Brak! Tangan kekar menampar tumpukan map hingga tersungkur ke lantai. Amarahnya begitu meletup, membuat rahangnya mengeras bak batu. "Aydin, tenangkan dirimu. Jangan menciptakan keributan di sini yang akan membuat para staffmu ketakutan." Harun menyentuh pundak Aydin yang meradang. "Sudah kuduga, Harun. Wanita itu tidak akan mau datang ke pengadilan. Dia membuatku menunggu seperti orang bodoh!" Aydin kembali merutuk, setelah seharian tadi menjamur di ruang pengadilan negeri. "Sonya memang tidak akan mau bercerai denganmu, Aydin. Kita sudah mengirimkan surat cerai berkali-kali, tapi apa hasilnya?" Harun ikut frustasi. "Aydin…." Harun kembali menyentuh bahu temannya itu, tetapi suara seorang gadis dari belakang sana mengalihkan perhatian mereka. "Ayah." Sevda tampak canggung memasuki r

