Abigail sudah masuk ke kamar buah hatinya di mana kamar itu berwarna biru dengan gambar-gambar pada dindingnya. Ayah Abigail sendiri yang menginginkan satu kamar di rumahnya dijadikan sebagai kamar bayi dan akan ditempatkan oleh Percy. Jelas Abigail sangat suka dengan apa yang dilakukan ayahnya bahkan ayahnya sangat mengerti karena menempatkan kamar Percy tidak jauh dari kamarnya sendiri.
Perawat yang bertugas menjaga Percy telah bangun dari duduknya dan menyambut kedatangan Abigail dengan senyumannya yang lembut. Abigail membalas senyuman itu.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Abigail. Melihat ke ranjang bayinya.
“Dia tertidur dari tadi dan akhir-akhir ini Percy tidak rewel lagi. Sejak anda mulai kerap mengunjunginya. Dia benar-benar bahagia bersama dengan anda.”
Abigail sumringah dan menatap perawat dengan pandangan cerah. “Senang sekali mendengarnya.”
Perawat itu mengangguk, senyum bahagia tampak mewarnai anggukan tersebut.
“Kalau seperti itu, aku akan menjaganya sekarang. Kau bisa beristirahat.”
“Saya pamit sebentar kalau begitu, selamat bersenang-senang dengan, Percy, Nyonya.”
Abigail tidak menimpali. Dia hanya bergerak ke arah ranjanng bayinya dan melihat lelap pada mata putranya. Bayi mungilnya yang luar biasa tengah bermimpi indah sepertinya, ada jejak senyum di bibir mungilnya. Membuat Abigail tidak tega hanya sekedar untuk menyentuhnya. Dia takut itu akan membangukannya.
“Berhenti lari dariku saat aku belum selesai bicara denganmu, Eve!”
Abigail berputar dan bergerak ke arah Ethen yang baru saja muncul di pintu dan sekarang tengah berdiri dekat dengan Abigail. Tangan Abigail refleks bergerak dan memberikan kepalan tangannya ke d**a Ethen dengan cukup keras, bahkan itu cukup mengejutkan bagi Ethen. Dengan tenaga sekuat itu, Abigail sanggup membuatnya tercengang.
“Kau bisa protes padaku nanti, jangan sekarang. Dia sedang tertidur.” Mata Abigail menyala dengan waspada. Memandang pada Ethen dengan penuh kesal.
Ethen menatap ke ranjang bayinya dan dia sedikit merasa bersalah atas apa yang dia lakukan. Dia hanya terlalu kesal dengan sikap Evelyn dan mengesalkan karena sejak dulu Evelyn tidak begini padanya. Evelyn selalu bersikap layaknya Ethen adalah pusat dunianya.
Evelyn tidak pernah mencegah Ethen melakukan apapun. Bahkan walau Ethen menyakitinya, Evelyn hanya akan diam saja dengan tertekan untuk dirinya sendiri. Yang di depannya jelas bukan salah satu sikap yang akan dipakai Evelyn. Kecurigaan tentang betapa berubahnya Evelyn semakin terasa nyata. Mata Ethen memperhatikan bagaimana kepalan tangan itu menempel di dadanya.
Abigail melepaskan kepalan tangannya. “Kita bicara di luar saja,” pintanya dengan segera beranjak meninggalkan kamar putranya, agar bayinya bisa tertidur tanpa ada gangguan dari orangtuanya yang tampaknya akan beradu argumen. Setidaknya itu adalah dugaan Abigail dan dia tidak akan meleset dari dugaan tersebut. Mata Ethen memberitahu kalau itulah yang akan terjadi.
Seperti dugaanya, Ethen sudah mengikuti di belakangnya dan saat Abigail memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan Ethen, pria itu siap memulai peperangan mereka.
“Kau harus pulang denganku.” Itu bukan permintaan tapi perintah. Sebuah kemutlakan yang harus dipatuhi. Tiada celah yang bisa membantah hal itu.
“Aku masih suka di sini, Ethen. Kau tahu kalau aku butuh ini, untukmu. Untuk kita.”
Ethen mendekat satu langkah lagi, mengikis jarak di antara mereka. “Tidak ada yang namanya kebutuhan dalam hal ini. Aku ingin kau pulang bersamaku hari ini juga karena tempat Percy ada di sana. Kau tidak bisa membuat dia tumbuh di sini, ini bukan teritorialnya. Dia akan hidup di tanah di mana ayahnya ada”
Abigail memijit tulang hidungnya. Dia membutuhkan lebih banyak waktu, urusannya belum selesai di sini. Sesuatu yang dia pikir bisa selesai hanya dalam waktu satu atau dua hari, kini menjadi berbulan-bulan dan kadang itu membuat Abigail merasa frustasi.
Pergerakannya di rumah ini tidak leluasa. Terlalu banyak mata yang mengawasinya dan Davema adalah halangan terbesarnya. Perempuan itu selalu ada di mana saja Abigail ada.
Namun kini dia tahu kalau Davema mengetahui semuanya. Dia hanya perlu mendengar bagaimana pendapat Davema tentang dirinya dan segalanya akan bisa dia mulai dengan segera.
Jika saat ini dia menurut ke rumah Ethen, itu hanya akan membuat masalah baru. Masalah yang tidak dia ketahui seperti apa. Di rumah itu dia tidak paham sistem kerjanya dan mengingat kalau Ethen adalah seorang Jenderal dan pastinya itu adalah kedudukan penting, Abigail tidak yakin dia akan bisa bergerak sebebas di sini. Dengan Ethen sebagai pengendali utama rumah, itu hanya akan tampak seperti penjara dan bukannya rumah.
Tidak banyak yang diketahui Abigail tentang Ethen. Tapi jelas Abigail merasakan alarm bahaya pada kehadiran Ethen dan dia tidak ingin mencoba mencari tahu.
“Baiklah, aku akan pulang bersamamu, Ethen. Hanya tidak sekarang, berikan aku waktu.”
“Waktu?” suara itu meradang. “Berapa banyak waktu lagi yang kau butuhkan untuk menghindar dariku? Dari suamimu?”
Abigail tidak tahu lagi bagaimana cara meyakinkan Ethen. Pria ini jelas membawa cerobong asap di hidungnya dan mulutnya siap menyemburkan api laksana sang naga.
“Orang-orang sudah mulai bertanya tentang apa yang terjadi pada rumah tangga kita? Mereka berpikir aku tidak memperlakukanmu dengan adil hingga kau menginginkan perpisahan. Pikirmu harus aku apakan suara-suara itu?”
“Aku sudah meminta berpisah...”
“Meminta berpisah lalu kau meneteskan airmata? Kau ingin mereka melihat aku sebagai suami yang kejam?”
“Bukankah kau memang suami yang seperti itu?” gumam Abigail yang berusaha hanya di dengar oleh dirinya sendiri.
Sayangnya telinga suaminya terbuat dari medan pendengaran. Dia mendengarnya dan semakin marah karenanya. Membuat Abigail berada dalam jerat tangannya di mana pria itu menggenggam lengannya dengan kasar dan menariknya mendekat. Bibir Ethen ada di dekat telinga Abigail. Pria itu berbicara dengan suara serak dan juga pelan, seolah ingin Abigail merasakan ancaman dibalik suaranya.
“Jika kau ingin menghancurkan aku, maka jangan takut, aku tidak akan pernah hancur sendiri. Akan aku bawa dirimu turut serta dan itu akan lebih menghancurkanmu dari pada aku sendiri. Kelemahanmu ada padaku, Evelyn Gray. Sebagai istriku, kau pikir bisa dengan mudah bagimu melakukan apapun semaumu tanpa aku mengetahuinya? Salah besar, kartu matimu ada di tanganku. Ingat itu baik-baik dan lakukan apa yang harusnya kau lakukan.”
Ethen melepaskan pegangannya dengan kasar. Abigail menatap pada Ethen dengan tidak mengerti. Hancur. Kartu mati. Semua itu, ada apa sebenarnya?
Sepertinya banyak hal yang tidak diberitahukan Davema padanya. Karena perempuan itu tahu tubuh Evelyn dihuni oleh Abigail jadi Davema hanya mengatakan apa yang perlu diketahui Abigail. Sementara yang lainnya dia simpan rapat-rapat. Perempuan licik.
“Kemasi barangmu segera. Malam ini kita pulang.”
Ethen memutar tubuhnya dan pergi dengan tatapan Abigail yang seolah bisa melubangi punggung pria itu. Oh dia sangat berharap bisa melakukannya. Tapi dia akan melubangi kepala Davema terlebih dahulu.
Itu akan dia lakukan secepatnya.
***