13. Semua Sayang Ayana

1641 Kata
“Gimana Nduk? Tadi seminarnya lancar?” tanya ibu Ayana melalui sambungan telepon. Ayana sebagai anak, ia tidak ingin menjadi kandidat anak durhaka. Setelah menuntaskan kewajibannya untuk sholat Isya, ia segera menghubungi nomor ibunya. “Alhamdulillah lancar, bu.” “Alhamdulillah. Gimana hasilnya tadi?” tanya ibu Ayana lagi. Ayana yang tadinya hanya duduk bersila akhirnya memilih menyadarkan punggungnya di tepi dipan. Ia juga meluruskan kakinya. “Alhamdulillah diterima dengan revisi, bu,” jawab Ayana dengan suara yang ia usahakan agar tidak sampai menangis. Jujur saja, ia ingin berkeluh kesah kepada ibunya tentang jalannya seminarnya tadi. Namun, setelah ia pikirkan matang-matang sejak sore, lebih baik ia tidak menceritakan secara detail. Ia takut jika ibunya bercerita kepada bapaknya dan membuat bapak semakin enggan menemuinya. Hatinya juga belum siap jika mendapatkan kata-kata pedas lagi dari bapak. Ibu Ayana di seberang sana mengucapkan rasa syukurnya. Kemudian mereka melanjutkan perbincangan tentang keseharian mereka masing-masing. Ayana merasakan kelegaan luar biasa karena ibunya tidak menuntutnya dengan pertanyaan yang mengarah pada jalannya seminar. Ayana merebahkan dirinya di atas kasur setelah selesai mematikan sambungan telepon dengan ibunya dan melipat mukenah. Ia mengamati langit-langit kamar kosnya yang dicat putih. Pikirannya kembali menerawang pada jalannya seminar tadi. Ayana menghembuskan napas besar. Di sisi lain ia merasa lega karena satu langkah telah ia lalui. Namun, masih banyak langkah yang harus ia jalani. Langkah-langkah itu tengah menunggunya dengan setia agar segera ia pijak. “Ay,” panggil seseorang dari balik pintu kamarnya. “Iya. Sebentar,” jawab Ayana. Ia segera bangkit dari rebahannya dan berjalan ke arah pintu. Ayana disambut dengan cengiran rasa bersalah dari Asti. “Masuk, As,” ajak Ayana. Asti melepaskan sandal japit Swallownya yang berwarna hitam. Kemudian ia memilih duduk lesehan di lantai kamar Ayana yang malam ini sangat berkilau. Sepulang dari kampus tadi, Ayana memang memilih menyibukkan diri dengan membersihkan kamar sebagai langkah mengusir segala pikirannya yang berkecamuk. Dan hasilnya adalah kamarnya yang bersih dan nyaman ditempati. “Sudah makan?” tanya Asti. Ayana menggeleng pelan. Ia memilih merebahkan diri di atas kasur. Terkesan tidak sopan karena Asti sebagai tamu duduk lesehan di lantai yang dingin sedangkan dirinya dengan santainya meluruskan punggung di kasur. “Duduk atas sini, As,” pinta Ayana. Ia merasa tak enak hati karena menyambut kedatangan Asti dengan merebahkan diri. Ia pun mendudukkan dirinya di atas kasur. Asti pun menjalankan ucapan Ayana. “Makan, yuk. Pesan online saja.” Ayana tampak mempertimbangkan tawaran Asti. “Gimana kalau kita beli makan di luar saja. Di depan gang. Sekalian aku pingin beli jus di belokan depan kampus. Kalau pesan online mahal. Uangku sudah banyak keluar untuk seminar hari ini,” ucap Ayana dengan nada yang cukup cepat. Untungnya Asti masih mampu menangkap perkataan apa yang diucapkan Ayana. “Boleh. Aku turun dulu ya. Mau pake jaket sama kerudung.” Asti pun beranjak. “Oke. Habis ini aku nyusul.” Ayana mengambil kardigan warna abu-abu yang ia gantung di belakang pintu. Kemudian kardigan itu ia kenakan untuk menutupi baju tidurnya yang berlengan pendek. Tak lupa, kerudung instan bergo warna hitam ia kenakan untuk menutupi kepalanya. Dompet yang dari tadi masih tersimpan dalam tas ia ambil. Dibukanya dompet itu dan diambilnya uang 20 ribu. Ah tidak, ia menambahkan lagi uang 10 ribu. Ia tidak yakin hanya akan membeli nasi dan jus. Melihat banyaknya pedagang di gang depan kos, ia pasti akan tergiur dan ingin membeli apa yang menarik perhatian lambungnya. Didukung dengan perutnya yang saat ini sedang kelaparan ia pasti ingin menambah asupan makanan. Ayana memastikan penampilannya pada cermin yang dipasang menempel langsung pada dinding. Ia memastikan kerudungnya presisi dan tidak ada sesuatu yang aneh pada wajahnya. Setelah dirasa semuanya tepat dan pas, Ayana melangkah keluar dari kamar. Menutup pintu kamar dan menguncinya. Mengunci kamar adalah peraturan dari ibu kos jika ingin keluar, bahkan jika hanya ingin mandi, kamar juga harus dikunci. Hal itu mungkin tampak berlebihan, tetapi hal itu memang dilakukan agar penghuni kos tetap merasa aman. Karena pernah terjadi satu kali pencurian oleh sesama penghuni kos ketika ada salah satu anak kos yang mandi. Maka mengantisipasi kejadian tersebut terulang, ibu kos membuat peraturan seperti itu. “As, ayo!” ajak Ayana. Ia sudah berada di lantai satu. Menunggu pada kursi kayu panjang yang diletakkan di tengah-tengah ruang lantai satu, tepat di hadapan televisi. Asti keluar dari kamar. Ia juga melakukan hal yang sama dengan Ayana, mengunci kamar kos. Mereka kemudian berjalan keluar dari rumah kos. Melewati gang kecil yang tampak masih ramai oleh warga yang sedang melakukan jagongan*. Ada pula, anak-anak yang bermain sepak bola di jalan sempit itu. Ada juga beberapa anak laki-laki yang sedang asyik dengan handphone-nya. Sepertinya sedang memainkan salah satu game online. Akhirnya nasi goreng Jawa menjadi pilihan makan malam mereka. Duduk di kursi plastik yang disediakan oleh bapak penjualnya, Asti dan Ayana saling berbincang sambil mengamati lalu lintas jalanan depan kampus di malam hari. Selalu ramai. Bahkan di jam-jam dan hari tertentu jalanan itu akan macet. “As, aku harus bagaimana ya?” tanya Ayana dengan wajah memandang kendaraan bermotor yang lewat silih berganti di hadapan mereka. Gerobak penjual nasi goreng yang memang berada di tepi jalan tepat, membuat mereka bisa bebas menikmati pemandangan kendaraan bermotor lewat. Bahkan jika ingin menyentuh kendaraan yang lewat pun bisa, jika memiliki nyawa 9 tentu saja. “Gimana apanya?” tanya Asti balik. “Ya masalah tadi.” “Ya sudah direvisi sesuai dengan permintaan dosen,” jawab Asti dengan ringan. “Ya jelas. Yang bikin nyesek itu ucapan Bu Wanti itu lho.” Mengingat hal itu membuat wajahnya murung. Ia menghembuskan napas lelah. Seperti baru saja melakukan pekerjaan dengan beban yang begitu berat. “Kamu kan tahu sendiri. Kamu juga anak kesayangan beliau. Seharusnya kamu hafal bagaimana beliau.” “Iya sih. Tapi tetap saja rasanya kayak menanggung beban berat.” “Ay, maaf ya. Maaf banget. Aku setelah ini akan mengucapkan perkataan yang mungkin saja bisa menyakiti perasaan kamu.” Ayana mengalihkan pandangannya penuh ke arah Asti. Ia dengan setia menanti kalimat apa yang akan diucapkan. “Kamu sadar nggak sih, seharusnya kamu bersyukur. Kenapa? Karena kamu sudah sampai pada titik ini. Sudah mencapai salah satu langkah untuk mendapatkan gelar. Coba lihat sekitar kamu, ada aku, Nia, Nugi, Fitri, dan Fina. Mereka semua belum melaksanakan seminar. Dan yang harus kamu ingat, bukankah memang tugas dosen penguji itu untuk menguji bagaimana kelayakan proposal dan produk skripsi kita? Iya kan?” tanya Asti memastikan. Ayana menganggukkan kepalanya paham. “Menurutku wajar saja Bu Wanti mengucapkan perkataan seperti itu, karena seperti yang kamu ceritakan kepada kita bahwa beliau seperti apa ke kamu. Beliau sesayang itu ke kamu. Maka beliau memberikan masukan seperti itu agar produk skripsi kamu menjadi produk yang baik dan layak untuk diaplikasikan pada siswa.” Asti berhenti sejenak. Ia mengamati raut muka Ayana. Ayana tampak antusias mendengarkan wejangannya. Sepertinya malam ini ia berubah menjadi seorang motivator. “Mungkin kamu masih terbebani dengan bapak yang masih belum mau berbincang denganmu sehingga membuat mata, hati, dan pikiran kamu tertutup sedikit kabut. So, please look at your circle. Jadi, ayo semangat lagi buat segera revisi agar kamu juga bisa segera kembali berbincang dengan bapak.” Ayana seketika segera melingkarkan lengannya pada bahu Asti, membuat Asti risih. Apalagi saat ini mereka sedang berada di tepi jalan yang membuat semua mata orang bisa saja melihat kelakuan absurd mereka berdua. Ayana melepaskan rangkulannya. Ia hanya memasang cengiran kecil. “Terima kasih ya, Asti. You are the best. And always be the best. Aku nggak nyangka kamu akan memberikanku kalimat penenang seperti itu di tepi jalan seperti ini,” ucap Ayana disertai dengan tawa kecil. Ia merasa bangga dan bahagia. Ia juga bersyukur memiliki sahabat yang selalu pengertian seperti Asti dan anggota Netizean yang lain. Maka nikmat Allah mana yang harus ia dustakan? “Kita mendapatkan pelajaran tidak hanya di kelas atau tempat indah saja, Ay. Ingat perkataan Ki Hadar Dewantara kan? Jadikan semua orang yang kita temui sebagai guru dan semua tempat yang kita pijaki sebagai sekolah. Agar apa sih sebenarnya? Agar kita selalu menyediakan gelas kosong. Tidak selalu merasa paling “iya” sendiri. Ada kalanya kita juga harus mampu menerima segala pembelajaran yang ada di depan mata. Mungkin kita tidak akan mengalami hal yang sama dengan yang orang lain alami, tetapi kita tentu bisa mengambil hal positif darinya kan?” Ayana mengangguk setuju. Ia terpesona akan ucapan yang keluar dari bibir Asti. Tidak biasanya Asti menjadi bijak dalam sekejap. Namun tentu hal yang harus ia lakukan saat ini adalah bersyukur. “Mbak, pesanannya!” seru bapak penjual nasi goreng. Ayana mengambil kresek putih kecil yang berisi dua bungkus nasi goreng dan membayar sesuai dengan nominal yang disebutkan. Kemudian mereka meninggalkan gerobak nasi goreng tersebut. Menyeberang jalan, setelahnya mereka berjalan di tepi jalan untuk menuju gerobak penjual jus. Ayana memesan jus strawberry dan Asti memesan jus semangka. Menunggu kurang lebih 10 menit, akhirnya pesanan mereka sudah berada dalam genggaman. “Jadi beli camilan?” tanya Asti dalam perjalanan mereka kembali menuju kos. “Enggak deh. Makan nasi dan minum jus sudah cukup untuk mengisi perut. Lagian sudah malam. Nggak baik jika harus mengonsumsi terlalu banyak makanan.” “Oke deh.” Mereka melanjutkan perjalanan kembali ke kos dengan berjalan bersisian. Hingga mereka kembali ke kos pun, jalan masih dipadati oleh berbagai kendaraan bermotor yang lewat. Memang Surabaya tidak akan pernah sepi. Dan di malam ini, Ayana bersyukur atas segala nikmat Allah yang diberikan padanya. Ia hanya hamba yang mudah mengeluh, tetapi Allah tetap memberikan banyak hal-hal luar biasa untuk hidupnya. Ia dapat melaksanakan seminar proposal di waktu yang tepat menurut-Nya, ia mempunyai sahabat-sahabat yang luar biasa, dan ia memiliki teman-teman yang peduli padanya seperti tadi pagi yang dengan rela menunggu ia menyelesaikan seminar hanya sekedar untuk memberikan hadiah dan berfoto. Catatan: Jagongan (Bahasa Jawa) adalah suatu kegiatan dimana sekumpulan orang berbincang yang disertai dengan candaan. Biasanya dilakukan oleh bapak-bapak atau laki-laki yang melakukan kegiatan ronda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN