Chapter 3

1679 Kata
Abigail berjalan dengan langkah tidak pasti. Dia sudah mondar-mandir di kamarnya entah berapa langkah. Tidak akan berlebihan jika kakinya yang tengah berpijak terus-menerus di lantai yang sama akan membuat lantai itu berlubang. Dia tidak tenang dan jelas hanya dirinya yang tidak tenang di sini, yang lain menganggap ketidaktenangan dalam dirinya tapi dia memang tidak bisa bersikap biasa. Ada hal luar biasa yang dipaksakan padanya.  Dia sudah menolak melakukannya tapi mereka terus saja mengatakan kalau dia yang harus melakukannya. Membuat dia kali ini tidak memiliki pilihan lagi, apalagi saat b******n terkutuk yang adalah suaminya itu yang meminta dia melakukannya.  Hanya Ethen yang bisa memaksanya melakukan apa yang tidak dia inginkan untuk dia lakukan dan pria itu telah bertindak. Ethen merasa cukup dengan ketakutan Abigail beberapa bulan ini yang terus menghindari anaknya sendiri, jadi Ethen akan membuat Abigail melakukannya kali ini. Dia akan memaksanya dan tidak akan ada yang menolongnya. Bahkan ayahnya sendiri setuju dengan pendapat Ethen. Membuat dia berdiri sendiri.  Tentu saja dia memiliki Davema tapi apa memangnya wanita itu punya nilai suara dalam hal ini? Davema hanya pelayan dan dia tidak bisa melakukan apa yang ingin dia lakukan saat tuannya telah angkat suara. Walau Abigail adalah majikan yang dia layani, tapi jelas pemegang keinginan tertinggi masih dipegang oleh ayah Abigail. Pintu terbuka dan pria itu ada di sana. Tidak ada bayi ditangannya dan Abigail harus sedikit lega karena ternyata Ethen tidak segera menyodorkan bayi padanya. Tapi jelas Abigail tidak akan bisa selega itu, Ethen hanya tidak menyodorkan bayi padanya karena pria itu ingin Abigail yang menghampiri bayi mereka. Sangat luar biasa. Yang tidak dimengerti Abigail sendiri juga, kenapa Evelyn dan Ethen bisa memiliki bayi saat mereka bahkan tidak memiliki cinta di antara mereka. Apa Ethen tipe pria yang walau membenci istrinya tapi tetap menyetubuhinya? Kalau benar begitu, berarti Ethen memang tipe pria munafik atau memang berkebutuhan besar untuk seks. Tapi jika benar Ethen memiliki kebutuhan itu, kenaapa beberapa bulan ini, dia tidak pernah memaksa Abigail bercinta dengannya. Bahkan dia tidak bertanya apa Abigail mau melayaninya. Jika dipikirkan hanya akan membuat Abigail pusing saja.  "Saatnya menemui anak kita, Eve." Abigail menelan ludahnya. Ya, dia sudah tahu kalau ini saatnya tapi tetap saja Abigail merasa belum siap. Dia sepertinya siap melakukan apapun tapi bayi, itu tidak ada dalam rencana masa depannya. Dia tidak akan pernah siap.  Abigail sendiri di hidup masalalunya adalah seorang yatim yang memiliki anugerah otak cerdas hingga bisa tumbuh besar dengan menjadi anak adopsi dari satu keluarga ke keluarga lainnya. Tidak banyak yang dia ingat tentang keluarga adopsinya, yang pasti semuanya adalah keluarga terkutuk yang hanya menginginkan anak adopsi sebab uangnya. Abigail adalah alat bagi mereka dan Abigail benci menjadi alat.  Seperti itulah pria yang dia pikir mencintainya, memperlakukannya, dia berpikir kalau Abigail adalah alat yang sempurna menuju keberhasilannya. Dia berpura-pura peduli dengan Abigail lalu berhasil menusuk Abigail dari belakang dan membuat Abigail berakhir di tubuh orang lain seperti ini. Hidup Abigail telah berakhir, namun tidak dengan Evelyn, hidupnya baru dimulai di mana Abigail akan menjadi penulis kisahnya. Jentikan jari di depan wajahnya membuat Abigail mengerjap. Dia belum bisa menulis kisah saat ini, karena dia harus lebih dulu menentukan takdirnya dengan mengenyahkan ketakutannya. Yaitu melihat bayinya. Ethen tampak tidak sabar menahan sabarnya untuk ketakutan tidak masuk akal baginya. Tapi jelas bagi Abigail semuanya sangat masuk akal. Mereka tidak menjadi dirinya jadi mereka tidak akan tahu rasanya.  "Kau ingin terus mematung di sini agar aku bisa menyeretmu ke bawah?" tanya Ethen dengan kesal. Abigail mendengus dengan kekesalan yang diberikan Ethen, dasar suami sialannya memang k*****t. "Aku akan turun, tapi sepertinya aku sakit perut saat ini, Ethen. Bisakah aku turun nanti." Abigail sudah memutar tubuhnya dan siap berlari ke kamar mandinya. Melarikan diri dan menjadi pecundang. Dia tidak peduli mereka mau menyebutnya apa, yang pasti dia masih butuh lebih banyak waktu. Waktu yang tidak memiliki batasan waktu. Sayangnya Ethen tampak sadar dengan kelakukannya dan sebelum dia mencapai langkah lainnya, tangan Ethen sudah mencekal pergelangan tangannya hingga dia diam di tempat. Bahkan Ethen memutar tubuhnya dan membuat mereka berhadapan. Mata pria itu mengancam dan membuat tubuh Abigail mengkerut.  "Jangan membuat alasan lagi, pergi denganku sekarang atau kau akan menyesalinya. Dia anakmu dan anakmu butuh ibunya, jangan menguji kesabaranku, Eve." Abigail cemberut. Dia tahu kalau caranya salah. Menghindar tidak akan membuat segalanya menjadi baik-baik saja. Anak itu juga memang benar membutuhkan Evelyn, ibunya. Sekaranng Abigail harus melawan ketakutannya sendiri dan dia sudah tidak bisa lari. Ethen tidak akan membuat dia lari, itu yang dijanjikan mata elang Ethen. Akhirnya Abigail mengangguk dan setuju.  "Baiklah, aku akan turun sekarang." Ethen tetap menggenggam tangan Abigail dan membawanya berjalan bersamanya. Abigail menelan ludah dan mencoba melemahkan degup jantungnya sendiri yang terasa berkejaran. Semakin banyak langkah diambilnya, semakin kuat jantungnya menggedor rongga dadanya. Membuat Abigail seolah tengah melangkah ke tiang gantungnya sendiri.  Anak-anak tangga yang mereka lewati seperti buku dosanya. Abigail berusaha menegarkan diri tapi itu tidaklah mudah sama sekali.  Ethen menatapnya dan melihat wajah gadis itu yang tampak berdoa dan Abigail berusaha mengabaikan tatapan penuh penasaran dari suaminya. Mungkin Ethen berpikir kalau ketakutan Abigail hanya omong kosong belaka, tapi Abigail sungguh tidak main-main dengan ketakutannya.  "Dia tidak akan menggigitmu," ujar Ethen dengan santai.  Jika itu dimaksudkan untuk menghiburnya, maka Abigail patut mengucapkan terimakasih. Walau dia sama sekali tidak terhibur tapi Ethen telah berusaha dan Abigail mengapresiasikan usaha tersebut.  Mereka akhirnya sampai pada tiang gantungannya... ah tidak, maksudnya adalah sampai ke tempat di mana seorang pelayan yang berpakaian perawat dengan menggendong anak kecil di halaman depan rumah. Abigail melihat tidak hanya ada perawat itu di sana, ada ayahnya dan juga ayah Ethen. Mereka banyak sekali seakan ingin melihat bagaimana pertemuan pertama Abigail dan anaknya. Atau mungkin juga mereka berpikir kalau Abigail akan menyakiti anak itu dan mereka di sini siap membuat bencana itu tidak terjadi.  Abigail memang takut tidak untuk dirinya, tapi dia takut untuk anak itu. Untuk apa yang mungkin dilakukan oleh Abigail pada anak yang bukan anaknya. Dia tidak tahu bagaimana akan bersikap dan dia takut kalau dia akan mengacaukan segalanya. Perawat itu berbalik dan sedetik kemudian, saat matanya bertemu dengan mahluk indah di deoannya, dia terhenyak. Seluruh nafasnya seakan direnggut paksa dari dadanya. Dia butuh lebih banyak waktu untuk mencari tahu perasaan siapa yang sedang dia rasakan saat ini. Apakah ini perasaan Evelyn yang untuk pertama kalinya melihat anaknya atau malah perasaan ini adalah milik Abigail sendiri.  Terlalu lama berada dalam tubuh Evelyn membuat Abigail tidak tahu lagi cara membedakan dengan benar perasaannya. Perasaannya dan Evelyn bercampur aduk rasanya. Tanpa diminta Abigail bergerak maju. Tangannya menggenggam dengan kuat dan dia tahu kalau genggaman itu pastinya menganggu Ethen, karena tangan Ethen lah yang sedang berada dalam genggamannya. Tapi rasanya Ethen juga akan mengerti saat ini. Sebenci apapun Ethen padanya, pria itu akan paham kalau sikap Abigail saat ini dikarenakan anak mereka sendiri.  "Anda ingin menggendongnya, Nyonya?" tanya si perawat.  "Bisakah aku?" Abigail bertanya lebih kepada dirinya sendiri.  Perawat menatap Ethen, meminta sebuah persetujuan. Ethen mengangguk dan kembali sibuk menatap pada istrinya. Dalam beberapa bulan terakhir ini ada perubahan yang sangat besar dalam diri Evelyn dan seperti sosok Evelyn bukan Evelyn sendiri. Ethen tidak tahu cara mengatakannya, namun dia merasa Evelyn berbeda dalam segala hal. Termasuk perasaannya.  "Saya akan membantu anda." Rasanya Abigail belum siap, dia tidak akan pernah siap. Tapi semua tatapan berharap itu tidak bisa dia kecewakan. Kelembutan hati Evelyn mendorong Abigail bersikap lembek. Itu bukan masalah jika memang tidak merepotkan. Saat ini juga tidak merepotkan sebenarnya, namun dia hanya sedikit terganggu.  "Dia mengenalimu, Anakku," ujar Ayah Ethen. Abigail melihat anaknya memang menatap padanya, satu tangannya yang keluar dari gelungan kain ditubuhnya tampak mengulur pada Abigail. Hatinya terasa terenyuh, dia tidak bisa lagi mengatakan tidak saat anaknya sendiri memintanya dalam balut pandang kekanakannya.  "Berikan padaku," pinta Abigail.  Dia akan bisa melakukannya, apa yang dia bayangkan tidak akan terjadi. Malaikat kecil ini, tidak akan pernah dirinya sakiti. Dia yakin itu. Hanya dengan melihatnya saja membuat perasaan Abigail terasa menghangat. Jadi mana bisa dia menyakitinya.  Perawat itu mendekat dan melepaskan bayi itu ke tangan Abigail yang bergetar. Melepaskan pegangannya dengan hati-hati dan melihat saat Abigail telah siap dengan gendongan pertamanya, barulah perawat itu melepaskannya dan membiarkan Abigail menjadi pemegang penuh pada bayi yang mengerjapkan matanya. Memandang Abigail seakan Abigail adalah mahluk pertama yang sangat indah dilihatnya.  Satu tetes airmatanya jatuh, Abigail tidak kuasa menahan perasaannya. Entah siapa yang sebenarnya memiliki perasaan ini, hanya saja Abigail butuh airmatanya untuk membuat perasaannya menjadi lebih baik. "Dia sudah sangat besar," gumam gadis itu.  "Kau takut padanya hampir empat bulan, Eve. Tentu saja dia sudah besar sekarang," timpal Ethen.  Benarkah telah selama itu? Abigail rasanya tidak pernah melewati waktu sepanjang itu hanya untuk membuat dirinya takut pada hal yang tidak seharusnya. Itu konyol dan sekarang semakin konyol lagi saat dia berhadapan dengan sumber masalahnya yang rupanya menjadi anugerah terhebatnya saat ini.  Sosok yang akan menjadi hal paling berharganya mulai saat ini. Dia sangat yakin akan hal itu.  Abigail menatap buah hatinya dengan senyuman lebar, menggesek-gesekkan hidung mereka dan merasakan kelembutan pada sentuhan kulit mereka. Kulit lembut itu menyambutnya dengan sukacita.  "Siapa namanya?" tanya Abigail.  "Nama yang kau berikan, kau sangat keras kepala dengan nama itu jadi aku dan ayahmu bersepakat memakai nama itu. Harusnya kau senang kan?" Abigail menatap Ethen dengan bingung. Nama yang dia berikan? Apa nama yang diberikan Evelyn pada anaknya? Tidak ada dalam ingatannya dan tidak pernah ada yang membahasnya selama dia ada di tempat ini. "Percy Gray memang namanya yang sangat indah, Nyonya." Abigail menatap pada Davema. Pelayannya itu baru datang dengan senyumannya yang lebar, melihat pada Abigail dengan sebuah kekaguman yang luar biasa. Membuat Abigail hanya berterimakasih dalam hatinya. Akibat celetukan Davema dia bisa tahu nama anak ini.  "Percy Gray, indah sekali," puji Abigail. Memuji kehebatan Evelyn dalam memberikan nama pada putra kesayangannya.  "Itu memang nama yang indah, Anakku," sahut ayah Abigail. Abigail mengangguk dengan sangat setuju.  Dia tidak akan pernah bosan menimang putranya. Percy akan menjadi permata dalam hidupnya. Walau Percy lahir dengan cinta bertepuk sebelah tangan, tapi Percy akan mendapatkan cinta utuh darinya. Dari semua keluarganya bahkan dari ayahnya. Ethen tampak sangat menyayangi putra mereka. Itu terlihat dari lembut tatapannya pada Percy. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN