Chapter 2

1073 Kata
Abigail mengambil tisu yang diserahkan Davema padanya. Dia mengusap bibirnya pelan tanpa merusak pewarna di bibirnya, sebenarnya bibir Evelyn telah tampak merah muda tanpa ditambahkan dengan pewarna apapun hanya saja Abigail sedang ingin tampil glamor jadi bibir merah muda tidak akan mendukungnya. Juga sesaat dilihat Abigail, hanya Evelyn yang memiliki pelayan pribadi yang melayaninya dengan sepenuh hati.  Entah Evelyn memang sangat membutuhkannya atau memang ayah perempuan ini sangat menyayangi putri satu-satunya ini. Yang mana saja, Abigail tidak telalu peduli. Selama Davema tidak menganggunya dengan keberadaannya, Abigail baik-baik saja.  "Eve," Abigail mengangkat pandangannya. Menatap pria tua yang adalah ayah Evelyn. Yang diyakini Abigail adalah apapun yang menjadi langkah perempuan ini, mendapatkan perhatian yang tidak sedikit dari orang-orang. Seperti saat ini, semua mata menatap dirinya menunggu. Seolah dia akan melakukan hal besar dan sangat luar biasa.  Tentu saja suaminya tersayang tidak ada dalam daftar memandangnya. Pria itu bahkan tidak ingin menatap diri Abigail dengan alasan normal apalagi hanya karena setitik rasa penasaran.  "Ya, Ayah?" Pria tua itu meletakkan sendoknya dengan senyumannya di sana. "Bagaimana kalau kembali satu minggu lagi?" "Kembali?" Abigail bingung. Tidak pernah ada yang mengatakan kembali padanya, bahkan Davema tidak mengatakan demikian. Dia mendongak menatap Davema tapi Davema hanya menggeleng dengan perlahan. Tampak juga tidak mengerti membuat Abigail menelan ludah.  "Ayah tahu kau pasti rindu dengan rumahmu. Kalian ingin waktu berdua di rumah kalian dan Ethen juga tidak bisa terus di sini karena dia banyak pekerjaan. Jadi bisakah kau biarkan Ethen pulang dulu sendiri, dan kau bersama ayah di sini." Pria tua itu tampak sangat berharap dan Abigail yakin kalau Evelyn yang sekarang menghuni tubuh ini, dia akan menolak permintaan ayahnya mentah-mentah. Evelyn terlalu cinta mati dengan Ethen dan tidak bisa lama-lama berjauhan dari pria itu. Jadi dia tidak akan bisa melihat wajah berharap ayahnya, Evelyn akan mengabaikan permintaan itu. Cinta memang membutakan Evelyn.  Tapi sekaranng tubuh ini dikendalikan oleh Abigail. Jelas gadis itu tidak akan membiarkan sang ayah menderita.  Abigail tersenyum dengan lebar, menatap ayahnya penuh dengan kehangatan. "Tenang Ayah... Aku sudah membicarakan semua ini dengan, Ethen." Lirikan tajam dari suaminya seolah bisa melubangi wajah Abigail. Kebohongannya membuat Ethen kesal. Ah bukankah Ethen tahu kalau Evelyn memang pandai berbohong, jadi harusnya dia terbiasa kan? "Aku dan Ethen telah bersepakat kalau beberapa bulan ke depan, aku bisa tinggal di sini semauku. Ethen akan mengunjungiku saat dia tidak sibuk dan kami akan tetap berhubungan lewat ponsel. Bukankah begitu, Suamiku?" Abigail menatap pada Ethen.  Tangan Abigail bergerak ke atas tangan kiri Ethen, di mana tangan itu masih memegang garpunya. Abigail yakin kalau Ethen tengah mempertahankan tangan itu agar tidak bergerak dan menusuk tangan Abigail.  "Benarkah, Anakku? Benarkah, Ethen?" Sang Ayah tampak berkaca-kaca dengan kesedihan yang dibalut dengan kebahagiaannya.  Ethen tersenyum dengan dibuat-buat, dingin itu bahkan tidak bisa dia sembunyikan dengan sempurna. "Apapun keinginan, Eve, Ayah. Aku terlalu mencintainya hingga tidak bisa menolak keinginannya." Ayahnya bangun dan bergerak memeluk Abigail yang masih duduk dengan tangan. Tangan yang menggenggamnya menyakiti Abigail, jelas kemarahan Ethen tersalurkan lewat genggaman itu. Abigail menahannya, itu hanya genggaman, dia tidak akan merasa terluka.  Setelah melepaskan Abigail, Ayahnnya memeluk Ethen di mana pria itu harus bangun agar dia bisa lebih mudah mendapatkan pelukan mertuanya. Genggaman mereka terlepas, membuat Abigail memegang tangannya dengan tatapan kesal pada Ethen. Pria itu tidak setengah-setengah menyumbangkan tenaganya dalam menyakiti Abigail. "Terimakasih, Ethen. Kau sudah mengerti perasaan pria tua ini." "Ya, Ayah." Abigail meraih minuman di depannya, dengan senyuman di bibirnya saat dia menempelkan bibirnya di gelas.  Dengan Ethen tidak bersamanya, rencananya akan cukup sempurna untuk mendapatkan pembalasan dendamnya. Sudah pasti dia hanya harus mencari tahu keadaan pria yang menyakitinya dan selingkuhannya. Yang dia tahu, pria itu juga ada di kota ini.  *** Kakinya hampir menjatuhkan tubuhnya, melihat kesal pada pria itu dengan kemarahan yang lebih besar malah ada padanya. Harusnya Abigail yang merasa marah karena di tengah tangga tadi, saat Abigail dan Davema masih berjalan dengan langkah normal, Ethen malah datang dan menyeretnya naik dengan sekuat tenaga. Mencengkram pergelangan tangannya dan membuat Abigail tidak berrkutik dengan dorongan kuat ke kamarnya.  Kini mereka berhadapan dan Abigail hanya bisa melihat penuh dengan tanda tanya pada kemarahan yang diciptakan Ethen.  "Apa lagi rencanamu kali ini, Eve? Siapa lagi yang ingin kau pancing keluar dan membuat kau menjadi perempuan lemah. Tidak cukupkah dengan membuat duniaku bagai di neraka?" Abigail menelan ludah atas tuduhan tidak berdasar tersebut. Dia menatap Ethen dengan santai. "Aku bukan perempuan lemah, Ethen dan apa maksudmu dengan neraka? Apa kau sungguh sadar seperti apa neraka itu sebenarnya?" Ethen diam menatap dengan masih amarah yang sama. Dia mendengus. "Jadi sekarang kau mengakuinya. Kau memang harusnya begitu." "Mulai sekarang aku tidak akan lagi mempertontonkan kelemahanku, terutama itu padamu jadi kau sudah mulai bisa tenang dan urus saja urusanmu sendiri. Jangan memandang padaku satu detik pun, kalau bisa. Ada yang harus aku selesaikan dan itu tidak boleh mengikutsertakan dirimu." "Apa maksudmu?" Abigail mengibaskan tangannya dengan santai. Dia memutar tubuhnya dan melihat ke jendela di belakangnya. "Kau bisa kembali ke rumahmu dan mendapatkan kembali hidupmu dengan tenang. Biarkan aku di sini dan kita hidup dalam damai untuk masing-masing." Gadis itu terkejut saat dia merasakan cekalan pada lengannya dan beberapa saat kemudian tubuhnya berputar dengan sangat keras, menghadap pada pria itu yang masih saja sama marahnya seolah Abigail telah menghinanya.  "Kau dan otak licikmu tidak bisa kubiarkan begitu saja, Eve. Hentikan segala apapun yang tengah kau rencanakan itu." Abigail berusaha menarik lengannya dari cengkraman pria itu, tapi Ethen jelas tidak akan membiarkannya menjadi mudah. Pria itu semakin kuat mencengkram lengannya. Bahkan Ethen sekarang menarik Abigail ke arahnya dengan sekuat tenaga hingga gadis itu menabrak dadanya dengan kuat. Tubuh Abigail yang kali ini masuk ke dalam kurungan Ethen. "Aku tidak akan membiarkanmu kali ini memenangkan semua ini. Apapun yang kau rencanakan akan segera aku ketahui dan saat itu, aku akan berada di bagian depan untuk menghalangimu. Kau dengar aku, aku akan menjadi duri dalam setiap langkahmu." Setelah mengatakan demikian, Ethen mendorong tubuh istrinya dan membuat gadis itu segera mendarat dengan keras ke atas ranjang. Terlempar dengan menyedihkan di sana hingga membuatnya hanya bisa melihat langit-langit kamarnya.  "Tampaknya aku memang tidak pernah beruntung dengan pria. Mereka selalu membenciku padahal aku tidak membenci mereka," gumam Abigail.  Ethen melihat tubuh istrinya yang terdiam dengan tubuh terlentang seolah pasrah. Pria itu mengepalkan tangannya dan segera melajukan kakinya untuk memutar langkahnya. Meninggalkan Evelyn sebelum dia benar-benar mencekik wanita itu dan membuat dirinya berada dalam kasus yang tidak dia inginkan.  Jelas Ethen tidak ingin namanya berada di surat kabar kota.  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN