CHAPTER 28. KEMATIAN YANG ANOMALI

1586 Kata
Hari sudah menjadi gelap gulita saat Helcia membuka matanya. Angin bergemuruh lebih kencang malam ini dibanding dengan malam sebelumnya. Walaupun jendela kamar telah tertutupi oleh gorden, Helcia yakin bahwa badai sedang berputar ribut diluar sampai membuat ranting ranting pohon tiada henti mengetuk jendela kamar Helcia. Helcia mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar, dan hanya mendapati dirinya seorang diri tanpa ada kedua pelayannya. “Apa aku tidur terlalu lama?” bisik Helcia. Merasa tubuhnya sakit akibat terlalu banyak tidur, Helcia akhirnya beranjak dari tempat tidur dan duduk di atas sofa dekat jendela. Di bawah temaram lampu, wajahnya yang selembut sutra menatap ke arah selembar kertas lipat yang ia letakkan di atas meja pagi ini. Kertas itu masih terlipat rapi, tanda belum ada seorang pun yang berani membukanya tanpa sepengetahuan Helcia. Dia lantas mengambil kertas itu dan memutar – mutarkannya di antara sela jari. Masih menimang akan membukanya atau langsung membakar kertas tersebut ke dalam perapian. Bila dia membuka kertas tersebut dan merasa isinya meyakinkan hati, pasti Helcia akan bergabung dengan Orestes. Secara garis kecil, Helcia mampu menebak bahwa Orestes butuh Helcia untuk menjadi musuh dalam selimut di antara keluarga kerajaan. Dia ingin Helcia mengkhianati Istvan Hesperos yang telah lama menjadi calon suaminya. Helcia menghela nafas pelan, dan akhirnya membuat keputusan untuk membuka kertas tersebut. Saat membaca untaian kalimat yang tertulis di dalamnya, kedua mata Helcia sempat menunjukan sekilas keterkejutan sebelum kembali tenang seperti biasa. Kalimatnya begitu singkat, dan bahkan tidak memiliki keterangan apapun. ‘Banyak kejahatan bersembunyi di bawah tangan Hesperos.’ Biasanya orang hanya akan menganggap kalimat itu seperti konspirasi belaka yang tak jelas, sebatas fitnah yang ingin menghancurkan keluarga kerajaan. Namun, Helcia tahu bahwa Orestes tidak pernah bertindak gegabah, atau dengan sengaja menyebarkan konspirasi palsu. Walaupun di dalam novel, Orestes Obelix nampak kejam dan dingin. Sesungguhnya dia selalu bertindak berdasarkan perhitungan yang tepat, sehingga tidak akan terjerumus ke dalam kesulitan nantinya. Dan Orestes tidak mungkin menyeret Helcia ke dalam masalah ini tanpa memperhitungkan keselamatan Helcia. Orestes pasti sudah menyelidiki Hesperos begitu lama sampai mendapatkan konklusi seperti ini. Helcia menyandarkan punggungnya pada sofa, ia memandang ke arah langit – langit ruangan dan berbisik kecil. “Masalah inikah yang membuatmu bertindak seperti orang gila di dalam novel?” Senyuman berkembang di wajah Helcia. Salah satu hal yang membuatnya bersemangat di dunia ini adalah dengan menyelesaikan sebuah teka – teki sulit yang tak jelas. Jika perkataan Orestes benar, maka Helcia akan dengan senang hati bergabung dengan Keluarga Obelix. Lagipula, Hesperos memang memiliki banyak kejanggalan yang selalu terngiang di dalam benak Helcia. Kertas tersebut di lemparkan ke dalam perapian. Api melahap kertas dengan cepat, menghanguskan kertas itu sampai menjadi abu. ••• Suara gedoran pintu yang kasar membangunkan Helcia dari tidurnya. Waktu masih menunjukan dini hari, dan Helcia tanpa sengaja tertidur di atas sofa dengan tangan yang menopang kepalanya. Karena itulah dia hampir tersungkur ke lantai akibat terkejut mendengar suara bising dari luar. Dengan malas dia berjalan menuju pintu, seraya mempertanyakan orang yang dengan berani menggedor pintunya dengan begitu kasar. “Siapa?” Ketika Helcia membuka pintu, dia langsung disuguhkan