Malam ini merupakan malam ke 6 mereka menjadi suami istri. Tapi tak pernah sekalipun mereka saling berpelukan apalagi bermesraan memadu kasih layak nya suami istri. Diana masih dengan posisi yang sama seperti malam malam sebelum nya, dengan membelakangi Riko, pun Riko juga demikian. Di atas kardus yang telah di susun rapi, kedua pasutri itu berusaha menutup mata. Malam ini juga malam pertama kalinya keduanya tidur beralaskan kardus. Ditengah-tengah kesunyian Diana meneteskan air mata. Ia berusaha menahan isakan tangis yang akan pecah. Diana menarik selimut untuk menyelimuti diri. Di bawah cahaya remang remang, lampu pijar 5 Watt, dia menangis tanpa suara. Ia takut dan khawatir Riko mendengar tangis nya dan mengira bahwa ia tidak dapat menerima nasib seperti ini. Dia juga takut Riko mengira jika dia menyesal dengan keadaan ini. Namun sekuat apa pun Diana menyimpan kesedihan nya Riko dapaat mendengar isakan tangis nya. Riko berbalik, dan menepuk pundak Diana dengan sangat pelan.
"Din? Kamu nggak papa?"
Cepat cepat Diana menghapus air matanya dengan selimut.
"Engg...nggak... aku nggak papa"
Dia menjawab dengan terbata tanpa menoleh ke arah Riko.
"Kamu nangis?"
"Enggak kok"
"Beneran?"
"Iya.."
"Kamu nggak suka ya kalau kita tinggal di kos ini dan hidup sederhana seperti ini"
Diana berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Riko. Kemudian dia bangun dari tidur nya, lalu duduk. Ia melirik Riko sekilas lalu mengusap wajahnya, dan menidurkan kepala di atas kaki, sambil menahan isakan tangis.
"Tuh kan kamu nangis"
"Hikss.. hikss.."
Kali ini dia benar benar tidak bisa menahan lagi, seketika saja air yang telah terbendung tumpah di pipi mulus nya.
"Kamu nyesel?"
"Sebenarnya aku nggak nyesel Rik... aku kesal, kenapa sih aku harus alami ini semua? Salah aku apa? Kenapa aku harus mengalami hal yang nggak pernah aku bayangin sebelumnya. Padahal kamu tau sendiri kan, aku nggak pernah sedikitpun nyia nyia in waktu buat hal hal yang merugikan apalagi merusak aku. Ok.. waktu kita mabuk, iya aku akui aku salah, tapi itu cuman sekali Riko... sekali... dan semua nya rusak berantakan. Sementara yang lain, kenapa bisa mereka aman aman aja. Kamu ngerti kan maksud aku?"
"Udah... tenang, kamu harus bisa tenang. Aku minta maaf harusnya waktu itu aku nggak ngajak kamu"
"Memangnya yang lain yang ke bar nggak pernah ngelakuin itu. Kok bisa mereka masih gadis?"
"Aku paham maksud kamu, tapi kan semua orang punya prinsip hidup masing masing, kita nggak bisa samakan nasib kita dengan mereka"
"Tapi kenapa Ko, kenapa mereka masih bisa.... tetap.. ga..."
"Shuuutt.... udah, itu bukan urusan kita. Itu urusan mereka, ya.. mungkin mereka udah pakai pengaman, atau pasang KB dan sejenisnya aku juga nggak paham"
"Kalau gitu lebih baik setelah tamat SMA dulu aku pasang KB, biar aku nggak ngalamin hal kayak ini. Jadi aku nggak perlu nikah muda. Mau aku pacaran dan berhubungan dengan siapapun aku aman aman aja. Papa Mama aku juga nggak bakalan tau soal aku masih perawan atau bukan.
Tapi apa yang aku dapat? Aku aja nggak tau bagaimana rasanya, caranya, tapi aku dapat nasib begini Ko. Kamu paham nggak sih apa yang aku maksud?"
"Aku paham Diana, tapi nggak semua kebohongan berbuah baik"
"Kebohongan apa nya Riko?"
"Yaa... kalau kamu memilih memakai KB lalu berhubungan sesuka hati dengan sembarang pria nanti juga suatu hari kamu bakal nyesal"
"Paling tidak aku nggak hamil duluan Riko... kamu paham nggak sih"
"Aku paham, tapi apapun itu yang kamu sesali semua udah terjadi. Din, dengar, semua manusia melakukan kesalahan dan kesalahan terbesar seorang manusia adalah menyikapi seksual. Mau kita nikah dulu atau hamil dulu kita tidak luput dari dosa. Tapi hanya segelintir orang yang sanggup dan bersedia bertanggung jawab. Bukannya kamu ya yang pernah bilang kalau kita bisa melalui semua ini bersama dan kita bisa buktikan ke mereka kalau kita bisa sukses walaupun kita menikah di usia muda"
"Aku tau Ko, tapi aku merasa kalau aku nggak bakalan sanggup melalui semuanya sendiri, ini aja baru tidur di kos yang sempit, nggak ada kamar mandi toilet, belum lagi harus tidur di atas dus. Aku nggak bisa bayangin besok apalagi cobaan yang bakalan aku hadapi Ko. Aku nggak sanggup Riko, sebagai manusia aku nggak sanggup. Aku nggak pernah hidup separah ini selama tinggal dengan papa mama. Bahkan aku nggak pernah merasakan lapar, Ko."
"Aku tau kekhawatiran kamu, aku juga udah pernah bahas ini. Tapi aku bisa mengusir ketakutan ku, setelah kamu meyakinkan aku bahwa kita bisa melalui nya bersama. Sekarang intinya apa pun permasalahan yang kita hadapi kita harus bisa bekerjasama dan saling dukung. Aku janji aku akan bekerja dengan giat. Dan ku pastikan kamu nggak bakalan kelaparan"
"Jangan janji, nanti ketika kamu mengalami kesulitan mencari pekerjaan aku akan kecewa Ko"
"Iya... aku nggak janji tapi aku berusaha. Aku akan melakukan yang terbaik untuk hidup dan matimu. Aku juga minta maaf"
"Riko...."
Entah apa yang membuat pertahanan Riko runtuh, Ia pun turut menangis sambil memeluk istrinya. Riko sendiri bingung dengan apa dia harus memberi nafkah pada istrinya. Sementara ia sendiri belum pernah bekerja untuk mencari uang. Selama ini dia selalu meminta uang kepada kedua orang tuanya untuk apapun keperluan nya dan apapun yang dia inginkan. Namun kini mana mungkin dia meminta kepada orang tua, karena dengan jelas kedua orangtuanya telah berkata bahwa mereka tidak akan memberikan sesen pun kepada mereka. Tidak perduli apapun masalah yang mereka hadapi, entah dalam suka maupun duka, dalam keadaan sehat atau pun sakit melanda, orang tuanya tidak ingin turut tangan ikut campur dalam kehidupan mereka. Papa Riko ingin anak nya berusaha sendiri untuk memenuhi kebutuhan istrinya. Karena beliau merasa jika Riko berani melakukan kesalahan sebesar ini, itu artinya dia sudah tau konsekuensi dan sanggup menerima segala tanggungjawab dan resiko. Itu sebabnya Papa Riko lepas tangan. Ia bahkan enggan untuk bertemu dengan anaknya.
Malam pun semakin larut, setelah bisa menenangkan diri, keduanya memilih untuk beristirahat. Riko berpesan mereka harus bisa sama sama tabah kepada Diana. Setelah itu, keduanya pun mengambil posisi masing masing, dan berusaha menutup mata hingga akhirnya keduanya pun terlelap dalam tidur.