Part 17

1015 Kata
Keesokan harinya Diana bangun lebih awal. Selagi masih sepi dia berinisiatif untuk mencuci piring dan pakaian sebelum penghuni kontrakan yang lainnya bangun dan menggunakan kamar mandi. Diana membawa dua ember berisikan baju kotor dan piring kotor. Selama Diana mencuci pakaian Riko sendiri masih tidur. 15 menit berlalu Diana baru saja melakukan tugas nya sebagai istri. Ketika masuk ke dalam kamar di melihat Riko masih terlelap. Sekilas dia tidak peduli dengan hal ini. Namun muncul kekhawatiran jika Riko tidak mulai mencari pekerjaan lalu bagaimana mereka bisa hidup. Dengan ragu Diana membangunkannya. "Ko... Riko... Ko.. bangun Ko" "Hmmm" "Riko bangun udah siang" "Bentar lagi Din" "Riko bangun, kamu nggak bisa terus terusan di rumah, kamu harus kerja" Riko sontak membuka matanya, benar perkataan Diana dia harus bekerja. Setelah mengumpulkan nyawa yang masih terbuai dalam mimpi, ia pun bangkit dari tidur, kemudian mengusap wajah. "Mandi gih sana selagi masih sepi, ntar malah antri lagi trus kamu malah kesiangan nyari kerja" "Hmm.. iya" Tanpa ba-bi-bu Riko segera melakukan apa yang dikatakan oleh Diana. Setelah siap mandi dan merapikan diri ia pun menoleh kepada Diana sementara itu Diana sedang membersihkan sayuran yang sisa kemarin untuk di masak. "Kenapa kamu lihat aku kayak itu?" "Nggak ada" "Terus kenapa tatapan nya gitu?" "Nggak " "Aneh" Diana kembali melanjutkan pekerjaannya. Riko masih memperhatikan istrinya, dua minggu berlalu begitu saja, mereka masih tidak melakukan hubungan layaknya suami istri bahkan tidak pernah bermesraan. Keduanya pun tidak mempermasalahkan hal itu, lagipula keduanya belum siap untuk bermesraan selain karena tidak ada cinta diantara keduanya, juga karena mereka tidak pernah jatuh cinta apalagi selama ini mereka hanya sebatas teman dan berteman dengan batasan batasan yang wajar. "Din" Diana menoleh ke arah Riko "Apa?" "Kamu tau nggak di mana aku bisa nyari kerjaan?" "Coba aja dulu cari di toko toko, atau di warung warung makan, kalau kamu kuat coba aja jadi kuli bangunan, lihat gedung gedung yang sedang di bangun terus tanya kepala proyek nya masih butuh kerja nggak pak. Kalau dia bilang iya butuh dek, ya udah kerja" "Oh" "Kenapa OH?" "Lah terus apa?" "Ya ampun Riko... kamu tuh niat nggak sih nyari kerja?" "Niat... nih aku mau berangkat nyari kerja" "Huiufhh.. ya deh" "Ya udah aku berangkat dulu ya" "Kamu nggak sarapan? Aku udah masak nasi goreng" "Nggak usah Din, nggak papa aku berangkat aja ya. Ntar malah kesiangan" "Ya udah, hati hati ya di jalan" "Hmm... aku pergi " Diana hanya menoleh sesaat, kemudian Riko menutup pintu lalu pergi. Entah kemana dia akan mencari pekerjaan. Ini pertama kalinya Riko mencari kerja untuk mendapatkan uang, selama ini semua kebutuhannya dipenuhi oleh orang tuanya. Apapun yang dia inginkan dia tidak perlu berpikir susah payah tinggal minta pasti di kasih. Namun keadaan berubah dalam waktu sekejap. Ia telah asing bagi ayah nya, mana mungkin dia kembali ke rumah ayah nya sementara ayah nya jelas mengatakan ia tidak akan mau bertanggung jawab atas hidup mereka. Apapun yang terjadi Riko harus berjuang seorang diri membuktikan bahwa ia bisa mandiri. Mungkin terdengar angkuh jika dia bisa melewati masalah ini sendirian. Sedangkan perjuangan baru saja di mulai, jalan panjang sudah menunggu di depan mata. Dapatkah ia melaluinya? Hanya dia yang bisa membuktikan. Lalu bagaimana dengan Diana? Mampukah dia bertahan di tengah kemiskinan, meski selama hidup dengan orang tua dia tidak pernah kekurangan tapi kali ini dia harus menjalani hidup serba kurang. Riko menyusuri jalan besar, dia melaju tanpa arah tanpa tau mau ke mana. Bekerja sebagai kuli bangunan fisiknya tidak kuat, bekerja sebagai karyawan kantoran ijazah nya hanya tamatan SMA, bekerja di toko toko ataupun swalayan warung makan dan juga kafe dia malu. Jadi selama mengendarai motor Riko hanya melamun kemana ia pergi mencari kerja. Sementara itu Diana yang telah selesai melakukan pekerjaan rumah tangga, sedang menikmati secangkir teh di teras. Diana larut dalam lamunan, di tengah keheningan ia bingung apa yang bisa ia lakukan untuk mengisi waktu luang sembari menghilangkan rasa suntuk. Ia pun masuk kembali ke dalam kamar. Diana mendapati sebuah kardus yang belum di buka, semua yang ada di dalam kardus adalah buku buku miliknya. Dari semua fasilitas yang di berikan padanya selama tinggal dengan orang tua, hanya buku yang ia bawa dari rumah orangtuanya. Bahkan ia lupa untuk membawa hp dan sebagian tabungan yang ada di celengan yang tersimpan di dalam lemari. Entah sengaja atau memang lupa. Diana memilah satu persatu buku buku tersebut, kemudian tangan nya terhenti pada sebuah buku "The Help" karya Kathryn Stockett pada tahun 2009. Novel yang menceritakan kondisi p********n di Amerika khususnya daerah missisipi 90' an. Buku ini menaruh kontroversi atas ketidakadilan yang di alami oleh 'orang n***o' di negara Amerika. Dulu meskipun Afrika sudah mendeklarasikan kemerdekaan namun pada kenyataan keberadaan mereka di Amerika tetap tidak di akui dan tidak di beri hak istimewa untuk menjalankan kehidupan layaknya manusia. Mereka masih di perbudak oleh bangsa berkulit putih. Buku ini bukan kali ini di baca oleh Diana, hampir semua buku yang ia bawa dari rumah sudah di baca olehnya. Namun entah mengapa, ia tertarik untuk membaca ulang karya 'Skeeter' ini alias Kathryn Stockett. Ia kembali flashback pada kisah kisah memilukan yang di tulis dalam setiap halaman dari buku ini. Dan dia entah bagaimana dan mengapa dia merasa kan ketidakberdayaan yang di rasa para n***o yang ada di buku ini. Mungkin dalam konteks yang berbeda dengan situasi dan kondisi yang berbeda. Namun ada kesamaan yaitu, dia dan para n***o, sama sama tidak di beri kebebasan untuk memutuskan mereka ingin menjadi apa dan sama sama kehilangan hak istimewa yang dimiliki kebanyakan orang pada umumnya. Diana merasakan Getaran protes yang mereka luapkan kepada Skeeter. Sama seperti yang tengah ia rasakan. Rasanya tidak adil, ia bahkan tidak tau bagaimana rasanya bercinta. Bahkan ia belum pernah mendapatkan ciuman pertama dalam kondisi sadar. Lalu mengapa dia harus HAMIL? Bukankah itu tidak adil. Karena ada banyak pertanyaan yang rasanya jika ia menanyakan seluruh semesta dan seisinya akan protes dan beramai ramai menghakimi nya. Alhasil, segala protes yang memenuhi kepala tinggal dalam memori. Tarik nafas adalah terapi sederhana untuk menerima kenyataan. Refleks Diana mengelus perutnya yang masih datar. "Entah apa yang aku pikirkan, tapi yang pasti aku tidak yakin kau ada di sini".
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN