“Aku mau kamu bahagia, tapi kalau kamu aja nggak bisa bahagiain aku, apa bisa aku bahagiain kamu?" tanya Fikri dengan nada yang sangat rendah. Hal itu menjadikan suasana lebih serius. Alin yang biasanya berani menatap Fikri dengan tegas, sekarang hanya bisa diam dan menunduk. Fikri tahu perubahan sikap Alin saat ini, tetapi dia tidak memedulikannya. Dia hanya fokus dengan pembicaraan sekarang. “Aku mau ke kamar dulu. Aku mau mandi, kamu mau mandi kapan?” tanya Fikri lagi. Alin tidak kunjung mengangkat wajahnya juga. Mungkin dia sadar dengan kesalahannya, pikir Fikri. Akhirnya tangan Fikri menyentuh dagu istrinya dan langsung mengangkatnya. “Lihat aku kalau kita lagi bicara, Lin.” Wanita itu baru mengangguk setelah Fikri menegurnya. “Saya minta maaf karena sudah membuat kamu khawatir

