17. Kodam Penuh Cerita

1644 Kata
Semua anggota Netizean Budiman telah berkumpul di kamar kos Asti sejak pukul tiga sore. Terkhusus Rahma, Fitri, Nugi, dan Nia, mereka pulang ke kos masing-masing untuk mandi terlebih dahulu, sehingga mereka baru menginjakkan kakinya di kos Asti pukul empat setelah mandi dan melaksanakan sholat Ashar. Sedangkan Ayana dan Fina, mereka sudah ada di kos Asti setelah kegiatan di kampus selesai. Ayana dan Asti sudah mandi, hanya Fina yang sekedar bersih diri dengan mencuci muka saja. Ditawari untuk mandi di kos Asti ia menolak karena tidak nyaman jika harus mandi tetapi baju yang ia pakai masih baju yang sama. “Berangkat habis Maghrib kan, rek?” tanya Rahma. “Iya. Kalau sekarang nanti kita bingung sholat di mana,” jawab Asti. “Kan di dekat lapangan Kodam ada masjid,” timpal Nia. “Iya, sih. Gimana? Berangkat sekarang atau habis maghrib jadinya?” “Habis maghrib saja,” putus Fitri. Akhirnya diskusi mengenai jam keberangkatan mereka ke Kodam telah menemukan kesepakatan. Mereka akhirnya berbincang mengenai banyak hal. Dari yang serius hingga hal-hal receh lain. Aib antar sesama menjadi perbincangan yang paling seru dan mengundang gelak tawa. Pergi ke Kodam adalah salah satu jalan untuk menghilangkan sedikit stres yang menerpa mereka karena mengerjakan skripsi. Lapangan Kodam V Brawijaya yang terletak tidak jauh dari kos mereka, menjadi tempat mereka jajan dan menghibur diri. Lapangan tersebut adalah lapangan yang dialih fungsikan menjadi pasar malam ketika sore hari hingga malam hari. Banyak pedagang dengan berbagai barang dagangan yang berjajar di sana. Mulai dari jajanan, seperti sozis, pentol, berbagai menu nasi, berbagai macam jenis minuman, pakaian, aksesoris, boneka, dan lain-lain dijajakan oleh pedagang. Di lapangan tersebut selalu ramai oleh pengunjung, baik karena harganya lebih miring dan juga suasananya yang menyenangkan. Selain itu, disewakan juga becak gowes. Semacam kendaraan transportasi seperti kereta kelinci, hanya saja cukup memuat maksimal enam orang saja. Becak tersebut harus dikayuh oleh penumpang untuk memutari area kodam. Kayuhan yang dilakukan dan seperti mengayuh sepeda sehingga disebut dengan gowes. Memarkirkan motor pada area parkir Kodam Brawijaya, mereka turun dan saling menunggu hingga urusan meletakkan helm pada stang motor dan membenarkan kerudung selesai. Mereka mulai berjalan memasuki area jajaran pedagang. “Mau beli apa kalian?” tanya Fitri sambil menengok ke belakangnya. Mereka membentuk dua barisan dan posisinya saat ini adalah berjalan di barisan pertama. “Nasi deh ya. Sekalian makan,” ucap Ayana. “Iya nasi saja, mbak. Nanti kalau masih lapar baru beli jajan,” sahut Rahma dengan tertawa kecil. “Kayaknya kamu mah nggak bakal beli jajanan juga, Ma,” timpal Asti. Rahma hanya menjawabnya dengan tawa. Mereka berjalan ke sisi jajaran pedagang sebelah timur, penjaja makanan terkhusus segala jenis nasi ada pada jajaran sebelah timur. Mereka semua tampak bingung memilih menu makanan apa yang hendak disantap. Ada nasi goreng, sea food, nasi pecel dan kawanannya, soto atau pun rawon. “Aku nasi goreng saja deh,” celetuk Rahma. “Hem, jauh-jauh ke sini pun nggak jauh-jauh dari nasi goreng,” ucap Fina spontan. Yang lain pun tertawa mendengarnya. “Soalnya nasi goreng yang paling mudah diterima oleh lambung, Fin,” balas Nugi. “Kalau gitu aku pesan bihun saja deh,” ucap Ayana. “Aku kok pingin sea food ya. Nggak ada yang mau beli itu sama aku?” tanya Nia. Hanya Fitri yang mengangguk. Sedangkan yang lain memilih berjalan ke arah gerobak penjual nasi goreng. “Nanti bawa nasimu ke sini, Ni,” ucap Asti. “Siap.” Mereka pun memisahkan diri menjadi dua kelompok. Kelompok nasi goreng telah duduk pada salah satu meja panjang dengan kursi yang panjang juga. Sedangkan Nia dan Fitri sedang antri menunggu pesanan mereka disiapkan. Satu piring menu yang dipesan telah ada di hadapan mereka masing-masing. Mereka mulai menyuap sesendok demi sesendok hidangan itu. “Kamu nggak pingin nyoba cumiku, Ay?” tanya Nia yang duduknya tepat di sebelahnya. Ayana menggeleng tegas. “Nggak deh,” tolak Ayana. “Cumi itu enak tahu. Ada sensasi kenyal-kenyalnya gitu,” ucap Fina yang duduk berhadapan dengan Nia. “Nggak pernah makan cumi. Jadi takut gatel-gatel nanti,” jelas Ayana. “Emang iya?” tanya Fitri memastikan. “Setahuku alergi terhadap suatu makanan lebih sering terjadi pada anak-anak. Tapi nggak menampik kemungkinan jika orang dewasa juga akan terserang alergi. Dan kebanyakan orang alergi terhadap seafood itu karena ada beberapa kandungan protein pada hewan itu yang menyebabkan alergi. Jadi ya untuk jaga-jaganya, kita bisa cari tahu kandungan protein apa yang menyebabkan alergi itu,” ucap Nugi. Mereka mendengarkan penjelasan Nugi sambil tetap mengunyah makanan. “Tapi sebenarnya hewan-hewan laut itu kan sumber protein yang baik. Kayak ikan salmon atau tuna,” timpal Rahma. “Bener. Namun kalau kita takut kenapa-napa mending kan mencegah dulu. Soalnya alergi kan datangnya gak bisa diprediksi. Bisa satu jam setelah makan atau nunggu berjam-jam gitu,” balas Nugi. “Sebenarnya aku nggak ada pengalaman alergi terhadap makanan apa pun sih. Hanya saja karena aku merasa entah nggak bisa dijabarkan pokoknya. Jadi aku kayak nggak mau makan cumi saja gitu,” ujar Ayana. “Mungkin bisa juga sugesti itu, Ay. Mending jangan sugesti kayak gitu. Dan akan lebih baik nggak usah makan saja dari pada takut,” putus Asti. Obrolan masih terus berlanjut hingga makanan dalam piring tandas. Masih membahas tentang alergi yang sering menyerang seseorang. “Beli jajan atau ke mana kita setelah ini?” “Aku mau beli es jeruk peras deh. Sama sosis bakar.” “Kamu nggak kenyang, Ay?” heran Fina. “Kan kalian tahu sendiri perutku suka menampung banyak makanan,” jawab Ayana sambil terkekeh geli. “Tapi badanmu tetep segitu-gitu aja ya,” celetuk Fitri. “Bawaan genetik ini, Fit.” Mereka membeli beberapa jajanan yang diinginkan. Banyak menu yang mereka beli. Setelahnya setiap tangan membawa setidaknya satu atau dua barang. Ada yang hanya beli minuman, ada yang hanya jajanan, dan ada juga yang dua-duanya. Mereka kemudian keluar dari jajaran pedagang dan berjalan ke arah barat. Ada dua petak rumput yang biasa dimanfaatkan pengunjung untuk duduk menikmati malam. Namun, karena rumputnya menjadi rusak, maka pengunjung sudah dilarang untuk duduk di atas rumput. Tali pembatas telah terpasang sebagai batas. Akhirnya pengunjung memilih duduk di jalan setapak berupa paving yang cukup lebar. Mereka kembali menikmati jajanan sambil mengobrol banyak hal. Di sekitar mereka penuh oleh keluarga, pasangan, atau juga kumpulan seperti mereka yang menikmati malam di Kodam. Banyak anak kecil yang bermain slepetan lampu kitiran warna-warni. Membuat langit malam semakin terlihat indah. Polusi udara yang cukup tinggi membuat bintang jarang terlihat, dengan adanya mainan itu membuat langit tampak kerlap-kerlip. Hanya terlihat bulan purnama yang sedang menyinari bumi di malam itu. “Naik becak gowes, yuk,” ajak Nia. “Boleh. Pilih yang agak lebar biar bisa memuat kita semua,” saran Asti. “Pilih yang kursinya ada tiga baris. Kalau dua baris yang ada becaknya nggak mau jalan,” sahut Nugi. “Bener.” “Dihabiskan dulu makanannya atau naik becak dulu? Masih jam setengah 8, jadi kos belum dikunci,” ucap Rahma. “Naik saja dulu deh. Nanti habis nggowes pasti capek dan haus. Jajanan dan minumannya nanti bisa dimakan lagi untuk mengisi energi,” ujar Fina. “Tanya dulu harganya berapa,” saran Fitri. “Siapa ini yang tanya?” Semuanya terdiam. Tampak tidak ada yang mau menawarkan diri untuk bertanya pada penyewa becak gowes. “Ya sudah aku saja. Siapa yang mau nemenin?” tawar Ayana. “Nia, ayo!” ajak Ayana. Akhirnya Ayana dan Nia berdiri. Membersihkan bagian belakang baju yang mungkin tertempeli oleh tanah dan dedaunan, kemudian mereka berjalan meninggalkan Netizean yang lain. “Pak, berapa biaya sewanya untuk satu kali putaran?” tanya Ayana saat sudah berada di hadapan seorang bapak-bapak yang mengenakan topi warna khaki dan jaket jeans. Ia juga menunjuk becak gowes yang ingin ia naiki. “45 ribu, mbak. Kalau yang dua kursi 35 ribu.” Ayana mengangguk. “Jadi gimana?” tanya Ayana pada Nia. “Sebentar ya, pak. Saya tanyakan ke teman-teman saya yang lain dulu,” ucap Nia kepada bapak tersebut, sekaligus menjawab pertanyaan Ayana. Nia mengeluarkan handphone yang ada pada sling bag-nya. Kemudian mencari kontak salah satu Netizean untuk menanyakan bagaimana pendapat mereka. Apakah jadi menyewa atau tidak. “Iya pak kami jadi sewa yang ini,” ucap Nia. “Tapi nunggu teman-teman jalan ke sini ya, pak.” “Iya, mbak.” Lima menit kemudian mereka sudah berkumpul di dekat becak gowes yang akan menemani mereka untuk mengelilingi area Kodam. Mereka naik satu per satu. Dua di depan, tiga di tengah, dan dua di belakang dengan Nia sebagai pengendali kemudi. “Ih, berat e ternyata,” komentar Fitri. “Iya. Ayo-ayo kayuh. Di depan ada polisi tidur.” Rahma memberikan semangat ke yang lain. Netizean Budiman mengayuh dengan sepenuh tenaga. Sesekali tertawa karena ternyata mengayuh pedalnya butuh tenaga ekstra. Di belokan depan, mereka memilih beristirahat sejenak karena sudah cukup lelah mengayuh. “Minta minum,” pinta Ayana. Asti menyodorkan botol air mineralnya. Ayana segera meneguk beberapa tegukan air. “Istirahat dulu, rek. Masih jauh ini,” keluh Fitri. Becak telah berada di tepi jalan sehingga tidak akan mengganggu aktivitas pengguna jalan yang lainnya. “Eh, jangan lupa ambil foto buat kenang-kenangan.” “Boleh. Nanti kita selfie di tempat yang cukup banyak cahayanya saja.” Setelah istirahat beberapa menit, mereka melanjutkan untuk mengayuh pedal becak gowes. Hingga tak terasa mereka sudah akan kembali ke area pasar malam. Napas ngos-ngosan menjadi teman perjalanan mereka. “Ya Allah, rasanya kakiku,” keluh Ayana setelah duduk kembali pada paving tempat mereka duduk sebelumnya. “Iya. Rasanya otot-otot kakiku kaku,” sahut Nia. Mereka semua meluruskan kakinya agar otot mereka tidak kaget setelah digunakan beraktivitas berat. “Lihat fotonya dong.” Nia menyodorkan handphone-nya ke arah Asti. Mereka melihat hasil selfie yang sedikit kacau dan blur. Mereka menertawakan berbagai hasil foto yang penuh dengan aib. Setelah rasa lelah sudah mulai hilang, mereka memutuskan untuk pulang ke kos sebelum gerbang kos dikunci oleh ibu kos.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN