15. Bestfriend

1582 Kata
Nyatanya Ayana hanya mampu bertahan beberapa waktu setelah mendapatkan suntikan motivasi dari Asti. Ia adalah hamba-Nya yang lemah. Ia merasa benar-benar di ujung jurang. Berada di ambang batas yang menakutkan. Setiap ia membuka laptop untuk mengerjakan revisi proposal. Ia rasanya ingin muntah saking banyaknya revisi terutama pada produk skripsinya. Sedangkan untuk proposal ia hanya merasa pusing karena bingung harus bagaimana lagi agar semuanya dapat sesuai dengan harapan dosen. “Kamu kenapa, Ay? Nggak tidur tadi malam?” tanya Fina karena melihat adanya kantung mata yang terbentuk pada bawah kelopak mata Ayana. Saat ini mereka sedang berada di gazebo fakultas untuk menunggu anggota Netizean lain datang. Mereka ada janji untuk makan siang di food court kampus. Dan anggota Netizean sedang sibuk bimbingan dengan dosen pembimbing masing-masing. Hanya Ayana dan Fina yang sedang kosong dari jadwal itu. “Iya. Otakku seperti kupaksa bekerja keras untuk memikirkan bagaimana revisi skripsi yang harus kulakukan. Harus dari mana aku memulai revisi itu. Rasanya kepalaku ingin pecah,” ucap Ayana dengan nadanya yang lesu. Ia lelah sebenarnya dengan semua ini. Namun, menyerah di tengah jalan juga bukan solusi terbaik. Ya Allah, mengejar gelar sarjana saja begini prosesnya ya. Jerit hati Ayana. “Dimulai dari bab satu dulu. Pelan-pelan, Ay. Kalau kamu merasa tertekan sebelum kamu membaca revisi yang diharapkan dosen malah nggak kelar-kelar. Terus kamu nggak bisa segera validasi produk, ambil data, dan ujungnya sidangnya entah kapan,” ujar Fina yang mampu menohok pikiran dan kecemasan yang ia rasakan. Ayana menghembuskan napasnya perlahan. “Benar sih, Fin. Tapi ya kamu tahu sendiri, terkadang melakukan apa yang ada dalam kata-kata motivasi itu tidak mudah.” “Ya nggak mudah karena hati kamu masih bandel. Hati kamu nggak mau diajak kerja sama buat bangkit,” sekak Fina tajam. Ia berucap dengan intonasi yang santai. Namun ucapan itu benar-benar menusuk kunci ketakutan tepat pada hatinya. Ayana diam. Ia mencerna semua apa yang baru saja didengarkan gendang telinganya. Menyalurkan ke arah otak dan hatinya agar bekerja secara sinkron. “Kata-kataku kejam ya, Ay?” tanya Fina dengan wajah santainya. Fina memang orang paling santai di antara Netizean yang lain. Datang pada jam-jam kuliah yang mepet pun ia santai, tidak pernah tampak terburu-buru sedikit pun. Membuat sel-selnya bekerja dengan tenang, tidak membuat selnya cepat mati dan berefek buruk pada tubuh—keriput misalnya. “Iya, sih. Tapi memang benar apa yang kamu ucapkan,” jawab Ayana membenarkan. Mereka kemudian melanjutkan pembicaraan pada topik yang lain. Skripsi sudah sejenak dilupakan. “Ke Kodam enak deh kayaknya malam ini,” celetuk Ayana. Ia baru saja melihat stasus WA salah satu temannya. “Kapan?” tanya Fina. “Aku malam ini free, nggak ada jadwal ngisi bimbel,” lanjut Fina. “Coba nanti kita tanyakan ke yang lain.” Fina menyetujui. Getaran handphone pada ransel Fina membuat obrolan mereka terhenti sejenak. Merogohkan tangannya pada ransel, Fina berhasil menemukan ponsel pintarnya. “Ayah,” gumam Fina. Fina kemudian terlibat perbincangan dengan ayahnya. Ayana pun memilih kembali melihat status WA yang berseliweran pada handphone-nya. “Anak-anak masih lama ya?” Ayana yang tadi masih fokus dengan aktivitas bersosial