Chapter 6

1253 Kata
Bukannya bisa melakukan apa yang sedang sangat ingin dilakukannya, Abigail malah berakhir di ruangan ayahnya. Pria tua itu sedang sibuk menulis di buku kecil, entah apa yang sedang ditulisnya tapi jelas apapun itu, dia tenggelam dalam tulisan tangannya. Abigail diam sejenak di ambang pintu, di mana pintu itu memang sudah terbuka sebelum dia datang. Kini dia bisa hadir dan melihat ayahnya dengan tanpa ada gangguan. Abigail tidak pernah tahu bagaimana rasanya memiliki seorang ayah yang sangat mencintaimu dan siap melakukan apapun untukmu. Selama hidupnya dia hanya tahu kalau dia hanya boleh mengandalkan dirinya dan tiada orang lain di sisinya. Hidup Evelyn jelas lebih baik darinya walau dalam kisah cinta, mereka berdua sama saja. "Masuk, Anakku. Tempatmu bukan disitu, tapi di sini, dekat dengan ayahmu." Abigail tersenyum dengan gelengan pelan ke arah ayahnya. Entah bagaimana pria tua itu tahu akan hadirnya tapi mendengar apa yang dikatakannya membuat perasaan Abigail menghangat. Dia berjalan masuk dan berdiri tepat di depan meja. "Ayah mencariku?" tanya Abigail tanpa basa-basi. Ia tak pandai dalam hal yang satu itu. "Ada yang memberitahuku tentang suamimu." Abigail mengerut. Apa ayahnya tahu tentang pertengkaran mereka di depan kamar Percy? Tapi itu terjadi baru beberapa menit yang lalu. Ayahnya tidak mungkin secepat itu mendengar ceritanya kalau dia tidak melihatnya langsung. Dan tidak mugkin ayahnya melihatnya lalu diam saja dan lebih memilih meminta pelayan memanggilnya untuk mendatangkan Abigail ke ruangan itu. Itu sedikit agak aneh. "Kenapa dengan Ethen, Ayah?" "Kalian bertengkar?" "Ya, Ayah?" Pria tua itu menggeleng dan segera bangun dari duduknya lalu berjalan menghampiri putrinya. Berdiri di depan Abigail dengan tatapan lembut di matanya. Seakan dia akan memaklumi apapun yang terjadi pada Abigail dan apapun yang dilakukan putrinya. "Bertengkar dalam hubungan itu adalah hal yang biasa, Anakku. Apalagi dalam rumah tangga. Kau mencintai, Ethen, hanya itu yang perlu kau ingat dan juga bagaimana berjuangnya dirimu untuk mendapatkannya. Jadi jangan menyia-nyiakan dia saat dia sudah ada di dalam genggamanmu. Rengkuh dia dan sayangi dia seperti kau sayang padanya saat kau berjuang mendapatkannya. Ayah tidak mau kau memiliki penyesalan di kemudian harinya." Ayahnya mengatakan itu dengan suara lembut, pria tua itu sangat takut kalau anaknya akan tersinggung denngan apa yang dia katakan. Tapi Abigail sama sekali tidak mengerti dengan semua yang dikatakan padanya. Soal perjuangan, dia sama sekali tidak pernah berjuang dengan Ethen untuk mendapatkannya. Abigail juga tidak peduli bagaimana berjuangnya Evelyn pada pria dingin itu. Abigail tidak menyukai Ethen dan begitu sebaliknya, masalah selesai. Tentang penyesalan, satu-satunya orang yang akan menyesal jika pria itu pergi, hanyalah Evelyn dan bukannya Abigail. Tapi jelas ayahnya belum selesai. "Pulanglah, Anakku. Pulang ketika dia memintanya dengan baik, pulang ketika dia masih mau membujukmu untuk datang padanya, jangan anggap remeh hal itu. Karena saat pria telah tidak peduli denganmu, kau akan merasakan sakitnya hal itu. Jangan rusak keluarga kecilmu hanya karena sebuah ego. Ingat Percy. Dia membutuhkan kalian berdua." Abigail menelan ludahnya. Segala alasan tidak akan mempan mengalihkan dia dari tujuannya tapi ketika alasannya adalah Percy, anaknya, buah hatinya. Abigail tidak berkutik. Sisi kuat dalam dirinya menghilang dan yang ada hanya rasa kasihnya pada anaknya. Di mana Abigail jelas akan dengan rela melakukan apapun demi bayinya. Ini pertama kalinya Abigail memiliki seorang anak dan dia tidak tahu kalau rasanya akan seperti ini. Jika dia tahu kalau memiliki anak berarti kau akan menyerahkan segalanya padanya, maka Abigail akan lebih baik memiliki anak dari pada kekasih. Anak tidak akan pernah berselingkuh dengan sahabatnya. Kini jawaban Abigail telah pasti. Dia akan pulang dan memulai rencananya dari awal. Percy menjadi alasan yang sangat sempurna. *** Abigail masuk ke kamar Davema dengan tangan membuka pintu kasar. Langsung melihat pada Davema di mana wanita itu tengah duduk melamun dan segera belutut ketika dia melihat Abigail muncul. Tubuhnya gemetar ketakutan dan Davema terlihat seperti pencuri yang ketahuan. Itu membangitkan rasa aneh dalam diri Abigail. "Apa yang kau lakukan, dengan berlutut seperti itu?" "Nyo..nya... say..ya..." "Davema, bersikap biasa padaku atau kau akan berakhir sekarang juga." Davema menelan ludahnya, dia berusaha menghindari menatap Abigail tapi itu akan sulit saat Abigail memandangnya dengan kesal akibat dia yang menghindari mata Abigail. Abigail sedikit menunduk dan meraih dagu Davema dengan kasar. Memandang mata perempuan itu dengan kekesalan yang semakin bertumpuk. Melihat bagaimana mata itu sangat ketakutan. "Kau takut padaku?" tanya Abigail dengan tidak percaya. Bibir Davema bergetar. Awalnya hanya getaran kecil, tapi kemudian malah meningkat dengan semakin dalamnya Abigail memandangnya. Sangat aneh. "Apa yang membuatmua takut padaku?" Davema menitikkan airmata dan Abigail tidak memiliki pilihan lain, dia melepaskan Davema karena semakin dia menyentuhnya, semakin takut perempuan itu. Abigail menunggu dengan sabar Davema menghabiskan airmata. Dia tidak bisa bicara dengan perempuan yang bergetar ketakutan padanya. Jadi hanya menunggu yang dia bisa. Abigail mengamati kamar sederhana milik Davema dan menemukan ada sebuah foto tertempel di dinding kamar itu. Foto Evelyn dan Davema sendiri. Terlihat bahagia dan itu membuat Abigail memperhatikan dan melihat ketulusan di mata Evelyn. Tidak ada tanda-tanda kejahatan di mata itu, jadi bagaimana bisa perempuan lemah dan sakit-sakitan seperti Evelyn bisa memiliki kartu kehancuran di tangan Ethen. Yang jelas Ethen bukan tipe penggertak. Jika dia mengatakan memiliki kartu itu maka dia sungguh memilikinya dan Abigail belum ingin hancur. Karena dia belum mencapai tujuannya. "Apa anda sungguh membunuh, Nyonya saya?" Abigail memutar tubuhnya dan melihat Davema telah bisa menenangkan dirinya. Namun kalimatnya malah menjadi tidak masuk akal. Membuat Abigail malah berakhir dengan hanya memandang aneh pada Davema. "Ke mana anda mengirim, Nyonya saya? Neraka? Seperti yang dia dugakan?" "Apa?" Davema menggeleng dengan kepala yang tampaknya sedikit kacau. "Nyonya saya selalu mengatakan kalau waktunya akan segera tiba. Dia akan berakhir di neraka dan dia mengatakan itu akan terjadi dalam waktu dekat. Dia benci dengan apa yang dia lakukan tapi cintanya pada Tuan Ethen tidak bisa dia rubah. Nyonya saya tidak bersalah, dia hanya jatuh cinta." Abigail mendongak, meniupkan nafas lewat mulutnya. Kedua tangannya ada di pinggangnya. Menatap kesal pada Davema. "Aku hanya ingin tahu apa saja yang sudah dilakukan Nyonyamu ini agar aku bisa mengantisipasinya. Karena sepertinya suaminya yang sangat dia cintai itu tahu semuanya. Dia mengancam akan membongkar kebusukan Nyonyamu dan itu akan sungguh-sungguh dia lakukan jika aku melawannya." Mata Davema membulat. Melihat Abigail seakan Abigail melempar lelucon yang buruk padanya. "Apa? Tidak mungkin..." "Tidak percaya? Bisa kau tanyakan pada Ethen. Dia akan menjawabmu dengan sukarela." Davema mengusap bekas airmatanya dan segera bangun lalu berdiri di hadapan Abigail. Kesiapan telah tampak di matanya dan itu yang dibutuhkan Abigail sejak tadi. Bukan malah pelayan lembek yang hanya bisa menangis. "Sekarang katakan padaku. Apa saja yang dilakukan Nyonyamu untuk mendapatkan Ethen?" Davema menelan ludahnya. "Pertama..." Abigail jelas tidak mengharapkan ada angka pada cerita Davema tapi itu tidak terhindarkan. "Nyonya menyewa pembunuh bayaran untuk melenyapkan calon tunangan, Tuan." "Apa? Dia membunuh?" Abigail kehilangan rasa kasihannya. "Bukan Nyonya yang membunuh." "Dia yang memerintahkannya jadi otomastis dia ikut andil besar dalam tragedi itu. Jangan membuat Nyonyamu terlihat benar saat dia sangat salah." Davema tidak membantahnya. Sedikit kesadaran ada padanya dan Abigail yang membuat itu ada. "Ya. Nyonya saya membunuhnya," setujunya dengan pahit dilidahnya. "Calon tunangan. Ethen memiliki calon tunangan? Kau bilang dia dan Olivia sepasang kekasih, bagaimana bisa dia memiliki calon tunangan?" "Ceritanya rumit, perempuan yang bertunangan dengan Tuan adalah perempuan yang sedang sakit dan Ayah Tuan menginginkan pernikahan itu untuk kesembuhan perempuan itu. Perempuan itu adalah salah satu pelayan muda di rumah Tuan. Dia menjadi pelayan pribadi Tuan, jadi mereka harus menikah karena Ayah Tuan sangat menyayangi pelayan itu." Ah kini dia mengerti. Malang sekali nasib Olivia. Ternyata tidak hanya Evelyn yang mendahuluinya, melainkan gadis pelayan juga. Sangat hebat, luar biasa. Bahkan Abigail tidak bisa berkata-kata. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN