—Alam menyuguhkan ketenangan. Ditambah dengan kamu, ketenangan itu terasa lengkap dan benar.—
Benar katanya bila alam mampu mendatangkan ketenangan. Hati yang awalnya dipenuhi dengan bara amarah, kini mulai menurun pada titik ketenangan.
Tama mengendarai mobilnya meninggalkan kawasan wisata Cuban Cangguh yang terletak di Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Mereka kembali melewati hijaunya persawahan juga jalan yang naik turun dan meliuk cukup tajam.
“Kita makan dulu nanti. Aku tahu kamu belum sarapan, Dek,” kata Tama tegas.
Ayana hanya mengedik. Meskipun ia sudah merasa tenang, tetap saja ia masih kesal pada Tama. Salah satu sifat buruknya ya seperti ini. Ia bukan manusia yang dengan mudah memaafkan. Ia manusia biasa yang juga bisa kesal dan marah. Ia tak sebaik itu.
Tama menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Lalu ia memandang Ayana yang masih diam di kursinya.
“Kita makan ayam geprek, ya? Mau kan?” Tama bertanya dengan lembut. Dan Ayana masih bertahan dengan keterdiamannya. Membuat Tama kembali menghela napas panjang. Mencoba mensugesti diri agar lebih sabar.
Tama memilih turun dari mobil. Lalu ia menyeberang jalan. Kedai penjual nasi ayam geprek terletak di jalan menuju arah ke Cuban Cangguh, berkebalikan dengan jalan pulang.
Ayana memandang Tama dari dalam mobil. Mesin mobil yang dimatikan cukup membuat tubuhnya gerah. Tidak terpikir untuk menurunkan sedikit kaca pintu di sampingnya.
“Mas Tama makan sendirian? Tanpa aku?” tanya Ayana lirih. Sesak sudah dadanya. Ia sadar jika ia kekanakan. Namun ia tidak mau dengan mudah bersikap biasa saja padahal Tama benar-benar melakukan kesalahan. Yah meskipun kesalahan itu tidak bisa 100% ia salahkan pada Tama.
Ayana masih bertahan di kursinya meskipun udara semakin panas. Mesin mati tentu membuat pendingin ruang tidak bekerja. Ia memutar tubuhnya menghadap ke arah Tama yang duduk tenang di salah satu kursi. Kedai itu cukup ramai. Terutama oleh pemuda yang sepertinya akan naik gunung atau baru saja turun karena banyaknya karier yang terkumpul di salah satu sisi dekat meja tempat kumpulan pemuda itu makan.
“Gimana dong? Masak aku beneran nggak makan? Hanya dengan roti saja mana bisa bertahan aku?” gumamnya lagi. Ia mulai tak tenang. “Tapi gengsi dong kalau aku tiba-tiba turun dan menghampiri Mas Tama,” lanjutnya.
Ayana masih tetap berdiam di kursinya meskipun udara dalam mobil semakin menipis. Hingga denting handphone-nya menyadarkannya dari pikirannya yang semrawut dipenuhi kebingungan dan rasa gengsi.
Adji Pratama Saputra: Kamu mau bertahan dalam mobil, Dek? Kalau pingsan jangan salahkan aku, ya.
Denting handphone Ayana kembali berbunyi. Masih orang yang sama yang mengirimkan pesan.
Adji Pratama Saputra: Aku sudah pesankan buat kamu. Kalau kamu nggak turun nggak masalah. Nanti bisa kukasihkan ke rombongan anak-anak di sebelahku ini.
Ayana berdecak kesal. “Ihhh.. Kenapa Mas Tama nggak peka banget sih?” dumalnya kesal seraya ia menggerakkan-gerakkan kakinya kesal.
Dumalan terus saja keluar dari bibir Ayana. Jatuh cinta dan menjalin hubungan Tama membuat Ayana menjadi lebih berisik dan sering mendumal. Sangat berbeda dengan Ayana yang sebelumnya. Cenderung menjadi gadis pendiam.
Akhirnya dengan kekesalan dan dumalan, juga tidak peduli dengan penilaian Tama yang mungkin akan menilainya sebagai gadis labil, Ayana turun dari mobil. Ia tutup pintu itu sedikit keras. Tidak peduli bahwa mobil itu bukan miliknya. Kemudian ia berjalan dengan menghentakkan kakinya juga bibir yang mencebik.
Namun saat telah tiba di depan kedai itu, Ayana memasang wajah tenang. Ia tidak ingin orang menilainya sebagai gadis yang aneh, terutama rombongan pemuda pecinta alam itu.
Ayana menghembaskan pantatnya kuat. Membuatnya sedikit meringis karena rasa sakit akibat perbuatan nekatnya. Ia memandang pada Tama yang sibuk berbincang dengan rombongan yang dominan berisi pemuda, ada tiga perempuan di antara pemuda-pemuda itu.
“Gunung Pundak buagus banget, Mas. Ijonya nyegerin,” ucap salah seorang perempuan dengan gaya bicara yang begitu medhok. Perempuan itu juga menunjukkan hasil fotonya. “Iya tho, Mas?”
“Ini view-nya Gunung Welirang, ya?” balas Tama.
“Bener, Mas. Ijo banget, kan? Rasanya tuh aku nyesel karena baru tahu kalau ada gunung sebagus ini,” jelas perempuan itu dengan penuh semangat.
Di tempatnya, Ayana mendengus sebal. Dapat dilihat dengan jelas bila perempuan itu mencari perhatian pada Tama. Bahkan perempuan itu mencondongkan tubuhnya mendekati Tama saat menunjukkan hasil foto.
“Memangnya nggak lihat kalau ada aku di sini? Dikiranya aku ini adiknya apa?” dumalnya pelan.
Daripada membuat perasaannya semakin terbakar api cemburu, Ayana melangkah meninggalkan kursi untuk menuju wastafel. Perempuan itu butuh cuci tangan agar dapat menikmati ayam geprek dengan nikmat. Makan dengan langsung menggunakan tangan, menurut Ayana akan membuat rasa makanan itu semakin sedap dan nikmat.
Cemburu juga memerlukan tenaga. Apalagi amarah yang sejak tadi pagi tercipta belum juga menguap. Maka tenaga yang diperlukan untuk tubuhnya agar tetap sehat adalah memakan makanan agar tenaganya bisa kembali. Tenaga yang diperlukannya adalah tiga kali dari tenaga keadaan normal. Dimana satunya adalah tenaga untuk berjalan menikmati Cuban Cangguh dengan tambahan drama cacing yang dengan percaya dirinya melata di atas punggung kakinya.
Ayana kembali ke mejanya dengan kaki yang dihentak-hentakkan. Ia kesal pada Tama yang terus meladeni setiap ucapan perempuan itu. Meskipun pemuda yang lain juga ikut nimbrung dalam perbincangan. Dan ia juga benci dengan perempuan itu yang terus mencari topik perbincangan.
Ayana gegas mulai menyuap nasi ayam gepreknya. Perutnya sangat lapar. Ia memilih tidak peduli lagi dengan Tama juga teman ngobrol barunya. Baginya kondisi perutnya saat ini lebih penting daripada terus memikirkan rasa cemburu yang semakin lama semakin menggerogoti.
Tama sebenarnya sedari tadi terus memantau Ayana. Ia sesekali melirik perempuan yang datang bersamanya itu. Ia juga dapat melihat kejengkelan yang perempuan itu rasakan. Membuat perasaannya melambung tinggi. Juga menciptakan senyum yang sedari tadi ia tahan agar tak terlihat.
Hingga akhirnya rombongan yang baru saja turun dari Gunung Pundak itu pamit undur diri. Mereka mengeluh mengantuk karena mulai summit tengah malam. Mereka hanya istirahat beberapa jam di puncak. Lalu ketika matahari mulai naik ke peraduan, mereka memutuskan untuk turun.
“Enak?” tanya Tama sembari mengamati Ayana yang begitu lahap menghabiskan nasinya. Perempuan itu tampak kelaparan.
Ayana hanya bergumam. Masih malas berbicara dengan Tama. Hal itu pun menciptakan tawa Tama.
Ayana memandang Tama galak. Lalu menatap Tama dengan pandangan menghunus, seakan meminta Tama untuk menertawakan dirinya. Dan tatapan kesal itu semakin membuat tawa Tama berderai.
“Aku tahu kamu cemburu, Dek,” ucap Tama selepas Ayana kembali dari kegiatan mencuci tangannya.
Ayana pura-pura tak mendengar. Perempuan itu sibuk menghabiskan es tehnya. Kesegaran es teh membuat pikirannya ikut segar. Juga mendinginkan kepala dan dadanya yang sedari tadi mendidih.
‘Kalau tahu cemburu kenapa malah meladeni perempuan centil itu?’
“Alam selalu indah dan menyegarkan ya, Dek? Menikmati segarnya air yang mengalir dari Cuban Cangguh membuat rasa penat hilang. Emosi juga ikut meluntur perlahan. Dan ditambah dengan kamu yang berada di sisiku saat menikmati alam, membuat semuanya benar. Bahwa alam dan kamu adalah perpaduan yang menyenangkan dan membuat semuanya menjadi baik,” kata Tama. Netra laki-laki itu menatap Ayana lembut juga diiringi dengan ketegasan.
Tangan Ayana yang baru saja menggeser gelas tabung setelah menandaskan es tehnya, kini bertahan di atas meja sambil memainkan tisu bekas ia gunakan untuk mengeringkan tangan. Melihat tangan Ayana tersebut, ingin sekali Tama menarik tangan itu. Lalu digenggamnya erat untuk meyakinkan bahwa apa yang baru saja terucap adalah benar. Bukan sebuah rayuan atau sekedar gombalan untuk memikat Ayana. Tama serius dengan perempuan itu. Tak perlu alasan, baginya, Ayana adalah perempuan yang memang mampu menariknya hingga ingin terus berada di dekat perempuan itu.
“Aku minta maaf untuk masalah tadi pagi, Dek. Dan aku berharap kamu mau mendengarkan penjelasanku,” kata Tama dengan tatapan tajam pada Ayana.
“Hal itu tentu di luar dugaanku, Dek. Bukan suatu hal yang diinginkan. Aku juga baru tahu tadi pagi lepas Shubuh. Dan aku sudah memberi tahu ke kamu melalui pesan kan?”
Tama memandang Ayana lebih lamat. “Acara di alun-alun kota adalah acara pertemuan dengan klien. Kami ingin menciptakan suasana lebih hangat dengan CFD bersama.”
“Dan untuk Aini, aku tidak tahu kalau dia ada di kantor, Dek. Karena selepas mendapat informasi itu, aku langsung ke kantor. Mencetak berkas yang diperlukan sebelum jogging dilangsungkan,” lanjutnya.
“Mengenai informasi bahwa kita langsung berkumpul di alun-alun baru disampaikan ketika aku sudah di kantor itu,” jelasnya.