media pun mendongakkan kepalanya. Menyimpan handphone-nya kembali ke dalam saku bagian dalam ranselnya. “Entahlah. Barusan ku cek grup juga masih sepi. Belum ada kabar mereka sudah selesai bimbingan atau belum. Kamu sudah lapar?” “Lumayan sih. Tapi aku bawa roti kok ini.” Fina membuka ranselnya. Mengubek-ubek ransel untuk mencari kotak makan Tupperware-nya yang berwarna oranye. “Ayana pasti mau kan?” “Ya jelaslah.” Ayana tidak mungkin menolak makanan gratis. Bagi mahasiswa rantau sepertinya, mendapatkan makanan gratis adalah surga dunia. Dompet akan terselamatkan, sehingga di akhir bulan tidak akan kelimpungan masalah makan. Ayana menerima setangkup roti yang didalamnya diberikan kental manis rasa cokelat. Roti itu cukup untuk mengganjal perutnya hingga sahabatnya yang lain selesai dengan bimbingannya. “Mau dong,” sahut sebuah suara yang datang menghampiri Fina dan Ayana. Ayana mengangsurkan sisa roti yang ia gigit ke arah Nia. Biasanya sama seperti dirinya, Nia belum sarapan. Anak kos memang sangat jarang sarapan kecuali jika memang pembelajaran dimulai lebih siang atau ketika hari libur. Setelah menandaskan rotinya, Nia mengambil botol yang ia simpan pada saku tas samping. Ayana mengulurkan tangannya, berniat meminta. Dan setelah menerima botol itu, Ayana pun meneguk beberapa tegukan air. Memang Netizean ahlinya dalam meminta antarsatu dengan yang lainnya. “Arek-arek masih lama ya?” tanya Nia. Pertanyaan yang sama dengan yang diajukan oleh Fina. Ayana mengedikkan bahunya pertanda tidak tahu. “Nggak tahu. Terakhir lihat grup WA belum ada tanda-tanda chat dari mereka,” jawab Fina. Nia hanya mengangguk. Ia ikut bergabung duduk dengan Ayana dan Fina. Dan setelah tubuh Nia sudah melekat pada dudukan gazebo, dimulailah ceritanya. Ia menceritakan segala proses bimbingannya hari ini. “Aku tadi ditanyai siap apa ndak kalau misalkan minggu depan maju buat seminar. Ya aku jawab belum siap sambil cengengesan. Ya gilak ae misal aku seminar secepat itu. Aku belum siap. Terus beliau tanya aku maunya kapan, kalau minggu depannya lagi gimana. Ya sudah aku mengangguk dengan pasrah. Jadi aku weekend ini nggak pulang dulu, mau menyelesaikan semuanya. Baru setelah seminar nanti aku pulang,” ucap Nia dengan menggebu. “Alhamdulillah dong akhirnya maju seminar. Biar kita bisa lulus barengan. Wisuda bareng juga,” sahut Ayana. “Nanti kalau butuh teman di kos, biar aku ke kos kamu. Aku kan juga gak pulang.” “Bener. Alhamdulillah. Aku minggu depan mau seminar, lho” seru Fina dengan santai. Dan kalimat yang baru saja keluar dari mulut Fina berhasil menciptakan kegaduhan di gazebo itu. “He! Kamu kok nggak bilang-bilang. Konco macam apa kamu itu?” seru Nia dengan hebohnya. Suaranya cukup mampu membuat banyak pasang mata memandang ke arah gazebo. “Ih, Fina!” teriak Ayana. “Husst. Kalian itu. Dilihatin banyak orang tahu,” jawab Fina dengan tenang. “Salahmu ngasih informasi modelannya kayak gini. Ya ampun, seandainya aku nggak cerita, mungkin kamu akan membuat semuanya menjadi shock minggu depan.” “Ya enggak. Kan dosen-dosen sudah tahu. Aku juga ngasih tahu ke temen-temen satu bimbingan kok.” “Pinter banget kalau disuruh ngeles ya. Netizean seharusnya diberi tahu lebih awal. Eh bisanya malah di akhir-akhir kayak gini,” protes Ayana. Fina pun hanya memasang cengirannya. “Santai dong. Aku saja santai lho. Kok kalian yang heboh.” Dan Fina kembali mendapatkan protesan dari Ayana dan Nia. Memang urusan santai dan tenang, Finalah ratunya. “Kalian ini bikin heboh tahu nggak,” peringat Fitri yang baru saja bergabung. “Lha gimana nggak heboh, temen kamu minggu depan mau sempro-seminar proposal, tapi nggak ngasih tahu. Barusan ngasih tahunya,” lapor Nia. “Lho? Iya, Fin? Wah, main rahasia sekarang,” komentar Fitri yang ikut bergabung duduk. “Iya tahu tuh.” “Apa se, Rek? Asti ke mana, Fit?” tanya Fina mengalihkan topik. “Masih ketemu sama temennya anak matematika. Tadi Rahma perasaan sudah ke sini deh.” “Kayak gak tahu adek saja, dia pasti berhenti untuk ngobrol saat ketemu siapa pun yang ada di jalan,” jawab Ayana. “Bener. Dia kan memang gitu. Nggak enakan sama orang. Kalau kita kan hanya sekedar menyapa saja sudah cukup. Kalau dia, pasti ada saja hal yang akan dibicarakan.” Nia memulai perghibahannya. Fitri dan Fina pun hanya tertawa. Mereka sudah hapal betul dengan kelakuan dan kebiasaan dari masing-masing Netizean. “Akhirnya lengkap sudah deh,” ujar Nia saat melihat ketiga temannya melangkah menuju ke arah gazebo. “Lama banget, sih.” “Antri, bos,” jawab Nugi dengan gayanya yang santai. Yang dimaksud dengan antri adalah biasanya terdapat beberapa dosen yang memang mengadakan bimbingan secara berkelompok. Kemudian mahasiswa akan duduk di kursi tunggu depan ruang dosen dan menunggu untuk dipanggil satu per satu. “Ya sudah, ayo kita ke food court,” seru Nia. Ia sudah tidak mampu lagi menahan rasa lapar. “Belum juga duduk, Ni. Duduk dululah lima atau 10 menit,” saran Asti. Wajahnya tampak lesu. Mungkin ia lelah karena harus berjalan dari gedung fakultas menuju ke gazebo fakultas. Nia pun kembali mendudukkan dirinya. Ia minum air dalam botolnya untuk menahan rasa laparnya kembali. “Fina mau sempro minggu depan lho,” ucap Fitri kembali mengangkat pembicaraan yang tadi telah dialihkan oleh Fina. “Fina!” “Lho, beb. Kok nggak bilang-bilang.” “Fina iki diam-diam bae.” Komentar saling bersahut-sahutan. Fina hanya memasang senyumnya. Membuat semuanya gemas dan juga sedikit jengkel dalam satu waktu bersamaan. “Apa tho rek? Doakan dong. Jangan malah pasang wajah ganas gitu.” “Lha kamu salah karena baru ngasih tahu mendadak,” cerca Fitri. “Lho? Yang penting kan aku sudah ngasih tahu.” Dengan ringan sekali Fina berucap seperti itu. Nia pun dengan teganya mencubit pipi tembam Fina. Ia juga merangkul erat bahu Fina hingga Fina mulai merasa sesak. Sedangkan yang lain hanya geleng-geleng kepala dan tertawa melihat kelakuan Nia. “Sudah. Ayo kita ke food court.” Saat ini giliran Asti yang mengajak. Ia sudah mulai sedikit bertenaga kembali setelah meminta seteguk air dari Rahma. Ucapan Asti berhasil membuat Nia melepaskan Fina yang tadi sedikit ia siksa dalam balutan pelukan. Bukan menyiksa sungguhan, hanya sedikit memberikan rasa sayang karena Fina begitu tega membiarkan Netizean tahu jadwal sempronya yang paling akhir. Rombongan Netizean Budiman akhirnya mulai berdiri dari duduknya. Berjalan perlahan meninggalkan gazebo. Melanjutkan langkah ke koridor dan berjalan menuju tepi danau buatan. Dalam langkah mereka, mereka pun tidak berhenti mengobrol ke sana kemari. Masih banyak saja topik bahasan yang keluar dari bibir. Tidak ada habisnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN