Second

1286 Kata
Ini mengherankan padahal Ben sangat populer sewaktu sekolah dulu, apalagi sekarang di umurnya yang baru genap 26 tahun, dia sudah dipercaya menyandang gelar sebagai CEO perusahaan yang bergerak di bidang industri hiburan yaitu penyiaran dan televisi. Disekitarnya banyak wanita-wanita cantik yang berkelas, tapi tak satupun dia dekati atau tanggapi. karena sikap dingin dan sulitnya didekati, Ben semakin lebih berdaya tarik tinggi seperti magnet besar untuk wanita, sehingga banyak wanita berlomba-lomba untuk menarik perhatiannya. Anehnya sampai sekarang, tidak pernah kulihat dia mempunyai kekasih ataupun dekat dengan perempuan selain aku dan Senna. Ben cenderung dingin kepada wanita selain aku dan Senna. Apa mungkin dia ga*? Ah, tidak.., aku segera menyingkirkan pikiran itu. Dulu pernah Ben berkata padaku kalau sempat naksir teman wanita sewaktu di sekolah menengah, kebetulan aku, Senna dan Ben bersekolah di sekolah yang sama, Ben 2 tahun diatasku, jadi dia otomatis menjadi kakak kelasku. Sedangkan Senna sekelas denganku. Tapi aku tak pernah tahu siapa perempuan misterius itu. Ben selalu merahasiakan namanya setiap aku bertanya karena penasaran. Mungkin kalian berpikir apakah itu Senna?, tidak kalian salah, Ben dan Senna adalah saudara sepupu, ayah Ben adalah kakak dari Ibu Senna. Jadi kemungkinan itu tidak bisa terbukti. Yah, aku hanya bisa menyimpan rasa penasaran itu dalam hati saja. Mungkin saja Ben malu dan tidak ingin wanita yang disukainya tahu. Dan sampai sekarang dia belum bisa menemukan wanita yang cocok dengan kriterianya. Sambil menunggu pesanan, akupun iseng membuka salah satu aplikasi pesan berwarna hijau. Sepertinya banyak sekali notifikasi pemberitahuan pesan baru karena handphoneku terus menerus bergetar. Ternyata itu adalah notifikasi grup pesan sesama teman perempuan di kantor tempatku bekerja. Kadang mereka membicarakan tentang trend mode terbaru atau busana karya perancang yang baru keluar ataupun membicarakan tentang tempat-tempat gaul yang asyik untuk menunjang eksistensi mereka. Aku tak tau mengapa mereka juga memasukkanku ke dalam grup itu, jarang sekali aku berinteraksi dengan mereka. Di grup aplikasi pesan itu, aku hanya menjadi pembaca yang pasif. Mungkin mereka tidak sengaja memasukkanku.      Mereka identik dengan gadis-gadis yang selalu uptodate tentang mode dan kebanyakan mereka masih lajang. Kadang kulihat mereka sedang cekikikan di sudut meja kerja salah satu dari mereka saat jam istirahat, entah apa yang mereka gosipkan. Sesekali mereka juga bersaing dalam mendapatkan laki-laki kaya dan tampan. Karena menurut mereka laki-laki dengan ciri-ciri tersebut yang mampu mengimbangi gaya hidup mereka. Tak sedikit barang-barang dan busana koleksi perancang yang glamor, yang dapat mereka kumpulkan. Tidak dapat dipungkiri mereka selalu menjaga bentuk tubuh mereka yang rata-rata proporsional sehingga selalu tampil langsing dan cantik. Membuat mereka menjadi gadis-gadis masa kini yang trendi dan punya OOTD ( Outfit Of The Day) sendiri setiap kemanapun mereka pergi. Yang kadang membuatku sedikit iri. Aku juga ingin punya tubuh seperti mereka, berpakaian dengan busana trendi keluaran perancang terkenal. Tapi, yah kamu tau sendiri,bagaimana aku tidak bisa lepas dari makanan enak dan kue-kue manis yang menggiurkan. Aku tak bisa melepaskan kebiasaanku ini.      Ada dua orang yang bisa dikatakan teman di kantor tempatku bekerja salah satunya adalah Andin, kami sering mengobrol sebentar, dan kadang dia datang ke mejaku meminta tolong untuk membantu dalam penyusunan artikelnya yang selalu berantakan. Walaupun kami tidak pernah bersosialisasi setelah pulang kantor. Andin wanita yang cantik dan modis. Tingginya rata-rata mungkin sekitar 165cm. Dengan potongan rambut bob dan sedikit cat warna abu-abu, serta balutan rok pensil dan blazer serta highheels, membuatnya tampak elegan. Berbanding terbalik denganku yang tinggi 170cm dan badan yang overweight  membuatku selalu tampak besar dan memakai baju-baju yang berwarna gelap. Ah..ingin sekali punya badan ramping seperti itu, tapi setiap aku ingin diet dapat dikatakan selalu gagal, aku tak bisa menghindari makanan-makanan favoritku. Aku memang payah dalam hal makanan, gampang sekali tergoda.      Yang kedua adalah atasanku langsung di kantor yaitu kepala redaktur majalah yang bernama Suyoto Broto Fiandinata yang umurnya hampir setengah baya.Tapi pria kemayu yang selera fashion nya agak nyentrik itu lebih suka dipanggil Belladonna. Katanya nama itu anggun dan cantik. Di kantor dia yang paling baik kepadaku, lebih seperti ibu yang cerewet menurutku. Suka memberikan nasehat-nasehat dan tidak mengucilkanku seperti yang lain. Menganggapku seperti anaknya sendiri. Karena ibuku sendiri pun entah sudah berapa lama tidak peduli kepadaku.Bos Belladonna pernah menikah dulu sekali karena dipaksa menikah oleh orangtuanya tapi akhirnya bercerai. Oh iya, aku belum memberitahumu kalau bos Bella adalah paman Bobby.      Satu-satu aku membaca pesan-pesan mereka di aplikasi pesan itu, mereka sedang membicarakan klien baru perusahaan kami yang mereka bilang kaya, muda, tampan dan mempesona tetapi dingin, membuat mereka kagum dan jatuh cinta. Mereka berpikir saling berebut bagaimana mencari perhatian dan menggaet pria tersebut. Aku tak ingin membaca lagi, aku sudahi memegang handphone. Karena makanan kami sudah datang. Fettucine carbonara dan lobster! Yumm..salah satu dari beribu makanan favoritku kataku dalam hati berteriak girang. Sadar ada yang memperhatikan perubahan wajahku dan aku menoleh, ternyata Ben sedang memandangiku dengan penuh senyuman di wajahnya.      "Kenapa Ben? Ga usah ngeledek deh.." sahutku malu.      " Nggak, aku seneng aja liat km senyum dengan antusias gitu..", jawab Ben sambil tak pernah melepas pandangan dariku. Membuatku salah tingkah.      "Yaudah yuk makan, keburu dingin nanti..", ajak Ben.      Aku tak menjawab karena aku sudah mulai mengunyah. Ben menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. Kami menghabiskan malam itu dengan memesan makanan penutup yang juga salah satu dessert kesukaanku lava cake. Aku dan Ben mengobrol sampai restoran hampir tutup. Tak lama kami pulang, Ben mengantarku sampai rumah, dan dia langsung pulang karena sudah malam. Sesampainya di rumah, aku tidak melihat Senna. Mungkin belum pulang. Atau mungkin menginap di rumah orangtuanya. Dia pindah ke kontrakanku karena ingin bebas dari jam malam katanya, tapi sebenarnya aku tahu Senna pindah ke kontrakan ini karena ingin menemaniku. Senna memang sahabat yang baik. Aku langsung menuju ke kamarku, rasanya badanku lelah sekali. Bersama Ben selalu menyenangkan, dia selalu bisa membuatku tersenyum dan tertawa oleh humornya. Setelah bersih-bersih dan ganti baju, aku lalu merebahkan badanku ke kasur dan tak lama segera terlelap. Oh..mataku, silau sekali rasanya terkena sinar matahari pagi yang langsung masuk ke kamarku lewat celah gorden. Aku berguling dikasur, aku belum bisa bangun sekarang, sambil memeluk bantal dan menarik selimut. Rasanya nyaman dan hangat, aku tidak ingin turun dari kasur. Sepertinya kasur ini memelukku dengan erat. Tapi tiba-tiba perutku sudah berbunyi minta diisi. Ini seperti dilema, perut dan mataku tidak bisa diajak kompromi. Jam berapa ini? Aku mengulurkan tangan pada jam weker di samping tempat tidur. Hampir jam 10. Tak heran aku mulai lapar. Aku ingin sekali tidur seharian karena ini hari minggu.Tapi perutku mengaum minta diisi. Dengan berat hati dan langkah gontai aku menuju wastafel mulai gosok gigi dan cuci muka. Keluar dari kamar dan menuju dapur, kulihat Senna sedang membuat kopi. Saat melihatku Senna tersenyum sambil berkata,      "Mau kopi Nay?"      "Boleh, seperti biasa..", jawabku sambil sedikit menguap.      Kulihat ada yang berbeda dari Senna tapi aku tak tahu apa itu, senyumnya tak pernah lepas dari bibirnya yang tipis sambil bersenandung kecil. Sembari menuangkan kopi ke dalam cangkir dan tak lupa pemanis, karena aku tak suka kopi pahit. Di tangannya tepatnya di jari manisnya, tak sengaja kulihat terselip sebuah cincin berlian berbentuk emerald yang mewah. Bentuknya sangat cantik, tidak pernah kulihat Senna memakainya. Aku berhenti menguap dan terkesiap. Sambil menatap tajam antara cincin kembali ke wajah Senna dan balik lgi berulang-ulang. Akhirnya tersadar.      "Waaahhh..km dilamar Senna?"  Aku memekik kencang, bertanya dengan takjub. Senna mengangguk mengiyakan, senyumnya merekah bahagia. Aku memberinya selamat ikut berbahagia, seketika kantukku hilang, tidak lama lagi Senna akan menjadi nyonya Bobby Sean Fiandinata. Otomatis nanti Senna akan menjadi nyonya bosku. Sambil menyesap kopiku, aku menuang sereal ke mangkuk. Sereal yang bergizi dan sehat. Seharusnya tak kutuang sampai luber. Aku sudah membayangkan bagaimana tampan dan cantiknya anak-anak mereka nanti. Aku segera mengambil handphone dan mengirimkan pesan kepada Ben memberitakan berita bahagia itu. Kami bertiga, aku, Senna dan Ben pergi ke cafe untuk merayakan, Ben datang setelah tak lama aku kirim pesan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN