18. Rencana Mendaki 2

1699 Kata
Siang ini setelah beberapa anggota Netizean Budiman melakukan bimbingan skripsi dan merevisi beberapa masukan yang diberikan oleh dosen pembimbing dan penguji di ruang baca jurusan, mereka memutuskan untuk makan siang di food court universitas. Menitipkan tas pada beberapa mahasiswa yang ada di ruang baca yang merupakan teman satu kelas mereka. Mereka beranjak mengenakan sepatu yang diletakkan pada rak sepatu plastik tiga susun yang disediakan di samping pintu ruang baca. Setelah semuanya sudah menggunakan sepatunya masing-masing mereka berjalan ke arah koridor untuk menuju ke tangga yang ada di ujung koridor. Gedung jurusan biologi terletak pada lantai dua di antara lima lantai gedung yang ada. Berjalan beberapa meter dari gedung tempat ruang baca berada, mereka sampai di area food court universitas tidak sampai lima menit. Cukup dekat. Karena memang Fakultas MIPA terletak paling dekat dengan food court universitas. Anggota Netizean berkeliling mencari meja yang kosong. Beruntungnya mereka ke food court sebelum jam makan siang. Jika sudah masuk jam makan siang maka area food court universitas akan dipenuhi oleh mahasiswa yang kelaparan setelah melakukan pembelajaran di dalam kelas, praktikum, ataupun bimbingan skripsi. Bahkan jika tidak mendapatkan meja, mahasiswa akan makan di jalanan setapak di pinggir food court ataupun di pinggir danau buatan yang ada di depan food court. Ayana dan anggota Netijen yang lain duduk di meja dengan payung besar yang dipasang untuk menaungi pengunjung dari panas matahari yang menyengat. “Ay, kamu gak beli makan?” tanya Nia karena melihat Ayana yang masih fokus dengan layar ponselnya. “Kamu mau beli apa, Ni?” tanya Ayana balik. “Ayam kremes deh. Kamu mau?” tanya Nia lagi. Nia juga menawarkan ke anggota Netizean yang lain. “Aku juga mau ayam kremes,” jawab Fitria, Rahma, dan Asti bersamaan. “Oke. Terus ini aku pesan makan sendiri?” tanya Nia sangsi sambil melirik Ayana, Fitria, Rahma, dan Asti. “Ya udah sama aku saja,” inisiatif Ayana sambil berdiri dan membawa dompet warna cream yang tadi dibawanya. “Minumnya apa?” tanya Ayana kepada Fitria, Rahma, dan Asti. “Es teh aja, Ay,” jawab Fitria dan diangguki oleh Rahma dan Asti. Ayana dan Nia hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabat mereka yang terkesan bodoh amat. Ayana dan Nia berjalan berdampingan menuju ke stand penjual ayam kremes. Banyak menu yang dijajakan di food court universitas. Ada bakso, mie ayam, soto ayam atau soto ayam dengan jeroan (hati dan rempela ayam serta babat), ayam kremes, ayam bakar, menu makanan Jepang, nasi campur, nasi ayam woku, nasi pecel, penyetan, capjay, dan menu yang lain. Selain itu, juga tersedia berbagai menu minuman mulai dari es teh, es jeruk, jus buah, sop buah, atau minuman sachet. Nia menuliskan menu yang dipesan pada kertas pemesanan makanan dan minuman. Setelah itu Nia dan Ayana berjalan menuju ke kasir food court untuk membayar makanan dan minuman yang mereka pesan. Food court universitas tempat Ayana berkuliah memang tidak menghendaki pembeli untuk membayar makanan dan minuman yang dipesan langsung pada penjual makanan, tetapi harus dibayarkan pada petugas kasir. Hal ini bertujuan untuk membuka peluang tenaga kerja yang lebih banyak. Setelah membayar, mereka kembali ke stand untuk menyerahkan kertas pemesanan yang sudah diberikan stempel lunas oleh petugas kasir. Petugas kasir akan menyimpan kertas salinannya sesuai dengan nama stand dan akan diberikan nanti saat food court tutup beserta pemasukan yang diterima. “Kamu tadi bimbingannya gimana, Ni?” tanya Ayana sambil menunggu pesanan mereka selesai disiapkan. “Ada beberapa revisi di bab tiga aja sih, Ay. Variabel penelitian harus lebih diperjelas dan batasannya juga harus lebih jelas juga,” jawab Nia. “Iya sih benar itu. Kalau gak dibatasi nanti malah menyusahkan kita di bab empatnya. Takutnya malah membahas yang tidak perlu dibahas,” jawab Ayana menyetujui Nia. Nia menganggukkan kepalanya tanda dia juga setuju. “Terus tadi LKPD-ku diminta revisi karena contoh permasalahan dalam kehidupan sehari-hari kurang tepat. Nanti mau cari-cari contoh proses osmosis yang lain,” lanjut Nia. Nia mengembangkan produk LKPD skripsinya pada materi osmosis yang diajarkan di SMA siswa kelas 11. Osmosis adalah salah satu proses pemindahan molekul, zat, atau unsur di dalam sel dari sesuatu berkonsentrasi tinggi menuju ke sesuatu yang berkonsentrasi lebih rendah melalui membran semi permiabel. Misalnya dalam kehidupan sehari-hari ibu membuat acar dari mentimun dan wortel. Mentimun dan wortel yang telah dipotong kemudian dimasukkan ke dalam larutan berkonsentrasi zat terlarut yang tinggi. Dalam hal ini zat pelarutnya adalah asam cuka. Setelah mentimun dan wortel direndam dalam asam cuka, maka mentimun dan wortel yang awalnya keras dan kaku akan menjadi lebih lembek. Hal ini disebabkan karena zat pelarut berupa asam cuka tadi telah berpindah ke dalam sel yang berada dalam potongan mentimun dan wortel. Potongan mentimun dan wortel yang belum direndam dalam asam cuka memiliki zat pelarut atau air yang lebih tinggi dari pada zat terlarutnya. Inilah yang disebut dengan osmosis. “Iya. Biar kamu segera ambil data juga, Ni,” ucap Ayana untuk memberikan semangat kepada Nia sambil merangkul bahu Nia yang lebih tinggi beberapa cm darinya. “Iya, kita sama-sama saling mendoakan ya, Ay” pinta Nia. “Aamiin. Yok ayo semangat pokoknya, Ni,” ucap Ayana dengan semangat. Akhirnya pesanan mereka telah selesai disiapkan. Ayana dan Nia membawa piring berisi nasi putih, ayam kremes, dan sambal serta gelas kaca yang berisi es teh. Mereka harus berulang kali bolak-balik dari stand penjual makanan ke meja tempat mereka duduk untuk mengambil makanan dan minuman. Dasarnya Rahma, Fitri, dan Asti yang tidak peka. Mereka tidak membantu untuk mengambil dan membawakan pesanan yang mereka pesan. Tapi tak apa, biasanya Nia dan Ayana juga menunggu dengan tenang jika titip makanan ke anggota yang lain. Mereka bertujuh menikmati makanan dan minuman yang telah dipesan. Fina dan Nugi memesan makanan dengan menu yang berbeda dari kelima anggota Netijen. Fina dan Nugi memilih membeli nasi dengan ayam krispi ditambah dengan sayur capjay. Mereka makan sambil membicarakan berbagai hal receh yang terjadi. Mulai dari postingan lucu di i********:, meme yang membuat perut sakit karena terus membuat tertawa dengan berbagai bentuk meme yang menggelitik perut. Mereka masih mengobrol seru tentang kejadian yang sedang viral dan trending hingga makanan yang mereka pesan telah habis tak bersisa. Fitri sedang fokus dengan handphone-nya setelah menghabiskan makanan dan es tehnya. “Ay, ayo naik gunung yuk. Lihat view ini jadi pingin ndaki,” ajak Fitri sambil menunjukkan layar handphone-nya yang berisi salah satu story w******p teman Fitri berupa pemandangan Ranu Kumbolo yang ada di Gunung Semeru. “Ya kalau banyak temannya ayo aja sih,” jawab Ayana enteng. Dia memang suka mendaki gunung. Sudah beberapa gunung di Jawa Timur yang telah Ayana taklukkan. “Jangan lupa nabung juga. Ke Semeru lumayan biayanya,” lanjut Ayana. “Aku ikut dong,” Rahma ikut nimbrung dalam obrolan Ayana dan Fitri. “Ayo. Yang lain pada mau ikut gak?” tanya Fitri. “Skip deh kalau aku. Jalan kaki dari kampus ke kos saja sudah ngos-ngosan apalagi kalau harus jalan berjam-jam buat ndaki,” jawab Asti menolak ajakan Fitri. Fitri pun mendengus mendengar jawaban Asti. Memang Asti ini susah sekali jika harus diajak jalan, kecuali jalan-jalan untuk keliling mall maka Asti akan sangat bersemangat. Selain Asti, yang lain pun menolak ajakan Fitri. Dan berakhirlah Ayana, Rahma, dan Fitri yang akan berangkat untuk mendaki ke Gunung Semeru. “Nanti aku mau minta tolong ke Dek Adi saja biar kita punya banyak teman dan ada yang bimbing,” saran Ayana. Adi adalah adik tingkat mereka yang suka mendaki gunung. Selain itu, Adi adalah ketua kelompok studi—KS—yang menaungi mahasiswa pecinta alam yang beberapa waktu lalu mengundang Ayana untuk bergabung dalam kumpul anggota KS pecinta alam. “Iya bener. Kalau kita sendiri kayaknya gak mungkin banget,” jawab Rahma sambil terkekeh. “Aku juga gak berani kalau kita hanya bertiga saja mendakinya,” jawab Fitri dengan sedikit ngegas. Ya tentu saja, mereka para perempuan tidak mungkin untuk berani mendaki gunung yang membutuhkan waktu panjang dan tenaga yang besar sendirian tanpa ada yang membimbing dan menemani. “Aha, aku juga baru ingat. Nanti aku bisa ambil gambar lumut juga di sana untuk dimasukkan dalam LKPD-ku,” seru Ayana senang. “Nanti minta tolong Fitri ya buat memfotokan jika aku melihat lumut yang tumbuh di perjalanan kita mendaki,” lanjut Ayana dengan senang. Fitri mengangguk setuju. Mereka akhirnya memilih sholat Dhuhur di masjid kampus karena adzan sudah berkumandang dan sudah saatnya mahasiswa untuk istirahat. Gerombolan mahasiswa mulai masuk area food court membuat Netizean segera beranjak karena mereka juga mengerti bahwa mahasiswa yang lain pasti membutuhkan meja untuk makan. Anggota Netizean Budiman sudah selesai sholat Dhuhur di masjid kampus. Mereka memakai kembali sepatu yang dilepasnya tadi pada teras masjid. Saat berjalan ke luar area masjid, Ayana melihat Adi yang juga terlihat baru saja selesai sholat Dhuhur. “Dek Adi,” panggil Ayana dengan suara yang cukup keras tetapi tidak sampai membuat orang lain mengalihkan fokus karena panggilannya. Adi yang dipanggil oleh Ayana pun menoleh ke arahnya diikuti dengan beberapa teman Adi yang lain. “Iya mbak?” tanya Adi. Ayana dan yang lain pun mendekat ke arah rombongan Adi. Rasanya kurang sopan jika membicarakan hal serius dengan jarak yang cukup jauh. Selain itu, mereka juga tidak ingin menghalangi jalan orang yang mau menuju masjid untuk melaksanakan sholat. “Dek, kamu mau nemenin aku, Rahma, dan Fitri naik gunung nggak? Rencananya sih pingin ke Gunung Semeru,” jelas Ayana. “Boleh, mbak. Untuk waktunya nanti menyesuaikan jadwal kuliahku ya mbak. Nanti kita bahas di grup saja,” jawab Adi. “Oke siap. Terima kasih ya, dek.” Ayana memberikan senyuman hangatnya sebagai ucapan terima kasih pada Adi yang bersedia menemani mereka untuk mendaki. “Iya mbak. Kalau gitu kami duluan ya, mbak,” pamit Adi diikuti dengan teman Adi yang lain. Ayana dan teman-temannya pun memberikan senyuman hangat pada Adi dan yang lain. Mereka kembali berjalan menuju ke ruang baca. Terlalu lama menitipkan tas ke orang lain tentu membuat mereka juga tak enak hati. Suasana ruang baca lebih sepi dari pada saat mereka sebelum meninggalkan ruang tersebut. Tersisa tiga orang yang tadi mereka berikan amanah untuk menjaga tas. Fina memberikan pesanan makanan dan air mineral pada teman sekelas mereka yang menunggui tas mereka. Ayana dan yang lainnya kembali fokus pada laptop masing-masing. Masih banyak beberapa bagian dari proposal serta produk mereka yang harus direvisi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN