46. Dasar Yanuar

1119 Kata
Dering telefonku membuatku tersenyum di pagi hari Kau bercerita semalam kita bertemu dalam mimpi Entah mengapa aku merasakan hadirmu di sini Tawa candamu menghibur saatku sendiri … Meski kau kini jauh di sana Kita memandang langit yang sama Jauh di mata namun dekat di hati Lagu berjudul Dekat di Hati yang dipopulerkan oleh RAN itu menembus gendang telinga Tama dan Yanuar. Lebih tepatnya, Yanuar sengaja memutar lagu itu dari YouTube di komputer kerja miliknya demi melancarkan serangan menggodanya pada Tama. Sesekali, lelaki itu juga bersiul mengikuti irama lagu sambil melirik Tama yang pura-pura sibuk dengan pekerjaannya. Ada alasan di balik sikap Yanuar yang sering menggoda Tama beberapa waktu ini. Laki-laki itu sering menangkap basah Tama yang fokus dengan handphone-nya. Jika hanya berkirim pesan dengan klien, teman, atau Bunda, tidak mungkin wajah Tama bersemu. Tidak hanya itu, wajah Tama juga terlukis bahagia dengan senyum kecil sering tampak di wajah laki-laki yang terkenal dingin itu. Perubahan sikap Tama tentu membuat Yanuar semakin ingin tahu. Tama tidak peduli. Ia berusaha memfokuskan pikirannya dalam mengembangkan rancangan sebuah toko kosmetik yang akan segera di bangun di pusat kota. “Aku penasaran siapa perempuan itu,” celetuk Yanuar. Ia memutar tubuhnya menghadap Tama yang sibuk menggerakkan tetikus yang ada dalam genggaman tangan kanannya. Tama tidak bercerita sedikit pun tentang seseorang yang membuat teman kerjanya—teman yang paling dekat dengan Tama juga paling usil, begitu ingin tahu dan penasaran. Masih teringat jelas di pikirannya saat-saat di mana Tama terlihat galau karena tak kunjung mendapat pesan balasan dari Ayana. Ia pun hanya mendapatkan secuil informasi yang semakin membuatnya tidak sabar menunggu bibir Tama terbuka agar menceritakan semuanya. Dan kini, beberapa minggu yang lalu, ia melihat wajah Tama yang selalu berseri dan sering bermain handphone. Tidak perlu menunggu Tama untuk memberitahunya. Ia adalah laki-laki yang peka dengan lingkungannya. Ia pun tahu bahwa seorang perempuanlah yang berhasil membuat Tama seperti itu. Tama tidak menanggapi. Ia benci berbagi mengenai privasinya, kecuali pada Bunda. Pada Yanuar, untuk kali ini ditunda dulu. Ia ingin menikmati segala rasa bahagia yang menyapanya. Dan semoga selalu rasa bahagia yang menyapanya juga Ayana. *** “Great job, Tama. Kamu selalu berhasil membuat nama Architectura semakin melambung. Dan Yanuar, saya juga sangat berterima kasih sama kamu. Kalian memang andalan saya,” ucap Pak Abdul kala mereka baru saja terpilih dalam program pembangunan pedisterian jalan utama kota yang akan dilakukan akhir Agustus. Tama hanya mengangguk. Senyum tipis tersemat di wajahnya. Berbeda dengan Yanuar yang memgangguk merespons pujian Pak Abdul dengan senyum yang lebih lebar. “Pertahankan hasil kerja kalian. Jangan lupa juga untuk menularkan semangat berkarya dan berkreatifitas tinggi pada rekan-rekan yang lain,” pesannya. “Siap, Pak,” jawab Yanuar. Sedang Tama mengangguk. Ia tidak yakin akan mampu melakukan hal itu semudah Yanuar. Ia terbiasa dingin dan tidak peduli dengan orang lain. Ia berpikir, mungkin dengan menunjukkan hasil dan memperjelas semangat dalam diri akan menyalur pada rekan-rekannya supaya dapat melakukan hal yang sama sepertinya. “Akhir-akhir ini saya melihat Tama menjadi lebih bahagia, ya? Aura senang itu lebih terpancar dari diri kamu,” kata Pak Abdul seraya mulai duduk di kursi depan di samping kursi pengemudi. Kali ini mereka diantar oleh supir kantor, sehingga Tama dan Yanuar dapat duduk di kursi tengah. Tama tidak menduga jika Pak Abdul akan mengatakan hal itu. Pria yang sudah berusia di atas kepala empat itu memang selalu tak terduga. “Ah.. saya terlalu ikut campur, ya? Saya minta maaf. Mulut saya terkadang suka sekali menjadi nyinyir,” katanya tulus meminta maaf. Tama hanya mengangguk. Bukan ia tidak sopan dan tidak mau menanggapi ucapan Pak Yanuar. Hanya saja ia memang tidak tahu harus merespons apa. Ucapan Pak Abdul masih tidak ia sangka. Membuatnya sedikit terserang keterkejutan kecil. Pak Abdul memang jarang sekali ikut campur urusan para pekerjanya. Hanya saja terkadang ia suka berbicara akan suatu hal yang sedang menimpa pekerjanya. Perjalanan menuju kantor itu diselimuti hening. Pak Abdul sibuk dengan handphone-nya. Sesekali pria itu juga berbicara dengan seseorang mengenai proyek yang sedang berlangsung. Sedang Tama fokus dengan handphone-nya. Laki-laki itu tampak mengulas senyum saat membaca pesan dari Ayana. Pesan yang dikirim hanyalah sebuah pesan sederhana. Namun mampu menerbitkan senyum di wajahnya. Dan Yanuar hanya menjadi pengamat kesibukan Pak Abdul dan Tama. Laki-laki itu dibuat semakin ingin tahu perempuan yang membuat Tama menjadi lebih hidup ini. Ayana Anastasiya: Produkku sudah selesai dibuat, Mas. Mungkin aku akan mencari lumut di akhir pekan ini. Ayana Anastasiya: Aku sudah mengurus surat ijin ke dinas pendidikan untuk ambil data. Ayana Anastasiya: Rasanya bener-bener lega karena aku bisa sampai di titik ini. Terima kasih, Mas Ayana Anastasiya: Aku senang bisa bertemu dengan Mas Tama. Kehadiran Mas Tama menciptakan kebahagian baru untukku Ayana Anastasiya: Tetap jadi salah satu sumber kebahagianku, ya, Mas :) Bagimana tidak meleleh seorang Tama? Ia jarang—lebih tepatnya tidak pernah mendapatkan kalimat permintaan yang membuat jantungnya berdebar kencang. Menimbulkan rasa tak nyaman pada perut. Ia benar-benar diserang virus falling in love setiap harinya oleh Ayana. Jari Tama bergerak lincah mengetikkan sesuatu di room chat-nya bersama Ayana. Senyum malu dan bahagia terlihat jelas di wajah lelaki itu. Yanuar tak dapat lagi menahan rasa penasaran dan ingin tahunya. Namun rasa-rasanya percuma jika ia terus mengejar Tama untuk memberi tahunya akan siapa perempuan yang berhasil membuat Tama menjadi pribadi yang seperti sekarang. Apa perempuan itu sama irit bicaranya dengan Tama? Ataukah perempuan itu salah satu jenis perempuan dengan kecerewetan yang begitu melengket erat? Aish. Yanuar dibuat pening sendiri oleh pikirannya. Daripada melihat wajah Tama yang lama-lama tampak menjijikkan karena senyum yang sedari tadi masih setia menempel di wajahnya, Yanuar memilih melihat ke sisi kanan jalan yang mereka lewati. Kemudian pikirnya kembali melayang mengingat hubungannya dengan Aini yang masih canggung. Tidak ada hubungan antara dua insan berbeda jenis itu. Hanya sebatas rekan kerja. Namun kesempatan yang Tama berikan padanya untuk membimbing Aini tampaknya tidak efektif untuk memperbaiki segala ucapannya yang tak terfilter kala itu. Membuat hubungan mereka terasa kaku. Bahkan tersenyum saat saling berpapasan pun tampak tak ikhlas. Hanya sebatas saling senyum sebagai formalitas semata. Ah, memikirkan hal itu membuat pikiran Yanuar terasa penat. Laki-laki itu bahkan tidak sadar tengah membenturkan kepalanya di kaca jendela di sampingnya. Yanuar berulang kali melakukan hal itu. Jika Tama tidak menginterupsi kegiatan Yanuar itu, mungkin Yanuar akan terus melakukan hal bodoh itu. Yanuar tergeragap. Rasanya ia tak sadar telah melakukan hal konyol itu. Saat ia mengedarkan pandangannya di seluruh bagian mobil, terlihat Pak Abdul dan Tama yang memandangnya dengan pandangan menyelidik. Membuat Yanuar malu dan hanya mampu memasang cengiran. Ah, Yanuar merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia mempermalukan dirinya sendiri di hadapan bos dan rekan kerjanya? Yanuar menyalahkan Tama. Karena laki-laki itulah ia menjadi memikirkan tentang hubungannya dengan Aini. Dasar manusia. Suka sekali menyalahkan orang lain atas kesalahan yang telah dilakukannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN