45. Pembelajaran Hidup

1558 Kata
Abang: Siapa laki-laki itu? Ayana baru membaca balasan pesan dari abangnya saat telah kembali ke kos selepas menghabiskan hari dengan menikmati keindahan Ranu Manduro. Ketika bersama Tama, ia begitu meminimalisir diri untuk membuka handphone. Ia pun hanya memilih membalas pesan dari Asti karena perempuan itu yang terus menerornya dengan pesan, menanyakan keberadaannya. Jari Ayana baru saja hendak menari di atas menu keyboard, tetapi urung dilakukan saat nama Abang memanggilnya melalui sambungan telepon yang tersedia di aplikasi perpesanan itu. “Siapa dia, Dek?” tanya abang Ayana dengan tegas ketika mereka saling berbalas pesan. “Porter waktu mendaki,” jawabnya lirih. Terdengar hembusan napas di ujung sana. “Seberapa dekat hubungan kalian?” Abang Ayana seakan menjelma menjadi pria menyeramkan kali ini. Selama ini, pria itu dominan bersikap lembut, bahkan sering memanjakan Ayana. Namun untuk masalah laki-laki yang mendekati adiknya, pria itu akan berubah menjadi tegas. Ayana dengan pelan menjelaskan tentang hubungannya yang terjalin selama ini dengan Tama. Mulai dari perkenalan mereka hingga saat ini. “Kamu bahagia menjalin hubungan dengannya, Dek?” tanya pria itu pelan. Sesekali suara kakak ipar Ayana juga keponakannya masuk ke pendengaran Ayana. Membuat gadis itu rindu rumah. Rindu dengan suasana ramai di rumah abangnya. ‘Kapan aku boleh pulang?’ jerit hatinya. Ayana kembali fokus pada percakapannya dengan abangnya ketika pria itu memanggilnya tegas. Mengembalikan Ayana ke dunia nyata. Meninggalkan bayang-bayang akan hangatnya sebuah keluarga. Kini senyum Ayana terbit mengingat akan kebahagiaan yang sering membersamainya semenjak dengan Tama. Membuat Ayana menjawab dengan mantap pada abangnya jika ia bahagia. “Bahagia itu pilihan, Dek. Dan Abang sangat yakin kalau kamu mampu memilih bahagiamu itu,” balas pria itu selepas Sang Adik menjawab pertanyaannya. “Jika kamu mampu, dan memang harus mampu, pertahankan kebahagiaan itu,” imbuhnya. Ayana mengangguk. Ia akan mempertahankan kebahagiaan yang saat ini membersamainya. Ia tak boleh terlalu larut dalam duka dan kesedihan. Duka dan kesedihan yang menyapanya, akan ia gunakan sebagai pecutan dalam bangkit dan melanjutkan hidup. “Kamu pulang dua minggu lagi, ya, Dek!” kata abang Ayana tiba-tiba saat hening sempat merajai sambungan telepon itu. “Kenapa lama sekali, Bang?” rengeknya. Kebahagiaan yang sempat terpatri di wajah, wajah yang berseri pun dengan cepat berganti dengan mendung yang gelap. Air mata pun telah menumpuk, siap mengalir deras dalam beberapa waktu lagi. “Abang merasa saat itu yang paling tepat, Dek. Satu bulan lebih. Abang rasa, Bapak juga akan menjadi lebih melunak saat itu,” jelasnya. Ayana mengembuskan napas berat. Ia tidak terima dengan hal itu, ia rindu Ibu, Bapak, Abang, juga keponakannya beserta ibunya. “Tapi.. Ayana kan rindu semuanya, Bang.” “Abang juga rindu kamu. Mungkin minggu depan Abang bisa berkunjung ke Surabaya? Kita jalan-jalan ke Kebun Binatang Surabaya?” “Nggak seru kalau nggak rame, Bang,” sahut Ayana kesal. Di sisi lain ia juga sedih. “Dek..” Lirih dan lembut suara abang Ayana memanggil adik perempuannya itu. Ayana mengusap air matanya pelan. Lalu segera menyahuti panggilan abangnya, “Iya, Bang?” “Hidup tidak selalu sesuai dengan apa yang kamu harapkan. Allah Maha Tahu segala yang terbaik,” tutur Abang