Ayana membuka room chatnya dengan Tama. Lebih dari 100 pesan yang dikirimkan oleh laki-laki itu. Ayana membaca chat dari paling atas.
Adji Pratama Saputra: Dek..
Adji Pratama Saputra: Sudah sampai kos?
Adji Pratama Saputra: Ay, how are you?
Adji Pratama Saputra: Dek, everything gonna be okay, right?
Adji Pratama Saputra: Kamu ke mana, Dek?
Ayana meringis sedih saat membaca pesan Tama. Dari 100 pesan itu, kurang lebih Tama mengirimkan pesan seperti itu. Terlihat jelas laki-laki itu khawatir. Menanyakan kabar dan keadaan Ayana yang tak pernah Ayana sadari. Ayana merutuki dirinya karena ia egois. Keegoisannya ternyata benar-benar membuat orang lain khawatir. Tidak hanya Netizean Budiman yang khawatir, tetapi juga Tama. Laki-laki yang mendampinginya—porter, saat mendaki Gunung Semeru.
Ayana merasakan sakit hati dan sesak di d**a kala membaca pesan yang baru saja dikirim Tama 20 menit yang lalu. Membuat hatinya ikut merasakan kekhawatiran yang Tama rasakan.
Adji Pratama Saputra: I’m sorry. Aku spam, ya, Dek?
Adji Pratama Saputra: Aku khawatir. Namun bila pesanku ini memang tak berarti, I’m really sorry karena ganggu kamu. I hope you will always happy. Stay safe and stay healthy.
Adji Pratama Saputra: Sekali lagi maafkan kesalahanku.
“Bodoh,” rutuk Ayana pada dirinya sendiri. Ia benar-benar menyesali sikapnya yang sok-sokan tidak peduli dengan handphone.
“Mas Tama tidak benar-benar ingin pergi kan?” gumam Ayana lirih pada dirinya sendiri.
Ayana terus bermonolog tentang ketakutan yang menyelimutinya.
“Apa mungkin Mas Tama menyerah? Tidak boleh! Aku harus berjuang,” gumam Ayana. Tidak akan ia biarkan Tama pergi begitu saja. Pergi disaat ia baru akan memulai hubungan dengan laki-laki itu.
Gegas ditekannya ikon telepon pada aplikasi perpesanan itu. Berdering. Sayangnya tak diangkat. Ayana tidak semudah itu menyerah. Kini kembali ditekannya ikon itu. Dan hasilnya masih sama.
Ayana menjadi tak tenang. Digigitnya bibirnya pelan. Rasa khawatir terus menyelimutinya.
“Mas Tama.. Kamu beneran marah?” lirih Ayana seraya memandang foto profil akun Tama. Foto dua orang yang saling membelakangi kamera. Dua orang itu tampak fokus memandang luasnya Ranu Kumbolo. Foto Ayana dan Tama.
Sebersit senyum terlengkung di bibir Ayana. ‘Sejak kapan foto mereka dijadikan display picture oleh Mas Tama?’
Ayana membuka galeri foto di handphone-nya. Menggulir ratusan foto yang ada di sana. Dan senyumnya terkembang sempurna kala menemukan satu foto yang membuatnya jatuh cinta. Dikembalikannya menu pada aplikasi perpesanan lalu diubahlah display picture miliknya. Display picture-nya telah terperbarui. Ayana berharap semoga tidak ada kegaduhan notifikasi di aplikasi perpesanan miliknya setelah ini.
Ayana Anastasiya: Mas Tama…
Ayana Anastasiya: Mas, kamu marah sama aku?
Ceklis dua abu-abu. Kontak Tama pun sedang tidak online. Terakhir online bersamaan dengan pesan terakhir yang Tama kirimkan untuk Ayana.
Ayana mengketuk-ketukkan jarinya pada layar handphone. Kekhawatiran menyergapnya. Harapannya adalah semoga Tama tidak melakukan misi balas dendam padanya. Mengacuhkan dirinya selama satu minggu.
Ayana kembali menghubungi Tama. Dan hasilnya masih nihil. Sekali lagi ia mencoba. Hasilnya tetap tidak diangkat.
Ayana menarik napas dalam. Meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Lalu ia memilih kembali berkutat dengan laptopnya. Berharap seperti sebelum-sebelumnya, laptop mampu mengalihkan fokus Ayana.
Fokusnya kini kembali ke halaman kerja. Ia sibuk memasukkan gambar berbagai jenis lumut ke dalam setengah halaman lembar kerja itu. Senyumnya tercetak lebar saat tatanan gambar itu tampak indah. Ada kurang lebih 9 gambar lumut pada halaman itu. Tiap jenis lumut terdapat tiga gambar. Ayana sengaja mengacak letak dari tiap jenisnya. Gambar itu ia bingkai dalam kotak dengan garis berwarna hijau. Dipilihnya garis ketebalan berukuran satu setengah pt untuk garis tersebut. Dan senyumnya kembali tercetak sempurna kala gambar itu semakin terlihat cantik.
Ayana memilih merenggangkan otot-ototnya. Pewaktu juga bergerak semakin ke kanan. Ia memilih mematikan daya laptop. Dan kembali fokus pada handphone-nya.
Ia merasa bahwa waktunya telah banyak ia habiskan untuk mengerjakan LKPD. Sayangnya masih belum ada balasan pesan dari Tama. Masih tetap di jam yang sama laki-laki itu online, menandakan bahwa Tama tidak membuka aplikasi itu.
“Marah kah? Atau Mas Tama sudah tertidur?” gumam Ayana.
Ayana memilih merebahkan diri. Menenangkan perasaan gundahnya. Lalu memiringkan tubuhnya sembari menarik selimut. Ia merasa bahwa udara Surabaya sedikit dingin malam ini.
Ayana mengembuskan napas panjang. Satu masalah selesai dan masalah lain bersilih ganti menyapanya. Namanya hidup, tidak ada yang namanya hidup tenang tanpa masalah.
Ayana mengambil napas dalam. Kemudian dihembuskannya perlahan. Sekali lagi ia akan mencoba menghubungi Tama.
Netranya melebar kala melihat panggilannya terhubung. Jantungnya berdegup kencang. Setelah lama tak pernah bersua dan kini mereka harus memulai kembali perbincangan benar-benar membuat Ayana tak mampu berkutik. Namun tak mungkin ia hanya diam saat Tama menerima teleponnya bukan? Padahal sejak tadi ia menunggu laki-laki itu menerima panggilannya.
Ayana memegang dadanya kala panggilan berakhir. Ia terus bermonolog pada diri.
“Tak salah bukan jika aku meminta Mas Tama bertemu?”
“Apa aku terlalu agresif?”
“Apa aku akan dianggap perempuan baik-baik karena permintaanku itu?”
Ayana terus bermonolog dengan diri. Meyakinkan diri bahwa apa yang ia pilih tidak salah. Semoga Tama memahami kegundahan hatinya.
“Apa aku benar jika menceritakan masalahku pada Mas Tama?”
“Apa Mas Tama tidak akan terbebani?”
Ayana mengembuskan napas besar. Kepalanya pening. Berbagai spekulasi terus berputar dalam pikirnya. Membuatnya kesal dan tak tenang. Pewaktu sudah menunjukkan hampir pukul 11.
Suara notifikasi masuk ke handphone Ayana. Pesan dari Tama baru saja masuk. Ayana menepuk jidat karena ia dibuat lupa. Lupa untuk tak gegas mengirim lokasi rumah kos tempatnya tinggal.
Ayana terus diam seraya memandang langit kamar yang gelap. Hanya sinar dari lampu tengah kos dan dari lampu tepi jalan yang masuk melalui celah-celah ventilasi kamar. Ayana kembali merenung.
“Salah tidak ya jika aku menjalin hubungan dengan Mas Tama? Apa Bapak tidak akan mempermasalahkan hal ini?”
Rasanya kepala Ayana terasa mau pecah. Berbagai topik tak henti-hentinya berseliweran di pikirannya. Membuat Ayana tak dapat lekas memejamkan mata.
Ayana Anastasiya: Bang, Ayana sedang dekat dengan seseorang. Salah tidak ya?
Pesan itu terkirim satu detik lalu. Ceklis satu. Kebiasaan abangnya yang tidak mau diganggu di atas jam 10 malam.
Ayana kembali merenung. Memikirkan setiap perkataan Bapak. Selama ini Bapak tak pernah melarangnya untuk berteman dengan siapa pun. Namun, menjalin hubungan dengan seorang laki-laki apakah tak dipermasalahkan oleh Bapak?
Hish. Ayana benar-benar frustasi. Ia pun memaksa matanya untuk terpejam. Ia tak mau memikirkan sesuatu yang ia pun tak tahu bagaimana baik buruknya.