Wajah berseri kini sering membersamai langkah Ayana. Kegundahan karena luka sedikit demi sedikit mulai dilupakannya. Bukan melupakan secara permanen. Gadis itu hanya ingin merasakan ketenangan dan perasaan senang. Mengabaikan sejenak luka yang masih terus mengiringi.
“Alhamdulillah.. sekarang wajahnya Mbak Ayana seneng terus, ya?” goda Rahma saat Netizean Budiman sedang asyik menghabiskan sore di tepi ranu. Sebuah danau buatan yang terletak di depan gedung fakultas mereka.
Sore ini Netizean Budiman ingin quality time setelah lelah mengerjakan skripsi. Entah revisian atau pun menambah bab. Ditemani dengan satu kotak mi pedas, mereka saling bercerita. Semilir angin menjadi saksi ketulusan rasa di antara mereka.
Ayana menanggapi ucapan Rahma dengan senyum malu-malu. Gadis itu memilih sibuk dengan sumpitnya dan mulai menyuapkan mi pedas agar tidak semakin digoda oleh yang lain.
“Ceritakan dong tentang si Mas itu,” pinta Nia ingin tahu dan tidak sabar.
Rahma dan Fitri saling menceritakan tentang Tama dengan menggebu. Sedang Ayana tampak fokus dengan mi pedasnya. Sungguh malu ia karena dijadikan subjek dalam pembicaraan oleh sahabatnya.
Nia dan Asti saling menggoda Ayana. Nia bahkan dengan sengaja menoel-noel pipi Ayana. Sedang Asti berulang kali sengaja mempertemukan antara lengannya dengan lengan Ayana.
“Jadi Sabtu kemarin pergi sama Mas Porter, Ay?”
Netizean Budiman dibuat heboh dengan pertanyaan Asti. Asti pun gegas menceritakan semua yang diketahuinya. Bermula dari Asti yang mencari keberadaan Ayana di kamarnya. Kamar Ayana yang kosong membuat Asti segera menghubungi sahabatnya itu. Berjam-jam dari Asti mengirim pesan, Ayana baru membalas pesannya. Dan jawaban tentang keberadaan Ayana membuat Asti heboh.
Ayana menunduk dalam. Netizean Budiman saling bersorak dan menggodanya. Mi miliknya pun sudah habis, tidak ada kegiatan yang mampu ia lakukan untuk menutupi pipinya yang bersemu.
“Rahma.. kamu punya fotonya nggak si Mas Porter ini? Aku kepo banget,” ucap Nia.
“Sama. Aku ingin tahu wujud si Mamas ini bagaimana? Lelaki seperti apakah dia yang mampu membuat seorang Ayana seketika jatuh cinta,” sahut Asti berlebihan.
Sebuah botol kosong digunakan Nugi untuk memukul lengan Asti. Lalu perempuan yang sedari tadi itu mulai membuka mulutnya, “Lebay.”
“Aduh, Nugi! Jangan kekerasan dong!”
Nugi memasang wajah tak bersalah. Diambilnya botol air mineral yang masih berisi air penuh. Dan diteguknya air itu untuk melepas dahaga.
Wajah Asti tampak kesal. Namun ia memilih tak peduli. Kini perempuan itu sedang merebut handphone Rahma untuk melihat sosok Tama.
Kalimat menggoda dan decak kagum dari Netizean Budiman membuat Ayana semakin malu. Suara mereka begitu heboh, membuat banyak orang yang juga sedang di tepi ranu pun sejenak menoleh pada Netizean Budiman.
“Husttt.. sudah, Rek. Dilihatin orang-orang itu,” peringat Ayana agar teman-temannya berhenti menggodanya.
“Cie malu..”
“Isin areknya.” (Malu anaknya.)
“Mas Tama memang tampan sih.”
“Wajahnya itu memang wajah-wajah lelaki yang suka mendaki gunung.”
Ayana memilih tidak peduli. Pura-pura tak mendengar seraya mengalihkan netranya memandang angsa yang sedang asyik berenang di ranu.
Tama memang tampan. Laki-laki itu tinggi. Jika Ayana bersanding dengannya, Ayana yang memiliki tinggi 155 centi akan sejajar dengan lengan atasnya—hampir menyamai bahu. Kulitnya cokelat matang dan bersih. Tatapannya tegas dengan alis tebal hitam yang menunjukkan ketegasan di wajahnya. Wajahnya pun bersih. Mungkin hanya ada beberapa beruntus yang menghiasi wajah tegasnya.
“Semoga hubungan kalian selalu lancar, Ay,” ucap Fina membuat Netizean Budiman meng-aamiin-kan harapan itu.
“Aamiin,” jawab Ayana. Kini ia memilih memandang teman-temannya lagi. Rasa malu masih melingkupinya, tetapi sudah tak separah tadi.
Ayana pun mulai menceritakan kisahnya dengan Tama. Pertemuan yang sederhana dan tidak pernah disangka. Juga ucapan sederhana yang dilontarkan Tama membuat mereka seperti sekarang. Sedang menjalani hubungan dalam komitmen yang semoga semuanya dan Allah merestui kebersamaan mereka.
Netizean Budiman menghabiskan waktu hingga menjelang Maghrib datang. Setelahnya mereka melangkah bersama menuju masjid yang terletak tidak jauh dari posisi mereka. Melaksanakan sholat Maghrib berjamaah selepasnya memutuskan untuk pulang ke kos masing-masing.
***
Ayana dan Tama saling bertukar pesan disela kesibukan mereka masing-masing. Ayana dengan skripsinya. Tama dengan pekerjaannya. Malam hari sering mereka habiskan dengan berbicara melalui sambungan telepon atau video call. Tidak ada rasa bosan dalam komunikasi mereka. Banyak topik yang dapat mereka angkat dalam perbincangan. Mereka setiap harinya bahkan dibuat jatuh cinta.
Pagi ini Ayana sudah segar. Apalagi baru saja ia dan Tama saling berbincang melalui sambungan telepon. Saling menyapa dan mengucapkan selamat pagi, juga memberikan semangat satu sama lain untuk menjalani aktivitas mereka.
Pikir Ayana kembali melayang di perbincangan 20 menit yang lalu dengan Tama. Menimbulkan semburat merona di pipi juga senyum yang tercetak otomatis.
“Hai.. Sudah mandi?” tanya Tama seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil berwarna putih. Tama dan Ayana memilih mengalihkan panggilan dengan video call. Memandang satu sama lain seakan menjadi candu untuk mereka. Tidak video call semalam rasa rindu seakan menumpuk tinggi.
Ayana menggeleng seraya tersenyum kecil—gadis itu malu. “Aku mandi kalau mau ke kampus, Mas. Kalau nggak ada kegiatan mandinya bisa kalau matahari sudah merangkak naik,” akunya dengan suara lirih. Ia juga menunduk malu.
Tama tertawa. “Sama saja. Hanya saja aku lebih memilih mandi pagi ketika akan ke kantor. Ya biasanya satu atau satu setengah jam dari waktu mau berangkat ke kantor,” balasnya dengan tangan yang berfokus pada sisir.
Ayana membalasnya dengan senyum malu. Ia mengintip Tama yang sibuk dengan aktivitasnya, sedang ia sedang duduk bersandar pada dipan seraya memegang ponsel yang menghubungkannya dengan seorang laki-laki yang berhasil mencuri hatinya.
Tama mengenakan kaos lengan pendek di video itu. Tidak pernah laki-laki itu menunjukkan d**a bidangnya bila selepas mandi. Ayana pun tidak akan mau melihat jika Tama melakukan hal itu.
“Nggak pake gel rambut, Mas?” tanya Ayana saat melihat Tama menyisir rambutnya selepas dikeringkan rambut itu dengan handuk. Ia hapal betul dengan abangnya yang selalu menggunakan gel rambut selepas mandi. Maka ketika melihat Tama tak mengoleskan gel itu pada rambut membuat Ayana bingung.
“Pake kok, Dek. Kayaknya kamu gak lihat tadi,” jawab Tama.
Ayana mengernyitkan dahinya. Alisnya pun menukik. ‘Apa iya dirinya melewatkan hal itu?’
“Sayangnya video call nggak ada fitur untuk melihat percakapan dan pergerakan beberapa waktu lalu, Dek,” jawab Tama untuk meyakinkan Ayana bahwa ia memang mengenakan gel rambut.
‘Apa saat aku menunduk malu tadi?’
Tama dibuat tertawa dengan wajah Ayana yang terlihat bingung itu. Selalu seperti ini. Ayana selalu mampu menciptakan senyum di bibirnya. Ia berjanji tak akan pernah melepaskan perempuan ini.