pelan. Ayana diam. Sedari tadi ia mencerna tiap kata yang terlontar dari bibir Abang. Semuanya benar. Manusia tidak bisa memaksakan kehendaknya. Selepas itu perbincangan mengalir tentang beberapa hal yang mengarah pada hidup juga pesan Abang untuk Ayana. Baik untuk segala hal yang menyapa juga pesan akan hubungannya dengan Tama. Malam itu Ayana merasa lebih tenang dan lega. Mengingat setiap ucapan Abang membuatnya tenang dan tidak pernah risau dan galau lagi akan jalan hidup yang akan menyapanya di depan nanti. Juga saat membaca pesan yang dikirim Tama setelah panggilannya dengan Abang berakhir, menyadarkannya bahwa ia harus tetap bahagia. *** Satu bulan telah berlalu dari masa pendakian itu. Kini Ayana dan Netizean Budiman kembali sibuk dengan tugas akhir mereka. Sedang Tama sibuk dengan segala pekerjaannya. Hubungan Ayana dan Tama pun semakin terjalin baik. “LKPD-nya sudah bagus. Sudah rapi dan sesuai dengan apa yang ada dalam bayangan saya. Tentunya juga sesuai dengan pengertian dan ciri LKPD itu sendiri,” tutur Bu Wanti seraya membalik kertas berukuran B5 hasil cetak mesin print itu. Ayana tidak dapat menahan senyum senangnya. Ia begitu bahagia ketika mendengar ucapan Bu Wanti. “Minggu depan sekali lagi bawa ke saya, ya? Sekalian kita sesuaikan dengan lembar validasinya?” pinta Bu Wanti. Lembar validasi dalam produk pengembangan skripsi adalah suatu lembar penilaian yang berisi beberapa hal dengan tiap hal tersebut harus diberikan ceklis ya atau tidak, seperti suatu survei. Bila hal—kalimat penilaian tersebut terdapat dalam produk skripsi maka pada kolom ya harus dicentang. Begitu pula sebaliknya. Hal-hal yang terdapat dalam lembar validasi adalah segala sesuatu yang memenuhi syarat suatu LKPD mulai dari cover—harus terdapat judul, penulis, gambar, tempat menulis nama, dan alamat penulis; langkah pengerjaan LKPD; tujuan; dan isi LKPD yang sesuai dengan metode pembelajaran yang ingin digunakan. “Baik, Bu,” jawab Ayana dengan senyum lebar yang terlengkung. Setelah berbicara tentang beberapa hal—sedikit revisi pada beberapa kata yang kurang tepat juga pesan Bu Wanti untuk Ayana, Ayana pamit undur diri. Ia tidak sabar untuk merevisi beberapa hal yang telah disampaikan Bu Wanti. *** Hari itu tiba. Hari di mana Ayana menemui Bu Wanti untuk memvalidasi produknya. Jantung Ayana berdebar, takut jika banyak hal dalam LKPD-nya yang tidak memenuhi lembar validasi. Bila hal itu terjadi maka LKPD tidak dapat digunakan. “Semua aspek dalam LKPD kamu sudah sesuai dengan aspek penilaian dalam lembar validasi ini. Hanya saja, untuk alokasi waktu pengerjaan LKPD-nya saya rasa kurang sesuai. Namun tentunya hal ini tidak mempengaruhi penggunaan LKPD kamu pada peserta didik,” ucap Bu Wanti seraya membubuhkan tanda tangan pada halaman terakhir lembar validasi, tepatnya pada tempat kosong untuk tanda tangan. “Nggih, Bu. Terima kasih,” jawab Ayana. “Dan sekali lagi saya ingatkan, kamu bawa spesimen asli, ya. Jangan hanya gambar lumut. Untuk gambar, hanya gunakan gambar sayatan spesimen yang ada dalam LKPD ini. Kamu paham kan, Ay?” “Paham, Bu.” “Oke. Jadi silakan nanti LKPD-nya divalidasi terlebih dahulu pada Bu Puspa dan Pak Jo. Lalu jika semuanya sudah tervalidasi, silakan ambil data di sekolah,” tutur Bu Wanti. “Nggih, Bu. Siap.” “Saya tahu waktu kamu terbatas. Apalagi setelah ini para peserta didik akan melangsungkan ujian akhir tahun. Namun saya yakin bahwa kamu mampu mengejar waktu yang ada untuk pengambilan data di sekolah,” ucap Bu Wanti dengan yakin. Ayana mengangguk dan melengkungkan senyumnya lebar. Melihat optimisme pada Bu Wanti, membuatnya yakin akan mampu melewati ini semua. Sehingga ia bisa membuktikan pada Bapak bahwa ia telah melaksanakan segala perintahnya. Mampu melewati segala aral rintangan yang mengganggu jalannya menyelesaikan skripsi. “Ah saya juga ingat, kamu bisa cari lumut di salah satu air terjun di Pacet. Saya lupa namanya, nanti saya coba tanyakan pada Didea. Dia yang pernah ke sana. Di sana katanya lumutnya lengkap. Maksud saya, ada lumut daun, lumut hati, dan lumut tanduk,” jelasnya. Netra Ayana berbinar. Rasa syukur tak henti diucapkannya. Bu Wanti begitu banyak membantunya dalam menyelesaikan skripsinya. “Sekali lagi terima kasih, Bu.” “No problem. Yang paling penting, kamu harus selalu semangat dalam berjuang. Jangan pernah mundur terhadap segala pilihan yang telah kamu pilih. Lakukan usaha semaksimal mungkin. Jangan mudah menyerah hanya karena mendapatkan kritikan dari orang lain,” tutur Bu Wanti tegas. “Kritikan orang bukan hanya masalah orang itu hanya bisa mengkritik saja. Akan tetapi, ada beberapa orang yang memang ditugaskan untuk mengkritik atau menilai sesuatu hal. Contohnya juri, dosen pembimbing, maupun dosen penguji. Jadi.. jadikanlah segala kritikan kami sebagai pengingat bahwa kamu telah mampu menjadi individu yang dapat bangkit karena kritikan itu,” imbuhnya. Ayana kembali mengangguk berkali-kali. Akan ia ingat ucapan Bu Wanti itu. Akan selalu ia patri kuat dalam hatinya. Ia Ayana. Seorang gadis yang tidak menyerah hanya karena kritikan yang bersifat membangun. “Terima kasih, Bu Wanti. Terima kasih karena njenengan begitu baik dan peduli pada saya. Mohon maafkan saya karena saya pernah mengecewakan njenengan,” lirih Ayana. (Kamu—Bahasa Jawa alus) “It’s okay, Ay. Namanya manusia itu tidak selalu sempurna. Saya senang dengan kamu karena kamu adalah mahasiswa saya yang mau berjuang. Kamu dapat cepat bergerak menanggapi apa yang saya inginkan. Pertahankan sikap kamu itu. Jangan mudah down hanya karena kritikan orang yang memang menginginkan kamu untuk bangkit,” pesannya tegas. “Siap, Bu,” jawab Ayana dengan air mata yang mulai menitik. Ia begitu terharu. Dan ia juga bangga karena mampu sampai di titik ini. Bu Wanti mengusap pundak Ayana lembut. Lalu menarik mahasiswa yang diujinya itu dalam pelukan hangatnya. Ia bukan hanya sekedar dosen penguji. Ia juga dosen pembimbing akademik Ayana. Tugasnya tak hanya sebagai guru penyampai ilmu, tetapi ia juga sebagai pembimbing dalam menuntun langkah Ayana untuk terus maju. Ia layaknya seorang orang tua bagi Ayana di universitas itu. Sebuah kampus yang akan mengantarkan Ayana untuk mendapatkan gelar sarjana pendidikan. “I believe that you are a good girl. A strong girl. And I believe that you will be a champion for your dreams,” ujar Bu Wanti sambil terus mendekap Ayana yang semakin menangis tersedu. Kita tidak selamanya akan menjadi orang yang mampu bertahan sendiri dalam menjalani ujian hidup. Akan selalu Allah datangkan orang-orang hebat dari segala sisi untuk membantu kita bangkit. Cukup kita percaya pada Allah. Yakin akan segala takdir baik yang akan menyapa dan membantu kita menjadi pribadi yang lebih kuat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN