“Kita bisa melakukan sumpah darah bila kamu tidak percaya denganku.” Balas Illiana yang menyadari keraguan di hati Helcia.
Helcia belum mengindahkan ucapan Illiana. Dia berjalan mengelilingi mayat dihadapannya sekali sambil menahan bau busuk yang semakin menyengat. Bekas luka penyiksaan seperti pemotongan jari menggunakan tang atau tubuh yang dipukuli bisa Helcia lihat dengan jelas.
Illiana dan para pengawalnya pasti sudah berusaha sangat keras untuk menyiksa Vincent sampai pria ini buka mulut mengenai dalang sebenarnya. Tapi, dia terlalu keras kepala dan lebih memilih untuk bungkam.
“Kamu menyiksanya begitu kejam. Berapa lama kamu mengurungnya?”
“Belum lama. Hanya sekitar lima hari. Vincent ini sangat teguh, dia sama sekali tidak mau membuka mulut tentang orang itu. Vincent berusaha meyakinkanku bahwa dia lah yang ingin merendahkan nama Keluarga Krysanthe. Namun, tentu saja itu tidak mungkin. Vincent telah mengabdi selama sepuluh tahun, dan keluarga kita selalu memperlakukannya dengan baik. Dia seharusnya tidak memiliki dendam. Karena itu, aku yakin pasti dia hanya dimanfaatkan oleh seseorang untuk menghancurkan kita. Namun tengah malam ini, Vincent akhirnya hendak berbicara tentang dalang yang sesungguhnya. Kemudian hal aneh pun terjadi, kepalanya meledak tepat ketika Vincent ingin mengatakan nama orang itu.”
Helcia membalas, “Meledak? Jika memang kepalanya meledak tepat ketika dia ingin mengungkapkan nama penjahat ini. Maka selama ini Vincent bukanlah orang yang teguh, dia pasti tahu bahwa kepalanya akan diledakan apabila dia membuka suara.”
Illiana menyatukan kedua tangannya, dan meletakan tangannya di depan wajah untuk membuat gerakan berdoa. “Malang sekali nasibnya. Selama ini, dia pasti ingin memberitahu kita tentang masalah ini. Namun, dia malah terjebak oleh tipu muslihat orang lain. Semoga Tuhan memberkatinya sampai di akhirat.”
“Tidak juga. Mungkin saja dia memang berkolusi dengan si penjahat untuk menghancurkan Krysanthe. Dan juga ada kemungkinan bila Vincent bunuh diri malam ini. Dia tahu jika mengucapkan nama orang itu kepalanya akan meledak, jadi mungkin dia berfikir lebih baik meledakan kepalanya daripada harus terus tersiksa dalam jangka waktu panjang disini.” Helcia berfikir sejenak, dia menoleh kepada Illiana. “Kamu yakin dia tidak memiliki dendam dengan keluarga kita?”
“Aku yakin. Aku selalu memperlakukannya dengan baik selama ini. Rasanya jarang sekali aku memarahi dia.”
Helcia tertawa. “Itu kamu. Bagaimana dengan perilaku Ayah dan Ibu? Apa mereka memperlakukannya dengan baik?”
Duke dan Duchess Krysanthe itu hanyalah pasangan yang lebih mengedepankan uang dibanding rasa kemanusiaan. Tidak heran bila ada banyak kalangan bawah yang menempatkan ujung pedang di leher Keluarga Krysanthe yang begitu serakah.
Helcia berkata, “Pello dan Demetria Krysanthe bahkan bisa memperlakukan putri mereka seperti hewan peliharaan dan mesin pencetak uang. Tidak heran bila mereka telah memperlakukan orang yang lebih rendah seperti sampah. Coba ingatlah dengan baik, apakah Ibu pernah menyinggung perasaan Vincent?”
Helcia bisa merasakan hati Illiana sedang kacau malam ini. Rasa kesal, marah, kebingungan, dan depresi bersatu menjadi gumpalan hitam yang menyesakkan d**a. Penampilan kusut Illiana yang hampir menyerupai hantu itu sudah menjadi pertanda bahwa wanita itu sudah lama kesulitan tidur dan selalu berfikir keras untuk menyelesaikan masalah ini.