oleh wajah seorang wanita dengan lingkaran mata yang pekat dan rambut yang sedikit berantakan. Helcia hampir saja menduga bahwa wanita itu adalah hantu bila saja dia tidak melihat kaki wanita itu masih menapak tanah. “Helcia, ini buruk. Vincent Neandro mati.” Helcia menatap wajah lelah Illiana, sepertinya wanita itu sudah beberapa hari ini tidak bisa tidur nyenyak. Helcia tidak begitu menanggapi ucapan Illiana karena dia merasa bingung. “Mengapa kamu memberitahuku?” “Ayah dan Ibu masih meninggalkan Kota Manos. Selain kamu, aku tidak bisa mempercayai orang lain dalam kasus ini.” “Apa ada hal tidak wajar dalam kasus kematian ini?” Illiana mengangguk cepat, kemudian dia menarik lengan Helcia untuk mengikutinya. “Sebaiknya kita berbicara di kantorku.” Helcia menahan lengannya agar Illiana tidak bisa menariknya lebih jauh. “Tidak. Bawa aku ke mayat Vincent.” “Kamu tidak akan sanggup.” Balas Illiana. Dia merasa bahwa adiknya mungkin akan langsung mual bila melihat mayat. Namun, Helcia berkata tegas. “Aku harus memeriksa mayatnya dengan mataku sendiri agar tahu permasalahannya.” Illiana memandang Helcia dengan ragu, tapi akhirnya menganggukan kepala. “Baiklah, ikuti aku.” ••• Mereka berdua menelusuri tangga menuju ruang bawah tanah. Suhu di dalam tempat ini begitu lembab dan dingin seperti berada di dalam ruang pendingin makanan. Helcia bahkan harus membungkus dirinya sendiri dengan selimut tipis agar tidak menggigil kedinginan. Lentera yang ada di tangan Illiana memercikan bunga api kecil, menjadi satu – satunya suara yang bisa mereka dengar. “Aku tidak tahu ada ruang bawah tanah di rumah kita.” Kata Helcia, menimbulkan suara gema di sekeliling mereka. “Ruang bawah tanah hanya digunakan sebagai ruang penahanan dan penyiksaan. Wajar bila kamu tidak tahu.” “Yah, setidaknya Ibu tidak pernah mengurungku di dalam ruangan sedingin ini.” Illiana tidak menanggapi perkataan Helcia. Dia merogoh kunci dari dalam sakunya dan kemudian membuka pintu besi yang ada di hadapan mereka. Tepat ketika Illiana mendorong pintu besi tersebut. Bau anyir serta busuk langsung menggerayangi rongga hidung Helcia. Dia dengan cepat menutup hidung dan mulutnya menggunakan selimut tipis yang ia bawa. Dorongan mual yang tidak tertahankan berhasil Helcia tekan setelah mencium aroma lemon dari pewangi selimut. “Mengapa bisa sebusuk ini? Bukankah dia baru meninggal malam ini?” Tanya Helcia. Tidak wajar bagi mayat untuk langsung membusuk selama beberapa jam saja. Bau menyengat ini bahkan seperti berasal dari mayat yang mati dua minggu yang lalu. “Aku juga tidak mengerti. Vincent meninggal pada tengah malam. Dan dia langsung membusuk dengan begitu cepat. Karena melihat ketidakwajaran ini, aku meminta seluruh penjaga meninggalkan ruangan agar mayat Vincent tidak terkontaminasi oleh orang lain.” Helcia mendekati mayat Vincent yang duduk di atas kursi dengan perlahan. Ketika berdiri lebih dekat, barulah Helcia mampu melihat wajah Vincent yang hancur. Setengah bagian kepalanya terbelah, sehingga Helcia bisa melihat bagian dalam kepala dengan otak yang sudah menjadi bubur. Rasa mual kembali menyerang Helcia. Seumur hidupnya, dia tidak pernah melihat kasus kematian semenjijikan ini. Susah payah Helcia menahan nafas dan langsung menoleh ke arah Illiana. “Jelaskan semua kronologinya kepadaku.” Illiana mengangguk, tidak mau juga berlama – lama berada di ruangan ini. “Sejak pertemuan terakhir kita. Aku meminta beberapa penjaga untuk selalu mengawasi setiap gerakan Vincent. Kita tahu bahwa ada seseorang yang ingin melecehkan nama keluarga kita, karena itulah aku berencana menangkap Vincent setelah bisa mengetahui si pelakunya.” Dia melanjutkan. “Setelah sebulan lebih mengawasi Vincent, aku bisa menghafal pola gerakannya. Setiap akhir minggu, dia akan selalu pergi ke perbatasan Kota Manos untuk mengambil kantung uang yang di biasanya tergantung pada ranting pohon.” “Apa? Orang lain meninggalkan kantung uang untuk Vincent?” “Benar. Kantung tersebut bentuknya seperti kantung sampah. Orang lain tidak akan mencurigai kantung tersebut, karena memang ada beberapa orang yang membuang sampah sembarangan di hutan dekat perbatasan.” Helcia tersenyum. “Kamu sudah mengetahui pola pergerakan Vincent. Dan kamu tahu bahwa itu adalah kantung uang. Maka kamu pasti sudah melakukan rencana untuk menaruh penjaga di sekitar hutan perbatasan setiap hari, untuk melihat orang yang meletakkan kantung itu.” “Tepat. Pada hari sabtu malam. Bawahanku melihat seorang pria bertopeng hitam tengah menggantungkan kantung uang pada ranting pohon. Sayangnya, bawahanku itu terlalu gegabah sehingga langsung berusaha menangkap orang bertopeng itu.” Melihat ekspresi Illiana yang menahan kesal, Helcia tahu bahwa itu tidak berjalan baik. “Pria bertopeng itu berhasil kabur?” “Iya. Karena pria bertopeng hitam itu sudah tahu bila Krysanthe sudah tahu mengenai rencana busuk mereka. Maka, aku menangkap Vincent Neandro untuk di interograsi.” Melacak orang yang mengenakan topeng itu akan sangat sulit dan pastinya membuang banyak waktu. Helcia juga pasti akan melakukan hal yang sama dengan Illiana bila memang rencananya gagal. Lebih baik mengintrograsi Vincent sampai pria itu tidak ingin hidup, dibanding mengejar musuh yang tak bisa dilihat. Namun, setelah berfikir beberapa saat. Helcia mulai menyadari hal janggal. “Tunggu, kau bilang orang itu mengenakan topeng hitam?” “Iya. Kau tahu sesuatu?” Sesungguhnya tidak ada yang aneh dengan topeng hitam. Tentu ada banyak toko topeng yang menjual topeng berwarna hitam di negeri ini. Hanya saja, terlalu kebetulan bila Helcia mendapati dua penjahat mengenakan topeng yang sama. Dan kedua penjahat ini sama – sama berusaha mencelakai Keluarga Krysanthe. Tiga orang yang berusaha menculik Helcia di kediaman Orestes juga mengenakan topeng berwarna hitam. Bila mereka memang berasal dari satu komunitas yang sama. Maka, ada kemungkinan besar bahwa mereka sedang menghadapi seseorang yang bisa menggerakan satu komunitas penuh penjahat. Penjahat yang hendak menculik Helcia berkata bahwa ada seseorang yang memberi mereka pekerjaan untuk menculik Helcia. Tapi, sepertinya itu bohong bila mereka sama sekali tidak mengenal orang itu. Para penjahat dalam sebuah komunitas tidak akan pernah melakukan kejahatan dengan sembrono. Mereka pasti harus membuktikan pernyataan yang diberikan oleh pel*nggan merupakan hal benar sebelum bertindak. Bila mereka dengan begitu mudah ditipu, Helcia bisa menganggap bahwa orang yang memberi mereka pekerjaan sudah sangat mereka percayai. “Sepertinya aku tahu sesuatu. Tapi Illiana, apakah aku bisa mempercayaimu?” Suara Helcia begitu dingin, bahkan melebihi suhu yang ada di ruangan ini. Jika dia menjelaskan mengenai komunitas penjahat bertopeng ini, maka dia juga harus membuka rahasia kepada Illiana bahwa dia berteman baik dengan Keluarga Obelix. Helcia tidak ingin bertindak gegabah. Dia tidak mau bila Illiana akan melapor kepada Demetria dan membuat segala sesuatu menjadi lebih buruk. “Kita bisa melakukan sumpah darah bila kamu tidak percaya denganku.” Balas Illiana yang menyadari keraguan di hati Helcia. ••••• To Be Continued 8 Februari 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN