Part 16

1075 Kata
Selang 30 menit kemudian mereka tiba di pasar raya. Keduanya memasuki area pasar yang menjual barang barang rumah tangga. Setelah bertanya di beberapa tempat akhirnya mereka menemukan satu toko yang cocok di hati mereka. "Permisi pak, kompor yang ini harganya berapa ya pak?" Diana menunjuk sebuah kompor minyak tanah dengan sumbu 16. "Kalau itu 150.000 dek" "Oh gitu" "Kebesaran deh Din, coba tanya ada nggak yang lebih kecil dari ini" "Kayak nya ini yang paling kecil deh" "Masak sih? Tapi kalau kita beli ini ntar malah nggak bisa beli yang lain lagi. Soalnya uang kita pas pasan" "Terus gimana dong? Ini kan kompor yang paling kecil" "Ada kok dek kompor portable yang lebih kecil dari ini" Ternyata pemilik toko mendengar diskusi mereka berdua. Keduanya jadi malu. "Oh ya pak! Emmm... yang mana ya pak kompor nya?" "Ini dek... ini tinggal satu lagi kompor nya. PT yang produksi kompor ini udah nggak produksi yang ini lagi, karena orang orang udah pada pakai kompor gas, terus juga paling beli kompor yang tadi adek pilih. Jadi model yang mini ini udah nggak di jual lagi" "Oh, terus ini berapa pak" "Ambil aja 50.000 dek, nggak papa, sebenarnya kompor ini tidak di jual. Tapi karena saya lihat kalian butuh, ya udah saya kasih harga murah aja" "Ini pakai minyak tanah ya pak?" "Iya pakai, tapi sumbu nya cuman 10, kalau yang agak gede itu kan sumbu 16, kalau ini yang lebih kecil nya 10 sumbu" "Oh gitu... ya udah gimana Din? Ambil?" "Terserah kamu aja deh, tapi nggak papa sih kalau yang ini, lagi pula kita kan cuma berdua. Nggak perlu juga kan kompor yang besar" "Iya, ya udah pak kompor yang ini satu. Kuali sama peralatan lain ada nggak pak?" "Ada, sebentar saya ambilkan" Sembari pemilik toko mengambil wajan dan perlengkapan masak lainnya, Diana juga sibuk memilih piring sendok dan gelas serta peralatan makan lainnya. Setelah itu mereka memilih barang barang yang cocok di hati dengan harga yang pas sesuai isi dompet. Mereka hanya membeli barang seperlu nya, guna menghemat uang, karena belum tentu dalam waktu dekat mereka memiliki uang. Setelah selesai berbelanja keduanya mengucapkan terimakasih kepada pemilik toko, lalu beralih menuju dagangan sayuran. Diana memilih beberapa jenis sayur untuk di masak, setelah selesai berbelanja sayur mayur mereka pun pindah ke tempat jualan ikan. Diana memilih ikan yang segar kemudian membayar ke kasir. Setelah mereka rasa sudah cukup keduanya pun pulang ke kos. Selang 15 menit keduanya sudah tiba di kos, lalu membawa isi belanjaan di dalam kamar. Dan mulai merapikan tempat untuk meletakkan perlengkapan dapur. ***** Di tempat lain di kediaman Ibu Luna, Mama nya Diana terlihat sedang melamun. Sela yang baru saja pulang dari sekolah memeluk ibunya dari belakang. "Mama kenapa? Masih kepikiran kak Diana ya?" "Ibu mana yang nggak kepikiran sama anak nya? Apalagi kondisi kakak kamu seperti itu, mana mungkin Mama bisa tenang sayang" "Aku ngerti kok Ma, tapi kak Diana itu perempuan tangguh, aku yakin dia bisa menjalani semuanya dengan keberanian yang luar biasa" "Setangguh apapun seorang anak perempuan ia tetap seorang perempuan. Kakak mu tetap membutuhkan orang lain untuk menolong nya. Mama aja khawatir apa kakak mu sudah makan atau belum, apa dia bisa tidur atau nggak, apa dia hidup dengan layak atau malah sengsara. Mama khawatir Sel" "Jangan terlalu di pikirkan ma, ntar mama malah sakit. Aku bakalan temui bang Cristove buat nanya alamat kakak dimana. Nanti kalau udah ketemu alamat nya kita bisa ke sana buat lihat keadaan kakak. Mama bisa ngasih suguhan buat kakak, entah itu uang ataupun yang lain. Aku juga mau kasih handphone ini sama kakak, saking terburu burunya, kakak sampai lupa bawa handphone ma" "Ya ampun Sela, jadi handphone ini sama kamu, pantesan aja mama telpon kakak kamu nggak pernah di jawab habis itu nggak aktif pula" "Aku juga baru tau ma, kalau kakak nggak bawa handphone. Aku lihat hp ini tergeletak di dalam laji meja belajar kakak, terus ku ambil aja ku simpan dulu soalnya aku belum tau mereka tinggal dimana " "Ya sudah kamu simpan aja dulu, nanti kalau kamu sudah dapat alamat kakak kamu, mama ikut ya mama mau jumpa sama Diana mama kangen.." "Iya mah...." "Papa pulang" sontak keduanya pun terkejut mendengar suara bapak Lukas. Tidak biasanya dia pulang lebih awal. "Tumben pulang cepat Pa" "Papa nggak punya jadwal kuliah sore ini" "Oh" Raut wajah ibu Luna masih sama, ia tidak pernah memandang suaminya dengan penuh kelembutan sejak kejadian Diana di usir dari rumah. Dia bahkan tidak mau menyapa suaminya. Sela yang menyadari ketegangan antara ibu dan ayah nya segera menawarkan minuman pada ayah nya. "Papa mau teh atau kopi pa? Biar aku buatin" "Teh aja Sel" "Bentar Pa Sela buat dulu di dapur" Sela langsung segera bergerak ke dapur untuk membuat kan teh. Lalu setelah selesai membuat teh ia pun balik ke ruang keluarga untuk menyuguhkan secangkir teh kepada Papa nya. "Ini pah teh nya" "Terimakasih" "Iya Pa, Sela ke kamar dulu ya Pa Ma" "Tunggu, Papa mau ngomong" "Kenapa Pa?" "Tadi Papa dengar pembicaraan kalian berdua soal Diana. Jadi Sela Papa minta sama kamu nggak perlu merepotkan diri untuk mengurusi kakak mu. Biarkan dia melalui hidup nya sendiri. Papa tidak mau kamu memberikan bantuan apapun, termasuk mengembalikan handphone. Biar saja dia tidak punya handphone biar dia tau gimana susahnya nyari uang. Biar dia minta handphone sama suaminya. Terus kamu Juga Luna, saya tidak peduli kamu akan terus terusan marah pada saya atau pun memusuhi saya hingga akhir hayat, itu terserah kamu. Kalau kamu masih mau tinggal di sini jauhi Diana, jangan sampai aku melihat apalagi mendengar kamu ngasih uang ke dia. Anak itu harus bisa buktikan perkataan nya. Bukankah mereka sendiri yang bilang kalau mereka akan membuktikan bahwa mereka bisa menghidupi keluarga mereka. Intinya aku nggak mau ada yang bantu Diana" "Lukas! Diana itu anak aku dia juga anak kamu, kenapa kamu tega berkata seperti ini, memang nya kamu nggak kasihan dia kesusahan seperti itu... kamu nggak punya hati.... atau..." "Cukup! Tidak ada kata perdebatan lagi, ini keputusan yang mutlak tidak boleh di ganggu gugat. Kamu paham kan Sela!?" "Paham Pa" "Bagus kalau kamu paham, kalau kamu ketahuan diam diam menemui mereka, maka papa tidak akan segan-segan untuk mengeluarkan kamu dari rumah. Papa harap kamu bisa memahami nya" "Iya pa" Kemudian Bapak Lukas bangkit dari tempat duduk nya, lalu melangkah ke luar rumah. Luna dan Sela saling berpelukan. Sungguh kejam pria itu, bahkan istrinya sendiri tidak habis pikir pria yang di nikahi nya selama 20 tahun memiliki hati yang beku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN