16. Rencana Mendaki 1

1567 Kata
“Mas Tama,” panggil Ayunda saat Tama hendak menuju mushola kantor untuk melaksanakan sholat Dhuhur. Tama berhenti sejenak dari langkahnya. Ia memandang ke arah Ayunda. “Kenapa, Nda?” Ayunda sempat akan dipanggil dengan panggilan “Ay” kala pertama kali bergabung dengan biro Architecta, tetapi karena ada Aini yang sudah dipanggil dengan Ai, membuat Ayunda sering dipanggil Yunda atau Nda untuk membedakan panggilan kedua perempuan itu. “Maaf tadi Ayunda lupa menyampaikan informasi dari Pak Abdul. Beliau tadi berpesan, jika Mas Tama ingin berlibur, Pak Abdul memberikan jatah libur satu minggu,” ucap Ayunda. Tama menganggukkan kepalanya. “Ehm, aku pikirkan dulu ya mau kuambil kapan jatah liburnya,” balas Tama. Pak Abdul kenapa harus buru-buru sekali mengatur jadwal liburku. Heran Tama. “Oke, Mas. Seperti biasanya ya, nanti sampeyan* bilang ke aku. Jangan mendadak lho, mas. Takutnya ada klien yang mau kerja sama,” pesan Ayunda. (kamu) “Bisa diatur.” “Sip deh. Ya sudah. Itu saja tadi pesan dari Pak Abdul, Mas.” Tama kembali mengangguk. “Terima kasih, Nda.” “Siap. Sama-sama, Mas.” Tama kembali melanjutkan langkahnya menuju mushola. Sedangkan Ayunda berjalan kembali masuk ke dalam kantor karena ia baru saja kembali dari mushola. “Nyasar ke mana, Tam?” tanya Yanuar. “Lama banget,” protesnya. Ia tadi pergi lebih dulu ke mushola. Dan Tama berkata akan menyusul setelah menyelesaikan sedikit desain finishing Kedai DnA. “Cerewet,” balas Tama dengan nada tajam. Yanuar sih bodoh amat. Ia tidak akan sakit hati dengan kata-kata yang keluar dari bibir Tama. Menurutnya kata-kata Tama tidak ada yang menyakiti hatinya. Ia hanya sedikit sakit hati—kesal—ketika diabaikan oleh Tama—dalam artian saat ia telah berbicara panjang lebar dan hanya mendapatkan respons yang sangat singkat dan pendek dari Tama. Yanuar membalasnya dengan dengusan. Memang jika manusia sudah terbiasa berbicara singkat, akan susah untuk memaksanya mau berbicara panjang dan lebar. Mereka kemudian berjalan ke arah tempat wudhu pria. Dan setelahnya melaksanakan sholat Dhuhur secara berjamaah. *** “Kamu tidak ingin mengambil jatah liburmu, Tam?” tanya Pak Abdul dalam perjalanan mereka kembali ke biro setelah bertemu dengan manajer dan owner Kedai DnA untuk membahas tanggal dimulainya pembangunan cabang kedai. “Bapak ingin saya tidak di kantor ya?” tanya Tama balik. Padahal baru beberapa hari lalu Ayunda mengingatkannya, dan sekarang Pak Abdul sudah mengejar-ngejarnya menanyakan hal ini lagi. “Ya, enggak. Kalau kamu ambil libur kan pikiran kamu lebih tenang dan segar kembali. Dan setelah liburan biasanya kamu memiliki ide yang baru. Ide yang semakin kreatif dan inovatif. Makanya saya memburu-burui kamu untuk mengambil libur agar kamu bisa mencetak desain terbaru nantinya,” jelas Pak Abdul. “Karena pertengahan bulan depan akan ada proyek pembangunan jembatan di daerah Arjuna sana.” Jiwa bisnis yang mulai melekat pada diri seseorang memang akan susah jika sesuatu hal tidak disangkut pautkan dengan keuntungan. Pak Abdul salah satunya. Ia tidak ingin menyia-nyiakan potensi yang dimiliki oleh anak buahnya, maka apa pun akan ia berikan asal mampu menghasilkan nilai jual desain yang tinggi. “Saya belum ada tujuan tempat liburan, Pak. Jika saya paksakan berlibur dan akhirnya hanya berdiam diri di rumah, saya malah stres nantinya. Saya mudah bosan jika di dalam ruangan soalnya.” Tama berusaha menjelaskan alasannya mengapa belum juga mengambil jatah liburnya. Jika ia sudah mendapatkan tempat yang dituju terutama yang berkaitan dengan alam, ia akan dengan cepat mengurus jatah liburnya. “Ehm. Ya sudah. Jika sudah ada agenda, jangan sungkan-sungkan untuk segera ambil jatah liburmu. Saya juga tidak akan tega membiarkan kamu terus bekerja keras demi proyek.” “Lagi pula, kamu kan sedang tidak ada target urgent dalam bekerja ini, misalnya istri. Maka jangan forsir diri kamu terlalu dalam. Jika sakit nanti kamu baru menyesal karena memaksakan tubuhmu,” pesan Pak Abdul dengan sedikit sindiran akan status jomblo—ah single, yang melekat pada dirinya. Meskipun ujung-ujungnya tetap mengarah pada masalah pekerjaan. “Iya, Pak,” jawab Tama singkat. Sabar, Tam. Ucapan Pak Abdul memang benar, bahwa kamu masih sendiri. Oke. Sekarang pikirannya sedang tidak berat untuk memikirkan desain baru, tetapi memikirkan ke mana ia harus berlibur kali ini agar Pak Abdul dan Ayunda tidak menerornya terus. *** “Bun.. Bunda nggak pingin liburan?” tanya Tama. Saat ini, ia dan bundanya sedang berada di ruang tengah. Bundanya sedang fokus menonton salah satu sinetron yang digemari oleh para ibu-ibu se-Indonesia. “Tumben kamu menanyakan hal seperti ini. Kenapa? Mau ngajak bunda berlibur?” tanya bundanya balik. “Tama diminta sama Pak Abdul untuk liburan satu minggu. Katanya biar pikiran Tama kembali fresh dan mampu menuangkan ide-ide cemerlang.” “Wah, secara tidak langsung Pak Abdul ini mempekerjakan kamu untuk terus menaikkan profit kantor ya. Kasihan banget anak bunda. Tapi di sisi lain bunda juga bangga karena kamu menjadi salah satu penyumbang profit perusahaan. Jadi teman-temannya bisa mendapatkan gajinya tepat waktu.” “Ya pemilik perusahaan mana sih bun yang nggak kayak gitu? Pasti ujung-ujungnya kan ke arah uang. Apalagi sebagai pemilik biro, Pak Abdul pasti juga stres memikirkan cara agar biro kita semakin dikenal banyak orang.” “Bener juga. Apalagi kantor kamu kan memang menyediakan jasa. Jadi ya mau nggak mau harus selalu update ide dan kreatifitas.” “Lagi pula ini kan memang sesuai dengan passion Tama, Bun. Jadi Tama sama sekali nggak keberatan. Enjoy saja menjalani pekerjaan selama ini.” “Alhamdulillah. Terus usaha kamu yang lewat sosial media masih jalan?” “Masih, Bun. Setidaknya satu bulan ada satu atau dua pesenan. Itu sudah cukup banget buat Tama. Kalau terlalu banyak yang pesan, Tama sendiri yang kewalahan nanti. Pekerjaan di kantor sudah cukup berat.” “Coba ajak temen kamu lho, Bang. Kan kamu jadi menciptakan lapangan kerja tho. Siapa tahu nanti kamu bisa bangun biro sendiri.” “Ehm. Kayaknya boleh deh, Bun. Gaji dari web dan sosial media kan juga lumayan. Jika dibagi dengan satu orang lain kayaknya nggak masalah.” Bunda Tama mengangguk. Ia tersenyum bangga pada putranya. “Sip. Dengan kamu merekrut orang baru, sama saja seperti kamu membantu orang lain. Secara tidak langsung, kamu yang Allah pilih sebagai jalur rejeki orang tersebut.” Tama mengangguk. Tidak sia-sia ia bercerita kepada bundanya. Pasti akan memunculkan suatu ide baru yang tidak disangka. Dan tentunya ia mendapatkan pelajaran baru, motivasi, dan dukungan dari Sang Bunda. “Saran bunda, coba kamu cari orang yang bener-bener membutuhkan pekerjaan, Bang. Bisa adik tingkat kamu yang di kampus, terutama yang sedang mengerjakan skripsi. Pasti mereka butuh biaya banyak untuk skripsi. Atau teman abang yang belum memiliki pekerjaan,” saran bundanya. “Iya, Bun. Nanti Tama coba untuk membuat info lowongan pekerjaan dan akan Tama share di sosial media.” Obrolan antara bunda dan putranya itu pun berlanjut pada topik pembahasan yang lain. Mulai dari perkembangan toko kain milik bundanya hingga kembali pada topik rencana liburan yang tadi sempat terputus. Setelah berbincang dengan bundanya hingga pukul 10, Tama ijin ke kamar lebih dahulu, meninggalkan bundanya yang masih sibuk mencatat daftar stok kain yang harus dipesan ke pabrik. Bundanya memang suka sekali mengerjakan sesuatu malam-malam. Ia juga lebih memilih menonton sinetron kesukaannya bersambung terlebih dahulu dan kemudian baru akan mengerjakan pekerjaannya. Tama merebahkan diri ke atas kasur. Melihat langit-langit kamarnya yang redup karena lampu utama sudah ia matikan. Berniat untuk segera tidur, tetapi matanya masih belum mau diajak kompromi. Memilih untuk mencari hiburan, Tama mengambil handphone-nya yang ia diamkan sejak tadi di atas nakas. Cukup banyak notifikasi yang masuk, terutama dari grup kantor. Ada juga beberapa pesan masuk ke akun Line-nya untuk bertanya-tanya tentang jasa desainnya. Ia hanya memiliki aplikasi sosial media berupa w******p dan Line, serta beberapa aplikasi bawaan Google. Hiburan yang sering ia cari adalah membuka YouTube tentang desain dan arsitektur. Dalam benak Tama, dengan melihat tontonan seperti itu ilmunya semakin bertambah. Selain itu, ia juga tidak akan ketinggalan dunia desain. Bahkan urusan hiburan saja dirinya tidak jauh-jauh dari dunia itu. Monoton dan datar sekali pilihannya Tama. Terkadang ia juga sudah merasa cukup terhibur dengan melihat postingan pada beberapa akun Line yang ia ikuti. Ya ampun. Datar sekali. Ingin menginstall aplikasi i********:, dirinya merasa kurang berminat. Ia takut akan menilai seseorang yang sering upload foto sebagai orang yang pamer. Meskipun ia tidak tahu niat orang itu dalam meng-upload foto. Ia hanya berusaha membentengi diri agar tidak mudah menilai seseorang hanya melalui postingan. Saat sedang asyik membaca story w******p yang di-posting oleh temannya, tiba-tiba salah satu rekannya Pecinta Alam semasa SMA menelepon dirinya. “Kenapa, Dit?” tanya Tama setelah mereka saling mengucap salam. “Teman-teman mau ke Semeru akhir bulan ini. Ikut, nggak?” tawar Dito—teman SMA-nya yang cukup dekat dengannya. “Boleh, deh. Masih dua mingguan lagi kan? Jadi aku masih bisa ngurus ijin libur.” “Iya. Nanti kirim data diri seperti biasanya ya, Tam.” “Siap. Nggak ada grupnya kah? Biasanya kalau akan muncakkan kalian buat grup?” “Iya. Masih mencari tambahan pasukan dulu. Nanti kalau sudah fix baru kubuatkan grupnya.” “Sip sip.” “Ya sudah. Aku tadi hanya mau bilang itu. Maaf telpon malam-malam. Baru ingat.” “Santai. Thank you ya, Dit.” “Siap.” Sambungan telepon itu telah mati. Tama berhenti dari aktivitasnya melihat story dari sedikit kontak WA yang ia miliki. Ia mencari kalender dan membuat pengingat agar besok ia mengajukan jadwal libur kepada Ayunda. Kemudian ia meletakkan handphone-nya dan memilih tidur sebab rasa kantuk mulai menyergapnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN