Yolla merasa lelah sekali, karena sejak tadi mengikuti Alesia melakukan pemotretan. Tetapi meskipun begitu dia bersyukur karena bosnya itu bukan orang yang sulit seperti Gara.
"Yolla, kamu pasti senang sekali ya bisa kuliah? " tanya Alesia ramah.
"Iya, karena itu merupakan impian aku, " jawab Yolla.
"Kalau aku juga pernah punya impian sekolah di Universitas A, tetapi... "
"Kenapa? " tanya Yolla yang penasaran dengan cerita Alesia selanjutnya.
"Karena... Aku tidak secerdas kamu sehingga bisa sekolah di manapun yang diinginkan, " balas Alesia.
Yolla bisa merasakan jika Alesia tengah bersedih, tetapi ingin bertanya lebih jauh tidak enak kecuali bosnya itu mau bercerita sendiri.
"Setidaknya kamu sekarang menjadi orang yang sukses, tidak peduli bagaimana prosesnya, " bujuk Yolla memberikan semangat.
"Yang aku bisa lakukan kini hanya mengandalkan kecantikan untuk mendapat uang, selebihnya aku tidak memiliki kemampuan lagi, " balas Alesia mulai tertawa.
"Banyak yang ingin menjadi model, tapi tidak semua orang bisa melakukannya. Lebih tepatnya tidak memiliki standar yang baik, jadi kamu syukuri saja apa yang saat ini dimiliki. Tidak sedikit orang yang nasibnya lebih buruk dari kita, " bujuk Yolla.
"Kamu benar, walau aku merasa hampa tetapi aku berusaha menikmati semua ini dengan baik. Misalnya aku masih memiliki Gara yang selalu mendukung aku, " gumam Alesia.
Yolla tidak menampik, walau baginya lelaki itu sangat menyebalkan tetapi untuk Alesia mungkin adalah yang terbaik.
"Semua sudah selesai kan? Aku mau pulang pamit pulang, " tanya Yolla yang ingin segera tidur.
"Tunggu, kata Gara kita berdua mau di ajak makan malam bersama, " cegah Alesia.
"Tidak, Terima kasih atas tawarannya tetapi aku mau segera pulang, " tolak Yolla.
"Eh, kata Gara ada teman kamu juga loh, " bujuk Alesia.
"Teman yang mana? " tanya Yolla penasaran.
"Aku juga tidak tahu, makanya tunggu saja sebentar, " balas Alesia.
Yolla mengangguk, walau sesungguhnya dia sangat lelah tetapi juga penasaran. Di kota ini teman dia hanya Flora dan Aiko. Tetapi bagaimana salah satu dari mereka bisa bersama Gara? Flora gadis yang penakut, sedangkan Aiko suka menaklukkan lelaki yang terlihat sulit.
"Astaga, apakah Aiko gila? Apakah dia berniat ingin menaklukkan Gara? " batin Yolla penuh prasangka.
Tetapi setelah beberapa saat menunggu yang datang justru Flora. Membuat Yolla lebih terkejut lagi sebab ada Mahesa.
"Hai sayang, kamu sudah selesai kan? " tanya Gara sambil mencium kening Alesia lembut.
"Sudah dari tadi, " jawab Alesia tersenyum manis.
"Yah, maaf yang membuat kamu lama menunggu. Tadi aku bertemu dengan Mahesa dan mengajak dia sekalian makan makan malam, " ucap Gara bersalah.
"Hay Alesia, kamu semakin cantik saja, " sapa Mahesa.
"Kamu bagaimana kabar? Lama sekali tidak bertemu denganmu. Kamu juga semakin tinggi dan tampan, " balas Alesia.
Bisa dilihat dari obrolan jika Gara, Alesia dan Mahesa dulunya merupakan teman masa kuliah. Tetapi Yolla bingung juga sebab tadi bosnya itu sempat bilang soal dirinya yang kurang beruntung.
"Yolla, baca pesan di ponselmu! " bisik Flora.
Yolla mengangguk, dari tadi dia memang tidak sempat membuka ponsel. Setelah di buka diapun langsung terkejut.
"Dasar Gara b******k! Beraninya dia ingin membuat aku jadi mainan orang lain, tapi sepertinya Kak Mahesa pemuda yang baik. Aku rasa mana mungkin dia tega, lagian aku juga merupakan teman Aiko, " batin Yolla menahan kekesalan.
"Eh, kita ini mau kemana? " tanya Alesia.
"Makan malam, " jawab Mahesa.
"Yuk, setelah itu kita nonton bioskop atau kemana gitu," balas Gara.
"Aku mau pulang, ini sudah di luar jam kerja, " sela Yolla.
"Kau ini, sudah untung tidak aku jual. Kalau tidak mau ikut maka akan aku tambah sepuluh tahun lagi masa kontrak kerja, " sergah Gara menatap Yolla dingin.
Yolla mengembuskan napas kesal, apalagi dari tatapan Gara ke Mahesa sepertinya sudah ada sebuah rencana antara mereka berdua.
"Yolla, kali ini saja. Masa iya kamu mau meninggalkan Flora sendiri, " bujuk Mahesa.
Kini Yolla paham, jika ternyata kakak sepupu Aiko menyukai Flora. Hanya saja temannya yang merasa gugup di antara orang asing ini hanya menunduk saja tidak berani menyuarakan penolakan.
"Baiklah, tapi aku tidak punya uang untuk membayar makan yang pastinya kalian mengajak di restoran mewah, " jawab Yolla tanpa basa-basi.
"Kamu jangan mempermalukan aku, Yolla. Di saja kamu bisa makan sepuas mungkin. Kamu habiskan satu restoran aku juga mampu membayar, " balas Gara.
"Kalau memang kamu sekaya itu kenapa masih memperhitungkan soal kecelakaan itu dan memaksa aku bekerja rodi? " sergah Yolla.
"Bukan masalah uang juga dih, hanya saja jika ada seseorang yang sudah menyinggung aku maka tidak akan aku lepaskan semudah itu, " balas Gara.
Yolla memalingkan wajah, sangat kesal sekali dengan lelaki yang begitu angkuh dan keras kepala.
"Sudahlah, jangan berantem terus. Ayo kita segera berangkat, " sela Mahesa.
Mahesa berjalan duluan, di susul Gara yang menggandeng lengan Alesia.
"Flora, kenapa kamu bisa bersama mereka? " tanya Yolla.
"Aku khawatir padamu, makanya aku tidak menolak Kak Mahesa diajak kemari, " balas Flora.
Yolla sangat tersentuh, dia tahu jika Flora adalah gadis penakut dan demi dirinya sampai kau ikut dua lelaki yang masih asing. Berarti itu menandakan jika Flora benar-benar menganggapnya sebagai sahabat.
"Flora, Terima kasih banyak," ucap Yolla tidak bisa menyembunyikan rasa harunya.
"Sama-sama, ayo kita segera menyusul mereka, " jawab Flora.
Sesampainya di restoran yang mewah, mereka segera memesan makanan. Yolla yang baru pertama kali datang ke tempat seperti itu merasa agak minder, berbeda dengan temannya yang sepertinya sudah terbiasa karena memang Flora merupakan keturunan orang kaya raya.
"Eh, aku mau ke toilet dulu ya? " pamit Alesia.
"Iya, jangan lama-lama, " jawab Gara.
Setelah Alesia tidak terlihat, Tiba-tiba datang sepasang suami istri yang usianya tidak muda lagi.
"Gara, kamu bersama siapa di sini? Oh, apakah gadis itu pacar kamu?" tanya Wanita separuh baya melirik ke arah Yolla.
Gara langsung kaget, tidak ingin membiarkan kedua orang tuanya salah paham.
"Tidak, Ma. Pa. Tadi aku kemari bersama klien kerja, secara kebetulan tidak sengaja melihat Mahesa jadinya setelah urusan kerja selesai aku gabung kemari, " jawab Gara panik.
"Kamu, apakah Fayolla dari Universitas A? " tanya lelaki yang merupakan papanya Gara.
"Iya, benar sekali. Bagaimana Anda bisa tahu? " balas Yolla heran.
"Tentu saja aku tahu, karena aku ketua dewan di sana dan pastinya aku sempat melihat profil kamu, " jawab Papanya Gara tersenyum bangga.
"Wah, Terima kasih karena Anda sudah memberikan saya kesempatan untuk sekolah di sana secara gratis, " balas Yolla tulus.
"Tentu saja orang yang cerdas dan berprestasi pantas untuk mendapat pendidikan yang tinggi, " timpal Mamanya Gara.
Gara segera memberikan pesan pada Alesia untuk jangan kemari terlebih dahulu sebelum kedua orang tuanya pergi.
"Mahesa, kamu bagaimana kabar? Pacar kamu yang mana ini? " sapa Mamanya Gara penasaran.
"Baik, Tante. Pacarku yang ini, namanya Flora. Dia teman Yolla satu Universitas, " jawab Mahesa.
"Wah, kamu juga anak yang sangat cantik dan pintar pastinya, " balas Mamanya Gara senang.
"Masih masa seleksi, Tante. Jadi masih harus berjuang agar bisa lolos, " jawab Flora jujur.
"Ah, Tante yakin kamu pasti lolos. "
Gara semakin gelisah, sebab sudah cukup lama mengobrol tetapi kedua orang tuanya itu tidak kunjung pergi. Sedangkan Gara merasa kasihan pada Alesia yang pastinya sudah menunggu lama.
"Mahesa, bagaimana kalau malam ini kamu dan kedua gadis ini mampir ke rumah Tante? Sudah lama lama sekali kan kamu tidak main ke sana?"
"Terima kasih, Tante. Tetapi lain kali saja. Lagian kami juga sudah memesan makanan, " tolak Mahesa.
"Kebetulan kami juga belum makan bolehkah bergabung? Sekalian mau mengobrol sama Flora dan Yolla, " pintar Mamanya Gara.
Gara semakin syok dan panik, dia tidak tahu lagi bagaimana jadinya jika kedua orang tuanya bergabung.
"Mahesa, sayang sekali aku sudah makan. Kalau begitu aku pamit duluan ya? Lain kali kita mengobrol lagi," ucap Gara.
"Iya, " jawab Mahesa yang memahami.
Sedangkan Yolla heran, karena tadi Gara dan Alesia belum sempat makan. Dengan otak cerdasnya Yolla bisa langsung tahu jika pastinya hubungan Gara dengan Alesia tanpa persetujuan kedua orang tuanya Gara.
"Ho... Ho... Aku punya senjata, jika Gara berani macam-macam akan aku ancam balik dia, " batin Yolla merasa puas.