“Sepertinya aku tahu.” Illiana berkata, “Sejak tiga tahun yang lalu. Aku mendengar kabar bahwa putra kecil dari Vincent tengah sakit keras. Penyakitnya memerlukan konsumsi obat dalam jangka waktu panjang, dan tanpa putus sedikitpun. Vincent menduduki jabatan tinggi di bisnis keluarga kita, sehingga uang bukan menjadi masalah. Akan tetapi tahun lalu, Bisnis kita sempat mengalami penurunan drastis akibat adanya badai tak menentu di lautan. Hingga kita tidak bisa menjual bahan ke luar pulau.”
“Keuangan kita juga tidak terlalu bagus akibat Ibu terus membelanjakan barang – barang mewah meski tahu bisnis kita sedang tak terlalu lancar. Oleh sebab itu, Ayah memerintahkanku untuk memotong upah para pekerja sampai delapan puluh persen. Kurasa itu adalah titik balik dari kebencian Vincent terhadap kita.”
Helcia membuat tebakan. “Putra kecil Vincent mengalami sakit keras berkepanjangan. Pastilah obatnya tidak bisa ditebus dengan harga murah. Pemotongan upah sebesar itu pasti akan membuat anaknya sangat menderita. Apa dia datang untuk meminta pinjaman?”
Illiana mengangguk, matanya menyipit rendah kepada mayat Vincent. “Dia berlutut di depan pintu rumah kita selama dua hari untuk meyakinkan ibu memberikan dia pinjaman. Namun, Ayah dan Ibu sama – sama membutakan mata serta menulikan telinga dari keluhan Vincent.”
Hawa dingin merayap di belakang punggung mereka. Sepertinya badai di luar semakin mengamuk, dan dinding ruang bawah tanah akan segera membeku. Illiana menutup matanya dan menghembuskan nafas lelah. “Putranya meninggal satu tahun yang lalu. Mungkin karena tidak bisa membeli obat.”
Helcia menatap wajah Vincent yang tinggal setengah dengan tenang. Walaupun dia tidak bisa merasakan hati dari orang mati. Helcia setidaknya mampu memahami penderitaan macam apa yang telah menggerogoti hati Vincent hingga menumbuhkan kebencian.
Dia sudah mengalami kesengsaraan ketika melihat putra yang ia cintai meregang nyawa. Seseorang yang berada di titik terendah seperti itu, pastilah membunuhkan sosok yang perlu ia benci demi meredamkan kesedihan yang menyesakkan d**a.
Karena itulah, Vincent akhirnya memutuskan untuk membenci Keluarga Krysanthe di sisa umurnya.
“Orang itu pastilah seorang manipulator handal hingga bisa meyakinkan Vincent untuk melawan kita.” Helcia akhirnya melangkah mundur karena tidak kuasa menahan bau busuk.
Illiana, “Entah itu karena manipulasi orang lain atau mungkin memang Vincent sudah memendam amarah dan orang itu hanya perlu memantik amarahnya itu agar semakin membara.”
Helcia mengangkat jarinya dan kemudian menunjuk ke kepala Vincent. “Kamu lihat bekas ledakannya. Menurutmu, apa yang bisa menyebabkan kepala seseorang pecah?”
Jika ini adalah dunia modern. Maka Helcia bisa dengan mudah mengansumsikannya sebagai bom tanam yang biasa digunakan oleh teroris untuk melakukan aksi bom bunuh diri. Namun, di dunia ini bahkan teknologi seperti chip belum ditemukan. Tentu saja akan sangat mustahil bila memasukan bom kecil ke dalam kepala.
Hanya satu jawaban yang terlintas di kepala Helcia. Dan nampaknya Illiana juga bisa menduganya. “Mantra sihir peledak.”
Dunia ini memang belum memiliki teknologi yang maju. Namun, ada banyak hal tak terduga didalam dunia ini. Termasuk penggunaan sihir yang selalu dianggap mitos dalam dunia Helcia.
“Aku juga menganggap begitu. Namun setahuku, hanya dua keluarga yang memakai sihir di Kerajaan Socrates. Keluarga kita dan Obelix.” Meski tidak tepat menyebut kekuatan keluarga Obelix sebagai sihir. Tapi itu masih lebih baik, dibanding memancing kecurigaan orang lain.
Illiana memandang Helcia bingung, “Apa yang kamu katakan? Semua keluarga bangsawan di dunia ini bisa memiliki sihir. Memang tidak seterkenal keluarga kita dan Obelix. Namun, mereka juga para pengguna sihir.”
•••••
To Be Continued
9 Februari 2021