Chapter 4

1269 Kata
Abigail sedang merapikan rambutnya ketika suara pintu terdengar terbuka dengan tanda kedatangnan Davema. Dia menatap pelayannya itu sesaat dan kembali sibuk dengan rambutnya. Harusnya dia potong saja rambutnya agar dengan lebih mudah dia beraktivitas tanpa terhalang oleh panjangnya rambut tersebut. Sayangnya rambut ini bukan miliknya jadi dia tidak bisa sembarangan melakukan apa yang menurutnya harus dilakukan. Jika pemilik aslinya kembali, Abigail takut akan terjadi sebuah kesalahan yang tidak dia inginkan. Jadi dia harus mempertahankannya. Walau nyatanya hampir lima bulan dia ada di tubuh tersebut dan tanpa ada tanda-tanda keinginan sang pemilik tubuh kembali. Entah memang tubuh ini telah kosong sepenuhnya, Abigail tidak bisa memastikan. “Nyonya, s**u kesukaan anda.” Abigail berputar dan melihat Davema telah meletakkan segelas s**u coklat di atas meja kaca yang ada di tengah ruangan. Dia menatap Davema dengan kerutan samar. “s**u kesukaanku?” “Ya, Nyonya. Kata dokter anda sudah bisa meminum s**u ini, karena ada campuran lain di dalamnya. Biasanya anda akan meminum s**u ini setiap anda akan tidur dan juga bangun, tapi karena melahirkan anda jadi tidak bisa meminumnya lagi. Kemarin saya sudah bertanya pada dokter dan dia mengatakan kalau anda sudah bisa meminumnya lagi.” Abigail mengangguk saja. Aneh setelah hampir lima bulan dia baru tahu kalau dia menyukai s**u coklat. Dalam diri pribadinya, Abigail tidak terlalu menyukai s**u coklat, bukan tidak suka sebenarnya, lebih seperti s**u bukan minuman kesukaannya. Tapi Davema mengatakan Evelyn menyukainya, itu menjadi sebuah pertanda kalau Abigail harus meminumnya. Bukan masalah. “Apa kau melihat Percy hari ini? Aku sangat merindukannya.” Beberapa hari ini Abigail memiliki kegiatan baru, yaitu bersama dengan Percy dan itu menjadi sebuah kebahagiaan yang tidak dapat dia jelaskan dengan biasa. Percy menjadi sumber kebahagiaan yang luar biasa dan mengubah diri Abigail dengan signifikan. Gadis itu menjadi lebih lembut dan lebih penuh kasih. Semua karena Percy dan keluguan pada wajahnya. “Dia bersama dengan ayahnya, Nyonya.” Abigail mengangguk. Setelah selesai dengan rambutnya yang dia putuskan untuk diikatnya menjadi satu akhirnya gadis itu beranjak dari tempatnya. Berjalan ke arah Davema dan mengambil segelas s**u coklat yang tadi diletakkan Davema pada meja kaca. Tanpa ragu dia meminm segelas s**u itu hingga abis, lalu meletakkan gelasnya kembali di atas kaca. Yang mengejutkan Abigail malah sikap Davema. Perempuan itu jatuh ke lantai dengan nampan yang dipegangnya ikut terjatuh dan mengeluarkan bunyi yang cukup keras. Bahkan sampai membuat Abigail harus mundur beberapa langkah oleh bunyinya. Tatapan Abigail miring dan saat matanya bertemu dengan Davema, senyum kecil hadir di bibir gadis itu. Membuat pelayan itu jelas terkejut dengan apa yang dia suguhkan. Tapi Davema juga mengejutkannya. “Saya tahu Nyonya.” Abigail mengangguk dengan perlahan. Dia sudah curiga sejak tadi, tapi jelas dia tidak bisa menebak dengan pasti kalau Davema belum mengatakan segalanya. Jadi dia menunggu perempuan itu bercerita padanya agar Abigail tahu langkah apa yang harus diambilnya. Dan dia dapatkan apa yang dia harapkan. Pengakuan dari Davema kalau perempuan itu tahu tentang Abigail. Akan aneh jika Davema bahkan tidak curiga dengan perubahan Evelyn. Dari semua orang jelas Davema yang paling mengenal Evelyn. Jadi dia akan menjadi orang pertama yang harusnya sadar tentang Abigail. “Sejak kapan?” tanya Abigail. Davema bangun dengan nampan di tangannya, menatap pada Abigail bersama sikap yang coba dia tegarkan walau kerapuhan akan kehilangannya terlihat jelas di matanya. Itu sedikit menganggu Abigail karena jelas kelembutan Evelyn masih bertahan di dalam dirinya. Jadi dia merasakan kepeduliannya pada Davema. “Saya curiga sejak awal. Saya merasa walau anda di sini bersama saya tapi Nyonya saya tidak pernah terasa ada. Sejak dia kehilangan detak jantungnya, saya sudah merasa kehilangan dia. Lalu tiba-tiba saja jantungnya kembali berdetak dengan kuat dan anda di sini, itu terasa tidak benar, tapi semakin saya melihatnya semakin saya tahu. Anda dan Nyonya saya sangat berbeda. Kalian sama sekali tidak sama dan Nyonya saya memang telah meninggalkan kami semua.” Abigail tidak bisa mengatakan apa-apa untuk menghibur kesedihan di wajah perempuan itu. Bahkan walau Davema menangis tersedu, Abigail hanya bisa diam saja. Menatap dengan tangan bersedekap, dia tentu saja tidak bisa maju dan memeluk Davema. Itu sungguh bukan dirinya sama sekali. Jadi Davema harus melewati kesedihan itu sendirian. “Kau yakin kalau Nyonyamu telah tiada, Davema?” tanya Abigail. Davema terlihat sangat yakin hingga bahkan membuat Abigail sedikit terkejut. “Ya, Nyonya. Nyonya saya sudah meninggalkan dunia ini, saya sangat yakin akan hal itu. Dia tidak tahan lagi dengan cinta tak berbalasnya jadi dia memilih meninggalkan saja dunia ini. Nyonya saya sangat malang.” Kembali Davema meraung dalam tangisnya hingga Abigail hanya bisa menekan pelipis melihatnya. Dia ikut berduka untuk perginya Evelyn dari dunia ini dan entah bagaimana Abigail menjadi jiwa yang menghuni tubuh ini. Hanya saja kehilangan seperti yang dirasakan Davema sekarang, hanya dia yang mengerti. Abigail tidak mengenal Evelyn untuk berduka sedalam itu. Dan Abigail juga bukan orang yang akan dengan suka hati memakai airmata untuknya berduka. Bahkan saat dia tahu kekasihnya telah berkhianat dengan sahabatnya saja Abigail tidak pernah meneteskan airmatanya. Hingga kematian ada diujung matanya, Abigail tetap memperlihatkan ketegarannya. Jadi apa yang bisa membuat dia menangis dengan targedi yang dialami Evelyn, saat tragedinya sendiri tidak membuat dia menitikkan airmata. Pintu tiba-tiba saja terbuka dengan mata Abigail segera berhadapan dengan mata dingin yang tentu saja hanya dimiliki oleh suaminya tersayang. Pria itu menatap pada Davema cukup lama dan jelas telah menangkap tangis di wajah pelayannya tersebut. Abigail sendiri melihat Davema yang sudah mengusap pipinya yang basah. Davema terlihat sangat terkejut dengan kehadiran Ethen di kamarnya. Abigail juga terkejut tapi dia cukup mampu menguasai dirinya. Dan hanya menatap datar ke arah Ethen setelah dia melihat Davema baik-baik saja. “Ada apa kau kemari? Di mana Percy?” tanya Abigail dengan ketenangan yang sangat luar biasa. “Kamar ini masih menjadi milikku juga. Aku bisa datang kapan saja aku menginginkannya,” jawab Ethen dengan pongah. Abigail hanya mendengus saja dengan jawaban yang diberikan untuknya. Sudah menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu dari pria sombong seperti Ethen. “Kau bisa pergi, Davema. Kita bicarakan lagi semuanya nanti.” “Baik, Nyonya.” Davema menghela lega nafasnya dan segera berlari keluar dari kamar. Meninggalkan segala keterkejutannya di dalam kamar tersebut. Membuat kelegaan terasa di dadanya ketika dia telah menginjak luar ruangan. Abigail berjalan mengambil cardigannya untuk menutup tanktop yang dia pakai, dia harus menemui Percy dan melihat keadaan anaknya. Tanpa perlu meladeni suaminya yang agak setengah waras. “Apa yang kau lakukan pada pelayan setiamu? Apa yang dia lakukan, yang tidak memuaskanmu hingga membuat dia berderai airmata seperti itu?” tanya Ethen dengan santai. “Rasa ingin tahumu membuat aku berpikir cukup baik, Ethen.” Ethen diam dengan mata mengawasi istrinya. “Bahwa kau sangat peduli denganku dan itu membuat kau membenciku. Rasa pedulimu yang tidak kau inginkan menghadirkan kebencian pada akal sehatmu. Koreksi jika aku salah.” Abigail menatap Ethen dengan senyuman manis di bibirnya. “Tidur dulu baru bermimpi, Eve. Kau kadang memang keterlaluan pada prasangkamu, tidak kusangka kalau akhir-akhir ini bertambah parah saja kelihatannya.” Abigail terkekeh dalam kegeliannya sendiri. Dia menggeleng. “Menggodamu menjadi hobi yang tidak bisa aku lewatkan, Jenderal. Maafkan kelancangan istrimu ini.” Abigail menundukkan kepalanya sendiri. Memberi hormat yang memang dibuat-buat. Ethen tidak lagi bisa mengatakan banyak hal pada Evelyn. Jelas dia mengenal orang yang salah selama ini. Evelyn berbeda dan entah mana dirinya yang asli, Ethen tidak bisa memastikan. “Kalau tidak ada yang akan kau katakan lagi, Jenderal, maka biarkan aku pergi menemui putraku. Sampai jumpa nanti.” Tanpa menunggu jawaban dari pria itu, Abigail melangkah meninggalkannya. Dia tidak suka beradu mulut dan Ethen dengan sikap dinginnya kerap melakukan itu. Jadi sebisa mungkin Abigail akan menghindarinya, itu akan lebih baik untuk pikirannya.                                                   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN