Dug! Darah mengucur hebat dari kening yang terantuk batu, menodai tangan lemas yang berada di sampingnya. "Arghhh!" Semburan napas Aisha menguap dari mulutnya. Wanita itu mencoba bangun, terkesiap saat melihat tubuh putranya terkapar di sampingnya. "Deniz!" Tangis mulai membanjir kembali. Ia menggeser tubuhnya yang sakit, mengambil posisinya duduk. Lantas, mengulik tubuh Deniz untuk melihat wajahnya. Kepanikan semakin menderanya begitu sepasang maniknya bertatapan pada darah yang membanjiri wajah sang putra. "D-deniz!" Suara Aisha gemetar, dengan tangan yang mencoba memangku kepala putranya. "Sayang… kau dengar ibu, kan?" rintihnya sembari mengelap cairan merah yang tiada henti mengalir. "I-ibu…." Suara parau terdengar dari kerongkongan Deniz, dan itu membuat Aisha sedikit lega. "

