat saja tidak akan membuat seorang penjahat berubah pikiran. Bila memang dia mati di tangan bandit, maka seharusnya bandit yang menyerang kediaman Obelix pun juga berniat membunuh Helcia.
“Kamu benar, itu memang janggal. Tapi maaf, aku hanya bisa melihat satu kemungkinan masa depan dan tidak bisa menebak isi pikiran manusia.”
Itu merupakan salah satu kekurangan dari penglihatan Elysia. Dia mungkin bisa coba menghindari satu kemungkinan masa depan, tapi dia tidak bisa melihat kemungkinan lain di peristiwa yang sama. Bahkan, Elysia juga tidak tahu ada kemungkinan para bandit akan menyerang Helcia di Kediaman Obelix.
“Nona Elysia, apa benar kamu memang memiliki penglihatan masa depan? Bila kamu menjawab demikian, maka aku akan sulit mempercayaimu.”
Elysia tidak panik, dia tetap duduk dengan tenang walaupun Helcia sudah menempatkan posisi sulit di atas pundaknya. “Bisakah aku memegang tanganmu? Hanya sebentar saja.”
“Baiklah.”
Helcia masih menatap Elysia dengan sabar, membiarkan gadis itu melakukan segala hal selama itu bisa meyakinkan Helcia bahwa kekuatannya memang nyata.
“Elysia tidak pernah berbohong.” Suara rendah terdengar dari sampingnya. Ketika menengok, dia melihat Orestes masih berdiri tegap di tempatnya sedari awal.
Bila pria itu tidak berbicara, mungkin Helcia akan lupa dengan kehadirannya yang bagai gunung es itu. “Aku hanya percaya dengan apa yang kulihat. Jika Elysia tidak bisa membuktikan lebih banyak, maka aku akan menganggap kalian penipu.”
Entah mengapa, hanya memandang wajah Orestes saja sudah membuat hati Helcia merasa kesal. Dia merasa menyesal karena telah berpikir bahwa Orestes adalah orang baik hingga menyelamatkannya. Ternyata, pria itu tidak lebih dari seorang iblis yang menipu orang lain agar mendapatkan hal yang ia inginkan.
“Kau memang tidak perlu percaya dengan siapapun. Dunia ini busuk, tidak ada satu pun manusia yang berhati bersih. Kamu bisa menganggap hubungan kita sebagai rekan bisnis yang saling menguntungkan.”
Helcia tidak lagi repot – repot membuat senyuman setelah hatinya merasa tidak baik. Dia memandang mata Orestes dengan tajam dan berkata. “Keuntungan apa yang bisa kamu berikan kepadaku?”
“Kebebasanmu.”
Hanya dengan satu kata itu sudah cukup membuat Helcia tersentak. Baginya kata ‘Kebebasan’ bukanlah hal yang bisa ia raih dengan mudah, meski sudah berganti jiwa sekalipun Helcia tetap belum menemukan cara untuk melepaskan diri dari belenggu yang menyiksa kehidupannya.
Tetapi, Helcia bahkan belum terlalu dekat dengan Orestes sampai pria itu bisa menyimpulkan keinginan terbesarnya. Dia memang pernah berkata bahwa keluarganya selalu mengurung Helcia, tapi informasi sekecil itu tidak akan cukup untuk menyimpulkan keinginan seseorang.
“Tahu apa kamu tentang kehidupanku? Apa kau menyelidiki latar belakangku?”
Orestes tidak menjawab, tetapi Helcia menyimpulkan bahwa pertanyaannya tidak salah.
“Aku bisa membuatmu memperoleh hak kebebasan untuk keluar dan membebaskan dirimu dari pernikahan. Apa itu masih belum cukup?”
Mendapatkan hak untuk bebas dari jeratan keluarganya adalah hal yang baik. Tapi, membatalkan pernikahan dengan Putra Mahkota belum bisa Helcia klasifikasikan sebagai baik atau buruk.
“Kenapa kau ingin membatalkan pernikahanku juga?” tanya Helcia. Memutus pernikahan dengan keluarga kerajaan bukanlah perkara mudah, dan Orestes pasti tidak akan melakukan hal seberani ini hanya untuk menyelamatkan wanita seperti Helcia.
Orestes pasti mempunyai sebuah rencana kepada keluarga kerajaan, dan pria itu membutuhkan bantuan Helcia.
“Aku tidak bisa menjelaskannya bila kamu menolak kerja sama. Lagipula, bukankah kamu tidak mencintainya?”
Helcia mendengus. “Dia calon suamiku.”
“Menikah dan mencintai seseorang adalah dua hal yang berbeda. Apa dengan menikah dengan Pangeran Mahkota akan membuatmu jatuh cinta?”
“Cinta ataupun tidak juga tidak ada hubungannya denganmu.”
Orestes ingin membuka suara, tetapi terputus oleh ucapan Elysia. “Aku berhasil menemukannya.”
Helcia menundukan kepalanya untuk melihat Elysia. “Menemukan apa?”
“Sesuatu yang bisa membuatmu percaya kepadaku.”
“Oh. Jadi, apakah kau sudah melihat masa depanku lagi?”
Elysia menggeleng. “Melihat masa depan akan menguras banyak energiku. Tetapi, melihat masa lalu semudah membalikan telapak tangan, jadi aku melihat masa lalu hidupmu.”
Menyadari perbuatan Elysia yang telah mengintip masa lalunya, membuat Helcia lantas menarik tangan dari genggaman Elysia. Dia jauh lebih takut bila ada seseorang yang berhasil melihat masa lalunya.
Bukan masa lalunya sebagai Helcia Krysanthe. Melainkan masa lalunya yang seorang Helena Orzsebet.
“Katakan padaku. Apa kamu melihat masa lalu dan mada depan melalui jiwa seseorang?”
“Iya.”
Udara di sekitar mereka terasa semakin dingin. Helcia menyipitkan matanya kemudian berkata, “Apa yang kamu lihat?”
“Kamu tidak berasal dari du—”
Dengan gerakan terlampau cepat, Helcia menutup mulut Elysia menggunakan tangannya dan berbisik di samping telinga gadis itu. “Tidak ada yang boleh mengetahuinya. Sekalipun itu Orestes.”
Elysia ikut berbisik. “Aku tidak pernah membuka rahasia seseorang bila memang tidak diperlukan. Jangan khawatir, aku akan membungkam mulutku.”
Helcia menarik wajahnya, lalu melihat Orestes. “Baiklah, aku mempercayai kekuatan Elysia. Tapi, aku belum bisa mempercayai kalian.”
“Seperti kataku, tidak perlu mempercayai orang lain. Selagi bisa bekerja sama, maka tidak akan ada masalah.”
Angin berhembus kencang diluar, menyebabkan getaran kecil pada permukaan jendela. Helcia melirik keadaan diluar sebentar, kemudian berkata, “Jadi, apa yang kalian inginkan dariku? Cepatlah, aku tidak punya banyak waktu.”
“Jadilah mata untuk mengawasi keluarga kerajaan.”
Orestes menyerahkan sebuah gulungan kertas kecil kepada Helcia. “Bukalah kertas itu nanti dan renungkan. Bila kamu tidak mau bekerja sama dengan kami, maka aku juga tidak akan memaksa lagi.”
Helcia mengambil gulungan kertas kecil tersebut dari tangan Orestes. Dia belum memiliki minat untuk merenungkan isinya sekarang. Jadi, Helcia langsung memasukan gulungan kertas itu ke dalam sakunya.
“Jika aku tidak mau, apa kamu punya pilihan lain untuk membuatku menebus perbuatan baikmu?”
Orestes berkata bahwa Helcia masih memiliki pilihan untuk menolak. Sehingga dia penasaran, apa Orestes punya rencana lain untuk memanfaatkannya sebaik mungkin. Akan tetapi, Helcia malah di kejutkan oleh tingkah Orestes yang nampak tidak begitu perduli.
“Tidak perlu melakukan apapun. Pada dasarnya, aku memang ingin menolongmu.”
Helcia berusaha mencari kebohongan dari pernyataan Orestes. Namun, sangat sulit baginya menentukan kebenaran dan kebohongan saat Orestes memiliki hati yang sudah mati.
“Kamu memang aneh.”
•••
Angin bertiup sedikit kencang tatkala Helcia menunggangi kuda untuk membelah jalanan kota yang dipenuhi salju. Suhu udara yang ternyata lebih rendah dari perkiraannya itu telah membuat kulit Helcia menjadi lebih pucat dan kering.
Petra yang menunggangi kuda dihadapannya sedikit menoleh saat mendengar Helcia menggertakan gigi akibat menggigil. “Nona, anda bisa memakai mantel saya juga bila kedinginan?”
Helcia menggeleng pelan. “Kamu bahkan sudah memakai mantel yang lebih tipis dariku, bagaimana bisa aku membiarkan pelayanku membeku?”
Helcia merapatkan mantel berbulu beruang untuk membungkus tubuhnya lebih erat lagi. Ternyata mantel berbulu itu memang sangat hangat seperti yang dikatakan oleh Orestes. Dia mendongakkan kepala ke atas langit, melihat cahaya matahari yang kini tengah tertutupi oleh awan sehingga kehangatannya tidak bisa sampai ke bumi.
“Petra, bila seseorang yang menolongmu meminta balas budi. Apakah kamu akan marah?”
Petra memahami pikiran nonanya yang pasti tengah berkelana pada Keluarga Obelix. “Tentu tidak. Saya sudah menerima pertolongan mereka. Akan menjadi hal kurang ajar bila saya tidak membalas budi.”
Helcia tertawa kecil seraya menundukan kepala. “Kamu benar.”
‘Seharusnya aku tidak marah.’ Helcia berkata dalam hati.
Tidak ada satu hal pun di dunia ini yang datang secara cuma – cuma. Helcia sangat memahami konsep membalas budi seperti itu. Dia juga bahkan sudah mengantisipasi perbuatan Keluarga Obelix hanyalah semata untuk memanfaatkan Helcia dikemudian hari.
Tapi, entah mengapa hatinya tetap merasa kesal saat tahu perbuatan Orestes hanyalah sebuah kepura – puraan. Tanpa sadar, Helcia telah mencoba untuk percaya kepada manusia.
Padahal dia sangat tahu bila mempercayai manusia hanya akan menuntun seseorang ke dalam penyesalan.
Kemudian, dia kembali dikejutkan oleh perkataan Orestes yang berkata memang ingin menolongnya. Helcia jadi tidak tahu harus bersikap seperti apa kepada Orestes.
Pria itu tidak jahat. Tapi, berkata dia baik juga akan terdengar berlebihan.
Dia berada di garis kelabu yang sulit untuk di identifikasikan.
“Dia memang aneh.” gumam Helcia. Suaranya begitu kecil hingga terbawa angin dan tidak terdengar oleh Petra.
•••
“Naya, naiklah terlebih dahulu.” Perintah Petra.
Naya hanya mengangguk. Dia menekukkan lututnya untuk melompat tinggi agar bisa menggapai pagar balkon di lantai dua. Wanita itu lantas memanjat setiap balkon dengan gerakan lincah dan tidak membuat kesalahan sedikitpun. Seperti seekor kera yang berayun pada dahan pohon.
Hanya perlu beberapa detik sampai Naya bisa mencapai lantai lima. Dia mengikatkan tali di pagar balkon, lalu melemparnya ke bawah.
“Apa kalian yakin hanya pelayan biasa?” Helcia menyipitkan matanya ketika menatap Petra.
Petra ternyum. “Anda berpikir terlalu banyak, Nona.”
Petra mengikatkan tali pada pinggang Helcia. Dia memberi isyarat kepada Naya untuk menarik talinya, dan wanita itu mengangguk sebagai balasan.
Helcia tidak begitu senang berada di ketinggian, sehingga dia dengan sengaja mendongakkan kepala untuk melihat langit dan tidak melihat tanah sedikitpun.
Ketika mereka bertiga sudah sampai di atas. Helcia secara berhati – hati mengintip kamar tidurnya. Dia kemudian bernapas lega ketika menemukan kamarnya masih terkunci rapat, tanpa ada tanda – tanda pembukaan paksa. Cangkir teh yang ada di atas meja bahkan masih berada di posisi yang sama ketika Helcia meninggalkannya.
Helcia buru – buru mengganti pakaiannya dengan yang baru, kemudian menyembunyikan pakaian yang tertutupi salju di antara pakaian kotor. Membiarkan salju meleleh sampai menjadi air.
Helcia lantas menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur dan menghembuskan nafas lelah. Dia hanya berada di dalam mansion Obelix selama hampir 12 jam, tetapi fisik serta mentalnya sudah merasa sangat lelah. Meskipun begitu, Helcia sama sekali tidak merasa terbebani. Berada di antara Keluarga Obelix memang melelahkan, namun mereka masih membuat Helcia merasa nyaman dibandingkan dengan keluarganya sendiri.
Suara gemericik kayu bakar terdengar dari arah perapian. Petra tengah memasukan banyak kayu bakar ke dalam perapian agar bisa membuat kamar menjadi lebih hangat. Sedangkan Naya sedang menyeduhkan teh hangat yang bisa membuat tubuh Helcia merasa lebih baik setelah berkelana jauh di antara salju.
Helcia baru saja ingin memejamkan mata saat Petra memanggilnya. “Nona, laporan apa yang harus kami ucapkan kepada Nyonya Demetria ketika mereka kembali nanti?”
“Tidak bisakah kalian berpikir sendiri?”
Naya menangkupkan kedua tangannya, lalu tertawa kecil. “Nona, setelah melakukan perjalanan jauh melintasi salju. Saya merasa bahwa otak kami sedang beku.”
“Bukan beku. Tapi, memang tidak pernah dipakai sampai membatu.” Balas Helcia malas.
Dia merujuk kalimat itu kepada Naya. Dalam sepenglihatan Helcia selama dia berada di dunia ini, Helcia sama sekali belum melihat Naya melakukan hal yang cerdas. Sedangkan Petra selalu bisa membuat keputusan bijak disaat yang tepat, tapi Helcia menganggap itu hal wajar karena Petra memang berlatar belakang kan keluarga bangsawan yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan.
Helcia meletakkan lengannya di atas mata. Dia berfikir sejenak sebelum akhirnya berkata. “Laporkan saja ‘Kami selalu mengawasi Nona Helcia selama anda pergi. Selama dua hari awal, Nona Helcia terserang sakit. Namun, dia baik – baik saja setelah itu.’.”
Naya memiringkan kepalanya. “Sependek itu?”
Helcia menurunkan lengannya sedikit untuk mengintip wajah Naya. “Kau mau kubuatkan laporan setebal seratus halaman? Ingin membuat laporan atau novel?”
Petra membalas sebagai pengganti Naya yang bingung harus menjawab apa. “Bila laporannya sependek itu, apakah Nyonya Demetria tidak curiga? Ia mungkin akan meminta laporan secara detail.”
“Hmm …, dia tidak mungkin curiga. Kita berkata kepada pelayan akan mengurung diri di dalam kamar agar aku tidak terganggu. Kamarku juga berada di lantai lima. Memangnya Demetria akan percaya bila kamu berkata anaknya yang lemah ini melompat dari lantai lima untuk melarikan diri?”
Petra terbatuk ringan. “Sepertinya tidak.”
“Helcia terlalu rapuh. Tetap berbaring di atas tempat tidur saja sudah bisa membuatnya sakit. Bagaimana mungkin dia bisa memiliki keberanian untuk melompat jatuh? Semakin dipikirkan, aku jadi semakin ingin memukul wanita lemah itu agar sadar dari kebodohannya.”
“Nona.” Petra memanggil.
“Apa?”
“Anda baru saja menghina diri anda sendiri.”
“…”
Oh. Nampaknya Helcia lupa bahwa dirinya adalah wanita lemah yang sangat ingin dia pukul itu.
•••••
To Be Continued
7 Februari 2021