63 Jari-jari mungil Ayana menari di atas keyboard layar handphone-nya. Berulang kali ia mengetikkan nama Tama di pencarian akun i********:, tak kunjung ditemukannya akun Tama. “Apa Mas Tama nggak punya i********:?” monolog Ayana. Gadis itu tengah berbaring di atas pembaringan. Hidupnya akhir-akhir ini hanya dipenuhi dengan rebahan. Bimbingan skripsinya hanya dua kali seminggu. Terkadang hanya sekali. Inginnya ia pulang saja. Di sini ia hanya akan menghabiskan uang untuk biaya hidup, tetapi Abang menolak. Abang berkata lebih baik Ayana menunggu di Surabaya. Daripada nanti ia bolak-balik Surabaya yang akan membuat tubuhnya lelah. Apalagi terkadang Bu Puspa sering menjadwal ulang pelaksanaan bimbingan. Awalnya Ayana tidak paham dan merasa aneh dengan penolakan Abang. Membuatnya memik

