48. Cuban Cangguh

1456 Kata
Hijaunya persawahan kembali menjadi hamparan yang menyapa netra Ayana dan Tama. Melewati tepi sawah yang ditanami dengan padi akan mengantarkan mereka pada tempat tujuan. “Hati-hati, Dek,” pesan Tama lembut. Ada keinginan yang kuat untuk mengulurkan tangannya pada Ayana. Ia tidak ingin perempuan itu terpeleset karena jalan yang berlumpur. Namun sepenuh tenaga ditahannya keinginan sederhana itu. Ia tidak ingin membuat Ayana semakin membencinya. Kesalahan tak sengaja yang telah ia goreskan saja belum mendapatkan pengampunan, tak perlu lagi ia menambah dengan hal nekat lain. Ayana tak menyahut. Gadis itu melangkah dengan hati-hati. Dalam hati ia mendumal kesal karena Tama tak berinisiatif membantunya. ‘Sebel,’ dumal batinnya. Ya begitulah manusia. Makhluk ciptaan-Nya yang suka riweh. Kenapa tak saling bicara agar tak ada dumalan dalam hati? Agar tak banyak prasangka yang lalu lalang. Tiba di batas jalan setapak berupa tanah persawahan, terdapat suatu tebing kecil. Tak terlalu tinggi, mungkin hanya sekitar setengah meter. Berbagai jenis lumut tumbuh segar di sana. Seperti tempat lembab dan berair kebanyakan, lumut daun tumbuh dominan memenuhi areal tersebut. Lumut hati di posisi kedua. Dan lumut tanduk hanya ada beberapa talus saja. Memang, jenis lumut tanduk sedikit lebih susah tumbuh daripada lumut daun dan lumut hati. Ayana berhenti di depan tebing kecil itu. Ia sedikit membungkukkan badannya. Senyum lega terpatri di wajahnya yang sedari tadi cemberut. Sedang Tama, laki-laki itu memilih memberi jarak pada Ayana. Ia tak ingin kehadirannya membuat Ayana tak nyaman. Hal yang sebenarnya malah membuat diri sendiri tak nyaman karena harus menjaga jarak dengan gadis itu. Ayana mengambil lumut itu dengan pelan menggunakan kapi kecil. Lumut itu hendak disimpan dalam wadah kotak bening yang sudah ia siapkan. Ayana berusaha membuka kotak wadah itu perlahan dengan satu tangannya. Satu tangannya sibuk memegang kapi yang terdapat lumut hasil mengambilnya. Tama terus memantau. “Sini kubantu, Dek.” Tama mengulurkan tangannya. Sayangnya Ayana tak menggubrisnya. Gadis itu tetap keukeh dengan kemampuannya sendiri. Tama kembali mengembuskan napas pasrah. Ia hanya diam memerhatikan setiap gerak Ayana. “Kenapa masih memaksa bisa sendiri jika ada tangan yang rela membantu?” tanya Tama karena sedikit kesal dengan Ayana. Ia sadar akan kesalahannya. Namun apa harus seperti ini? Sedang Ayana belum mendengarkan penjelasannya. Ayana mendongak menatap Tama tajam. Tatapan kesal dan benci. Sebuah tatapan yang selama ini tidak pernah gadis itu tujukan padanya. Tama menatap Ayana datar. Jika boleh mengumpat ia ingin mengumpat. Apa Ayana tak mampu menghargai usaha dan waktu yang telah laki-laki itu berikan secara cuma-cuma? Bukan masalah tidak ikhlas, hanya saja Ayana harusnya mengerti bahwa ada alasan dibalik suatu tindakan. Tama tentu tak ingin melanggar janji. Akan tetapi harus bagaimana lagi jika informasi dari kantor mendadak? Dan apa bisa ia memutar waktu dan meminta Aini tak bicara kala sambungan telepon dengan Ayana masih berlangsung? Tentu tidak bukan? Lalu ketika ia dengan kecepatan maksimal mengendarai kendaraan roda empat itu menuju Surabaya dengan perasaan bersalah apa tidak mampu membuat Ayana mengerti bahwa ia sadar telah salah? Tidak selamanya manusia dapat mengatur segala rencanya dengan baik. Ada rencana Tuhan yang lebih baik. Tama mengembuskan napas panjang. Lalu ia memilih memandang ke arah aliran sungai. “Aku ke sana dulu. Tampaknya keberadaanku pun tak ada arti. Menikmati pesona alam sepertinya lebih menyenangkan dan menenangkan,” katanya pamit pada Ayana. Tama melangkah melewati sebuah jembatan dari besi itu dengan pinggiran jembatan yang dicat hijau. Ia menarik napas dalam agar otaknya mendapat suplai oksigen yang banyak. Sehingga pikirannya menjadi lebih tenang. Sebuah tempat istirahat dari kayu ia gunakan untuk menyimpan waist bag dan jaketnya. Lalu ia melepas sepatunya dan disimpan di area tanah yang tidak dilewati aliran air. Dingin. Kaki Tama merasa dingin ketika kaki itu mulai menyatu dengan air. Namun kedinginan itu menghadirkan sensasi tenang. Kakinya melangkah melewati bebatuan yang ada di sungai itu. Lalu terus melangkah mendekati air terjun. Iya. Mereka saat ini sedang berada di air terjun. Air terjun Cuban Cangguh. Sebuah air terjun yang terletak dekat dengan Kawasan Pemandian Air Panas Padusan, Pacet. Tama terus melangkah hingga jaraknya mungkin sekitar tujuh meter dari aliran air yang turun dari ketinggian itu. Udara yang terkena tekanan air terjun itu menyapa kulit Tama. Tama memejamkan mata untuk menikmati ketenangan. Suara air yang jatuh membuat perasaannya tenang. Alam selalu menghadirkan ketenangan baginya. Suara burung-burung berkicau semakin membuat perasaannya menjadi lebih rileks. Air terjun itu tampak sepi. Hanya ada sepasang kekasih yang sedang asyik berfoto. ‘Ah.. Andai aku juga bisa seperti mereka,’ harap Tama. Tama memilih menikmati air terjun daripada meratapi nasibnya. Ia menjadi sadar bahwa jatuh cinta tak selamanya indah. Namun tentu ia akan mengambil hikmah dari setiap hal yang melewatinya. Mungkin mereka harus saling berbicara, menjelaskan setiap hal yang mengganjal juga menyamapikan segala keinginan yang akan membawa hubungan mereka menjadi hubungan yang baik. “Mas Tama!!!!” Teriakan Ayana membuat Tama gegas membuka matanya. Ia gegas memutar tubuhnya dan melangkah lebar menuju Ayana. Ia tidak tahu apa yang sedang menimpa gadis itu karena Ayana masih belum masuk ke area air terjun. Tubuh Tama hampir saja terpeleset. Untungnya ia mampu menguasai diri. Ia kembali melangkah dengan tergesa. Rasa khawatir mendominasinya. Ia takut sesuatu buruk menimpa Ayana. Napas Tama terengah. Ia berhenti tepat di depan Ayana. “Kenapa, Dek?” tanya panik. Bisa dilihat bila Ayana tampak pucat. Membuat perasaannya semakin tak tenang. “I—tu…” Telunjuk Ayana menunjuk pada kakinya. Namun netranya tidak berani memandang kakinya. Tubuhnya sedikit bergetar. Menandakan bahwa gadis itu benar-benar ketakutan. Tama melihat kaki Ayana. Kaki putih tanpa kaos kaki yang hanya mengenakan alas kaki berupa sandal jepit keluaran salah satu toko Jepang. Napas Tama terhembus lega. Dengan segera diambilnya hewan melata yang asyik bergerak di punggung kaki Ayana. Ingin sekali ia tertawa, tetapi ia sadar bahwa Ayana sedang tidak baik-baik saja. Maka ia berusaha merapatkan bibirnya dengan kuat. “Sudah, Dek,” lapornya. Hembusan napas lega terdengar. Ayana dengan takut mengintip punggung kakinya. Ia masih takut bila ada hewan itu di kakinya. Dan ia bersyukur karena hewan itu benar-benar tidak ada di kakinya. Tama mengambil kotak bening yang telah penuh diisi lumut. “Ayo cuci kaki di sungai aliran air terjun, Dek. Airnya seger dan bersih,” ajak Tama. Ayana mengangguk kecil. Ia sebenarnya masih malu. Tetapi ia berusaha untuk tampak biasa saja. ‘Hish.. Kenapa cacing tadi ada di kakiku segala sih?’ gerutu batinnya kesal. Tama pun memimpin langkah menuju ke sungai aliran air terjun. Sesekali ia menengok pada Ayana yang mengikutinya di belakang. “Pelan-pelan, Dek. Batunya cukup licin. Sandalnya dilepas saja,” peringat Tama. Sebelum sampai pada gubuk kayu. Mereka harus menyeberang pada tepi sungai yang berbatu. Jaraknya memang tidak terlalu lebar, tetapi tentunya mereka harus berhati-hati. Ayana menurut. Ia berjalan perlahan dengan tangan membawa sandal berwarna lilac itu. Perasaannya terasa tenang karena kaki yang tercelup air sungai yang dingin tetapi segar. ‘Alam tidak pernah gagal memberikan ketenangan pada tiap insan. Sayangnya manusia sering gagal melindungi alam,’ ucap batinnya. Tama meletakkan kotak makan di samping jaket yang ia simpan di atas tatakan gubuk. Lalu ia kembali melangkah mendekati Ayana. Mengulurkan tangannya, meminta perempuan itu untuk berpegangan pada tangannya agar tidak terpeleset. Ayana sempat ragu. Benaknya cukup lama berpikir. Memikirkan apakah ia harus menerima uluran tangan itu. Membiarkan lengan Tama terjulur, tak segera tergapai. “Dek,” tegur Tama pada Ayana yang terlalu lama berpikir. Ayan tersadar dari lamunnya. Akhirnya ia pun menerima uluran tangan itu setelah menimbang bahwa ia memang butuh pegangan agar tak terpeleset. Dengan uluran tangan itu, Ayana akhirnya tiba di bagian sungai yang sedikit tinggi. Berupa hamparan kecil yang di atasnya dipenuhi dengan kerikil. Ia pun terus melangkah mendekat pada air terjun. Hantaman kecil terasa mengenai wajah Ayana karena air yang terjun itu. Ia dongakkan kepalanya. Tampak pepohonan besar di atas tebing. Juga semak-semak yang tumbuh memenuhi tebing. Dan uniknya air terjun itu adalah sebuah batu besar yang menonjol di aliran air itu. Tama memantau aktivitas Ayana. Senyum lembut terukir di wajah tampannya. Ia dapat melihat ketenangan yang dirasakan Ayana. Ia pun merasa tenang. “Mau kufotokan?” tawar Tama setelah mereka diam menikmati pesona alam itu cukup lama. Canggung. Diantara mereka terasa canggung karena belum ada yang berniat membuka mulut, baik untuk menjelaskan atau meminta penjelasan. Ayana pun merasa tak enak hati. “Pake HPku saja,” ujar laki-laki yang mengenakan kaos navy itu. Ia pun mulai bersiap membuka aplikasi kamera di handphone-nya. Setelahnya meminta Ayana segera mengambil posisi dan gaya berfoto terbaik. Biasanya ia biasa saja, tak malu. Namun kecanggungan diantara mereka membuatnya tak bisa menjadi Ayana seperti biasanya. “Rileks, Dek,” tutur Tama. Ia dapat melihat jika Ayana tampak tak nyaman. Ayana mengambil napas dalam dan diembuskannya perlahan. Demi foto yang tampak natural, ia berusaha melupakan sejenak sebab kecanggungannya dengan Tama. Ia bertekad akan bertanya pada Tama. Meminta penjelasan dari laki-laki itu dengan sejelas-jelasnya akan masalah tadi pagi sepulang dari Cuban Cangguh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN