Hari pertama kerja memberi kesan yang mendalam bagi Flora, sebab sebagai putri dari keluarga bangsawan dia tidak pernah melakukan pekerjaan berat. Sehingga segala suatu hal harus dia pelajari meski bagi orang biasa terlihat pekerjaan yang remeh.
Apalagi Flora belum terlalu tahu dengan letak posisi masing-masing barang, sehingga setiap ada pembeli yang bertanya dia butuh waktu lama untuk menjawab karena memang masih beradaptasi.
Besok ada tes praktek, sehingga banyak pengunjung dari para mahasiswa dan mahasiswi yang membeli bahan-bahan.
"Maaf, letak kuas yang paling kecil di mana ya? Dari tadi saya cari tidak ada," tanya seorang pembeli pada Flora.
"Tunggu sebentar ya? Aku carikan dulu, " jawab Flora ramah.
Flora ingat biasanya ada di bagian samping rak, tetapi setelah mencoba mencari dia juga tidak menemukannya.
"Ah, pasti sudah habis. Kalau begitu aku harus segera mengambil dari gudang jika masih ada stok, " gumam Flora.
Ingin minta bantuan pada salah satu rekan kerjanya tapi temannya itu juga sedang sibuk melayani pembeli si kasir yang antriannya padat.
"Sebentar ya memang stok habis, saya tanyakan pada pemilik toko dulu siapa tahu masih ada di gudang. Karena saya juga baru di sini jadi masih belum paham juga," ucap Flora pada pembeli tersebut.
Di paling belakang ruangan ada tulisan gudang, saat melewati kantor Bu Merlyn dia melihat jika Bosnya itu sedang mengobrol dengan Mahesa.
Flora pura-pura tidak melihat, tetapi setelah membuka pintu gudang dua bingung karena begitu banyak barang di dalam kardus dan dia tidak tahu bagian kuas ada dimana.
Dengan terpaksa Flora memberanikan diri untuk masuk ke kantor Bu Merlyn karena takut mengecewakan pembeli yang tadi pastinya yang sedang sangat membutuhkan untuk besok.
"Permisi, Bu. Tadi ada pembeli yang menanyakan kuas ukuran paling kecil, tapi stok habis. Saya masuk ke gudang tidak tahu di kardus yang mana?" tanya Flora malu bercampur takut.
"Ada di rak yang paling atas, kamu harus pakai tangga lipat supaya sampai," jawab Bu Merlyn ramah.
"Iya, " jawab Flora paham.
"Bu Merlyn, sepertinya toko anda hari ini membludak. Bagaimana kalau saya membantu untuk melayani toko? Mumpung saya sedang tidak ada kerjaan," tawar Mahesa pada Bu Merlyn.
"Dengan senang hati, karena hari ini Ibu tidak enak badannya. Jadi juga tidak bisa membantu para karyawan," jawab Bu Merlyn tersenyum senang.
Flora gemetar sendiri melihat Mahesa yang mengikutinya dari belakang.
"Kenapa kamu takut padaku? Apa karena merasa bersalah atau kenapa?" tanya Mahesa heran.
"Maaf, aku hanya belum terbiasa degan orang asing" jawab Flora gugup.
"Ha, lucu sekali! Bukannya sebelumnya Aiko dan Yolla juga orang asing bagimu? Tapi kamu langsung dekat dengan mereka," sindir Mahesa.
"Maafkan aku, Kak Mahesa," ucap Flora sambil membungkukkan badannya sekali kemudian berlalu pergi.
Mahesa terkejut, apa yang diucapkan oleh Aiko memang benar jika Flora merupakan gadis yang sangat polos dan juga penakut.
Mahesa semakin merasa tertarik, tetapi tidak berani mendekati secara terus terang sebab nanti Flora malah akan semakin menjauhinya. Mahesa memilih untuk membantu di luar yang tokonya semakin ramai.
Sedangkan Flora segera mengambil tangga lipat, karena pembeli yang minta tolong tadi masih menunggu di tempat semula.
"Maaf ya lama," ucap Flora sambil menyerahkan kuas pada pembeli tadi.
"Tidak apa-apa, Terima kasih banyak ya? Sepertinya aku pernah melihat kamu saat pendaftaran. Apakah kamu juga masuk jurusan seni tahun ini? " tanya gadis muda yang sebaya dengan Flora.
"Iya, berarti nanti kita satu kelas dong. Eh, tapi kalau kita lolos," jawab Flora ragu.
"Semangat, besok kita harus berusaha keras pasti akan ada hasil baik. Kalau begitu aku pamit duluan ya? " balas pembeli itu.
"Iya, semangat," ucap Flora juga menyemangati dirinya sendiri.
"Semua terlihat antusias, aku juga harus lebih percaya diri dan yakin pada kemampuan diriku sendiri. Baiklah sekarang aku harus menaruh kuas ini di tempatnya siapa tahu ada yang membutuhkan lagi."
Setelah selesai menata kuas, kemudian datang lagi seorang pembeli yang baru masuk.
"Kak, tolong carikan aku lem fox dong. "
"Iya, mau yang ukuran besar apa kecil? " balas Flora ramah.
"Yang besar sekalian."
"Tunggu ya? Barangnya ada di rak paling atas, aku ambil tangga lipat dulu, " jawab Flora.
Saat Flora ingin naik tapi tubuhnya langsung dicegah oleh Mahesa.
"Kamu perempuan, sebaiknya aku saja yang naik," ucap Mahesa lembut.
Flora hanya bisa mengangguk patuh karena merasa gugup saat lengannya barusan di sentuh Mahesa.
Lelaki tersebut sangat menyukai reaksi Flora yang seketika gelagapan saat merasa salah tingkah.
"Gadis ini menarik sekali, membuat aku semakin ingin menggodanya," batin Mahesa.
Setelah itu, Mahesa menyerahkan barang yang barusan ke arah Flora. Dan sengaja mendekatkan wajah tampannya. Mereka begitu dekat, sampai membuat Flora bisa mendengar napas Mahesa.
"Ini, apakah ada hal lain yang kamu butuhkan?" bisik Mahesa manis.
"Tidak, terima kasih," ucap Flora memerah wajahnya karena terpana oleh ketampanan kakaknya Aiko.
Flora segera menyerahkan pada pembeli.
Sampai tutup toko, Mahesa terus membantu dan sesekali menggoda Flora. Kedatangannya itu membuat semakin banyak pembeli yang datang hanya untuk dirinya.
"Terima kasih, Nak Mahesa. Karena kamu selalu menolong Ibu," ucap Bu Merlin terharu.
"Sejak aku kuliah dulu Ibu Merlyn juga selalu baik padaku, bahkan setiap hari mengirimkan masakan yang lezat itu," jawab Mahesa.
"Ibu sudah menganggap kamu seperti anak sendiri, lain kali kalau sedang tidak sibuk mampirlah ke sini ya! Ibu selalu menantikan kehadiranmu," tutur Bu Merlyn, kemudian beliau segera naik ke mobil jemputan.
Setelah satu-persatu para pekerja pulang, kini di depan toko yang lumayan besar itu hanya tinggal Flora dan Mahesa.
Beberapa detik kemudian datang mobil mewah berwarna merah, pemuda yang sedang ada di dalamnya tak lain adalah Gara.
"Gara, lama tak jumpa," sapa Mahesa.
"Yo! Tak ku sangka bisa bertemu Detektif handal di sini. Kapan pulang?" tanya Gara.
"Baru semalam, sepertinya sekarang kamu sudah menjadi Bos besar," balas Mahesa.
"Sebenarnya aku masih mau bermain-main, tapi karena aku anak tunggal jadi di paksa orang tuaku," jawab Gara tersenyum senang.
Flora tidak mengira jika kedua pemuda itu saling kenal, dia sangat ingat jelas siapa Gara karena pernah bertemu.
"Ada urusan apa kamu ke sini?" tanya Mahesa penasaran.
"Menjemput tunanganku," jawab Mahesa santai sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Yang mana? Alesia? " tanya Mahesa penasaran.
"Siapa lagi kalau bukan dia," jawab Mahesa singkat.
"Wah, selamat. Aku tidak menyangka jika hubungan kalian bisa sampai di sini. Bukannya orang tuamu tidak merestui? " decak Mahesa.
"Ya begitulah, kami menjalin hubungan secara diam-diam. Kamu tak bawa mobil kan? Ayo aku antar duluan, atau mau ikut makan malam denganku? Alesia punya asisten unik yang bisa menemanimu bermain, " tawar Gara.
Flora yang mendengar hal itu langsung kaget, sebab yang dimaksud dengan asisten unik pastinya adalah Yolla.
Mahesa merasa aneh dengan perubahan sikap Flora, pemuda itu langsung mendekati Flora.
"Dari pada malam-malam naik bus, bagaimana kalau kamu ikut aku sekalian? Kamu juga belum makan malam kan? " tawar Mahesa.
Tanpa pikir panjang Flora langsung mengangguk, bukan karena Mahesa tetapi demi Yolla. Entah kenapa mendengar ucapan Gara tadi Flora memiliki keberanian untuk ikut orang asing.
"Mahesa, dia pacar kamu? " tanya Gara yang samar-samar ingat dengan Flora tapi lupa pernah ketemu dimana.
"Bukan, dia teman Aiko, " jawab Mahesa santai.
"Oh iya, bagaimana kabar si tengil itu? Pasti sekarang sudah besar ya? Pasti dia cantik sekali, walau hanya melihat fotonya saat remaja sudah kelihatan cantik, " tanya Gara antusias.
"Iya, dia sekarang lebih cantik. Tetapi masih saja tengil, " gumam Mahesa.
"Dulu saat kita melanjutkan S2 di Jerman, kamu tidak pernah berhenti bercerita tentang adikmu yang gokil itu, " ujar Gara.
"Yah, walau menyebalkan dan menyusahkan tapi jika jauh juga rindu, " jawab Mahesa.
Mahesa lebih memilih duduk di belakang menemani Flora.
"Kata Aiko kamu datang ke kota ini untuk mencari Mamamu?" tanya Mahesa memulai percakapan.
"Iya," jawab Flora yang masih gelisah memikirkan bagaimana nasib Yolla di tangan Gara.
"Apa kamu sudah mendapat petunjuk?" tanya Mahesa lagi.
Flora hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Gadis kecil, Mahesa adalah detektif terkenal. Kamu bisa minta bantuan padanya, karena kamu teman Aiko nanti bisa dikasih harga diskon. Di tangan Mahesa tidak ada kasus yang gagal, " saran Gara.
"Benarkah? Bisakah Kak Mahesa membantuku?" tanya Flora yang berubah cerah menghadap ke Mahesa.
"Di dunia ini tidak ada yang gratis, kamu bisa memberikan apa padaku?" Canda Mahesa.
"Uang, kamu butuh uang berapa?" tanya Flora semangat karena menemukan setitik harapan.
Mahesa tertawa lirih mendengan jawaban Flora barusan.
"Aku sudah kaya, hartaku berlimpah dan aku tidak butuh uang dari gadis kecil sepertimu. Saat ini aku sedang menikmati masa istirahat di sini, " jawab Mahesa.
"Lalu apa?" tanya Flora keheranan.
"Jadi pacar aku, bagaimana? " tawar Mahesa.
"Apa? Pacar? Tidak adakah yang lain? " balas Flora kebingungan.
"Tidak, hanya itu saja, " jawab Mahesa tersenyum senang menikmati wajah Flora yang gugup dan panik.
"Kapan Kak Mahesa kembali ke luar negeri? " balas Flora tegang.
"Mungkin sebulan lagi, " jawab Mahesa.
"Baiklah bagaimana kalau aku mau jadi pacar kamu tapi hanya untuk satu bulan, dalam sebelum satu bukan harus sudah menemukan ibuku. Dan selama itu juga, Kak Mahesa tidak boleh menyentuh aku, " jawab Flora menundukkan kepalanya.
Gara yang duduk di depan tertawa terbahak-bahak, sebab Mahesa di luar sana begitu banyak yang kagum dan wanita yang rela menyerahkan diri.
"Baik, deal ya? " balas Mahesa tersenyum penuh arti.
Flora memerah wajahnya, entahlah nanti bagaimana dengan Aiko dan Yolla jika tahu akan hal ini.