47. Kekesalan Ayana

1503 Kata
Tidak selamanya, suatu hubungan akan terus berjalan dengan baik. Tidak selalu, hubungan itu akan berisi dengan kata-kata dan perbuatan manis. Akan datang masa di mana kepahitan dan cobaan menyapa suatu hubungan yang terjalin. Hanya dua pilihan yang harus pasangan itu pilih, tetap bertahan atau saling melepaskan. Mobil itu melaju dengan kecepatan standar. Tidak ada hal yang membuat mereka harus sampai dengan cepat ke tujuan, ke sebuah salah satu wisata alam yang terletak di Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Tembang lawas mengiringi perjalanan yang terasa menyesakkan itu. Lirik lagu seakan mendungkung suasana dalam mobil yang diisi oleh Tama dan Ayana. Dua insan itu sedang saling diam. Namun pikiran mereka sedang dipenuhi dengan banyak hal. “Dek…” Tama memanggil Ayana yang sedari tadi sibuk memandang ke jalan di sebelah kirinya. “Hm?” Ayana menyahut tanpa menoleh pada Sang Pemanggil. Tama mengembuskan napas pelan. Niat hati ingin melepas rindu yang selama ini terpendam. Sayangnya harapan tak sesuai dengan ekspektasi. Tama pun memilih diam. Tidak lagi mengganggu Ayana yang tampaknya butuh waktu untuk berpikir. Mobil Tama mulai memasuki kawasan Pacet. Jalanan sudah mulai menanjak. Beruntungnya jalan utama itu telah teraspal dengan rapi dan halus. Semakin naik, mereka akan disuguhkan dengan pemandangan persawahan yang hijau. Sawah itu dominan dengan model sawah terasering. Beberapa petak dipenuhi dengan padi. Lalu petak yang lain dipenuhi dengan berbagai jenis sayur juga tanaman perbumbuan, kubis, bawang merah, cabai, sawi, dan masih banyak lagi tanaman lainnya. Mobil telah melewati Bundaran Pacet. Sebuah tempat berkumpulnya manusia, terutama anak muda. Di bundaran tersebut, banyak berdiri warung dan gerobak penjaja aneka jenis makanan. Mulai dari makanan berat hingga jajanan seperti pentol bakar, tahu bakar, jamur bakar, dan jajajan lain. Salah satu menu favorit yang banyak diminati pemuda adalah s**u sapi hangat dan ketan bumbu. Perpaduan dua menu yang begitu mantap disantap kala malam hari. Apalagi Pacet merupakan salah satu kawasan pegunungan. Mobil melaju ke kiri jalan dari bundaran. Sedikit lurus lalu mereka akan berbelok ke kanan. Jalanan semakin naik dan turun. Hampir sampai tujuan, mereka disambut dengan areal persawahan di kanan dan kiri jalan. Tumbuhan padi sedang tumbuh segar-segarnya. Begitu memanjakan mata. Mobil melaju lurus hingga masuk melewati sebuah gapura. Petugas kawasan wisata alam itu menghentikan mobil yang dikendarai Tama, lalu menanyakan tujuan mereka. Petugas tersebut menyampaikan beberapa instruksi pada Tama. Setelahnya Tama kembali melajukan mobil setelah mengucapkan terima kasih. Dari posisi gapura itu, jalan akan diarahkan pada dua jalur. Sesuai dengan tujuan, Tama membelokkan mobil ke jalur kiri. Dan dihadapannya kini jalan pertigaan, Tama kembali mengambil jalur kiri. Jalan ke kanan adalah jalan menuju kawasan wisata alam yang lain. Gapuran kecil menyambut kedatangan mereka. Lalu di sisi kanan sawah kembali menyapa dan di sisi kiri jalan beberapa rumah warga ikut menyapa kehadiran mereka. Tama memfokuskan pandangannya ke depan sesekali melirik ke kiri, mencari lahan parkir yang dimaksud oleh petugas yang berjaga di pos gapura pertama. Lahan kosong yang cukup luas tepat berada di sisi kiri jalan. Tama membelokkan mobilnya ke lahan tersebut dan mulai memarkirkan motornya sesuai dengan bantuan arahan dari Sang Juru Parkir. Tak berapa lama, Ayana turun dari mobil setelah mesin mata. Melihat Ayana yang keluar dari mobil tanpa berbicara pada Tama terlebih dahulu membuat laki-laki itu menghela napas besar. Tama gegas menyusul Ayana yang mulai melangkah meninggalkan mobil. ‘Marah boleh saja, Dek. Tapi ya jangan ninggalkan aku juga,’ ucap batin Tama. Tama kini telah berdiri di samping Ayana. Mereka hendak menuju sebrang jalan yang akan mengarahkan mereka ke tempat wisata alam tujuan. Seorang penjaja aneka makanan dan minuman instan duduk menjaga dagangannya di tepi jalan itu. Tama memilih berhenti sejenak untuk membeli dua botol air mineral dan beberapa bungkus roti. Mereka belum sarapan, Ayana yang hanya diam semenjak keberangkatan mereka membuat Tama memilih ikut diam. Sesungguhnya ia bingung harus melakukan apa. Keterdiaman Ayana membuatnya menjadi laki-laki yang tak mampu mengambil keputusan dengan cepat. “Dek..” Tama memanggil Ayana yang tengah melangkah cukup jauh di depannya. Dengan langkah tegap dan cepat ia menuruni anak tangga. Tangga tersebut terbuat dari semen, disesuaikan dengan lahan yang memang lebih tinggi agar akses menuju tempat wisata menjadi lebih mudah. Setelahnya jalanan tersebut berupa jalan yang disemen dengan ukuran tak begitu lebar. Ayana tak menghiraukan panggilan Tama. Gadis itu masih terus melangkah dengan perasaan dongkol. Tama kini telah berdiri dan melangkah di belakang Ayana. Keinginan untuk menarik dan menggenggam lengan Ayana hanya menjadi sebuah keinginan yang tak mungkin dapat diwujudkan. Ia masih tahu diri untuk menjaga gadis itu. Ditambah dengan gadis itu yang masih marah kepadanya. *** “Dek.. Maaf.. Mas harus ke kantor sebentar,” kata Tama tak enak hati di ujung telepon. Saat ini sudah pukul enam pagi. Seharusnya Tama tiba di Surabaya pukul tujuh sesuai janji. Sayangnya laki-laki itu harus ke kantor lebih dulu. Ayana yang baru saja selesai mandi dan tubuhnya terasa segar, menjadi layu seketika. Ia benci dengan segala sesuatu yang melanggar janji. Meskipun mereka tetap akan pergi, Ayana tak suka bila seperti ini. Informasi dadakan selalu menjadi musuhnya. Ayana memilih tak menanggapi. Ia hembuskan napasnya pelan agar amarahnya tidak meluap. “Mas Tama.. sudah ditunggu Pak Abdul di alun-alun kota. Aku baru buka grup kalau ternyata kita berkumpul di sana. Aku boleh bareng, ya?” Lengkap sudah amarah Ayana. Sudah dibuat kesal dengan janji yang akan diundur, ditambah Ayana mendengar suara seorang perempuan. Meskipun hanya rekan kerja Tama, tetap saja ia kesal dan sedikit cemburu. Sambungan telepon Ayana matikan tanpa menunggu Tama berbicara. Mendidih sudah hatinya mendengar suara perempuan itu. Membayangkan Tama hanya duduk berdua di dalam mobil menimbulkan banyak spekulasi yang membuat kepala pening dan sakit. Ayana memilih kembali berbaring di atas peraduan. Niatnya untuk memoles wajahnya dengan segala skin care urung sudah. Mood dan semangatnya untuk menggunakan skin care sebagai salah satu langkah investasi kulit wajah pupus. Rasanya ia hanya ingin menghabiskan waktu dengan tidur. Berharap dengan tidur akan membuatnya lupa dengan rasa sesak yang menggerogoti d**a. Handphone-nya sengaja ia letakkan di meja tempat ia meletakkan beberapa perkakas seperti alat masak dan alat makan juga buku-buku. Tinggal di kos membuatnya sedemikian rupa harus mampu memanajemen ruang kamar agar tetap terlihat rapi dan muat untuk segala barang. Ia butuh kenyamanan. Maka memaksimalkan ukuran kamar yang kecil dengan penataan barang yang rapi menjadi pilihannya. Benar saja, Ayana terlelap hingga dua jam kemudian. Masih terlalu pagi untuk seorang gadis yang memilih tidur kembali. Namun, Ayana memilih tak peduli. Ia sedang kesal. Dan pelampiasan atas kesalnya itu dengan tidur. Lebih baik menghindari marah-marah tak jelas yang berujung pada penyesalan. Ayana melangkah menuju kamar mandi. Air diharapkan mampu menghilangkan kantuk yang masih menempel padanya. Dan ketika ia telah kembali ke kamar, suara nada dering telepon memenuhi kamarnya. Ayana memilih mengabaikan sejenak. Ia masih ingin mengumpulkan nyawanya. Ayana meregangkan otot-otot tubuhnya. Juga menepuk-nepuk pipinya pelan. Lalu diambilnya handphone yang sedari tadi menciptakan suara berisik. Nama Tama menjadi pemanggil. Ayana masih marah dan kesal pada laki-laki itu. Ia pun memilih mengabaikan. Ia sebenarnya benci dengan dirinya yang seperti ini. Namun siapa yang tidak jengkel ketika euforia kebahagiaan yang harusnya akan tercipta karena pertemuan harus diuapkan begitu saja oleh suatu hal yang mendadak? Marah? Kesal? Tentu saja. Benar adanya memang manusia diharapkan tidak berharap pada sesama makhluk ciptaan-Nya. Sayangnya Ayana tidak menerapkan hal itu. Harapannya untuk melepas rindu dan berbagi tawa dengan Tama secara langsung kandas diterpa ekspektasi. Ayana memegang handphone yang masih terus berdering. Namun tak sedikit pun ia memiliki niat untuk menerima panggilan itu. “Apa aku telepon Abang saja? Minta tolong padanya supaya besok menemaniku mencari lumut?” gumamnya pelan. Ia merutuki emosinya yang sedari tadi menggebu. Membuatnya tak mampu berpikir jernih. Ia merasa Tama tak mungkin nekat datang ke Surabaya setelah acara dari kantor yang harus laki-laki itu hadiri. Dering telepon berhenti. Membuat Ayana membuka room chat dengan Abang. Tangannya sudah bergerak lincah di atas keyboard, bermaksud menyampaikan jika ia ingin meminta tolong pada Abang untuk mengantarnya mencari lumut. Karena hari Senin esok ia akan melakukan ambil data skripsi di salah satu SMA negeri di Surabaya. Sayangnya, belum sampai ia menekan tombol send. Notifikasi masuk ke handphone-nya. Adji Pratama Saputra: Aku sudah di depan gang kos kamu, Dek Mata Ayana membelalak. “Apa mungkin Mas Tama tidak ikut acara kantornya? Tapi kurasa tidak mungkin.” Ayana terus bergumam mengenai berbagai kemungkinan yang dilakukan Tama. Namun tentu saja ia tidak dapat menemukan jawaban itu karena ia tidak tahu apa yang terjadi. Ayana tiba-tiba dibuat kalang kabut. Ia belum berganti baju apalagi memakai pulasan make up. Baginya, mengenakan skin care sebelum keluar terutama sun screen harus ia lakukan agar kulitnya tetap aman. Dengan gerakan cepat, secepat yang ia bisa, Ayana mengganti bajunya dengan baju yang sudah ia niatkan untuk ia kenakan dalam mencari spesimen lumut itu. Sebuah kaos lengan panjang bermotif garis putih biru dan celana kain milo ia pilih. Lalu dipadukan dengan kerudung berwarna senada dengan kaosnya. Ayana melangkah lebar keluar dari kos menuju tempat Tama menunggunya. Dalam langkah itu hatinya saling beradu dan berperang. Haruskah ia masih marah pada Tama atau memaafkannya? Hingga akhirnya ketika Ayana telah duduk di samping Tama, gadis itu memilih mengabaikan Tama. Marah menjadi juara kali ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN