"Sudah, jangan hubungi aku lagi!" Derya memencet tombol merah pada ponselnya lalu meletakkannya di meja dengan ketus. "Zaman sekarang banyak teman yang suka menjadi musuh. Hanya kau saja temanku yang seperti malaikat," ujarnya ke arah Aisha yang baru keluar dari kamar. "Jangan bicara seperti itu, bagaimana pun sikapnya, setidaknya dia pernah menjadi temanmu, kan?" ucap Aisha sembari merapikan rambut yang menghalangi pandangan. "Apa masih pantas disebut teman, jika setiap gajian selalu ada hanya untuk meminta pinjaman, setelah itu hilang seperti setaan. Begitu ditagih, marahnya seperti orang kesurupan!" Derya mengerucutkan bibir. "Aku tidak mau lagi berteman dengan orang seperti itu." "Sudah… sudah, tidak perlu marah. Ini adalah hari senin, ada banyak beban yang akan menggelayuti kita, j

