Keesokan harinya mereka bangun untuk memulai hari yang baru di tempat yang baru. Riko mengambil handuk dan beranjak keluar kamar menuju kamar mandi yang berada di luar kontrakan. Kamar mandi di penuhi oleh para penghuni kosan yang sedang ngantri untuk mandi. Kamar mandi di kontrakan ini hanya terdiri dari dua, sementara kontrakan terdiri dari 10 pintu rumah. Jadi para penghuni harus ngantri untuk menggunakan kamar mandi. Untuk mencuci baju dan piring telah di sediakan tempat khusus di samping kamar mandi. Di tempat itu pun banyak penghuni wanita yang sedang mencuci baju ataupun mencuci piring. Kontrakan ini hanya di huni oleh para pekerja yang masih lajang. Hanya Diana dan Riko yang berkeluarga di kontrakan ini.
Karena menunggu sangat lama, Riko memutuskan untuk kembali ke kamar.
"Kok balek? Kamu udah siap mandi?"
Diana baru saja selesai membereskan tempat tidur mereka, ia melipat selimut yang semalam mereka pakai lalu menaruhnya di atas kardus yang berisikan pakaian. Di kamar ini tidak ada dipan atau pun meja. Semua barang di susun di atas lantai tanpa alas satupun.
"Belum, di luar ngantri, banyak pula yang ngantri"
"Oh... ya wajar lah, kan kamar mandi nya cuman dua, sementara penghuni di sini banyak"
"Tapi kayaknya semua lajang deh Din, kok bisa sebanyak ini ya?"
"Paling teman teman mereka nginap di kos mereka masing masing"
"Iya juga sih, tapi kok campur gitu ya, laki laki perempuan"
"Mana ku tau, mungkin aja memang yang ngekos campur campur, ada yang cowok ada yang cewek. Tapi tetap aja mereka nggak sekamar cowok cewek"
"Bisa jadi"
Riko kembali merebahkan tubuhnya di atas kardus.
"Terus hari ini kamu mau ke mana?"
"Aku belum tau mau kemana. Tapi kayak nya kita harus ke pasar buat belanja semua keperluan dapur"
"Emang kamu punya uang?"
"Punya, tapi sisa 800 lagi deh kayaknya"
"Kita beli apa dengan uang 800 itu?"
"Kita bisa beli kompor, gelas piring, dan lain lain. Kan kamu yang perempuan kamu yang lebih tau keperluan dapur"
"Iya aku tau, tapi aku nggak pernah belanja sendiri, palingan aku temenin mama belanja, itupun aku nggak tau harganya"
"Ya udah kita belanja aja nanti"
"Cukup nggak duitnya? Nanti kalau nggak cukup gimana?"
"Kita ambil aja seperlunya, nggak usah terlalu dipaksakan beli semua"
"Ya udah deh. Kita mandi dulu"
"Masih ngantri Din"
"Nggak papa aku tunggu di luar aja, kali aja udah mulai sepi yang ngantri"
"Terserah deh"
Diana mengambil pakaian ganti dan juga handuk serta kotak sabun. Kemudian dia keluar menuju kamar mandi. Di tempat ia berdiri seseorang menepuk pundaknya. Sontak aja dia kaget lalu menoleh ke belakang. Dengan sopan Diana menyapa salah satu penghuni kontrakan tersebut.
"Kamu penghuni baru ya di sini"
"Iya kak"
"Sendiri aja?"
"Nggak kok kak berdua sama suami"
"Oh jadi kalian pengantin baru ya"
"Nggak juga sih kak, kita udah hampir seminggu nikah"
"Ooohh.. tapi masih anget anget juga kan. Tapi kok sepi"
"Maksudnya?"
"Yaa.. aneh aja, biasanya kan kalau pengantin baru itu pasti berisik. Sedangkan yang belum jadi pengantin ajaa berisik nya minta ampun, apalagi yang baru nikah. Tapi kok kalian sepi gitu sih? Aku nggak ada denger suara suara semalam"
"Mmm... kita live in private kak, nggak suka berisik"
"Oh... kalian maen nya kalem ya... banyak juga sih anak anak jaman now yang kalem kalem, kalau nikah pas bermadu kasih kalem juga. Tapi jangan sering sering di tahan suaranya keluarin aja, biar lebih puas "
"Iya kak... oh ya kak aku duluan ya"
"Eh.. kita belum kenalan"
"Oh ya, aku Diana, suami aku Riko"
"Oh. Aku Helen, kalau perlu sesuatu panggil aja, jangan sungkan"
"Ok... makasih"
Dengan langkah cepat Diana langsung masuk ke kamar mandi yang sudah kosong, berhubung Yang ngantri hanya tinggal mereka berdua, sedangkan kamar mandi yang satunya lagi masih ada orang di dalam. Dia meninggalkan Helen sendirian menunggu gilirannya. Diana enggan melayani Helen yang menanyakan persoalan ranjang antara dia dan Riko. Lagi pula hingga hari ini mereka belum pernah melakukan hubungan layaknya suami istri. Mana mungkin dia menceritakan hal sebenarnya, itu kan privasi tidak wajib di ketahui oleh pihak ke tiga.
Setelah selesai mandi, Diana langsung menyuruh Riko mandi. Berhubung semua penghuni sudah selesai menggunakan kamar mandi. Kontrakan yang tadi nya ramai pun kini mulai sepi senyap karena mereka sudah pergi ke tempat kerja masing-masing. Ada yang kerja, dan ada juga yang kuliah. Tanpa berlama lama Riko pun beranjak dari tempat nya lalu menuju kamar mandi. Berselang 15 menit ia pun selesai kemudian kembali ke kamar.
"Kamu udah selesai dandan?"
"Aku nggak dandan"
"Iya maksud aku, kamu udah siap siap buat berangkat?"
"Iya aku udah siap"
"Ok.. tapi tunggu dulu ya aku mau pasang baju dulu"
Tanpa ragu Riko melepaskan handuk yang tengah melilit di pinggang nya. Tanpa memperdulikan apakah Diana melihat atau tidak, ia tampak sengaja melakukan itu.
"Ko, aku masih di sini. Kalau kamu mau ganti baju, aku keluar dulu baru kamu ganti"
"Kenapa harus keluar? Kamu kan istri aku"
"Iya... tapi aku nggak mau lihat"
"Kalau nggak mau kamu tinggal tutup mata atau berbalik"
"Heh... terserah deh"
Akhirnya Diana berbalik badan selagi Riko memakai bajunya. Riko pun tersenyum melihat reaksi Diana.
"Emang apa salah nya sih istri lihat suami ganti baju"
"Kalau yang lain nggak ada salahnya. Tapi kalau aku salah banget Riko"
"Sok jaim"
"Apa kamu bilang? Ingat ya Ko... kalau bukan karena kita mabuk, kita nggak bakalan terjebak di dalam pernikahan konyol ini. Kamu pikir kita nikah karena saling suka? Iya?"
"Terus kalau karena mabuk, lalu kita nggak bisa gitu saling suka. Kamu mau bawa kemana pernikahan ini kalau kamu terus terusan berpikir bahwa pernikahan ini hanya karena mabuk. Aku tau kita terpaksa menikah, tapi kamu tau juga kan nikah itu seumur hidup"
"Terus mau kamu apa?"
"Nggak ada.. aku cuman mau kamu lebih rilex dan enjoy berduaan dengan aku. Aku juga nggak bakalan maksa kamu buat bercinta kalau kamu nggak mau"
"Dasar laki laki... pikiran nya kotor muluk"
"Lagian kan wajar Din suami istri bercinta. Kok kamu malah tersinggung gitu?"
"Tau ah... aku malas bahas ini? Kapan kita ke pasar?"
"Kalau kamu siap sekarang kita bisa pergi sekarang"
"Ya udah ayo.. aku udah siap dari tadi"
"Iyalah..."
Meskipun Diana masih canggung dengan pernikahan yang mendadak ini, naluri kelelakian Riko pasti lah berjalan dengan normal. Lagi pula kelembutan hati Diana dan wajah ayu yang dimiliki gadis itu, mustahil tidak membuat seorang Riko jatuh hati dan terpana. Pastilah dia merasakan desiran cinta. Tapi namanya Diana gadis polos dan lugu, ia tidak paham jika Riko mulai terpesona dengan nya.