Assalamu’alaikum.
Mungkin bagian cerita ini akan ter-update ketika sudah hari Raya Idul Fitri, ya.
Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin, ya. Dan semoga, amal ibadah puasa kita diterima oleh Allah. Aamiin.
Mohon maaf juga karena pembuka bagian ini harus diisi dengan ini, jadi hanya ingin berpesan bahwa sepertinya sudah tidak ada bagian yang khusus Tama sendiri ya. Karena jujur saja, saya tidak begitu menguasai dunia desain dan arsitektur sehingga setiap menulis bagian itu saya merasa kesulitan. Jadi terima kasih karena masih mau menikmati cerita ini.
Mohon maaf juga karena saya tidak menggunakan menu catatan penulis karena saya merasa nyaman untuk update melalui aplikasi. Terima kasih atas pengertiannya ya.
Satu jam sudah Ayana fokus menatap layar laptopnya yang menampilkan paragraf-paragraf tentang skripsinya. Ayana sudah lelah. Ia memilih mengambil handphone-nya dan membuka aplikasi perpesanan. Banyak chat yang masuk dari teman-temannya. Ayana membalas satu per satu pesan yang masuk mulai dari chat paling bawah. Selain pesan pribadi, banyak juga pesan yang masuk di beberapa grup yang Ayana tergabung di dalamnya.
Ayana memilih membuka i********: setelah membaca semua pesan yang masuk ke whatsappnya. Banyak postingan baru di beranda dan story i********: yang diupload teman-temannya. Ayana memberikan tanda love pada postingan yang lewat berandanya. Tak lupa ia juga melihat story yang diunggah oleh teman-teman onlinenya.
Karena sudah lelah membuka sosial media yang isinya itu-itu saja, Ayana meletakkan handphone-nya kembali di atas meja. Ayana memilih mengamati rekan-rekannya yang masih sibuk di depan laptop dan ada pula yang sedang fokus dengan handphone masing-masing.
“Kalian mau pulang jam berapa, rek?” tanya Fina. “Aku habis ini mau pulang ya. Ada jadwal les privat di dekat rumah,” lanjut Fina.
“Ya sudah ayo pulang, yuk. Waktunya istirahat di kos,” jawab Asti sambil melemaskan otot-ototnya setelah berkutat di hadapan laptop. “Aku nebeng kamu ya, Fin.”
“Boleh. Terus Ayana sama siapa?” tanya Fina.
“Ayana biar sama aku saja,” sahut Nia.
“Oke.”
Mereka pun membereskan kertas print proposal skripsi yang berantakan di atas meja dan mematikan laptop masing-masing. Setelah meja kembali bersih seperti semula, mereka keluar dari ruang baca. Tak lupa berpamitan kepada beberapa mahasiswa satu angkatan mereka yang masih bertahan di ruang baca.
Mereka berjalan bersama menuju ke arah parkiran fakultas. Menyapa beberapa adik tingkat ataupun rekan satu angkatan yang mereka jumpai di jalan menuju parkiran. Hanya Ayana dan Asti saja yang tidak membawa kendaraan bermotor. Membuat Ayana dan Asti sering nebeng pada rekan-rekan satu kelasnya terutama Netizean. Terkadang Nia, Ayana, dan Asti pernah bonceng bertiga layaknya cabe-cabean. Untungnya jarak kos dengan gedung perkuliahan mereka tidak begitu jauh, sehingga rasa malu lebih bisa dipangkas. Selain itu, banyak mahasiswa lain juga yang sering berbonceng tiga membuat hal tersebut tidak terlalu memalukan karena ada rekan lain yang sama seperti mereka.
“Ay, kamu nanti makan apa? Beli penyetan di Buk Sri yuk nanti,” ajak Nia sambil fokus menyetir. Mereka sedang dalam perjalanan menuju ke kos Ayana. Melewati lapangan sepak bola out door yang ada di sisi food court universitas.
Penyetan Buk Sri adalah salah satu penyetan yang digemari oleh mahasiswa. Harganya yang terjangkau dan rasanya lezat membuat warung tersebut selalu ramai dan penuh. Selain itu, sambal yang disediakan juga sangat enak. Ada level tidak pedas dan pedas. Sambal tomat terasi yang diberikan kucuran buah jeruk kecil membuat sambalnya terasa lebih segar.
“Iya, boleh. Dibungkus aja atau gimana?”
“Iya dibungkus. Asti pasti nanti nitip. Terus Frisil—teman satu kamar Nia—jugakan belum makan. Jadi ya mending dibungkus saja.”
“Oke,” jawab Ayana sambil menganggukkan kepala dan mengamati jalanan menuju ke gerbang depan universitas.
Rumah kos Nia dan Ayana terletak di daerah depan kampus. Sedangkan anggota Netizean yang lain ada yang di belakang kampus, samping kampus, dan hanya Fina seorang yang asli orang Sidoarjo sehingga tidak perlu tinggal di kos.
“Nanti kita berangkat sebelum maghrib ya. Kalau habis maghrib takut sudah kelaparan dan antri,” ucap Nia sambil cengengesan saat sudah tiba di depan kos Ayana.
Ayana tergelak mendengar ujaran Nia. “Iya iya. Pokok jangan males mandi. Nanti kalau mau berangkat buat jemput aku jangan lupa chat ya. Atau aku jalan kaki ke kosmu?” tawar Ayana.
Kos Ayana dan Nia berada pada gang yang berbeda. Cukup berjalan sekitar lima menit, bahkan tidak sampai lima menit Ayana sudah bisa tiba di depan kos Nia.
“Iya deh, Ay. Biar nanti gak muter-muter. Aku balik dulu ya. Assalamu’alaikum,” pamit Nia.
“Oke. Hati-hati ya. Wa’alaikumussalam,” jawab Ayana sambil memperhatikan Nia yang sudah melaju dengan motor maticnya yang berwarna merah.
Ayana berbalik menuju ke dalam kosnya. Ternyata Asti sudah tiba di kos karena sepatu yang dipakai Asti sudah tergeletak mengenaskan di depan pintu kamarnya. Ayana mengetuk pintu kamar Asti.
“Aku nanti mau beli penyetan Buk Sri sama Nia. Kamu nitip gak?” tanya Ayana sambil nyelonong masuk ke dalam kamar Asti setelah dibukakan pintu oleh Asti.
“Boleh deh. Sama es tehnya sekalian ya.”
“Oke deh, siap. Nanti aku berangkat sekitar jam lima. Jadi pas warungnya baru buka. Semoga saja gak terlalu ramai.”
Asti mengaminkan harapan Ayana.
“Ya sudah aku mau naik ke kamarku deh. Mau rebahan,” ucap Ayana sambil nyengir lebar. Ayana bangkit dari duduknya di lantai kamar Asti.
Ayana naik ke tangga yang menjadi jalan menuju ke lantai dua. Ayana mengeluarkan kunci yang biasa ia simpan pada saku kecil dalam ranselnya. Setelah gembok terbuka, Ayana segera masuk ke dalam kamar dan menyalakan kipas angin. Udara di Surabaya selalu panas. Dingin jika sudah memasuki musim penghujan. Itu pun kadang membuat Ayana masih harus menyalakan kipas angin.
Ransel kotak-kotak dengan berbagai tone warna biru Ayana letakkan di pojok ruang kamarnya. Ayana melepas kaos kaki dan menaruhnya ke dalam wadah baju kotornya yang dia letakkan di sudut lain ruang kamar. Setelah melepas kerudung persegi yang ia kenakan, ia segera merebahkan dirinya di atas kasur. Rasanya nyaman. Otot-otot di punggungnya menjadi lebih ringan dan santai. Nikmat sekali memang rebahan itu.
Ayana mengambil handphone yang masih ada di dalam ranselnya. Mematikan sambungan data internetnya dan menghubungkan handphone-nya dengan WiFi kos.
Rebahan sambil menjelajah sosial media memang nikmat yang luar biasa. Ditemani dengan semilir angin yang berasal dari kipas angin membuat mata Ayana mulai merasakan kantuk. Namun ia tidak ingin terlelap di jam rawan seperti ini. Sebentar lagi adzan Ashar akan berkumandang, jika Ayana tetap memilih tidur maka yang ada ia akan bangun dengan kondisi kepala yang pusing.
Ayana memilih bangkit dari kasur yang ia lapisi sprei berwarna hijau muda dengan motif keropi, si katak lucu yang memikat hati. Ia bukan pecinta si keropi, ia mendapatkan sprei ini dari ibunya. Dari pada tidak ada kain pelapis di atas kasurnya dan membuat kasur yang disediakan kos kotor maka Ayana memasang sprei itu. Masih ada sprei motif lain sebenarnya. Namun Ayana baru saja mengganti sprei yang sebelumnya dengan sprei motif keropi ini dua hari yang lalu. Bukankah menjaga kebersihan adalah sebagian dari iman?
Ayana mengambil pakaian ganti dan bersiap untuk mandi setelah adzan Ashar selesai berkumandang. Ia berencana setelah melaksanakan sholat akan kembali berkutat membuka laptop untuk mulai menyusun LKPD yang telah ia bahas dengan Bu Wanti tadi pagi saat bimbingan.
Ayana sudah berkutat di hadapan laptop dan sedang fokus dengan file microsoft publisher yang berisi LKPD yang ia kembangkan. Saking seriusnya dengan laptop yang ada di hadapannya membuat Ayana tidak sadar waktu. Untungnya Nia menghubungi Ayana dan menanyakan jam berapa Ayana akan ke kos Nia karena waktu sudah menunjukkan pukul lima lewat lima menit sore.
Ayana pun mematikan laptopnya dan segera mengenakan kerudung berbahan kaos instan yang ia gantung di gantungan baju. Ayana sudah siap dengan pakaian yang lebih nyaman untuk dipakai keluar, bukan baby doll dengan lengan pendek dan bermodel rok.
Ayana segera mengunci kamarnya dan bergegas turun ke lantai satu.
“Asti, kamu mau penyetan pake lauk apa?” tanya Ayana dengan suara yang cukup keras dan tergesa. Ibu kos sepertinya tidak sedang berada di rumah. Jika ada ibu kos di rumah, maka Ayana akan ditegur karena suara Ayana yang cukup mengganggu dan berisik.
“Pake telur saja. Uangnya nanti ya,” kekeh Asti.
Ayana pun mengiyakan. Ia melanjutkan langkahnya keluar kos. Cukup belok kiri dari gang kosnya kemudian mengambil jalan kecil di sebelah kanan dan lurus terus maka Ayana akan sampai di depan kos Nia.
Mereka berdua memang sering keluar bersama untuk membeli menu makan malam atau jajanan yang dijajakan di sekitar kampus. Nia sangat menyukai jajanan dan Ayana adalah orang yang sangat suka makan. Maka jika mereka disandingkan akan menjadi partner yang cocok. Namun, Ayana lebih bisa mengerem diri dari pada Nia. Ayana sadar diri untuk lebih menghemat pengeluaran. Apalagi di masa-masa pengerjaan skripsi seperti ini mahasiswa memerlukan uang yang cukup banyak untuk biaya print. Jika revisi yang diberikan banyak maka lebih banyak lagi lembar-lembar uang yang akan keluar bahkan hingga mengorek uang receh yang disimpan untuk dana darurat.
“Aku sudah di depan kos kamu,” kata Ayana melalui sambungan telepon.
“Oke. Tunggu ya,” balas Nia.
Sambungan telepon terhenti. Beberapa menit kemudian terdengar suara gembok gerbang terbuka. Tampak Nia yang sedang mengeluarkan motornya dari jajaran motor penghuni kos yang lain.
“Kok tadi kamu lama, Ay?” tanya Nia saat mereka sedang menunggu pesanan mereka dibungkuskan oleh Buk Sri.
“Tadi ngelanjutin revisi LKPD. Sampai lupa waktu.”
“Biyuh, biyuh. Rajinnya mbak satu ini,” komentar Nia.
“Biar bisa segera ambil data, Ni. Aku sudah was-was ini.”
“Pasti Bu Wanti juga nggak akan menghambat terlalu lama, Ay,” peringat Nia.
Ayana pun berharap seperti itu. Asal dirinya cepat memahami maksud yang disampaikan Bu Wanti maka pengerjaan LKPD akan berjalan lebih cepat. Dan semoga saja Bu Wanti lebih banyak menghabiskan waktunya di kampus agar ia lebih sering melakukan bimbingan. Karena saat ini Bu Wanti sedang mengejar gelar doktornya di salah satu universitas di Malang.