Tama sedang fokus memperhatikan detail desain yang ada pada PC-nya. Hingga suara Pak Abdul membuatnya menghentikan aktivitasnya itu.
“Kurang apanya, Tam?” tanya Pak Abdul.
Tama segera berdiri dari duduknya. Mempersilakan Pak Abdul untuk duduk di kursinya. Setelah Pak Abdul duduk pada kursinya, ia segera menjelaskan beberapa hal yang sedang ia kerjakan.
“Oke. Bagus. Tingkatkan kinerjamu ya. Jika nanti ini sukses, maka akan banyak klien yang datang ke biro kita karena Kedai DnA memiliki banyak mitra,” ucap Pak Abdul.
“Iya, Pak."
“Oke. Kalau begitu lanjutkan. Semakin cepat semuanya selesai maka mereka akan semakin percaya dengan kita.”
“Baik, Pak,” jawab Tama patuh.
“Jika nanti sudah selesai segera hubungi Ayunda agar kita bisa segera menjadwalkan waktu untuk bertemu dengan DnA.”
“Siap, Pak.”
Pak Abdul menepuk bahu Tama pelan, kemudian ia beranjak meninggalkan pegawai kebanggaannya itu. Sejak Tama bergabung dengan bironya, semakin banyak klien yang datang. Berkat ide dan kemampuan Tama dalam menuangkan desain yang ciamik, membuatnya selalu terpukau dan tidak menyesal karena menerima Tama sebagai pegawainya.
Setelah Pak Abdul hengkang dari ruang kerja, Yanuar pun menggeser kursinya mendekat ke arah Tama. Ia adalah manusia kepo sehingga ia selalu menuntaskan kekepoannya itu sebelum benaknya dipenuhi dengan praduga.
“Ngapain Pak Abdul?”
Tama sudah kembali fokus pada layar PC di hadapannya. “Menanyakan progres,” jawab Tama pendek.
Yanuar mengangguk-angguk. “Anak emas memang selalu bisa diandalkan,” komentar Yanuar.
Tama hanya mendengarkan ucapan Yanuar tanpa berminat membalasnya. Lagi pula ia juga kurang setuju dengan sebutan Yanuar yang disematkan padanya. Ia merasa bahwa dirinya sama dengan pegawai lainnya. Semuanya istimewa di bidangnya masing-masing.
“Mas Tama,” panggil Aini.
Tama dan Yanuar menoleh ke Aini. Sejak kejadian tempo hari, Yanuar masih belum bisa kembali seperti awal-awal dulu kepada Aini. Aini tiba-tiba seperti sedang membangun benteng. Membuat Yanuar lebih menjaga sikap juga ucapan.
“Kenapa?” tanya Tama dengan memandang penuh ke arah Aini.
“Ehm, itu. Mas Tama ada waktu nggak?” tanya Aini dengan suara pelan.
Alis Tama seketika menyatu. “Buat apa?”
Yanuar yang berada di antara mereka hanya menjadi tim penyimak. Ia merasa seperti seonggok batu yang sedang menjadi saksi suatu perbincangan manusia.
“Buat ngajarin aku desain,” cicit Aini.
Dahi Tama mengkerut. Alisnya pun menyatu. Ia merasa gagal paham terhadap ucapan Aini.
“Biar aku bisa desain lebih bagus begitu, Mas,” jelas Aini ketika melihat wajah Tama yang terlihat kebingungan.
“Kenapa nggak ke Yanuar saja? Dia juga ahli desain,” saran Tama. Ia memandang ke arah Yanuar dan mereka saling melempar mata, bertanya ada apa dengan Aini.
Tama melemparkan Yanuar sebagai umpan. Ia berniat mendekatkan hubungan mereka kembali. Kenapa ia jadi peduli ke orang lain sekarang?
“Ehm,” gumam Aini.
Aini menjadi bingung sendiri. Ia hendak menolak dengan alasan bahwa Tama tampak terlihat lebih ahli, tetapi ia tidak enak hati kepada Yanuar. Ia takut Yanuar tersinggung akan ucapannya.
“Dengan Yanuar saja ya? Bukannya aku nolak, tapi aku tidak yakin bisa memberikan pemahaman yang maksimal. Aku nggak ahli berkata-kata atau menjelaskan sesuatu,” jelas Tama dengan alasan yang ia buat semeyakinkan mungkin.
Aini ingin menyanggah hal tersebut. Ia tahu bahwa Tama mampu menjelaskan sesuatu secara gamblang, apik, runtut, dan mudah dipahami. Setiap rapat dengan klien di mana Tama yang presentasi, maka semua mata audiens akan memandang penuh ke arahnya.
Dari penolakan Tama tersebut, Aini dapat menyimpulkan bahwa Tama memang tidak bersedia mengajarkannya. Entah apa pun alasannya. Ia pun tidak tahu.
“Gimana, Jan? Kamu mau kan?” tanya Tama kepada Yanuar.
“Ya terserah Aini saja,” sahut Yanuar.
“Gimana, Ai?”
“Ehm, iya deh, Mas.”
“Ya sudah kalian bisa melanjutkan perbincangan itu di meja lain ya. Aku mau lanjut dengan kerjaanku.”
Tanpa menunggu respons dari Yanuar dan Aini, Tama sudah kembali menghadap ke arah PC-nya. Ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya saat ini. Jika semuanya rampung lebih cepat, maka ia bisa mendapatkan jatah libur lebih awal. Dirinya sudah sangat merindukan liburan. Entah kemana pun, asal ia merasa fresh kembali.
Yanuar dan Aini tampak canggung. Yanuar ingin memulai pembicaraan pun harus berpikir berulang kali. Hati dan pikirannya sedang berontak. Haruskah ia memulai pembicaraan atau langsung berjalan ke arah meja besar.
“Ehm, kita ke meja besar saja, Ai,” ajak Yanuar setelah berpikir selama beberapa waktu.
Aini mengangguk. Ia mengikuti langkah Yanuar yang berjalan ke arah meja besar. Tama yang mendengar hal itu pun menghembuskan napas lega. Sejujurnya bisa saja ia menerima permintaan Aini, tetapi entah bagaimana, hatinya menolak permintaan itu. Ia tidak ingin menciptakan sesuatu yang bahkan belum dimulai.
***
“Sudah kamu siapkan semuanya, Tam?” tanya Pak Abdul memastikan. Sudah berulang kali menanyakan hal tersebut, dan jawaban Tama tetap sama bahwa ia sudah menyiapkan semua keperluan untuk rapat terakhir dengan Kedai DnA sebelum pembangunan kedai cabang dimulai.
“Oke. Good. Pertahankan kemampuanmu ini. Ambil semua kesempatan yang ada di depan mata,” nasihatnya.
Tama mengangguk. Ia menanamkan dalam diri agar dapat menjalankan semua nasihat itu. Terkesan egois dan ingin menang sendiri, tetapi Tama tetap menjadi Tama yang memiliki ambisi besar dalam urusan pekerjaan. Hal yang selalu ia tekankan adalah tetap bekerja sebaik dan semaksimal mungkin dalam mengejar ambisinya itu, tidak perlu berbuat curang.
Pak Abdul mengajak Tama untuk segera berangkat menuju Kedai DnA, diikuti dengan Yanuar yang direkomendasikan akan menjadi manajer proyek nanti.
“Terima kasih kami ucapkan kepada Pak Abdul dan rekan-rekan dari Biro Architecta karena telah hadir dalam rapat finishing design cabang Kedai DnA,” ucap manajer Kedai DnA.
Kemudian dilanjutkan dengan beberapa ucapan-ucapan singkat sebelum masuk pada acara inti.
“Terima kasih saya ucapkan kepada pihak Kedai DnA yang telah memilih dan memberikan kepercayaan kepada biro kami untuk mendesain serta bertanggung jawab terhadap pembukaan cabang kedainya nanti,” ucap Tama dengan pandangannya yang tegas ke arah seluruh peserta rapat.
“Desain yang saat ini saya bawa, 75% sama dengan desain pada rapat sebelumnya. Untuk 25% yang lain saya ubah pada beberapa bagian. Jadi saya mulai dari area out door. Tema yang digunakan adalah tema gurun, di mana pada beberapa titik dapat ditanami kaktus besar kemudian untuk lantainya saya desain dengan kotak-kotak yang saling berseling yaitu satu kotak diberikan dengan batu warna putih kemudian kotak sebelahnya berupa keramik dengan tekstur kasar yang berunsur bebatuan kerikil.”
Tama menunjukkan beberapa titik yang akan ditanami kaktus. Ia juga menunjukkan gambar kaktus jenis apa yang paling tepat ditanam pada tema gurun yang ia angkat. Dan tak lupa ia juga menunjukkan batu putih serta keramik yang ia maksud.
Tama melanjutkan presentasi desainnya. “Memang terkesan sama dengan desain-desain kafe saat ini yang sedang booming. Akan tetapi, saya juga menawarkan pada beberapa sisi untuk dikonsep dengan tema musim semi, dengan banyaknya berbagai bunga.”
Tama menunjukkan sisi yang hendak dipilih untuk ditanami bunga. “Pada sisi ini, kita tanam bunga krokot. Kemudian sisi sebelahnya kita tanami dengan tanaman aglonema yang saat ini sedang viral dan banyak peminatnya baik dari kalangan muda hingga tua. Dan sisi paling ujung sini kita tanami dengan tumbuhan calathea motif abu-abu yang berukuran 50 cm-100 cm.”
Hingga waktu berjalan kurang lebih satu jam, Tama baru selesai menjelaskan semua desain dari tiap bagian ruang.
“As always, you did a good job, Tam,” puji Pak Abdul kala mereka baru saja keluar dari ruang rapat Kedai DnA.
Tama membalas pujian itu hanya dengan senyuman kecil. Ia berusaha menjadi seseorang yang tidak mudah besar kepala terhadap suatu pujian yang disematkan padanya.
“Kamu sudah punya pacar, Tam?”
Pertanyaan yang terlontar ringan dari bibir Pak Abdul membuat Tama seketika mengernyit. Tumben sekali Pak Abdul mengajaknya berbicara hal di luar pekerjaan. Topik bahasan yang sangat tiba-tiba dan melenceng jauh dari pekerjaan.
“Ehm, kenapa memangnya, Pak?” tanya Tama akhirnya dengan tetap santun.
“Nggak papa. Kalau kamu masih single saya bisa kenalkan kamu ke keponakan saya,” tawar Pak Abdul.
Ia melihat potensi dalam diri Tama yang bagus. Tidak ada salahnya jika ia menawarkan ponakannya untuk menjalin hubungan bersama Tama. Masa depan Tama cerah dengan segala skill yang ia miliki, kehidupan keponakannya tentu dapat terjamin. Seandainya ia memiliki anak seumuran dengan Tama, dengan ringan hati akan ia jodohkan sang anak dengan Tama. Sayangnya, putrinya baru saja menginjak kelas 8 SMP. Ia bukan orang tua yang tega menjodohkan anaknya jika rentang usianya terlampau jauh. Dan ia juga menolak dengan tegas untuk menjdohkan anaknya jika sang anak belum cukup umur untuk menikah.
Tama hanya memasang senyum kakunya atas tawaran Pak Abdul.
“Mohon maaf Pak, tapi saya belum memikirkan hal tersebut,” tolak Tama halus. Ia tidak ingin Pak Abdul menganggap senyumnya sebagai penerimaan atas tawaran yang diberikan.
Pak Abdul hanya menganggukkan kepalanya.
“Tapi kamu jangan menunda terlalu lama untuk tidak memikirkan tentang jodoh, Tam. Kasihan jodoh kamu nanti jika tidak segera kamu jemput,” canda Pak Abdul.
Tama hanya kembali memasang senyum kaku dan mengangguk kecil. Ia masih heran dengan ucapan Pak Abdul yang random kali ini.
Sedangkan Yanuar yang berjalan di belakang mereka berdua berusaha menahan tawanya. Baginya, tawaran Pak Abdul pada Tama adalah sesuatu yang menarik. Dan bisa-bisanya Pak Abdul menawarkan keponakannya kepada seorang Tama yang begitu irit bicara itu.
“Kenapa kayak nahan tawa gitu?” tanya Tama dengan pandangan sinis ke arah Yanuar saat mereka duduk di salah satu meja untuk menyantap makan siang yang disuguhkan pihak DnA.
Yanuar pun akhirnya meledakkan tawanya. Tawa yang ia simpan dari tadi melesat dengan kuat dan cukup membuat banyak orang memandang aneh ke arahnya.
Tama pun menyesal karena baru saja bertanya kepada Yanuar. Ah, sepertinya Yanuar memang selalu bahagia dengan cerita hidupnya.
Tama acuh. Ia memilih menyantap menu makan siang dengan khidmat. Ia tidak peduli dengan tawa menjengkelkan Yanuar. Ia berusaha bodoh amat. Menyuap nasi dengan lauk ayam kecap, capjay, sop jamur, serta kerupuk lebih menggugah seleranya dari pada mempedulikan Yanuar yang masih tertawa tak henti-henti.
“Ketawa aja terus sampai pita suaramu habis,” sindir Tama karena kesal dengan ulah Yanuar.
“Pak Abdul bahkan sangat peduli padamu, Tam. Keponakannya saja sampai ditawarkan padamu. Mungkin untuk menyadarkan kamu agar tidak terlalu fokus bekerja. Jodoh juga harus dipikirkan,” ucap Yanuar setelah berhasil menetralkan tawa yang susah sekali ia ajak kompromi.
Tama hanya mendengus. Ia belum berpikir masalah jodoh. Ia masih merasa bahwa saat ini fokusnya adalah bekerja. Usianya juga belum setua itu untuk berpikir tentang jodoh. Apalagi bundanya juga tidak pernah mendesaknya untuk terburu-buru mengenalkan seorang perempuan padanya.
“Atau jangan-jangan kamu memikirkan perempuan yang di kampus Surabaya itu? Yang dipanggil dengan Ay oleh teman-temannya,” celetuk Yanuar. Entah bagaimana Yanuar bisa mengingat dengan detail tentang perempuan itu.
Celetukan itu berhasil membuatnya tersedak. Kerja otaknya pun memutar akan dua kali pertemuan mereka yang terjadi. Bukan pertemuan. Tetapi sebuah kebetulan di mana Tama yang dua kali melihat keberadaan gadis itu.