42. Bersama Tama

1511 Kata
Lelapnya tidur mengundang mimpi untuk terbang dan menyapa. Seperti yang sedang dialami oleh seorang gadis yang memilih kembali terlelap selepas menunaikan kewajibannya sebagai seorang Muslim. Dengan dalih tak kunjung tidur hingga menuju sepertiga malam dan terbangun kala adzan Shubuh berkumandang, membuatnya kembali merajut mimpi dengan bergelung di balik selimut. Sinar matahari sudah mulai memenuhi tiap sudut bumi yang sama-sama berada pada waktu pagi. Hal itu tak mengusik tidur gadis dengan piyama bergambar beruang itu. Ia semakin merapatkan selimutnya dan melanjutkan merajut mimpinya. Hingga suara dering handphone, pertanda ada seseorang yang menelepon sedikit mengusik tidurnya. Bukannya segera mengangkat telepon agar suara notifikasi itu tak mengganggu pendengaran, gadis itu memilih menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya. Lima detik dering itu hilang. Dan kembali lagi berbunyi nyaring memenuhi ruang kamar Si Gadis Berpiyama Beruang. “Ishh.. ini masih terlalu pagi untuk menelepon,” gerutunya. Ia tak suka bila ada yang mengusik tidurnya. Yah, kebanyakan orang juga seperti itu. Gerutuan Ayana nyatanya tak membuat dering handphone-nya berhenti. Baru saja berhenti satu detik, handphone dengan case bunga lavender itu kembali meminta perhatian. Tangan Ayana gegas mengambil handphone dengan dongkol. “Assalamu’alaikum,” salam Ayana dengan jutek tanpa melihat terlebih dahulu kontak yang meneleponnya. “Wa’alaikumsalam, Dek. Masih tidur?” Mata yang semula masih saling menempel itu dengan cepat terbuka. Seakan baru saja mendapatkan setruman listrik dengan watt yang besar. Netra Ayana pun membola ketika melihat nama Tama menghubunginya. ‘Astaga, Ayana,’ rutuknya. Ayana nyengir kaku. Baru juga mau mulai pendekatan tapi dirinya sudah memalukan diri sendiri. “Iya, Mas,” jawab Ayana jujur. Tidak ada alasan baginya untuk berbohong. Kenyataan suaranya serak. Mengelak pun tak berarti. Tawa kecil terdengar di ujung sana. “Mas sudah di depan telkom. Mas harus tunggu kamu di mana?” tanyanya lembut. Netra Ayana kembali membola lebar. Ia tidak salah dengar bukan? Dijauhkannya alat komunikasi yang terhubung dengan Tama itu untuk ia lihat pewaktu. Hampir pukul tujuh. Dan seorang gadis sepertinya masih bergelung di balik selimut. “Mas tunggu di sana dulu,” ucap Ayana heboh. “Ah tidak tidak. Mas Tama naik apa?” tanya Ayana terburu. “Mobil,” jawab Tama singkat. Suaranya bahkan tertutup dengan tawa geli ketika mendengar Ayana yang tampak gelisah. “Mobilnya diparkir di parkiran Telkom, ya, Mas. Ayana susul ke sana.” Panggilan segera Ayana matikan. Ia gegas ke kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi. Diambilnya kerudung instan yang digantung pada gantungan belakang pintu dengan terburu. Dan terdengarlah langkah Ayana yang tergesa, menghentak dan menimbulkan keramaian di weekend pagi di rumah kos itu. “Mas,” seru Ayana kala perempuan itu baru saja sampai di area khusus bagi pelanggan yang ingin mengakses internet di Telkom. Benar dugaan Ayana bila Tama menunggunya di salah satu meja itu. Di sekitar mereka, beberapa meja telah terisi oleh pelanggan WiFi provider Telkomsel dengan laptop yang menyala. Ayana mengatur napas dan degup jantungnya. Bertemu dengan Tama pagi ini tentu saja membuat hatinya berbunga juga gelisah. “Hai,” balas Tama dengan senyum merekah. Menambah ceria pagi dengan langit yang tampak biru dan sinar mentari yang mulai menyapa kulit. Tama memandang Ayana yang pagi ini mengenakan set piyama dengan motif beruang dan dibalit dengan sweater rajut berwarna army. Dengan kerudung senada sweater, membuat Ayana semakin memggemaskan. Jantung Tama berdebar hebat. Selepas Shubuh ia segera meminjam mobil bundanya. Tak lupa ia juga ijin untuk menemui Ayana. Bunda menggoda Tama tak henti, menimbulkan rona malu di pipi putra semata wayangnya. Dibalik menggodanya itu, Bunda tetap mendoakan agar Tama dapat sukses bertemu dengan Ayana. Ayana menunduk malu. Ia pun menjabat tangan Tama yang telah dijulurkan sejak tadi oleh laki-laki itu. Saking gugupnya, Ayana menjadi tak mampu mengendalikan diri. Dirinya tengah diselimuti dengan rasa malu dan gugup. “Gimana kabarnya?” tanya Tama setelah jabatan tangan itu terlepas. Menjabat tangan Ayana membuat jantung Tama menggila. Tidak hanya Tama, Ayana pun merasakan hal yang sama. Beginikah indahnya jatuh cinta? “Alhamdulillah baik. Mas Tama bagaimana?” balas Ayana dengan kepala yang masih betah untuk menghadap lantai keramik. “I’m fine too. Apalagi setelah kamu menelepon kemarin.” Semburat merah semakin merona. Membuat Ayana semakin menunduk malu seraya menautkan jari-jarinya. Tama tersenyum kecil. Namun hatinya turut berbunga melihat Ayana yang tampak malu. Tidak bertepuk sebelah tangan kan? “Ehm.. jadi.. kita mau ke mana?” Ayana baru tersadar. Ia belum mandi. Tujuannya menyusul Tama bukan untuk mengobrol melepas rindu. Ayana semakin gagap dibuatnya karena kondisi hati yang berbunga membuatnya lupa akan tujuan awal. “Gimana kalau Mas Tama nunggu di depan teras kos saja? Soalnya..” Ayana menjeda ucapannya. Bimbang apakah harus mengatakan keadaan sebenarnya. “Soalnya?” Tama bertanya dengan alis yang menukik. “Aku belum mandi,” cicit Ayana malu. Tama tertawa. Lucu sekali, batinnya. “It’s okay. Aku tunggu di sini saja. Sekalian mau ke minimarket depan.” “Nggak papa?” Ayana mendongak menatap Tama. Lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya. Sungguh dirinya begitu malu. Tama mengernyit bingung. Ditatapnya Ayana yang mengalihkan pandangan. “Nggak papa gimana?” “Mandiku nggak hanya lima menit, Mas,” lirih Ayana. Tama kembali dibuat tertawa. “Aku paham. Makanya aku mau ke minimarket depan dulu. Kamu buruan kembali ke kos,” ucapnya. “Nggak lebih baik nunggu di teras kos saja?” tanya Ayana tak enak hati. “Menurutku kurang baik, Ay. Aku bukan anggota keluarga kamu. Belum,” pungkasnya tegas. “Nanti kalau ikatan kita sudah naik ke jenjang yang lebih tinggi,” imbuhnya. Blush. Kembali meronalah pipi Ayana. Bertemu kembali setelah berpisah hampir satu minggu, membuat kerja jantung Ayana semakin tak sehat. Dan Tama semakin pandai dalam mengungkapkan perasaannya. “Oke. Tunggu aku, ya, Mas.” Setelah melihat anggukan Tama, gegas Ayana melangkah lebar menuju ke rumah kos. Bahkan perempuan itu setengah berlari. Ia ingin cepat sampai kos. Tak enak hati bila membuat Tama yang datang jauh-jauh dari luar kota menunggunya terlalu lama. Seraya berjalan ia merutuki dirinya karena memilih tidur selepas sholat. “Jangan sampai Mas Tama mengurangi nilai positifku selama ini karena aku masih tidur saat ia sampai dan aku juga memintanya menunggu untuk mandi,” ujar Ayana seraya masuk ke kamar mandi. *** “Jadi kita mau ke mana, Dek?” tanya Tama lembut saat mereka sudah duduk bersisian di kursi depan mobil. “Boleh sarapan dulu, Mas?” tanya Ayana pelan. Sebenarnya tak enak hati bertanya seperti itu. Namun mau bagaimana lagi? Perut Ayana meronta-ronta ingin lekas diisi. “No problem. Ada rekomendasi tempat makan yang enak?” “Jika kita makan di warung kecil, Mas Tama keberatan tidak?” “Enggak.” Ayana tersenyum senang. Bayangan lontong lodeh dengan isian ceker ayam sejak tadi menghantuinya. Ditambah dengan segelas es kopyor semakin membuat air liur terproduksi melimpah. Mobil Tama terparkir di tepi salah satu sungai kecil. Di seberang jalan beraspal—salah satu jalan akses masuk ke perkampungan warga—berdiri warung sederhana yang menjajakan lodeh dengan tambahan ceker di dalamnya. Warung itu terletak tak jauh dari Pasar Karah. “Mas Tama mau pake nasi atau lontong?” “Lontong saja,” jawab Tama seraya duduk di salah satu kursi plastik yang ada di luar warung. “Minumnya?” “Ada apa saja?” “Es teh, teh hangat, sama es kopyor,” jawab Ayana. “Es kopyor pagi pagi begini?” “No problem. Di Surabaya sepagi apa pun kalau minum es juga nggak terlalu dingin, Mas,” kelakar Ayana. Tama ikut tertular tawa kecil Ayana. “Oke. Satu gelas es kopyor untukku.” Ayana melangkah masuk, bergabung dengan pembeli lain yang tampak antri. Tidak terlalu ramai, tetapi melihat sayur lodeh dalam panci besar yang tersisa setengah menunjukkan bahwa warung itu tak pernah sepi. Ayana membawa dua piring lontong lodeh ke luar warung. Disusul dengan dua gelas es kopyor yang diantarkan oleh pemilik warung. Lodeh itu berisi irisan kacang panjang, nangka muda, dan kacang merah. Ditambah dengan ceker ayam, semakin membuat lodeh itu tampak nikmat. Apalagi dengan kerupuk sebagai pelengkap sarapan, semakin membuat nafsu makan meningkat. “Lodehnya enak. Es kopyornya juga segar,” ujar Tama saat mereka sudah mulai kembali melanjutkan perjalanan. “Aku dulu juga diberi tahu sama kakak tingkat, Mas. Dan beberapa kali jadi rekomendasi sarapan saat weekend nggak pulang.” Tama mengangguk paham. Ia pun pernah menjadi mahasiswa. Pulang tidak selalu akhir pekan. “Jadi kita mau ke mana?” “Don’t know. Pingin ke tempat yang hijau gitu, Mas,” tanpa Ayana tanpa sungkan. Tama menanggapinya dengan anggukan. Dibukanya handphone-nya lalu mulai mengetikkan sesuatu di sana. Dan selanjutnya, dalam mobil itu terdengar suara wanita yang menunjukkan arah jalan. “Ke mana, Mas?” tanya Ayana seraya memiringkan tubuhnya ke arah Tama. “Surprise,” jawab Tama diakhiri dengan tawa lebar. “Nanti kamu pasti akan suka. Aku juga belum pernah ke sana sih. Semoga aku dan kamu sama-sama akan suka dengan tempatnya,” harapnya. Ayana hanya mengangguk. Lalu mereka mulai berbincang mengenai banyak hal. Terutama mengenai skripsi Ayana. Perempuan itu juga tak sungkan menceritakan permasalahan yang sempat menimpanya, tetapi tidak dengan permasalahan yang berkaitan dengan bapaknya. Ia masih ragu. Ia masih belum dapat menyimpulkan apakah benar atau tidak menceritakan kemelut hatinya pada Tama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN