20. Syarat Terakhir

1939 Kata

David berdiri di ambang pintu taman, matanya tertambat pada hamparan air biru di hadapannya. Kolam renang itu membentang luas, ubin biru mudanya berkilau di bawah sinar matahari pagi, permukaannya tenang tanpa riak, seperti cermin raksasa yang menangkap bayangan awan-awan putih yang melayang lambat di langit. Ia belum pernah melihat kolam renang sebesar ini, kecuali di televisi atau majalah-majalah usang yang kadang Sherry bawa dari Cafe. Airnya begitu jernih, begitu mengundang. Ia membayangkan bagaimana rasanya menyelam ke dalamnya, dingin, mungkin, tapi dingin yang menyegarkan, bukan dingin seperti air sumur di rumahnya yang terasa menusuk tulang. Tanpa sadar, kakinya melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Ia sudah berada di tepi kolam, memandangi bayangannya sendiri yang terpantul

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN