Ayana diam. Meski pandangannya tidak mengarah pada Tama, rungunya mendengarkan setiap kata yang terlontar dari bibir laki-laki itu.
“Bukankah hal itu di luar kendaliku, Dek? Aku pun ingin menegaskan ke kamu. Aku bekerja di kantor arsitektur. Di mana sering kali hari libur digunakan sebagai hari kerja, lembur menyelesaikan segala pekerjaan yang belum tuntas pada hari sebelumnya,” kata Tama seraya menatap Ayana yang saat ini sedang menunduk melihat tisu yang sudah tidak jelas bentuknya.
Tama menarik napas dalam. “Sekali lagi aku minta maaf, Dek. Maaf karena tidak bisa menepati janji. Tidak bisa menemui kamu sesuai janji temu yang telah kita sepakati,” imbuhnya dengan suara tenang.
Benar adanya bila selepas Shubuh tadi, Tama mengirimkan pesan pada Ayana bahwa laki-laki itu ada urusan pekerjaan. Dunia kerja terkadang sering membuat waktu yang seharusnya digunakan untuk me time harus direlakan untuk mengurus pekerjaan. Begitulah ritme hidup. Banyak orang yang ingin bekerja karena tak ingin menambah beban, juga tak ingin menumpuk stress. Namun kala pekerjaan sudah didapatkan maka konsekuensinya adalah tak adanya, atau waktu yang sedikit untuk me time.
Ayana yang sedang kedatangan tamu, membuat gadis itu bangun lebih siang. Pukul setengah enam gadis itu mematikan alarm kemudian bergegas ke kamar mandi. Tidak mengecek handphone sebentar untuk sekedar membaca pesan atau notifikasi lain yang masuk. Hingga berakhirlah pada rasa gondok kepada Tama.
Ayana diam. Pikirnya sibuk mencerna segala kalimat yang meluncur lembut dari bibir Tama. Sedang Tama masih bertahan di tempatnya dengan tatapan yang tidak teralihkan sejak tadi. Fokus memandang Ayana yang menunduk.
Mereka terbuai dengan kemelut pikir masing-masing. Terdiam dengan berbagai kalimat yang terbang memenuhi saraf pusat itu. Terkadang antara batin dan pikir sering bertengkar karena perbedaan pendapat, pendapat yang tak sejalan.
Tama merasa tak ada hal lagi yang perlu diperbincangkan. Ia juga sadar telah terlalu lama duduk di kedai itu. Berdiri menjauhi kursinya, laki-laki itu mulai melangkah menuju kasir. Membayar pesanan mereka berupa dua piring nasi ayam geprek dengan irisan mentimun dan beberapa tangkai daun kemangi juga dua gelas es teh.
Tama cukup terkejut saat harga yang harus dibayarnya hanya 30 ribu. Sangat ramah di kantong. Ia bahkan tidak percaya jika harganya seramah itu. Rasa ayam gepreknya pun lezat. Es tehnya juga segar.
“Kamu masih mau di sini dulu, Dek?” tanya Tama. Ia telah kembali duduk di hadapan Ayana yang masih tampak sibuk berpikir.
“Mas,” panggil Ayana. Bibir perempuan itu baru terbuka sejak tadi. Ah tidak, tidak. Tepatnya tadi saat berteriak ketika ada cacing yang dengan tenang melintas di punggung kakinya ia telah membuka bibirnya. Mungkin sedikit terpaksa karena baginya hewan itu begitu menjijikkan dan menggelikan.
“Hm?” sahut Tama seraya memfokuskan pandangannya pada netra Ayana. Sayangnya Ayana tak kuasa untuk membalas tatapan yang meneduhkan itu. Menimbulkan rasa tak nyaman pada perut. Seakan ada banyak kupu-kupu yang berterbangan. Jantungnya pun berpacu kuat.
Ayana mengalihkan pandangannya ke arah etalase yang menyajikan ayam tepung yang tampak kripsi dan crunchy. Membuat liurnya tercipta.
Gegas ia mengalihkan pandangan ke meja. Tidak ingin khilaf untuk memanjakan lambungnya dengan memesan satu porsi nasi ayam geprek.
“Aku minta maaf,” ucapnya setelah diam cukup lama. Gadis itu menyadari kesalahannya. Terlalu kekanakan. Kurang dewasa dan tidak mampu memahami situasi yang sedang dihadapi orang lain.
“Aku kekanakan, ya?” tanya Ayana. Kini ia memandang Tama. Namun hanya sebentar. Tidak sampai satu menit. Pipinya sudah bersemu. Ia tidak ingin semakin malu.
“No. Aku tahu kamu kecewa,” jawab Tama seraya melengkungkan senyum lembutnya. “Namun.. ada satu hal yang ingin aku pesankan ke kamu, Dek,” imbuhnya dengan nada lembut yang menenangkan. Nada bicara yang membuat Ayana selalu dihargai dan disayangi oleh Tama dengan begitu dalamnya.
Ayana bertanya melalui tatapan matanya ke arah Tama. Dengan bertekad besar ia berusaha membalas tatapan Tama.
“Kamu boleh mendiamkan seseorang untuk meredakan kecewamu. Tapi.. untuk situasi yang sedang kita alami hari ini, bukankah lebih baik jika kamu mampu mengontrol diri? Maafkan secara perlahan, Dek. Jangan mendiamkan seseorang terlalu lama. Yah meskipun ini belum terhitung 12 jam.”
Tama membalas tatapan Ayana dengan lembut. “Jangan mendiamkan terlalu lama, Dek. Sesekali lampiaskan amarah kamu. Tak baik memendam. Bisa menjadi penyakit hati yang menggerogoti diri. Apalagi kepadaku. Jangan mendiamkan aku terlalu lama jika kamu marah padaku. Bisa kan?” Tama menatap gadis di depannya dengan tatapan penuh permohonan. Layaknya permohonan seorang raja pada Sang Ratu untuk selalu mendukungnya dalam setiap langkah.
Ayana diam. Ia memilih membalas tatapan Tama. Cukup lama Tama menunggu balasan Ayana. Hingga waktu berjalan untuk saling menatap, Ayana akhirnya mengangguk. Ia juga meyakinkan pada diri agar lebih mampu mengontrol amarahnya.
“Tapi Mas Tama jangan bikin aku cemburu,” kata Ayana dengan bibir yang mencebik. Membuat pipinya menjadi sedikit tembam.
Tama tertawa. Tak menyesal ia memilih Ayana. Perempuan itu begitu menggemaskan. Meskipun ketika marah cukup membuatnya kelabakan.
“In shaa Allah tidak, Dek,” balas Tama yakin. “Sejujurnya aku benar-benar bingung harus bersikap apa untuk menghadapi kamu yang ngambek, Dek. Aku seakan berada di tengah-tengah jembatan. Ke depan aku akan tercebur dan ke belakang pun sama. Aku tadi takut jika terlalu banyak mengajak kamu berbicara, kamu akan semakin marah. Namun ketika melihat kamu hanya diam dengan tatapan menakutkan itu juga membuatku tak tenang,” cerita Tama menggebu dengan senyum yang menyertai. Kali ini ia merasa lega. Amarah Ayana telah terurai dan menguap.
“Aku memang seperti itu, Mas. Akan memilih mendiamkan orang sampai aku merasa lega. Tapi tadi bukannya kelegaan yang aku dapat, tapi malah jengkel, “ balas Ayana dengan bibir yang kembali maju beberapa mili meter.
Tama menguraikan tawa senangnya. “Iya, Dek. Semoga hal ini menjadikan kita sebagai insan yang selalu saling mengerti. Saling mengungkapkan segala hal yang dirasa kurang tepat.”
Ayana pun menambahkan dengan cepat, “Dan tidak saling menuntut pasangan agar menjadi sempurna seperti harapannya.”
“Memangnya kita pasangan?” goda Tama dengan alis yang sengaja ia naik turunkan.
Ayana menunduk dengan semburat merah di pipi. Rasanya ia malu dan seakan terjebak dengan ucapannya sendiri. “Mas Tama..!!” rengeknya.
Tama kembali tertawa. Tangannya terayun hendak mengusap pucuk kepala Ayana yang berjilbab siang itu. Namun sekuat tenaga ia menggantungkan tangan itu di udara. Ia tak ingin membuat Ayana tidak nyaman dengannya setelah mereka baru saja berbaikan. Beruntungnya Ayana sedang menunduk. Tama menjadi tidak terlalu malu.
“Kita pulang, yuk,” ajak Tama setelah lengannya kembali ia letakkan di atas meja.
Ayana mengangguk. Mereka berjalan beriringan menuju mobil. Tama tak mendahului atau pun melangkah di belakang Ayana, laki-laki itu tetap bertahan di posisinya, di samping Ayana. Jalanan Pacet itu selalu ramai. Ia tidak ingin terjadi hal berbahaya yang menimpa Ayana atau pun dirinya.
“Langsung pulang? Atau mau beli es tape? Atau sate?” tanya Tama saat mobil mulai melaju melewati bundaran Pacet.
“Ada? Di mana?” tanya Ayana dengan alis yang naik.
“Di depan itu.”
Ayana memandang ke depannya. Di hadapan mereka banyak pedagang yang berjajar. Para pedagang menggunakan motor untuk menjajakan dagangan mereka.
Tama memarkirkan mobil di tepi jalan. Lalu laki-laki itu menuntun Ayana untuk menuju ke jajaran pedagang itu.
“Mau coba es tape?”
Ayana tampak sedikit ragu. Namun akhirnya anggukan kepala menjadi jawaban atas tawaran Tama.
“Satenya sate pentol, tahu, atau jamur?”
“Boleh semuanya nggak?”
Tawa Tama berderai. Ia pun tak kuasa untuk tak mengusap puncak kepala Ayana.
“Boleh.”
Tama pun mendahului untuk melangkah menuju penjual es tape. Lalu setelahnya laki-laki itu beralih ke pedagang pentol, tahu, dan jamur bakar.
“Terima kasih, Pak,” ucap Tama kala pedagang es tape mengantarkan pesanannya. Saat ini Tama dan Ayana duduk di tepi jalan, lebih tepatnya tepi tebing berupa semen.
“Rame, ya, Mas,” kata Ayana setelah mengedarkan pandangannya melihat sekeliling. Banyak pemuda atau pun pemudi, berpasang-pasang kekasih yang mengantre membeli aneka bakaran.
“View alam yang bagus, hawa yang segar, juga aneka jajanan yang dijual membuat banyak orang berkunjung ke sini, Dek,” sahut Tama.
Ayana mengangguk. Pacet memang terkenal. Terkenal dengan banyaknya wisata alam, baik pegunungan maupun indahnya tatanan area persawahan. Tak heran jika banyak pasangan kekasih atau pun keluarga yang menghabiskan waktu di Pacet.
“Wah es tapenya ada semacam lupisnya gini, ya, Mas. Kan biasanya lupis jadi satu sama cenil atau klamting,” kata Ayana takjub.
“Itulah bedanya es tape Pacet, Dek. Lupis ini,” sahut Tama.
Es tape tersebut berisi tape ketan hitam ditambah dengan potongan lupis. Di mana lupis adalah semacam lontong. Hanya saja lupis ini ukurannya lebih kecil. Juga dalam pembuatannya, tiap potong lupis dibatasi dengan potongan daun. Sehingga bentuknya menyerupai segitiga. Ada pula lupis yang bentuknya seperti lontong. Lupis yang dipotong seperti lontong. Bedanya, lupis ini dibuat dari beras ketan.
Ayana dan Tama menikmati segarnya es tape yang mampu membuat hangat karena hasil fermentasi dari ragi untuk pembuatan tape tersebut. Ditambah dengan sate bakar pentol, tahu bakso, dan jamur semakin membuat mereka semakin menikmati indahnya Pacet.
Perut terasa semakin kenyang karena aneka jajanan yang masuk ke lambung. Tama dan Ayana memutuskan untuk segera melanjutkan perjalanan karena kabut mulai menutupi kawasan bundaran Pacet. Hawa pun menjadi semakin dingin.