“Bu Alin harus bed rest untuk malam ini. Jangan biarkan dia melakukan aktivitas pekerjaan lain dulu, ya. Agar kondisi kesehatannya bisa kembali pulih.” Begitulah perkataan dokter yang tadi sore Fikri dengar. Sekarang jadi dia yang sibuk mengurusi istrinya. Namun, yang diurusi seolah kehilangan warna hidup. Wajah Alin terus saja ditekuk bahkan sejak Fikri datang ke kamar rawatnya tadi sore. Satu mangkuk bubur nasi sudah ada di tangan Fikri. Pria itu baru saja membelinya, untuk makan Alin. Sudah beberapa kali Fikri bujuk untuk makan, tetapi istrinya justru membuang wajah. Membuat Fikri semakin frustrasi dibuatnya. “Nanti kamu makin sakit kalau nggak makan. Kamu harusnya udah ngerti kalau sehat itu butuh energi, kenapa nggak mau makan?” tanya Fikri dengan wajah memelasnya. Tidak ada ja

